Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 100- Jebakan Rahul


__ADS_3

"Eh tenang-tenang dulu. Semua keputusannya ada ditangan Kak Shreya. Kira-kira dia mau tidak ya, memberikan hadiah ciumannya?" Rahul kembali melerai lalu dia kembali melirik Zahra.


"Bagaimana Kak?"


"Mmm...." Zahra kembali berpikir. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Apa masalahnya jika dia disuruh mencium anak-anak kecil ini? Toh mereka semua juga sangat lucu dan menggemaskan. Anggap saja dia sedang belajar menjadi Ibu yang mencium anaknya sendiri.


"Baiklah. Siapa takut?" Zahra tersenyum dengan yakinnya.


"Yeay!!"


Acara belajar pun berlanjut. Satu persatu dari anak itu berdongeng. Membuat Zahra merasa terhibur mendengar cerita-cerita Disney yang dibawakan oleh anak-anak polos itu.


"Kalian semua keren dan hebat sekali menceritakan dongengnya. Kakak jadi bingung, siapa diantara kalian yang jadi juaranya. Karena semuanya pintar" Zahra tersenyum lebar seraya mengacungkan kedua jempolnya.


"Lalu bagaimana Kak, dengan hadiahnya?"


"Em...." Zahra tampak kembali berpikir.


"Sabar dulu dong sayang. Kan belajarnya belum selesai. Kakak juga punya sebuah cerita yang menarik. Judulnya.... Sicantik dan sibuta. Kalian ingin dengar?" Rahul menimpali.


"Hah? Sicantik dan sibuta? Dongeng yang biasa aku dengar, judulnya sicantik dan siburuk rupa? Kok sekarang malah sibuta? Apa kisahnya berbeda?" Tanya seorang anak lelaki dengan alis bertaut.


"Ya beda lah sayang. Kalau kisah sicantik dengan siburuk rupa itu, pasti kalian semua sudah tau dan sering mendengarnya kan?Beda dengan dengan kisah yang satu ini. Kakak yakin pasti kalian belum pernah mendengar ceritanya"


"Ya sudah kalau begitu, Kak Rahul ceritakan saja sekarang"


"Iya Kak, aku jadi penasaran nih" Desak anak-anak itu yang seketika merasa tertarik dan antusiasnya ingin mendengar cerita yang ditawarkan Rahul.


"Baiklah. Dengan senang hati. Alkisah, hiduplah seorang pangeran buta. Sudah hampir tiga tahun dia hidup dalam kebutaan akibat sebuah kecelakaan. Selama dua itu dia hidup dalam keterpurukan dan putus asa.

__ADS_1


Dia merasa hidupnya tidak berguna, karena kebutaannya membuatnya dipandang sebelah mata dan dianggap rendah oleh semua orang, termasuk keluarganya sendiri. Sehingga berkali-kali dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Namun, usahanya untuk bunuh diri selalu gagal. Karena Tuhan belum mengijinkannya untuk mati.


Karena dia belum mengerti, kenapa Tuhan memberikan kebutaan itu padanya. Ternyata, Tuhan sudah menyiapkan seorang bidadari untuk menjadi pendamping hidupnya. Hingga pada suatu hari, dia dipertemukan dengan bidadari yang sangat cantik dan baik hati itu. Yang dengan tulus mencintai dan menerimanya apa adanya.


Tanpa mempedulikan kekurangannya yang tidak memiliki penglihatan. Dan ternyata, cinta tulus sang putri itu membuat sang pangeran akhirnya bisa melihat kembali seperti sedia kala. Mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya. Happy ending"


Dengan disertai seulas senyuman, Rahul bercerita sembari menatap Zahra dalam-dalam. Mengingat awal mula kisah percintaan mereka yang penuh dengan suka duka dan canda tawa. Kenangan yang kini sedang luput dari ingatan wanita itu.


Zahra membalas tatapan Rahul dengan wajah berseri. Dongeng yang dibawakan Rahul membuatnya merasa sangat terhibur. Hati kecilnya mengatakan, kisah yang didengarnya itu sangat berkesan dan melekat dihatinya. Meski dia sendiri tidak mengerti, bagaimana perasaan itu bisa terjadi.


"Wah. Bagus sekali Kak ceritanya"


"Iya Kak, sangat menghibur dan menghanyutkan. Kak Rahul hebat. Kalau begini sih, sepertinya Kak Rahul deh pemenangnya"


"Iya Kak benar. Pasti kami semua kalah, karena dongeng kami tidak sebagus dan semenghanyutkan dongeng Kakak" Cerita yang dibawakan Rahul berhasil membuat semua anak tersenyum kagum dan terpukau, hingga mereka semua dengan antusias memujinya.


"Terima kasih adik-adik manis. Kalau Kak Rahul pemenangnya, berarti Kakak berhak dong, mendapatkan hadiahnya"


"Kak Shreya harus memberikan hadiah yang sudah dijanjikan untuk Kak Rahul" Rahul meminta pembelaan dari anak-anak itu, lalu dia melirik Zahra dengan tatapan menggoda.


