
"Pak sebentar. Apa anda melihat istri saya" Tanya Rahul pada salah satu anggota tim SAR yang lewat didepannya.
"Maaf, istri anda siapa ya?"
"Namanya Zahra, Azzahra Alfathunnisa. Dia salah satu penduduk desa sini"
"Apa istri anda juga menjadi salah satu korban dari bencana ini?"
"Mmm.... Saya tidak tau Pak. Yang jelas terakhir dia ijin sama saya, dia ingin kedesa ini" Rahul semakin gelisah menjawab pertanyaan itu.
Dia tidak bisa membayangkan jika istrinya benar-benar menjadi salah satu dari korban banjir bandang itu, ditengah-tengah kondisinya yang sedang berbadan dua.
Pasti Zahra sangat kesakitan dan ketakutan saat peristiwa itu terjadi. Dan dia tidak ada disampingnya.
"Semua koban yang berhasil diselamatkan sudah dievakuasi ke posko, untuk mendapatkan penanganan medis Pak. Coba anda cek saja kesana. Mungkin istri anda ada disana"
Tutur lelaki itu sembari menunjuk posko yang letaknya sedikit jauh dari lokasi mereka saat ini.
"Terima kasih" Rahul langsung berlari menuju posko yang dimaksud lelaki itu.
Kakak dan kedua orang tuanya hanya bisa mengejar dan mengawasinya dari belakang. Mereka terus memanggil-manggil namanya, namun Rahul tidak sedikitpun menghiraukan seruan mereka. Yang ada dipikirannya hanya mencari dan menemukan istrinya.
Rahul menelusuri dan memeriksa posko demi posko, yang didalamnya berisi para korban yang terbaring lemah. Bahkan ada juga yang tak sadarkan diri diatas tadu, dan sedang dalam penanganan anggota tim medis.
Rahul meneliti dan memindai setiap korban wanita muda yang dia temui terbaring lemah diatas tandu. Mereka semua menatapnya dengan heran.
Rahul merasa lemah tak berdaya. Dia yakin Zahra tidak ada diantara para korban wanita muda itu. Jika ada, dia pasti sudah mengenali dan menegurnya.
Lalu dimana istrinya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Arrgghh! Andai dia tidak pernah buta. Andai dia tidak mengikuti keinginan Zahra untuk melakukan operasi di Jakarta. Andai saat itu dia tidak mengijinkan Zahra untuk pergi sendirian. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Dia benar-benar telah gagal menjadi pelindung untuk istrinya sendiri. Suami macam apa dirinya?
"Bagaimana Hul, kamu sudah menemukannya?" Gala memegang pundak Rahul dengan lembut dan tatapan berempati.
"Aku tidak tau Kak. Aku bahkan belum pernah melihat seperti apa wajahnya. Dan sekarang aku tidak tau dia dimana. Ini semua salahku. Seharusnya saat itu aku tidak membiarkannya pergi. Aku memang bodoh. Arrgghhh!"
Lirih Rahul yang tidak bisa bisa mengendalikan emosinya hingga dia menjerit saking frustasinya. Membuat semua orang yang ada didalam posko itu terkejut.
"Rahul, tenang Nak. Tahan emosimu. Kasian korban yang lain. Kita harus sabar. Mama yakin istrimu pasti akan ditemukan" Lesti mendekati Rahul dan berusaha menenangkannya.
Rahul melirik kesekelilingnya, pada orang-orang yang sedang menatapnya heran.
__ADS_1
"Rahul"
Mereka mendengar suara lembut seorang wanita memanggil Rahul. Rahul mengalihkan pandangannya pada seorang wanita paruh baya yang sedang terbaring lemah diatas tandu, dengan sejumlah luka disekujur tubuhnya, dan sedang dalam perawatan tim medis.
Rahul menatap wanita itu dengan hati bertanya-tanya, apakah wanita itu mengenalnya? Atau dia juga mengenal Zahra?
