Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 88- Jujur atau Tidak ya??


__ADS_3

"Hati-hati ya. Nanti sesampai disana, tolong kabari aku" Pinta Fajar yang sedang berusaha tegar melepas Zahra untuk pergi bersama suaminya.


"Iya. Kamu serius kan, aku tidak masalah pergi dengan Rahul?" Dengan ragu Zahra mencoba bertanya memastikan sekali lagi. Karena dia masih merasa aneh dengan semua keputusan ini.


"Iya tentu saja. Karena aku yakin, Rahul tidak mungkin akan menggigitmu" Dengan sedikit bergurau Fajar tersenyum sedih untuk menyembunyikan dan menutupi rasa sakit hatinya yang sedang tak tertahankan.


"Ayo kita pergi" Timpal Rahul mengajak Zahra. Zahra menoleh dan mengangguk pelan. Keduanya pun berjalan menuju mobil Rahul yang terparkir tepat didepan teras.


Fajar menatap kepergian mereka dengan hati yang hancur berkeping-keping. Hingga mobil Rahul luput dari pandangannya. Ingin sekali rasanya dia mengejar dan menghentikan Zahra untuk meninggalkannya. Mengatakan pada wanita itu bahwa dia sangat mencintainya! Dan tidak ingin kehilangannya!


Namun dia terpaksa menahan diri. Karena dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melakukan itu. Karena perempuan itu bukanlah istri ataupun miliknya. Terlebih setelah Rahul berhasil membongkar jati dirinya sebagai suami asli dari perempuan itu.


Bu Zaitun yang sedari tadi berdiri disamping Fajar hanya bisa menatapnya dengan perasaan iba dan empati. Dia benar-benar tidak tega, harus melihat tuan mudanya merasakan patah hati dan kehilangan wanita yang dicintainya untuk kedua kali.


Padahal dia pikir, Tuan Fajar akan kembali menemukan kebahagiaannya melalui istri palsunya itu. Dia sudah menaruh harapan yang terlalu besar pada perempuan itu. Berharap bahwa wanita itu akan menjadi sosok yang mampu menggantikan posisi Nyonya Shreya, untuk membahagiakan Tuan Fajar. Hingga dia selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk menyatukan mereka.


Tapi sekarang, semua harapan dan usahanya kandas begitu saja. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Rahul, lelaki yang selama ini selalu dia halangi untuk mendekati Nyonya Shreya, ternyata adalah suaminya sendiri.


Rasanya sekarang mustahil untuk memisahkan mereka, dan menyatukan perempuan yang ternyata bernama asli Zahra itu dengan Tuan Fajar.


********


"Ada apa? Kenapa dari tadi kamu diam saja?" Tanya Rahul saat mereka sedang dalam perjalanan. Dia heran melihat istrinya yang sedari tadi hanya terdiam dan melamun saja.


"Aku hanya merasa bingung saja dengan sikap Fajar. Dengan gampangnya dia menyuruhku untuk pergi denganmu. Bukankah itu aneh? Padahalkan dia suamiku. Kok bisa-bisanya dia malah meminta istrinya untuk pergi dengan pria lain? Apa dia sedang ada masalah?"


Zahra menjawab dan bertanya balik dengan ekspresi bingung dan tatapan menerawang.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu tidak senang, ikut denganku? Apa kamu ingin bersama Fajar?" Tanya Rahul lirih. Dia cemburu mengetahui Zahra yang ternyata sedari tadi memikirkan Fajar.


Biar bagaimanapun mereka sudah tinggal bersama selama berbulan-bulan. Dan dia juga tau bahwa Fajar memiliki perasaan lebih terhadap Zahra. Jadi dia yakin jika selama ini, lelaki itu pasti sudah berusaha untuk bisa mendapatkan hati dan cinta Zahra.


Terus terang saja dia merasa takut, jika sedikit banyak wanita itu merasa luluh dengan perhatian yang diberikan Fajar untuknya selama ini.


Pikiran negatif seperti itu membuat hatinya terbakar cemburu. Dia tidak rela bila istrinya memiliki perasaan sekecil apapun untuk pria lain. Dia ingin hati dan cinta Zahra sepenuhnya hanya diperuntukkan untuknya. Tanpa sedikitpun terbagi dengan lelaki lain! Apakah itu terlalu berlebihan, jika dia menginginkan cinta yang sepenuhnya dari istrinya sendiri?!


"Aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu kan? Aku tidak pernah bisa merasa nyaman dan hangat selain bersamamu. Tidak ada yang bisa membuatku senang selain kamu. Tapi masalahnya, kita bukan pasangan suami istri. Kita memiliki kehidupan, dan pasangan masing-masing.


