
Zahra terbangun dipagi hari. Dia meringis, menahan rasa nyeri dibagian intinya yang entah mengapa bisa terjadi.
"Selamat pagi"
Zahra terlonjak mendengar suara seorang pria yang menyapanya dengan lembut. Dia menoleh dan tampaklah Rahul yang yang sedang duduk disebelahnya dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.
Zahra terduduk dari posisi awalnya yang berbaring, saking terkejutnya dengan kehadiran lelaki itu.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?"
"Memangnya aku melakukan apa? Orang aku juga baru bangun" Jawab Rahul santai.
"Maksudnya kenapa kamu bisa berada di kamarku, dan....?" Zahra membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Betapa terkejutnya dia melihat tubuhnya dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. "Ya Tuhan. Kau, Apa yang sudah kau lakukan padaku?! Dasar lelaki kur*ng aj*r! Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?!" Zahra mengambil bantal dan memukul-mukulkannya kekepala Rahul.
"Memangnya apa salahku, sampai aku dipukul begini?" Rahul berusaha menahan pukulan bantal itu dengan tangannya.
"Kamu masih bertanya apa salahmu? Dasar lelaki brengs*k! Kamu sudah merenggut kesucianku, keperawananku! Sekarang aku sudah kotor, dan itu semua karenamu. Dasar lelaki brengs*k!" Zahra terus meracau seiring tangannya yang terus memukuli Rahul dengan bantal.
"Hahaha" Rahul tertawa terbahak-bahak mendengar kicauan istrinya.
"Ih!" Zahra kembali melayangkan bantal ditangannya keatas kepala lelaki itu.
"Auw"
"Bukannya merasa bersalah, malah tertawa!Memangnya ada yang lucu!"
"Tentu saja ada"
"Apa?!"
"Kamu"
"Aku?!
"Iya, kamu yang lucu. Kamu menangis dan marah, lantaran keperawanmu hilang ditangan suamimu sendiri?"
"Suami?" Zahra mengernyitkan kening.
"Ya Tuhan. Kamu ini amnesia atau pikun sih? Kamu lupa? Kita sudah menikah kemarin. Aku sudah menjadi suamimu sekarang. Jadi dimana kesalahannya, jika aku menyentuh dan menjamah istriku sendiri?"
"Jadi kita benar-benar sudah menikah, dan melakukannya semalam? Astaga, aku pikir semua itu hanya mimpi indah saja" Gumam Zahra.
"Mimpi indah? Oh, jadi menikah denganku adalah mimpi terindah dalam hidupmu? Apa kau begitu mencintaiku?" Rahul tersenyum menggoda. Membuat Zahra kembali jengkel, hingga dia kembali menghantamkan bantal kekepala lelaki itu.
"Uhg...."
"Jadi istri itu jangan galak-galak sama suami"
"Jadi suami itu juga jangan terlalu narsis?"
"Siapa yang narsis? Kan yang aku bilang memang benar"
"Apanya?"
"Kamu sangat mencintaiku"
"Uhg....lebay" Zahra mendorong pundak Rahul. "Sudah ah, aku mau mandi dulu"
__ADS_1
Sebelum Zahra berhasil beranjak dari ranjang, Rahul sudah menarik tangan wanita itu hingga jatuh kepelukannya. Dia merangkum wajah Zahra. Lalu mencium dan ******* bibir istrinya dengan penuh nafsu, selama beberapa saat. Sampai akhirnya dia puas dan melepaskan bibir mungil itu.
"I love you, putri Belle ku" Kata Rahul dengan mesra.
"Putri Belle?"
"He em"
"Siapa itu, selingkuhanmu?" Tuduh Zahra.
"Ya Tuhan. Aku baru tahu, ternyata selain bar-bar, kamu juga mempunyai sifat posesif ya. Baru juga menikah, sudah dituduh selingkuh. Memangnya aku seburuk itu apa?"
"Siapa yang menuduh? Kan barusan kamu sendiri yang menyebut nama putri Belle. Memangnya siapa dia?"
