Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#95 : Seandainya Aku


__ADS_3

"Mommy!" teriak Velli.


Bella langsung mendorong Dominic, dia pun berdiri tegak, berpura-pura menyisir rambut yang berantakan.


"Iya sayang," Bella memutar tubuhnya, lalu berjongkok dan tersenyum menyambut kedatangan putrinya. "Hem, kenapa sayang?"


"Mommy, Velli berhasil membangunkan Daddy Jhonatan dan menjadi princess," ucap Velli.


Bella tersenyum mengangguk, dia hanya bisa memuji sesuai dengan harapan Velli, putri kecilnya yang polos.


"Tapi sayang, ada tante garang, dia sangat galak melebihi Daddy dan ini, dia mencengkramnya dengan kuat dan Velli menangis," ucapnya.


Bella terkejut, ia melihat warna memerah itu di lengan Velli, melihatnya dengan jelas. "Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Bella khawatir.


Dominic langsung berjongkok, ia mengambil alih tangan Velli dan melihatnya warna memerah di kulit lengannya. Dia pun berdiri dan mengepalkan tangannya, lalu berjalan dengan langkah lebar ke arah Jhonatan.


Bruk


"Kau apakan putri ku hah?!" bentak Dominic sambil berteriak.


Jhonatan sempoyangan, dia pun hendak membalas tonjokan Dominic, namun suara sang Daddy menghentikannya.


"Cukup!"


"Apa-apaan kalian?!" bentak tuan Alexander. Dia tidak suka ada yang membuat keributan di kediamannya dan membuat putri serta kedua cucunya tak nyaman. "Kalian mau saling beradu kekuatan? hah!"


"Apa yang dia lakukan? dia tidak bisa menjaga putrinya sendiri dan membuat tangan Velli terluka."


Tuan Alexander memejamkan kedua matanya, ternyata inilah penyebabnya. "Ini salah ku juga Dominic, aku juga tidak melindungi Velli dengan baik." Tegas tuan Alexander. "Kejadiannya mendadak, Jhonatan sudah memberikan peringatan padanya."

__ADS_1


"Peringatan saja tidak cukup tuan Alexander, tentu kau tahu selama hidupnya membuat Bella dan kedua anaknya menderita. Seharusnya kau bunuh saja dia," ucap Dominic dengan mata tajam yang menatap nyalang Jhonatan.


"Aku akan memberikannya hukuman,"


"Hukuman apa? apa hukuman bunuh diri? atau hukuman lainnya? aku tidak percaya tuan Alexander akan memberikan hukuman pada istri tercintanya."


"Dominic cukup! jangan memicu keributan. Jhonatan beristirahatlah dulu,"


Jhonatan begitu enggan meninggalkan tempat itu, dia tidak ingin meninggalkan Bella dan Dominic, ia ingin berbicara dengan mereka.


"Jhonatan!" tekan tuan Alexander. Jhonatan pun menunduk dan berjalan gontai masuk ke dalam.


Bibi Mira pun membawa Jhonatan ke kamar tamu, dia membaringkan tubuhnya dengan membaringkan kepalanya di kedua tangannya yang menyilang sambil menatap langit-langit. Lintasan Bella dan Dominic yang sangat intim terngiang di pikirannya, menari-nari dalam ingatannya. Keduanya seakan ingin berciuman, untung saja Velli mencegah keduanya memutuskan pandangan.


"Apa hubungan mereka sudah sedekat itu? aku kira Bella tidak bisa melupakan ku, ternyata aku salah. Bella sudah melupakan ku dan menggantinya dengan Dominic. Ah, aku pantas mendapatkannya, tapi aku tidak ingin menyerah. Aku ingin bersama dengan mereka."


"Ya mereka," ucap Dominic sambil memejamkan kedua matanya. Air matanya pun mengalir dari sudut kedua sudut matanya dengan dadanya yang begitu sesak.


"Dominic, kau tidak apa-apa?" tanya Bella. Dia melihat luka Dominic dan kembali mengangkat wajahnya.


