Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 17- Berdamai Dengan Takdir


__ADS_3

"Ya.... karena kamu adalah temanku. Jadi aku merasa, punya kewajiban melindungimu dari tindakan asusila. Lagipula..... kamu dan ibumu sudah banyak membantuku. Masak aku diam saja, saat ada orang yang menyakitimu"


Godaan yang dilontarkan Zahra berhasil membuat Rahul salah tingkah.


"Masak sih?"


"Tentu saja"


"Heum.... dasar modus. Tapi ya sudahlah, yang penting sibrengsek Amar udah diberi pelajaran, Biar tau rasa. Dasar lelaki bajingan, suami bukan, seenaknya menyentuh tubuhku" umpat Zahra.


"Kalau aku yang jadi suamimu, apa aku boleh, memegang bagian yang dipegang oleh Amar tadi?" Rahul bertanya tanpa malu. Pikiran kotor mulai sedikit mendominasi kepalanya. membuat Zahra kembali merengut saking kesalnya, hingga dia mencubit keras perut Rahul.


"Aaww! Ya Tuhan, kamu ini benar-benar ya. Bisa gak sih, jadi gadis itu yang manis, lemah, lembut, kalem, elegant. Jangan bar-bar seperti preman pasar" keluh Rahul.


"Makanya, jadi lelaki jangan mesum. Tadi saja sok-sokan menceramahi dan memberi Amar pelajaran. Ternyata kamu sama saja dengannya, sebelas dua belas" sewot Zahra.


"Enak saja menyamakan aku dengan mereka. ya jelas bedalah"


"Apa bedanya?"


"Aku kan hanya teori, beda dengan mereka yang praktek langsung" Rahul berkata dengan tengilnya.


"Uh... dasar" Zahra memukul pundak Rahul yang hanya membalasnya dengan senyum tengil.


"Oh ya, terima kasih ya"


"Hah? kamu bilang apa barusan? Terima kasih?apa aku tidak salah dengar?" Rahul mengerutkan alisnya.


"Ya kan, kau sudah membela dan membantuku dari ketiga lelaki brengsek itu. Jadi aku mengucapkan terima kasih dong padamu"


"Itu artinya sekarang kita impas?"


"Hah, impas?"


"Iya. Bukankah waktu itu kau pernah bilang, kalau aku harus melakukan sesuatu yang membuatmu senang. Yang membuatmu mengucapkan terima kasih padaku?"


"Enak saja, tidak semudah itu. Ingat berapa kali kamu mengucapkan terima kasih, dan berapa kali juga aku mengucapkannya? Itu yang dinamakan impas"


"Terus, aku harus melakukan apa lagi?"


"Ya terserah, yang penting aku senang. Pikirkan saja sendiri caranya. Oh ya, aku ada sesuatu untukmu dari Ibu. Mau diserahkan tadi dirumah, tapi kelupaan saking asiknya kita berdebat" Zahra merogoh saku roknya, mengambil sesuatu didalamnya.


"Dikira berdebat itu main game, bisa membuatnya keasikan? Dasar gadis aneh" Gumaman Rahul yang terdengar oleh Zahra kembali membuat gadis itu merengut.


"Mulai, mulai. Mau dicubit lagi, atau gak disentil lagi?" Zahra menautkan jari jempol dan tengahnya kedepan Rahul. Mencoba mengancamnya.


"Iya ya, aku diam. Sekarang apa yang mau kamu berikan padaku?" Rahul pasrah.

__ADS_1


"Nih" Zahra mengambil tangan Rahul dan meletakkannya pada benda yang ada ditangannya.


"Apa ini? Kok bentuknya seperti.... seruling?" Rahul memegang benda itu dengan tangan kanan dan meraba-rabanya dengan tangan kirinya.


"Memang itu seruling. Itu milik almarhum Ayahku. Selama ini, seruling itu menjadi benda kesayangan Ibuku. Karena banyak kenangan akan Ayah pada seruling itu"


"Jika seruling ini merupakan benda yang sangat berarti bagi Ibumu, kenapa diberikan padaku. Yang notabene, masih merupakan orang asing bagi kalian?"