Karena penasaran, Rahul berjalan perlahan-lahan mendekati wanita itu.
"Maaf, apa Ibu mengenal saya?" Tanya Rahul lembut.
"Rahul, menantuku"
Rahul terpana mendengar ucapan wanita itu. Menantu, wanita ini menyebutnya sebagai menantu? Apa jangan-jangan?
Rahul dengan cepat menggerayangi dan melihat kaki wanita paruh baya itu. Kedua kakinya buntung? Jadi beliau ini adalah....?
"Astagfirullah hal azzim. I-Ibu Sakinah? Ibu mertua saya?" Seru Rahul memastikan jika wanita didepannya ini benar-benar ibu mertuanya.
"Ka-kamu sudah.... Bi-bisa melihat..... Nak?" Ucap Bu Sakinah dengan suara lemah dan nafas yang tersengal-sengal. Sangat terlihat bahwa wanita itu sedang sekarat.
"Iya Bu, alhamdulilah operasinya berhasil. Aku sudah bisa melihat sekarang. Bu, apa yang terjadi? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Dimana Zahra?" Ujar Rahul dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
"I...bu ti...dak ta...u Nak. I....bu ti....dak ta...u di...mana Zah....ra. Tolong ca....ri di....a Nak, dia se...dang hamil. To....long ja....ga di...a"
Rahul memegang dan mencium tangan Bu Sakinah. Dia berusaha menyemangati ibu mertua yang selama ini sudah sangat baik terhadapnya.
"I....bu me...rasa, wak...tu Ibu ti...dak akan la...ma lagi. I...bu ti...tip Zah...ra pa...damu. Tolong baha...gia...kan dia. Tolong ja...ngan pernah sa...kiti pu...tri Ibu" Pinta Bu Sakinah sembari menahan rasa sakit.
"Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu? Ibu pasti akan baik-baik saja. Aku butuh Ibu untuk mencari Zahra" Rahul terus berusaha memberi kekuatan pada wanita yang telah melahirkan istrinya itu.
Namun tiba-tiba nafas Bu Sakinah seperti putus-putus. Tubuhnya menggelinjang selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia semakin lemah dan lemah, hingga matanya pun terpejam.
"Bu, Ibu" Melihat ibu mertuanya yang tak bergeming sedikitpun membuat Rahul semakin panik. Dia menepuk-nepuk pipi Bu Sakinah dengan pelan. Dia sangat berharap jika wanita paruh baya itu hanya pingsan saja.
Dokter langsung mendekati mereka dan meminta Rahul agar menjauh sebentar, agar dia bisa melakukan pemeriksaan.
Usai memeriksa Bu Sakinah dengan seksama, dokter itu menatap Rahul dan menggeleng kepala dengan tatapan penuh empati.
Rahul menghela nafas lelah. Dia menatap ibu mertuanya yang kini sudah menjadi jenazah. Dia tidak menyangka jika wanita yang telah dianggap seperti ibunya itu akan pergi secepat ini, bahkan sebelum dia melihat cucunya lahir.
******
__ADS_1
Rahul terus menyusuri lokasi demi lokasi yang telah porak poranda dengan puing-puing reruntuhan, yang berbaur dengan pasir lumpur.
Dia bergabung dan membantu para tim SAR dalam melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap korban. Dia berharap Zahra akan menjadi salah satu dari korban yang selamat itu, dan bisa kembali berkumpul dengannya.
Namun harapan itu nihil. Semalaman dia mencari, namun dia tetap tidak bisa menemukan istrinya. Entah karena dia tidak tau persis seperti apa wajah istrinya?
Entahlah, yang jelas hatinya merasa tidak yakin jika Zahra ada diantara mereka.
