Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 59- Rasa Bersalah


__ADS_3

Mentari kembali terbit. Shreya terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia menggeliat dengan malasnya. Lalu dia melihat kesekelilingnya.


Ternyata dia sedang berada dikamarnya.


Siapa yang membawanya kekamar? Seingatnya, semalam dia kekenyangan setelah menghabiskan semua makanan yang dipesan dan dibuat oleh Rahul, hingga dia tertidur disofa. Apa lelaki itu yang membawanya kekamar ini?


Shreya mengambil bola kristal yang dia letakkan diatas nakas disamping ranjangnya. Kristal berisi sepasang miniatur boneka pemberian Rahul saat dikota tua tempo hari.


Shreya tersenyum sendiri bila mengingat bagaimana semalam dia menghabiskan waktu bersama lelaki itu. Bagaimana Rahul dengan sabar membuatkannya salad dan jus, serta menyuapinya makan.


Selama beberapa hari ini bersama Rahul, dia merasa sangat nyaman dan senang. Keberadaan pria itu didekatnya selalu membuat hatinya sumringah. Andai lelaki itu pasangan hidupnya, pasti dia akan sangat bahagia.


Shreya mengambil jam beker diatas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.10. Shreya beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Usai mandi dan melaksanakan ibadah subuhnya, dia langsung bergabung dengan para pelayan yang sedang membuat sarapan didapur.


Semalam Rahul sudah membuat salad buah dan jus untuknya. Sekarang dia akan membalasnya dengan membuatkan sarapan untuk pria itu.


Dia tidak tau makanan kesukaan Rahul. Ingin bertanya pada pelayan pun, rasanya dia terlalu malu. Bisa-bisa mereka semua akan berspekulasi bahwa dia sedang berniat untuk menggoda tuan muda mereka. Takutnya mereka semua akan kehilangan respek terhadapnya, karena statusnya sebagai istrinya Fajar.


Jadi dia akan membuat menu-menu makanan yang diketahuinya saja. Dia hanya berharap agar pria itu suka dengan masakannya.


"Aduh Nyonya, Seharusnya Nyonya tidak usah repot-repot membantu menyiapkan sarapan. Nyonya harusnya istirahat saja. Biar kami yang kerjakan semuanya"


"Tidak apa-apa Bu. Lagipula aku bosan jika hanya diam saja, tidak melakukan apapun"


Rahul mendengar suara Shreya dan Bu Susan saat dia akan memasuki ruang makan. Dan benar saja, begitu dia sampai dalam ruangan itu, tampaklah dua wanita berbeda generasi itu sedang menata meja makan dengan menu-menu sarapan.


"Eh Tuan sudah siap mau kekantor. Silahkan Tuan, sarapannya juga sudah siap" Begitu melihat Rahul, Bu Susan langsung menyapa tuan majikannya itu dengan sopan dan penuh hormat.


"Iya" Rahul menyampirkan jasnya pada sandaran kursi. Lalu dia duduk dimeja makan dan mulai mengambil satu persatu makanan yang ingin disantapnya.


Sementara Bu Susan kembali kedapur. Shreya duduk didepan Rahul. Dia juga mulai mengambil makanannya. Dalam hatinya, ingin sekali dia mendekati Rahul dan menuangkan makanan yang ingin disantap lelaki itu kedalam piringnya.


Tapi dia berusaha menahan diri, karena dia merasa tidak memiliki kewajiban untuk melayani lelaki itu dimeja makan.


"Ini masakanmu?" Tanya Rahul sembari mengunyah makanannya.


"Kenapa? Rasanya tidak sesuai ya, dengan seleramu?" Shreya balik bertanya dengan ragu dan takut kalau pria itu tidak akan menyukai masakannya.


"Kata siapa? Justru ini sangat sesuai dengan seleraku. Rasanya sama persis, dengan masakan Zahra" Ujar Rahul lirih dan jujur.


