
PRAANG....!!
"Ahk!!" Pekik Bu Sakinah ketakutan sembari menutup sepasang telinganya dengan telapak tangan. Mencoba menyamarkan pendengarannya dari bisingnya suara-suara yang terasa memekakkan telinga. Suara benda-benda yang dilempar dan dibanting hingga pecah dan berserakan dilantai. Ulah rombongan rentenir yang sedang memporak-porandakan isi rumahnya.
"Juragan. Saya mohon, tolong jangan hancurkan isi rumah saya!" Bu Sakinah menangis mengiba kepada pria sepuh yang dikenal sebagai rentenir kejam didesanya.
"Jika kamu tidak ingin saya menghancurkan seluruh isi rumahmu, cepat lunasi hutang-hutangmu wanita tua!" Bentak rentenir bernama Sigit itu dengan angkuhnya.
"Maaf Juragan. Tapi saya tidak punya uang untuk melunasi hutang sebanyak itu dalam waktu cepat" Jawab Bu Sakinah dengan tubuh bergetar saking takutnya.
"Itu bukan urusanku! Yang jelas aku sudah memberimu waktu untuk melunasi hutang-hutangmu! Tapi rupanya kau ingin bermain-main denganku ya"
"Maaf Juragan. Sebenarnya jika dihitung, semua hutang saya sudah lunas. Tapi Juragan terus saja menaikkan bunganya. Hingga kami semakin kesulitan untuk melunasinya!" Sanggah Bu Sakinah dengan wajah menunduk dan takut.
"Oh.... jadi kamu berani menyalahkanku?" Juragan Sigit berkata dengan suara menekan sembari manggut-manggut dan menyipitkan matanya. Tampaknya Ucapan Bu Sakinah berhasil membuatnya murka.
Akhirnya lelaki yang sudah beruban itu melirik ketiga anak buahnya yang berdiri tak jauh darinya. Lalu memberikan kode melalui mata.
Ketiga lelaki berbadan kekar itu mengangguk. Seolah mengerti akan kode yang diberikan oleh juragannya, mereka pun mendekati Bu Sakinah dan menyeretnya dengan kasar.
"Ayo!"
"Lepaskan! Apa yang ingin kalian lakukan padaku?! Lepaskan, saya mohon!" Bu Sakinah memberontak sembari menangis mengiba pada pria-pria yang sedang memperlakukannya dengan tidak manusiawi.
Namun percuma. Suara dan tangisannya tak ubahnya angin lalu bagi mereka. Mereka tak sedikitpun menanggapinya. Bu Sakinah menjadi semakin ketakutan.
Bagaimana tidak? Dia sedang berhadapan dengan tiga lelaki berbadan besar dengan raut wajah yang terlihat buas dan menakutkan. Sedangkan dirinya, hanya seorang wanita cacat dengan kedua kaki yang buntung. Sangat mustahil dia bisa menghadapi, apalagi melawan mereka semua.
"Lepaskan Ibuku!!"
Ketiga lelaki itu langsung menghentikan aktivitasnya, kala suara lantang seorang wanita mengejutkan mereka.
Seketika mereka semua langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Tak terkecuali Bu Sakinah yang begitu lega melihat putrinya yang baru saja tiba dirumah mereka, bersama Rahul dibelakangnya.
"Zahra!" Panggilnya dengan suara serak. Wajahnya basah dengan linangan air mata. Zahra berlari dan menghambur memeluk ibunya.
"Ibu. Ibu baik-baik saja kan?" Zahra menggerayangi tubuh ibunya. Mulai dari wajah, saking paniknya dengan kondisi ibunya, ditangan orang-orang tak berperasaan itu.
"Iya Nak, Ibu baik-baik saja!" Jawab Bu Sakinah dengan tubuh yang masih bergetar karena shock.
__ADS_1
Zahra menoleh, melirik keempat lelaki yang sedang menggenjet ibunya.
"Apa kalian tidak punya malu?! Beraninya dengan orang tua yang lemah!!" Katanya dengan berapi-api.
"Hahahaha!!" Juragan Sigit menarik lengan Zahra agar mendekat padanya secara paksa.
"Lepaskan aku!!" Teriak Zahra berusaha melepaskan lengannya yang dicekal oleh juragan Sigit.