"Zahra! Zahra! Dimana kamu Belle? Tolong beri aku petunjuk agar bisa menemukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu istriku. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku sudah bisa melihat sekarang. Bukankah itu yang kamu inginkan? Kita masih bisa hidup bahagia seperti yang sudah kita jalani selama lima bulan ini. Bersama calon anak kita yang saat ini sedang berada dalam perutmu.
"Aku janji, aku akan menjadi suami saya lebih baik lagi. Aku akan menjaga dan membahagiakan kalian dengan segenap jiwa dan ragaku. Sekalipun aku tidak akan pernah menyakiti kalian. Tapi tolong kembalilah padaku. Tolong jangan buat aku kehilangan lagi untuk kesekian kalinya"
Rahul meracau dengan sendu. Tanpa sadar air mata berlinang diwajahnya. Dia merasa kalah dengan hidupnya. Kalah untuk kedua kalinya.
Bahkan kali ini, rasanya jauh lebih sakit dari sebelumnya.
"Zahra!!" Rahul berteriak saking frustasinya.
"Rahul, tolong tenangkan dirimu" Gala memegang pundak Rahul dengan lembut. Dia menatap adiknya dengan tatapan penuh empati.
Dia sangat mengerti perasaan adiknya. Dia bisa melihat bagaimana Rahul sangat mencintai Zahra. Sepertinya wanita itu benar-benar telah mengisi dan mewarnai hati Rahul, sehingga adiknya bisa baik-baik saja dan hidup dengan bahagianya selama lima bulan ini.
Tapi sekarang wanita itu tidak tau dimana rimbanya. Dia menghilang dan kehilangannya menyisakan luka yang teramat dalam bagi Rahul.
Dia hanya berharap wanita itu bisa segera ditemukan. Dia tidak ingin Rahul kembali terpuruk seperti dulu lagi. Kasian adiknya, dia sudah kembali menemukan kebahagiaannya. Tapi sekarang kebahagiaan itu kembali meninggalkannya.
"Aku hanya ingin bertemu istriku Kak" Jawab Rahul sendu.
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus. Kita harus kembali ke Jakarta"
Ucapan Gala membuat Rahul meradang. Bagaimana bisa kakaknya mengajaknya pulang ke Jakarta, sementara istrinya saja belum ditemukan? Apa Kak Gala tidak merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada istrinya? Bagaimana bisa dia bicara seperti itu?
"Kembali ke Jakarta? Kakak sadar apa yang Kakak katakan? Istriku masih belum ditemukan sampai saat ini. Apa Kakak pikir aku bisa aku bisa kembali ke Jakarta dengan tenang? Sementara aku tidak tau apakah istriku sudah diselamatkan, atau masih terkubur didalam reruntuhan dan pasir lumpur itu. Dia sedang mengandung anakku"
Rahul mengomeli kakaknya dengan suara tinggi dan sorot mata penuh kemarahan.
"Tolong jangan salah paham dulu. Aku juga sangat mencemaskan istrimu. Bagaimana pun juga dia adalah adik iparku yang sedang mengandung calon keponakanku. Tapi masalahnya kita harus segera memakamkan ibu mertuamu. Kasian beliau jika jenazahnya dibiarkan begitu saja. Apa sebagai menantunya, kamu tidak ingin ikut dalam prosesi pemakaman ibu mertuamu sendiri?"
Gala berusaha untuk menjelaskan dengan suara pelan. Disaat-saat seperti ini dia harus pandai menjaga cara bicaranya agar Rahul tidak salah paham dan meradang. Jangan sampai Rahul kembali menjauh dari mereka.
Ucapan Gala membuat Rahul terdiam dan berpikir. Yang dikatakan kakaknya benar. Dia tidak boleh mengabaikan ibu mertuanya yang baru saja tiada. Jika Zahra ada disini, dia pasti akan melakukan tugasnya sebagai seorang anak terhadap jenazah ibunya.
__ADS_1
Zahra pasti akan sangat marah padanya, jika dia sampai mengabaikan ibunya yang baru saja menjadi mayat.