Sampai sekarang dia masih tidak mengerti, kenapa semua yang berhubungan dengan Shreya selalu mengingatkannya pada Zahra. Termasuk semua makanan yang dibuat oleh perempuan itu, yang rasanya selalu sama persis dengan buatan istrinya.

__ADS_1


"Apa masakanku kembali mengingatkanmu pada istrimu? Maaf ya aku tidak tau. Mmm.... Biar makanannya aku singkirkan saja. Kamu makan saja yang ini. Ini buatan pelayan"


Merasa tidak enak hati, Shreya mendekati Rahul dan mengambil piringnya. Lalu dia mengambil dan menawarkan makanan hasil masakan pelayan untuk lelaki itu.


"Mau kemana? Memangnya aku bilang, kalau aku tidak suka makanan buatanmu? Justru aku sangat ingin menyantapnya. Sini"


Rahul mengambil kembali piring berisi makanan yang sedang dimakannya, dan kembali menyantapnya dengan lahap. Membuat Shreya sangat senang karena pria itu tidak menolak untuk memakan masakannya.


"Kok kamu diam saja tidak ikut sarapan?" Rahul melirik Shreya yang masih berdiri disampingnya.


"Aku..."


"Ayo sarapan. Kamu harus makan yang banyak agar Boy sehat" Rahul menarik Shreya dengan lembut agar duduk dikursi disebelahnya. Lalu dengan penuh perhatian, dia mengambil piring dan makanan untuk wanita itu.


"Boy, siapa itu?"


"Ya siapa lagi, kalau bukan jagoan kecil dalam perutmu. Kan kita tau kalau jenis kelaminnya laki-laki" Rahul menunjuk perut besar Shreya.


"Oh..."


Ponsel Rahul berdering. Ternyata dari asistennya.


"Oke, hati-hati" Shreya tersenyum dan mengangguk.


Rahul melanjutkan panggilan suara dengan asistennya seraya beranjak melangkah meninggalkan ruang makan.


Shreya melanjutkan sarapannya dengan riang. Namun beberapa menit kemudian, dia baru sadar dan melihat jas kerja Rahul yang tersampir dikursi yang tadi didudukinya. Shreya mengambil jas itu dan berlari keluar sembari memanggil-manggil Rahul.


"Rahul, tunggu!"


Rahul yang sedang fokus bertelepon dengan asistennya terus berjalan dengan langkah lebar. Tanpa mendengar dan menyadari keberadaan Shreya yang terus mengejar-ngejarnya dibelakang.


"Rahul! Tunggu! Ini jasmu ketinggalan! Rahul auww!!" Karena terlalu fokus mengejar Rahul, Shreya sampai tidak menyadari jika dirinya sudah berada diujung teras. Hingga kakinya tersandung pada undakan anak tangga teras, Dan dia pun kehilangan keseimbangan.


Beruntung sebelum dia terjatuh dan terluka, seseorang dengan tubuh atletis telah lebih dulu menangkap dan memeluk tubuhnya. Shreya menengadah, dia senang saat mengetahui jika ternyata yang menyelamatkannya adalah Rahul.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rahul dengan suara rendah.


"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih"


"Kenapa kamu ceroboh sekali? Bagaimana kalau kamu sampai jatuh?! Kamu lupa baru kemarin keluar dari rumah sakit?! Kemarin kamu dan bayimu beruntung bisa selamat! Tapi siapa yang bisa menjamin kalau keberuntungan itu akan selalu berpihak padamu!"

__ADS_1


Rahul berbicara dengan suara kencang. Shreya terkejut melihat kemarahan lelaki itu.


"A.... Aku. Aku hanya...." Mata Shreya berkaca-kaca. Rasanya dia tidak mampu untuk berbicara.


"Apa kamu tidak memikirkan keselamatan bayimu?! Kamu tidak akan peduli, jika dia sampai menjadi korban karena keteledoranmu sebagai ibunya?! Jika kamu tidak peduli pada dirimu sendiri, setidaknya pikirkan calon putramu!" Rahul terus membentak perempuan itu tanpa mau mendengarkan penjelasannya.