"Hey Sakinah. Jika kamu tidak bisa melunasi hutang-hutangmu. Aku punya cara agar kamu bisa terbebas dari semua hutang-hutang kalian itu" juragan Sigit tersenyum licik.
"Mak-maksud Juragan apa ya?" Tanya Bu Sakinah terbata-bata. Perasaannya menjadi tidak enak, mendengar ucapan lintah darat itu. Terlebih lagi, melihat Zahra yang berada dalam cengkramannya.
"Aku akan menikahi, dan menjadikan putrimu ini sebagai istri keempatku. Dia masih begitu muda dan cantik. Pastinya dia masih virginkan?" Jawab juragan Sigit dengan senyum menyeringai menatap Zahra dari atas hingga bawah dengan penuh hasrat.
"Maaf Juragan. Putri saya ini masih muda Usianya baru 23 tahun. Saya tidak rela, anak saya satu-satunya dijadikan sebagai pelunas hutang! Apalagi sebagai istri keempat, hanya untuk memuaskan hasrat Juragan saja!" Sanggah Bu Sakinah dengan tegas menolak ide itu sembari menarik tangan Zahra.
"Aku juga tidak sudi menikah dengan lelaki tua dan mesum sepertimu! Sudah tua bukannya memperbanyak ibadah, agar nanti saat dijemput malaikat maut nyawamu tidak tersangkut. Tapi malah memperbanyak dosa dengan masih mengumpulkan harta riba, dan memikirkan untuk mencari wanita baru yang bisa memuaskan burungmu!!" Timpal Zahra dengan nada tinggi.
"Gadis kurang ajar! Berani kamu memaki dan menghinaku?!" Makian Zahra membuat juragan Sigit kembali marah. Dengan mata melotot pria tua itu mengangkat tangannya dan menampar Zahra dengan keras.
PLAAK!!
Untung saja ada Rahul yang berdiri tepat didepan pintu itu. Sehingga dada bidangnya mampu menjadi tameng untuk menahan tubuh Zahra dari terjatuh. Reflek Rahul langsung memeluk Zahra saat tubuh gadis itu menubruknya.
"Sudah cukup! Tidak bisakah anda bicara baik-baik tanpa harus melakukan kekerasan?! Beginikah cara anda memperlakukan wanita?!" Tegur Rahul dengan suara lantang.
"Kamu siapa, berani ikut campur urusanku. Ini urusanku dengan mereka. Jadi tidak usah coba-coba melibatkan dirimu dalam urusan kami" Kata juragan Sigit sinis.
"Juragan, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang lelaki buta yang numpang bersama mereka" Jawab salah satu anak buahnya yang berdiri dibelakangnya.
"Oh..... jadi kamu mau sok-sokan jadi pahlawan kesiangan buat mereka. Karena sudah dibolehkan numpang hidup dirumah mereka?"
"Aku memang bukan siapa-siapa disini. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakiti Zahra ataupun Bu Sakinah!" Jawab Rahul dengan suara bergetar saking geramnya.
"Besar juga nyalimu ya buta" Juragan Sigit melirik ketiga anak buahnya dengan tatapan nyalang. "Beri lelaki buta itu pelajaran. Supaya dia tau sedang berhadapan dengan siapa"
"Siap Juragan" Bagai kerbau yang dicocol hidungnya, ketiga lelaki berbadan besar itu langsung bertindak sesuai dengan perintah juragannya. Mereka menatap Rahul seperti seekor singa yang siap melahap mangsanya.
"Hul, hati-hati. Dia punya tiga anak buah" Zahra yang masih berada dalam pelukan Rahul hanya bisa memberitahu dan memperingatkan pria itu.
__ADS_1
"Iya. Kamu menyingkirkan bersama Ibu" Rahul melepaskan Zahra dari pelukannya. Menyadari bahwa dirinya akan diserang, dia mendorong Zahra dengan pelan dan lembut agar gadis itu bisa menyingkir darinya. Agar dia bisa menghadapi ketiga anak buah rentenir itu tanpa melukai Zahra maupun ibunya.
Ketiga anak buah itu berlari dan menyerang Rahul sesuai dengan perintah bosnya. Perkelahian pun tak bisa terelakkan. Mereka mengeroyok Rahul dengan melayangkan tinju dan tendangan kewajah, dada, dan perut lelaki itu.