Aku memiliki Fajar sebagai suamiku. Dan kamu memiliki Zahra sebagai istrimu. Coba pikirkan, seandainya nanti istrimu kembali. Mungkin dia akan menyebutku sebagai pelakor. Karena aku sudah berani menyimpan perasaan untuk suaminya.


Memikirkan hal itu selalu membuatku merasa sudah menjadi wanita yang buruk. Aku juga sangat yakin, nanti seandainya istrimu kembali, kamu pasti akan melupakanku dan kembali padanya kan? Kamu tidak akan pernah memikirkan atau mempedulikan aku lagi.


Dan aku, aku harus kembali menjalani hidup bersama Fajar. Suami yang entah kenapa tidak bisa aku cintai. Meskipun aku akui, dia adalah suami yang baik dan selalu memperlakukanku seperti ratu"


Apa yang dirasakan Zahra saat ini, pernah juga dia rasakan sebelum dia tau siapa perempuan itu sesungguhnya. Perasaan sebagai seorang penghianat dan tukang selingkuh. Dia benar-benar tidak tega lantaran perasaan semacam itu terus menghantui istrinya.


Apa sebaiknya dia jujur saja, bahwa mereka adalah suami istri agar masalah yang rumit ini langsung berakhir? Tapi, apakah masalahnya bisa sesimpel itu sementara Zahra masih belum mengingat apapun?


Bagaimana jika apa yang dikatakan Fajar malah terbukti? Bagaimana jika ulahnya malah memperparah kondisi istrinya? Dia tidak mungkin sanggup bila hal itu sampai benar terjadi! Apakah memang jalan terbaik saat ini adalah dia tetap bungkam? Hah. Rahul benar-benar berada dalam kebimbangan.


Disatu sisi, dia sangat ingin membongkar semuanya. Dan mengakhiri segala bentuk kesalah pahaman yang menjadi penyebab terciptanya jarak diantara dia dan istrinya. Namun disisi lain, dia takut bila tindakannya itu justru akan membuatnya menyesal seumur hidup.


Apakah memang sebaiknya dia diam dan bersabar dulu untuk sementara waktu? Sambil dia berusaha untuk mengembalikan ingatan Zahra secara perlahan-lahan, tanpa perlu memaksa hingga menyakitinya? Apakah memang itu jalan terbaik untuk saat ini?


Pelan-pelan Rahul menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian dia merangkum wajah Zahra dengan lembut, dan menyeka air mata yang membasahi wajah cantik itu.

__ADS_1


"Dengarkan aku. Bukankah selama ini kita selalu merasa nyaman satu sama lain? Kamu tau alasannya kenapa?" Tanya Rahul dengan suara lembut yang dijawab dengan gelengan kepala Zahra.


"Karena kita saling mencintai. Dan siapa yang sudah memberikan perasaan seperti itu pada kita?"


Zahra termangu dan menatap Rahul dalam diam.


"Tuhan. Jadi semuanya bukan salah kita. Karena semua terjadi atas kehendak Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah salah, dengan apa yang sudah Dia berikan untuk hambaNya. Lagipula.... apakah selama ini pernah, kita melakukan hal yang melewati batas?"


Zahra menggeleng.


"Lalu kenapa kamu harus takut? Kita ikuti saja alurnya. Kita nikmati saja apa yang ada dihadapan kita saat ini. Ya.... Kalau nanti kita harus kembali pada pasangan kita masing-masing, mungkin itu juga sudah bagian dari kehendak Tuhan.


Kita ikuti dan jalani saja semuanya. Aku yakin kok, apapun yang terjadi, itu adalah yang terbaik dan kita pasti bisa menjalaninya. Jadi sebaiknya, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang bisa menjadi beban pikiranmu. Ingat Boy"


Rahul menunjuk perut buncit Zahra. Tiba-tiba saja Zahra menguap. Tampaknya wanita itu sedang mengantuk.


"Kamu mengantuk?"


Zahra mengangguk malu. Rahul tersenyum gemas melihatnya.


"Ya sudah tidurlah. Perjalanan masih jauh. Tidak baik jika kamu sampai kecapekan. Kasian Boy"


"Iya, aku tidur dulu" Zahra pun menyandarkan tubuhnya pada jok mobil sembari memejamkan mata. Lambat laun diapun tertidur pulas.


Dengan lembut Rahul menyibak helaian rambut yang menutupi wajah istrinya. Dia menatap Zahra dengan seulas senyum hangat. Menatap wajah cantik yang sedang berbaur dengan alam mimpi itu.


.

__ADS_1


__ADS_2