"Aku tidak apa-apa Bella, ini hanya luka ringan. O iya, aku akan menemani Princess dan Prince bermain," ucapnya dan membuat Velli bersorak sambil meloncat-loncat.


"Ya terserah kau," ucap Bella. Dia tidak bisa melarang Dominic yang ingin bermain dengan kedua anaknya, karena dialah yang selalu menjaga Velli dan Vello semenjak kecil. Sekaligus merasakan kehadiran sosok ayah, walaupun tidak sama seperti ayah kandungnya.


"Sayang, ayo kita bermain Game di kamar mu bersama Prince Vello."


"Ayo Dad,"


Dominic mengangkat tubuh Velli memasuki kediaman tuan Alexander, kemudian menuju lantai atas.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa kan, dia ada di sini?" tanya tuan Alexander. Entah berapa kalinya ia menanyakan ini, karena ia tidak ingin membuat Bella tidak nyaman.


"Kalau aku mencintainya, aku merasa tidak nyaman Dad. Tapi aku tidak mencintainya, jadi aku merasa nyaman sekalipun dia ada di sini."


Jleb


Tuan Alexander pun berbelok, tanpa ingin membicarakannya lebih jauh. Untuk pertama kalinya ia sebagai seorang ayah merasakan sakit di hatinya lantaran anaknya yang di tolak.


Malam harinya, Bella dan Art lainnya tampak sibuk. Meskipun Bella sudah di larang agar tidak memasak, namun wanita ibu dua anak itu bersikeras membantu Art lainnya. Dia pun menata piring dan menaruh beberapa hidangan di meja makan itu.


"Ehem,"


Bella mengangkat wajahnya. Kemudian melanjutkan lagi memindahkan hidangan yang berada di dapur ke atas meja makan.


"Dimana anak-anak?" tanya Jhonatan. Dia melihat Bella yang sangat cekatan dan masakannya membuat perutnya keroncongan. Setelah tiga hari menangis, baru kali ini ia merasakan lapar.


"Mereka berada di kamarnya," ucap Bella. Dia pun berbalik ke dapur.


Jhonatan mengekori Bella, dia langsung memegang baskom yang berisi sup daging itu. "Biar aku saja," ucapnya.


"Tidak perlu, kau panggil saja anak-anak di kamarnya," ucap Bella dengan nada dingin.


Jhonatan pun menyerah, untuk beberapa saat ia melupakan sesuatu berpikir keras sambil mengerutkan keningnya, ada satu hal yang mengganjal yaitu Dominic, entah pria itu sudah pulang atau tidak? tapi ia semenjak tadi berkeliling kediaman ini tidak ada Dominic. Dia pun bergegas langsung menuju kamar anaknya. Membuka pintu itu perlahan.


Jhonatan melangkah dengan pelan, dia melihat kamar anak-anaknya. Ada dua ranjang, sebelahnya bercat pink dengan gambar cinderella sesuai dengan seprai dan sebelahnya lagi bercat biru tua dengan gambar spiderman dan sama dengan seprainya. Dinding itu pun memiliki pembatas yang menyatakan kalau ada dua anak di dalam ruangan ini.


Dia mendengarkan suara televisi, kemudian melangkah secara perlahan dan membuat kakinya langsung kaku. Kedua maniknya menangkap kedua anaknya tertidur pulas dengan bantal kedua lengan Dominic. Ketiga orang itu pun hanyut dalam mimpi dan tidak menyadari kedatangannya.


Vello tidur di tangan kanan Dominic dan Velli tidur di tangan kiri Dominic serta ada beberapa camilan yang menemani mereka. Rasa cemburu dan sesaknya membuat air matanya kembali turun, beberapa hari ini air matanya terus mengalir, mengikuti hatinya, pemandangan yang sangat menyakitkan di lihatnya.

__ADS_1


"Seandainya aku ... "


Bella mengintip di celah pintu, terlihat Jhonatan yang berdiri sambil melihat lurus ke bawah dan sesekali mengusap air matanya. Dia pun menghela nafas dan mungkin nanti ia akan membicarakan pada kedua anaknya.


__ADS_2