"Semalam aku menceritakan awal pertemuan kita pada Ibu. Bagaimana kamu bernyanyi, sembari bermain gitar ditaman rumah sakit, demi mendapatkan maaf dariku. Ibu jadi teringat awal pertemuannya dengan Ayah. Katanya dulu Ayah juga pernah melakukan hal yang membuat Ibu marah. Hingga Ayah merasa sangat bersalah. Demi mendapatkan maaf dari Ibu,Ayah bermain seruling ditepi sungai. Katanya sih, agar nuansanya ala-ala Radha Krishna gitu"


"Memangnya, didesa ini ada sungai?"


"Kenapa? Kau mau kesana?"


"Memangnya kau mau menemaniku kesana"


"Ya, mau bagaimana lagi? Daripada nanti kamu mati penasaran. Lalu arwahmu gentayangan disungai itu, gara-gara tidak aku temani kesana. Kan kasian jadinya, para penduduk desa sini"


"Astaga Nona. Imajinasimu terlalu tinggi rupanya ya. Seenaknya saja lelaki setampanku dibilang akan mati penasaran, dan menjadi arwah gentayangan. Tau gak? kamu itu cocoknya jadi penulis cerita horor, ketimbang jadi perawat"


"Kalau aku jadi penulis cerita horor, aku akan membuat skenario kau sebagai tokoh hantu, yang paling menyeramkan dan menakutkan. Dengan begitu maka tidak akan ada satu orangpun yang berani dekat denganmu. Sudah, ayo pergi. Jangan ngoceh terus"


Zahra bangkit dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya.


"Benar-benar gadis aneh. Jelas-jelas tadi dia sendiri yang meracau gak jelas. Kini malah seenaknya menyalahkanku. Huh...." Rahul bergumam dan menghela nafas berat.


"Ayo, kesini. Awas hati-hati, bebatuannya agak licin" ujar Zahra memberi aba-aba saat membimbing Rahul berjalan, menapaki sungai yang didominasi oleh bebatuan-bebatuan granit besar.


"Iya ya" tanggap Rahul sembari berjalan perlahan-lahan dengan meraba-raba kedepan, dan mengetuk-ngetukan tongkatnya diantara air dan bebatuan sungai.


Tak lama setelah itu, mereka pun duduk diatas bebatuan besar, dekat pepohonan hijau dan rindang yang memayungi mereka dari teriknya mentari.


"Huh" Zahra menghela nafas dengan sumringahnya mengadahkan wajahnya. menikmati segarnya udara khas pegunungan.


"Bagaimana, apa kau bisa merasakan kesegaran dan keasrian alam ditempat ini?" lalu melirik Rahul.


"Iya, aku bisa merasakan. udara yang terasa sejuk dan segar, suara kicauan burung, suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian dan..... aku bisa merasakan percikan airnya menerpa wajahku ini" Rahul mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Raut wajahnya pun, tak kalah cerianya dari Zahra.


"Iya, panorama alamnya memang sangat indah. Hingga membuat siapapun pasti betah berlama-lama disini"


"Sayang sekali aku tidak bisa melihat. Seandainya bisa, pasti akan sangat menyenangkan. Karena aku bisa melihatnya langsung. Air terjun yang jatuh dari ketinggian, mengalir menuju sungai yang ada dibawahnya, dengan menghantam bebatuan. Tapi sayang, aku hanya bisa merasakannya saja"


Rahul berkata dengan sendu, lalu menundukkan wajahnya. Zahra menatap Rahul dengan rasa empati. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan lelaki itu. Zahra menggenggam jemari tangan Rahul dengan lembut.


"Kan ada aku. Aku bisa melihat apa yang ingin kamu lihat. Aku bisa menjadi matamu. Jadi, jangan pernah berkecil hati lagi"


Rahul tersenyum haru mendengar ucapan Zahra. Hanya gadis ini yang bisa membuat perasaannya tenang. Dia sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis setulus dan sesederhana ini. Meski sifatnya yang sedikit bar-bar, namun tidak dengan hatinya yang begitu lembut dan penyayang.

__ADS_1


Selama ini dia selalu merasa bahwa Tuhan tidak adil terhadapnya. Namun tidak untuk saat ini. Dia merasa Tuhan telah memberikan keadilan untuknya.


Orang bilang, selalu ada hikmah dibalik setiap musibah yang mendera. Dulu dia menganggap bahwa kata-kata itu hanya fiktif belaka yang tidak pernah benar adanya. Namun tidak untuk sekarang.