Namun, dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam, sedikit banyak Rahul dapat mengimbangi pertarungan itu.
"Rahul! Hati-hati!!" Pekik Zahra kalut, saat serangan yang diberikan anak buah juragan Sigit diwajah maupun bagian tubuh Rahul lainnya mengenai tepat sasaran. Hingga membuat pria itu terluka.
Sementara juragan Sigit tersenyum puas saat tiga anak buahnya unggul dalam pertarungan sengit itu.
Namun, hal itu tak berlarut-larut terlalu lama. Karena pada akhirnya, perkelahian itu berhasil dikuasai oleh Rahul. Tinju, tendangan, serta hantaman yang dia berikan melalui tongkatnya cukup untuk membuat ketiga lelaki itu tak dapat berkutik. Dan hanya bisa pasrah menerima kekalahan, lantaran sudah babak belur dan kualahan.
"Dasar tidak berguna! Menghadapi satu orang buta saja kalian tidak becus!" Rutuk juragan Sigit pada ketiga anak buahnya dengan amarah yang memuncak.
"Ma-maaf juragan" Salah satu dari ketiga anak buahnya memberanikan untuk menjawab dengan wajah menunduk karena takut.
"Aku memang buta. Tapi bukan berarti aku lemah dan hanya bisa diam saja. Menyaksikan kalian berbuat semena-mena terhadap mereka. Sebelum aku kehilangan kendali, dan melakukan hal yang semakin tidak kalian duga, aku minta dengan sangat, enyahlah dari sini sekarang juga!" Kata Rahul dengan suara menekan.
Membuat juragan Sigit mendengus marah. Lalu menunjuk Bu Sakinah.
"Sakinah. Kali ini kau dan putrimu selamat karena sibuta piaraanmu ini. Tapi ingat, bukan berarti masalah hutang piutang diantara kita sudah selesai. Aku memberi kalian waktu satu minggu untuk melunasi hutang kalian. Jika tidak, kalian akan tahu sendiri akibatnya! Ayo pergi" Ancam juragan Sigit.
*******
Aaaw!" Rahul meringis kesakitan kala Zahra mengompres luka dan memar diwajahnya.
"Pelan-pelan Ra" tegur Bu Sakinah.
"Iya Bu"
"Rahul, maaf ya. Gara-gara masalah hutang Ibu dan Zahra, kamu jadi seperti ini" Kata Bu Sakinah dengan perasaan bersalah.
"Mmm, tidak Bu. Ibu tidak perlu minta maaf. Aku tidak apa-apa kok. Tapi, kalau boleh tau. Memangnya Ibu dan Zahra.... punya hutang apa pada orang itu?" Tanya Rahul penasaran.
"Dulu, sekitar tiga tahun yang lalu. Ayahnya Zahra masuk rumah sakit, dan harus menjalani operasi pemasangan ring jantung. Biayanya cukup besar, dan kami tidak punya uang sebanyak itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk meminjam uang pada juragan Sigit. Dia adalah rentenir kejam didesa ini. Uang yang kami pinjam itu, bunganya cukup besar. Dan bunga itu terus meningkat setiap bulannya. Sehingga kami semakin kesulitan untuk melunasinya. Bahkan, gaji Zahra selama dua tahun menjadi perawat pun, habis karena itu. Untung saja Ibu ada usaha kue dan order makanan. Dan ya....hasilnya lumayanlah, untuk biaya makan sehari-hari dan bayar listrik" Tutur Bu Sakinah pilu.
"Memangnya, berapa banyak nominal hutang kalian pada juragan Sigit?" Rahul semakin penasaran.
"Tiga ratus juta. Itu sudah termasuk bunganya. Sebenarnya, dulu kami hanya meminjam delapan puluh juta untuk biaya operasi Ayah" Jawab Zahra dengan helaan nafas panjang.
__ADS_1
Rahul merasa empati dengan masalah ibu dan anak itu. Pasti hidup mereka sangat tertekan lantaran harus terlilit hutang selama bertahun-tahun. Tapi hebatnya, mereka masih tetap bisa tersenyum ceria, dan bersyukur dengan hidup yang mereka jalani.