"Kamu lupa? Itukan nama tokoh utama wanita dalam dongeng yang kamu ceritakan pada Lyra waktu itu"
"Tentu saja aku ingat. Lalu apa maksudmu, menyebut nama tokoh itu disini?"
"Karena kamu sama seperti tokoh itu. Seorang gadis cantik dengan hati yang tulus. Yang dengan sepenuh hati bisa mencintai dan menerima pasangannya. Meski dengan segala kekurangan yang dimilikinya"
"Heum..... So sweet" Zahra mencubit pipi Rahul dengan gemasnya. "Jika aku Belle, berarti kamu Beastnya dong"
"Masak kamu akan memanggilku dengan panggilan Beast?"
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Gaston?"
"Ya jangan Gaston juga. Kan dia antagonis"
"Lalu?"
"Ya terserah. Asal bukan kedua tokoh itu. Kan aku tidak antagonis ataupun buruk rupa"
"Ya panggil saja my love, my heart, baby, honey, darling, atau apalah. Supaya terdengar mesra gitu....."
"Ah... Itu terlalu norak. Sudah lumrah digunakan oleh pasangan lain"
"Lalu?"
"Baiklah. I love you to satyaku" Zahra merangkum wajah Rahul, dan menempelkan wajahnya pada wajah pria itu.
"Satya? Siapa itu?"
"Itu artinya.... pujaan hatiku"
"Benarkah?"
"He em?"
"So sweet. Ternyata istriku romantis juga ya"
"Tentu saja. Kamu baru tahu?"
"Melihatmu seperti ini, aku jadi ingin lagi"
"Ingin apa?"
"Tentu saja mengulangi adegan kita semalam" Rahul tersenyum nakal.
__ADS_1
"Hah, inikan sudah pagi"
"Lalu kenapa? Memangnya ada larangan, bercinta dipagi hari?"
"Tapi, nanti Ibu dengar"
"Itu bukan masalah besar Belle. Ibu pasti maklum, kitakan pengantin baru"
"Tapi, aku harus kerumah sakit?"
"Tidak perlu banyak alasan. Aku tahu kamu sedang cuti karena pernikahan ini" Rahul tidak menerima alasan apapun yang dilontarkan Zahra. Dia memeluk dan kembali mencium serta ******* bibir wanita itu. Tangannya mulai bergerilya dibagian-bagian tertentu.
"Tapi, ahk.... Satya" Zahra hanya bisa pasrah saat suaminya mulai kembali dengan aksinya, untuk mendapatkan nafkah batin darinya
*******
Sama halnya dengan pasangan pengantin baru pada umumnya, yang sedang menikmati hangatnya masa-masa pernikahan dengan honeymoon, Rahul dan Zahra pun dengan penuh sukacita menempuh perjalanan jauh keluar negeri, untuk merayakan honeymoon.
Berbekal dua tiket liburan yang dimenangkan Rahul dalam kompetisi gulat tempo hari, keduanya dengan riang gembira menikmati momen bulan madu mereka dinegara India.
Mengunjungi berbagai kota dan tempat. Seperti tajmahal, sebuah monumen yang terletak dikota Agra. Monumen indah dan megah yang sedikit menyerupai mesjid. Yang terdapat sejarah lambang cinta abadi didalamnya. Yang konon katanya, monumen itu didirikan atas perintah raja ternama yaitu Shah Jahan, sebagai bukti cinta kepada mendiang permaisurinya Mumtaz Mahal.
Zahra sangat mengagumi keindahan ornamen yang digunakan dalam membuat bangunan itu. Mulai dari bumbung, kubah, dan menara yang terbuat dari marmer putih. Serta mozaik yang indah.
Namun hal yang paling dia kagumi dari bangunan yang merupakan salah satu keajaiban dunia itu adalah, tentang sejarah berdirinya bangunan itu sendiri.
Dia tidak menyangka, ada suami yang mencintai istrinya sebesar itu, hingga membangun monumen seindah dan semegah itu hanya demi mengenang istrinya yang sudah tiada. Dia hanya berharap, agar dirinya bisa seperti ratu Mumtaz Mahal yang dicintai oleh suaminya, sekalipun dia sudah menutup mata untuk selamanya.
