Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 99- Ciuman??


__ADS_3

"Kak, hasil gambarku bagus tidak?" Seorang anak perempuan menunjukkan hasil gambarnya pada Zahra.


Zahra mengambil dan mengamati sketsa pemandangan yang sudah rampung diwarnai itu dengan seksama.


"Bagus, cantik. Secantik tukang gambarnya" Puji Zahra disertai senyuman lebar sembari mencubit lembut pipi tembem bocah itu dengan gemasnya.


"Kalau Kak Shreya bisa menggambar tidak?" Tanya anak perempuan itu.


"Bisa dong. Sini pinjam buku dan pensilnya"


Anak itu meminjamkan alat-alat gambarnya berupa buku gambar, pensil warna dan sebagainya untuk Zahra yang langsung menggunakannya untuk membuat karya gambar.


Sekitar lima belas menit kemudian, hasil karya Zahra pun siap.


"Bagaimana? Bagus tidak, gambar Kakak?" Zahra memamerkan gambar bunga yang dia buat diatas lembaran putih itu pada semua orang yang ada dihadapannya.


"Wah! Bagus sekali Kak" Seru anak perempuan lainnya.


"Iya Kak. Sangat cantik!" Anak lelaki pun ikut menimpali.


"Hehe. Terima kasih" Zahra terkekeh malu menerima pujian itu.


"Cantik apanya? Biasa saja kok gambarnya" Rahul menimpali, lebih tepatnya mencela. Membuat Zahra mengerutkan wajahnya dengan malas.


"Adek-adek. Tidak usah ditanggapi ya, ucapan orang sirik. Ingat, sirik itu tanda tak mam..." Zahra memprovokasi anak-anak itu untuk ikut bersikap sinis terhadap Rahul.


"Pu!" Sambung anak-anak yang rata-rata berusia sekitar sepuluh tahun itu secara serempak.


"Kata siapa aku sirik? Aku malahan sangat bisa, membuat gambar yang jauh lebih cantik dari itu" Rahul membela diri dengan percaya dirinya.


"Oh ya?" Tanya Zahra dengan tatapan menantang.


"Iya" Jawab Rahul dengan yakinnya.


"Kalau begitu coba buktikan" Tantang Zahra.


"Baik. Siapa takut?" Ujar Rahul tidak gentar. "Adek-adek, pinjam buku dan pensil warnanya dong"


Rahul ikut meminjam buku gambar serta pensil warna milik salah satu dari anak itu, untuk kemudian ikut membuat karya gambar. Zahra dan anak-anak disampingnya dengan sabar duduk menunggu Rahul menyelesaikan aktivitasnya. Beberapa menit kemudian, hasil karya Rahul pun rampung dan siap ditunjukkan.


"Bagaimana? Cantik tidak?"


"Wah! Cantik sekali Kak!"

__ADS_1


"Iya, mirip sekali dengan yang aslinya"


Semua anak-anak itu menatap hasil karya Rahul sembari tersenyum takjub. Kecuali Zahra yang hanya diam terpukau menatap hasil gambar Rahul, yang tidak lain adalah sketsa wajahnya yang lebih menyerupai sebuah potret yang terlihat sangat cantik dan menawan.


"Cantikan mana sama gambar yang itu?" Rahul menunjuk gambar bunga hasil karya Zahra dengan sinis.


"Cantikan yang ini sih" Jawab seorang anak lelaki memuji karya Rahul ketimbang karya Zahra.


"Iya" Timpal anak lainnya.


"Siapa dulu yang membuatnya?" Rahul berujar dengan membanggakan dirinya.


Sedangkan Zahra masih saja terdiam dengan seulas senyuman. Meski Rahul mencela gambar miliknya, namun hal itu sama sekali tidak membuatnya tersinggung atau marah. Malah sebaliknya, dia merasa sangat tersanjung lantaran Rahul dan anak-anak itu memuji-muji kecantikannya melalui sketsa buatan Rahul.


Rahul menatap Zahra dengan seulas senyum puas. Dia tau kalau saat ini istrinya sedang merasa tersanjung dengan apa yang dia lakukan. Dia akan terus melakukan hal seperti ini untuk membuat Zahra merasa nyaman dan bebas bersamanya. Serta melupakan perasaan tidak enak dan bersalahnya terhadap hubungan semunya dengan Fajar.


Perbincangan serta acara mengajar belajar mereka pun terus berlanjut.


"Oh ya, kalian sering, berkumpul disini untuk belajar" Tanya Zahra.


"Iya Kak. Jam segini kami memang biasa berkumpul disini. Setidaknya dengan begini kami bisa tetap belajar. Meskipun bukan disekolah" Jawab seorang anak perempuan dengan lirih.