Jika Zahra adalah hikmah yang telah disiapkan dibalik musibah itu, maka mulai sekarang, dia akan berdamai dengan takdir yang telah digariskan untuknya dengan penuh sukacita.


"Apa kau sering kesini?" Rahul mengalihkan topik.


"He em. Ini adalah tempat favoritku. Bisa dibilang, ini adalah tempatku menenangkan pikiran. Setiap kali ada masalah yang mendera. Yang tidak bisa aku bagi dengan orang lain" Zahra kembali mengadahkan wajahnya. Menikmati kesegaran dan keasrian alam yang tersuguh dihadapannya.


"Oh ya? Memang apa yang kamu lakukan, setiap kali kemari?" tanya Rahul penasaran.


"Teriak"


"Hah, teriak?" Rahul menautkan alisnya.


"He em, mau tau caranya? Seperti ini, arrrrggggghhhhhh!!!" Zahra berteriak sekeras yang dia mampu.


Suara teriakan wanita itu yang terasa cukup memekakkan telinga, membuat Rahul harus menutup sepasang telinganya.


"Astaga, ini yang kamu lakukan setiap kali kesini, untuk menenangkan diri?"Tanya Rahul setengah tak percaya.


"Iya. Daripada aku uring-uringan dan marah-marah gak jelas, lebih baik aku teriak-teriak disini. Pada pepohonan hijau dan rindang, yang melindungiku dari teriknya matahari. Tebing kokoh dan tinggi, yang mengalirkan cairan bening sebagai pengisi sungai yang ada dibawahnya. Batu-batu granit besar dan berlumut yang menjadi pelengkap sungai ini. Daripada aku melakukan hal gila seperti misalnya minum-minum. Kan itu haram"


Rahul semakin mengagumi sosok Zahra. Bahkan dia merasa malu jika membandingkan dengan dirinya sendiri, yang selalu bersandar pada minuman, setiap kali pikirannya sedang kacau balau. Apalagi selama dua setengah tahun ini. Hanya minuman yang menjadi teman dalam kegelapannya.


Begitu pula saat dulu dia masih bisa melihat. Tak jarang dia bermain dengan wanita diatas ranjang demi memuaskan hasratnya. Dan hal itu selalu dia lakukan setiap kali pikirannya sedang kalut.


Namun kini dia sadar, bahwa itu semua adalah dosa. Dan itu berkat Zahra. Wanita itu sudah berhasil membuka mata hatinya. Dan menuntunnya kejalan yang benar.


"Kalau begitu, aku juga ingin mencobanya" Rahul jadi merasa tertarik.


"Ya coba saja"


"Arrrrggggghhhhhh!!!" Rahul berteriak sekerasnya. Kini giliran Zahra yang harus menutup telinganya. Karena suara teriakan lelaki itu lebih dahsyat dari teriakannya tadi. Keduanya pun tertawa terbahak-bahak.


Obrolan seru serta suasana alam yang segar dan asri, membuat mereka terlena untuk terus berada ditempat itu. Menikmati keindahan air terjun yang jatuh dari tebing kokoh dengan ketinggian mencapai 100 meter, Dan dilatar belakangi oleh sungai itu.


Dengan antusiasnya Rahul mencoba seruling Ayah Zahra, yang kini sudah menjadi hak miliknya. Meski terbilang masih asing dengan alat musik jenis tiup itu, dan baru pertama kali memainkannya. Namun ternyata dia cepat mahir juga dalam meniup dan memainkan gawai itu hingga menghasilkan bunyi yang merdu.


Zahra sangat menikmati alunan musik yang keluar dari seruling itu. Ditambah lagi, pesona dari pemain serulingnya. Yang seolah-olah telah menghipnotis mata dan hatinya.


Sepertinya, dia memang sudah jatuh cinta pada lelaki itu. Baru kali ini, ada lelaki yang mampu menggugah hatinya. Mampu membuatnya tak bisa berpaling.


Meski dia sendiri tidak tau bagaimana perasaan pria itu terhadapnya. Apakah dirinya hanya dianggap sebagai teman atau apa?


Entahlah, dia juga tidak mau terlalu ambil pusing akan hal itu. Biarkan semuanya berjalan apa adanya seperti air mengalir. Toh, mereka juga baru mengenal.

__ADS_1


Sedangkan Rahul semakin asik dengan permainan serulingnya. Mereka menyusuri jembatan besi sungai itu dengan riang gembiranya.


__ADS_2