Puas menyaksikan keindahan dan kemegahan, serta keromantisan yang tersimpan dibalik berdirinya bangunan tajmahal, mereka pun menyambangi benteng Agra. Benteng yang sangat luas dan terletak sekitar 2,5 km barat laut dari tajmahal. Terbuat dari batu bata berwarna merah yang sangat besar, dan dikenal dengan nama badalgarh. Namun sekarang disebut red fort.
Aktivitas mereka berlanjut dengan menyusuri dan menikmati keindahan alam sungai yamuna. Sungai yang berasal dari gletser yomunotri dipegunungan Himalaya. Mengalir membentang kira-kira sepanjang 1.376 kilometer dari India Utara. Yang menurut kepercayaan masyarakat disana merupakan sungai suci.
Diatas perahu, keduanya asik bercumbu mesra seakan dunia hanya milik berdua. Untung saja mereka masih bisa menahan diri dari melakukan hal yang lebih jauh dialam terbuka.
Rahul melepaskan pagutannya sejenak. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Mata Zahra terbelalak menatap kalung berbandul nama SABEL dengan raut wajah berbinar-binar.
Mengetahui istrinya begitu antusias dengan pemberiannya, Rahul langsung menyibak rambut Zahra dan memasangkan kalung emas itu dilehernya.
Zahra memegangi kalung yang teruntai indah dilehernya. Dia mencium bibir Rahul, hingga beralih posisi kepangkuan lelaki itu. Rahul memeluk dan mencium Zahra dengan penuh cinta.
Mereka menghabiskan waktu selama satu minggu dinegara Hindustan itu untuk menikmati banyak hal. Seperti singgah kehawa mahal, sebuah bangunan mewah dan megah yang dikenal sebagai istana angin merah muda.
Menikmati keasrian alam perkebunan teh hijau dan subur yang terhampar mengelilingi pegunungan tentram di Munnar. Merasakan dan menikmati sensasi dingin pegunungan berlapis salju di Manali, membuat boneka salju.
Yang paling menyenangkan bagi mereka adalah, saat menikmati pemandangan gunung salju dari atas melalui balon udara yang terbang diatas ketinggian sekitar 60 meter.
Jika Zahra merasa gembira karena dapat menikmati keindahan pemandangan dari atas, Rahul justru merasa gembira lantaran lebih leluasa mencumbu istrinya. Karena didalam balon udara itu, mereka hanya berdua dan jauh dari keramaian yang selalu menjadi alasan Zahra untuk menolaknya.
Perjalanan honeymoon mereka masih berlanjut dipantai dengan keindahan panorama pasir putih, dan gulungan ombak yang berkejaran. Mereka bersantai dan membuat istana pasir, menikmati kesegaran hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi menerpa tubuh mereka. Suara gemuruh ombak yang menghantam batu karang.
Tak lupa pula mereka mencoba outfit, aksesoris serta menjelajahi berbagai jenis kuliner khas India yang terasa sangat menggugah selera.
Meski sedang hanyut dengan masa-masa bulan madu, namun mereka tetap tidak melupakan atau meninggalkan kewajiban lima waktu mereka, dengan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke mesjid terdekat yang ada dinegara itu, setiap kali mendengar suara adzan berkumandang.
Zahra sangat bahagia dan menikmati setiap detail perjalanan yang mereka lalui bersama. Dia tidak pernah menyangka bisa honeymoon romantis, dinegara yang terkenal akan keromantisannya bersama suami tercintanya.
Begitupun dengan Rahul yang juga sangat bahagia. Bukan karena keindahan alam maupun kemegahan monumen yang ada dinegara itu. Toh dia juga tidak bisa melihat apapun disana. Tapi dia sangat bahagia bisa mendengar suara tawa bahagia yang dilontarkan istrinya.
__ADS_1
Dia merasa menjadi pria yang sempurna karena bisa membuat bahagia orang yang dicintainya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kembali kebahagiaannya yang sudah lama terenggut. Dia berharap kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.
Dia tidak butuh apapun lagi sekarang. Dia hanya ingin istri tercintanya selalu berada disisinya.