"Memangnya kenapa kalian tidak sekolah?" Zahra kembali bertanya karena penasaran.


"Banjir bandang?" Zahra mengernyitkan keningnya. Semua anak itu mengangguk serempak. Zahra merasa ada sesuatu pada musibah yang disebutkan oleh anak itu. Namun dia tidak mengerti apa itu.


Hingga sekilas bayangan kembali muncul dibenaknya. Bayangan yang sama persis dengan mimpinya dulu. Yaitu bayangan kala dia sedang berlari dan menangis meraung-raung ditengah-tengah hujan yang luar biasa derasnya, sembari mendorong kursi roda berisi seorang wanita paruh baya.


Bayangan itu muncul sekilas dan putus-putus. Akibatnya, kepala Zahra terasa sakit dan berat.


"Aauw!" Zahra merintih kesakitan seraya memegang kepalanya.


"Zahra?! Kamu tidak apa-apa? Kepalamu sakit?" Seru Rahul yang refleks langsung memegang dan menyanggah tubuh Zahra dengan panik.


"Iya, tiba-tiba kepalaku jadi sakit sedikit" Keluh Zahra.


"Apa kita pulang saja sekarang?" Tawar Rahul yang merasa takut terjadi hal buruk terhadap istrinya jika mereka masih berada ditempat itu.


"Tidak-tidak. Aku masih ingin disini. Aku nyaman bermain dengan mereka" Tolak Zahra bersikeras.


Rahul menghela nafas. Dia tau kalau istrinya memiliki sifat keras kepala sama seperti dirinya. Rasanya percuma saja dia membujuk atau berdebat dengan perempuan itu.


"Ya sudah kalau begitu. Biar aku ambil air mineral saja dimobil" Rahul beranjak kemobil sejenak. Dia kembali dengan membawa sebotol air mineral.

__ADS_1


"Ini, minumlah" Rahul membuka tutup botol minuman itu dan menyerahkannya pada Zahra.


"Terima kasih" Zahra menerima botol minuman itu dan langsung meneguk isinya.


"Kakak sakit ya?"


"Tidak kok sayang. Kakak hanya sakit kepala sedikit saja. Sekarang sudah tidak apa-apa kok. Ayo kita lanjut lagi" Jawab Zahra dengan seulas senyuman menahan sakit.


"Kak, bagaimana kalau sekarang kita belajar bahasa Indonesia? Mumpung sekarang sedang ada Kak Rahul dan Kak Shreya. Jadi ada yang mengajari kami"


"Boleh. Bagaimana kalau sekarang kita belajar tentang tema.... Dongeng? Kakak ingin melihat siapa diantara kalian yang paling jago dalam menceritakan kisah dongeng. Nanti Kakak berikan hadiah"


Usulan Zahra membuat suasana seketika menjadi heboh dan riuh oleh teriakan semua anak itu saking antusiasnya. Membuat Rahul ikut berseru untuk menenangkan keadaan.


"Tenang-tenang semuanya! Sebelumnya kita tanyakan dulu pada Kak Shreya. Apa hadiahnya bagi orang yang paling jago dalam berdongeng. Supaya kita semua jadi semangat dalam membacakan dongengnya" Rahul melirik Zahra.


"Iya Kak Shreya. Memangnya kita dapat hadiah apa?"


Zahra tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mmm.... Bagaimana kalau Kakak memberikan kalian hadiah.... Es krim atau coklat? Setuju?"


"Setuju!!" Mereka kembali berteriak memberi jawaban secara serempak.


"Hanya itu saja? Tidak ada lagi?" Tanya Rahul.


"Memangnya apalagi yang paling disukai oleh anak-anak seusia mereka, kalau bukan es krim atau coklat?"


"Sepertinya kamu melupakan satu hal"


"Apa?"


"Anak kecil itu, sangat menyukai yang namanya kasih sayang dan cinta"


"Maksudnya?"


"Ya maksudnya, selain makanan atau cemilan yang manis, mereka juga sangat menyukai yang namanya ciuman penuh cinta"


"Jadi maksudmu, aku harus mencium mereka?" Zahra bertanya dengan bingung.


Rahul menaikkan alisnya. "Ya.... kira-kira begitulah" Lalu dia melirik anak-anak itu. Mencoba memprovokasi mereka. "Bagaimana adek-adek? Kalian mau tidak, dicium oleh Kak Shreya sebagai salah satu hadiah, untuk kalian yang bisa menceritakan dongeng dengan sangat baik?"


"Boleh juga tu. Kan Kak Shreya cantik"


"Jadi selain dapat es krim dan coklat, kita juga dapat ciuman dari Kak Shreya juga ya? Asik!" Suasana pun kembali riuh oleh antusiasme anak-anak polos itu menerima ide Rahul.

__ADS_1


__ADS_2