Dengan air mata yang telah menitik dipipinya, Shreya memegang tangan Rahul dan menyerahkan jas pria itu ketangannya.


"Jasmu ketinggalan dikursi makan. Dari tadi aku sudah memanggil-manggilmu, tapi kamu tidak dengar. Maaf kalau aku menyusahkanmu" Shreya berbalik dan masuk kedalam rumah. Tangisan yang sudah dia tahan, akhirnya pecah juga.


Rahul terpana melihat kepergian wanita itu. Perasaan bersalah menghantamnya karena tidak bisa menahan emosi. Hingga bersikap begitu keras pada wanita itu tanpa mendengar penjelasannya Terlebih dahulu. Rahul menatap jas ditangannya dengan perasaan hampa.


"Shreya tunggu" Rahul hendak mengejar Shreya kedalam rumah, namun panggilan suara yang kembali berasal dari asistennya menghentikan langkahnya.


"Iya hallo. Harus sekarang juga?! Iya baiklah, aku kesana sekarang" Rahul memandang kedalam rumah mewahnya. Mencoba menelusuri keberadaan Shreya dibalik pintu yang terbuka.


Namun perempuan itu sudah tidak terlihat lagi, meskipun hanya bayangannya saja. Entah dia kekamarnya atau kehalaman belakang. Yang jelas Rahul sangat yakin, jika saat ini dia sedang menangis karena sikapnya barusan.


Akhirnya Rahul meninggalkan rumah menuju kantor, dengan memendam perasaan menyesal dan bersalah.


*******


Hari itu seharian Rahul berusaha fokus pada masalah perusahaan. Meski pikirannya selalu terpusat pada Shreya dan rasa bersalahnya, hingga terkadang membuatnya tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Karena terus menerus memikirkan keadaan perempuan itu setelah mendapat sikap kasar darinya.


Perasaan gelisah terus menghantuinya. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang?Apakah dia sudah makan? Atau dia masih menangis?


Rahul tidak bisa berhenti mengutuk dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan emosi karena terlalu mencemaskan keselamatan mereka pasca insiden jatuh ditangga kemarin.


Tapi itu bukan alasan. Karena seharusnya dia bisa lebih mengerti dan peka. Wanita hamil perasaannya sangat sensitif dan labil. Hal sekecil apapun bisa membuatnya bersedih dan menangis.


Ingin rasanya Rahul berlari kehadapan Shreya. Lalu meminta maaf dan memeluknya dengan erat. Menghapus segala bentuk kesedihan yang telah dia berikan pada perempuan itu.


Namun rencana hanya sekedar rencana. Karena jadwalnya pada hari itu yang lumayan padat, memonopoli waktunya seharian. Hingga dia terpaksa mengurungkan dulu niatnya untuk menemui perempuan itu.


Andai wanita itu adalah istrinya, mungkin dia bisa menghubungi orang rumah untuk menanyakan kabar serta kegiatan Shreya saat ini.


Namun sayang, mereka tidak hubungan seperti itu. Hingga dia tidak bisa leluasa melibatkan orang lain dalam permasalahan mereka. Karena hal itu hanya akan menciptakan masalah baru.


Masalah seperti ini kembali mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan Zahra dulu. Bagaimana dulu dia juga tidak bisa menahan emosi hingga bersikap kasar pada wanita itu. Namun dulu dia dengan leluasa bisa menemui Zahra, karena status mereka yang sama-sama sendiri.


Beda dengan masalahnya dengan Shreya saat ini yang begitu rumit. Ditambah lagi kondisi wanita itu yang sedang hamil. Yang membuatnya harus berhati-hati dalam bersikap. Lagi-lagi keberadaan Shreya kembali mengingatkannya pada Zahra.

__ADS_1


__ADS_2