"Setuju!!" Teriakan kompak mereka semua yang mendukung Rahul membuat Zahra merasa malu dan tidak dapat berkutik. Satu lawan banyak? Bagaimana mungkin dia bisa lolos jika dikeroyok begini?


Salahnya sendiri juga yang dengan begitu mudahnya berjanji dengan menerima ide Rahul. Sekarang dia malah terjebak dalam janjinya sendiri. Tadinya dia berpikir, jika nantinya dia harus memberikan hadiah ciuman untuk anak-anak ini saja. Dia tidak masalah disuruh mencium anak-anak selucu mereka.


Tapi dia tidak menyangka, kalau dia harus mencium anak besar dan menyebalkan itu! Dia tidak sadar, jika Rahul memang sengaja ingin menjebaknya agar masuk dalam perangkap lelaki itu. Dasar menyebalkan!


"Kamu yakin, mau aku menciummu didepan mereka?" Bisik Zahra dengan malu dan geram.


"Kan kamu sendiri yang sudah berjanji akan melakukannya. Ingat, janji itu adalah hutang. Dan yang namanya itu harus dibayar. Begitupun dengan janji. Harus ditepati lah.

__ADS_1


Apalagi saat ini kita sedang menjadi guru untuk adek-adek manis ini. Jadi kita harus bisa memberikan contoh yang baik untuk mereka. Jangan sampai kita memberikan mereka contoh untuk mengingkari janji"


Rahul membalas bisikan Zahra dengan santainya. Senyum usil tersungging dibibirnya. Membuat Zahra semakin geram, hingga rasanya dia ingin mencakar wajah tampan yang sedang meledeknya ini.


Bisa-bisanya dia menggunakan kepolosan anak-anak itu untuk melancarkan modusnya. Dasar licik! Pikir Zahra geram. Melihat wajah-wajah polos yang sedang menagih janjinya itu, membuat Zahra tidak berdaya untuk menolak permintaan mereka.


Akhirnya dia pasrah. Dengan wajah masam, Zahra merangkum wajah Rahul dengan lembut. Lalu dia mendekatkan wajahnya kewajah lelaki itu dan mengecup pipinya. Seperti biasa, dekat dengan Rahul selalu saja membuat dadanya berdebar kencang.


Ditambah lagi saat dia harus menyentuh dan mencium lelaki itu seperti ini. Membuatnya menjadi begitu grogi. Dia sangat berharap semoga Rahul tidak medengar suara jantungnya yang berdegup parah ini. Dia sangat yakin pria itu pasti tertawa terbahak-bahak meledeknya.


"Disini?" Belum puas, Rahul yang masih menyunggingkan senyuman jahil menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya. Seolah-olah memberi kode agar ada ciuman disana juga.


"Apa kamu tidak melihat disekitarmu? Kita sedang bersama anak kecil. Tidak pantas melakukan ciuman disitu" Bisik Zahra dengan menekan sembari menahan kekesalan.


Rahul melirik anak-anak yang sedang asik menjadi penonton adegan mesra mereka berdua. Dan mereka semua tampak sangat menikmati pemandangan dihadapan mereka itu. Seakan-akan sedang menonton drama India saja.


Rahul menghela nafas kecewa. Harus dia akui, apa yang dikatakan Zahra memang benar. Tidak mungkin dia mempertontonkan adegan mesra yang terlalu menonjol dihadapan anak-anak yang masih lugu dan polos ini.


Meski belum merasa puas mendapatkan ciuman yang diinginkannya, namun sudah cukup memadai bagi Rahul. Akhirnya Rahul menarik Zahra dengan lembut, dan membalas memberikan ciuman dipipi istrinya itu dengan penuh cinta. Membuat Zahra melongo menahan kekesalan dan kegugupan.


********


"Rahul. Kita dimana sekarang?" Tanya Zahra saat keduanya tiba didepan sebuah bangunan yang tampak seperti sebuah pabrik. Tumpukan-tumpukan kayu tampak berada didepan bangunan sederhana namun lumayan luas itu.


"Ini pabrik gitar. Salah satu sektor bisnis milik Dirgantara group"


"Kalau desa ini pernah dilanda banjir, apa pabrik ini juga pernah mengalami imbasnya"


"Iya. Pabrik ini pernah luluh lantak akibat bencana itu juga. Tapi aku bersikeras membangunnya dan mengelolanya kembali. Karena pabrik ini menyimpan banyak sekali kenangan yang sangat indah dan berkesan bagiku. Bagaimana dulu aku bekerja disini sebagai pengrajin. Jadi aku tidak rela, jika kenangan itu lenyap begitu saja"

__ADS_1


Tutur Rahul dengan lirih dan tatapan menerawang. Mengenang kembali masa-masa, kala dirinya menjadi pekerja ditempat itu dalam keadaan masih buta. Dan Zahra yang senantiasa mendampinginya.


Selalu memberinya dorongan dan semangat untuk terus maju, dan jangan pernah putus asa sekalipun situasinya terlalu sulit.


__ADS_2