
Setelah dua hari siuman, akhirnya Zahra diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Karena percaya pada ucapan Fajar yang mengaku sebagai suaminya, mau tidak mau Zahra harus mengikuti kemanapun pria itu membawanya.
"Ayo masuk" Ajak Fajar sembari membuka pintu rumahnya.
Zahra menatap rumah mewah, besar dan luas itu dengan linglung. Dia merasa sangat asing dengan rumah itu. Mungkin karena dia sedang kehilangan ingatannya, sehingga tidak ada yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk saat ini, termasuk suami dan rumahnya sendiri.
"Ini rumahmu?"
"Iya, lebih tepatnya, rumah kita"
Tiga orang wanita berseragam pelayan menghampiri dan membungkukkan badan dihadapan mereka, sebagai tanda hormat.
"Eh.... Tuan, Nyonya, kalian sudah datang. Alhamdulillah, Nyonya sudah keluar dari rumah sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang Nyonya, apa sudah baikan?"
Seorang wanita paruh baya, salah satu dari ketiga pelayan itu berbicara dengan sopan, dan seperti sudah kenal akrab dengan Zahra. Membuat Zahra semakin tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai pengakuan Fajar sebagai suaminya.
Karena masih merasa bingung dan linglung, akhirnya dia melirik Fajar. "Fajar, mereka siapa?"
"Mereka semua ini adalah pelayan yang bekerja dirumah ini untuk membantu dan menjagamu. Ini Bu Zaitun, beliau adalah kepala pelayan dirumah ini" Fajar menunjuk wanita berumur yang barusan bicara dengan Zahra.
Lalu dia menunjuk dua pelayan muda yang berdiri dibelakang Bu Zaitun. "Ini Rita dan ini Fina" Mereka semua tersenyum penuh hormat saat beradu pandang dengan Zahra.
"Kami sangat cemas saat mendapat kabar jika Nyonya mengalami kecelakaan. Tapi syukurlah, sekarang kondisi Nyonya dan bayi dalam kandungan baik-baik saja. Apa ada bagian tubuh Nyonya yang masih terasa sakit?" Tanya pelayan yang bernama Rita. Cara bicaranya pun, terdengar seperti sudah kenal akrab dengan Zahra.
"Mmm.... Tidak, hanya kepalaku saja yang terkadang masih terasa sakit. Selain itu, maaf ya, aku juga tidak ingat apapun tentang kalian. Aku merasa seperti tidak mengenal kalian" Jawab Zahra dengan kikuk dan linglung.
"Tidak masalah Nyonya. Tuan sudah cerita semuanya, jika Nyonya hilang ingatan. Jadi kami bisa memakluminya" Timpal Fina.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu masuk kamar saja ya. Kamu masih harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu kecapekan, karena masih dalam masa pemulihan. Bi Zaitun, tolong antar Shreya kekamarnya ya" Pinta Fajar.
"Baik Tuan. Mari Nyonya, ikut saya" Sesuai perintah Fajar, Bu Zaitun mengajak Zahra untuk mengikutinya kelantai dua.
Begitu sampai dilantai dua, Bu Zaitun langsung mengajak Zahra kekamarnya.
"Silahkan masuk Nyonya" Dengan penuh hormat, wanita paruh baya itu mempersilahkan Zahra untuk masuk kedalam sebuah kamar setelah membuka pintunya.
Zahra terperangah menatap kamar dengan nuansa putih dan emas yang super mewah dan luas. Seisi kamar itu didominasi oleh warna emas yang mengkilap, mulai dari ranjang, hiasan dinding, hiasan kaca, hiasan meja, tirai, pinggiran kursi, penyangga lampu duduk serta lampu gantung kristal yang terpasang dilangit-langit berwarna emas, dan menggantung tepat diantara dipan.
"Ini kamar saya?"
"Iya Nyonya, ini kamarmu"
"Apa.... Selama ini saya tidur disini?"
"Iya"
"Bersama Fajar?" Tanya Zahra ragu.
__ADS_1
"Iya tentu saja. Kan kalian suami istri"
Zahra terdiam. Entah mengapa dia merasa asing dengan semua yang ada ditempat ini, baik rumah maupun penghuninya. Padahal dia bisa merasakan jika mereka semua adalah orang yang baik, termasuk Fajar.
Namun hatinya merasa ragu terhadap hubungannya dengan pria itu, meskipun dia sudah melihat sendiri bukti yang menyatakan bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Sebenarnya ada apa dengannya?
"Apa ada yang Nyonya butuhkan? Biar nanti saya bawakan kesini" Tawar Bu Zaitun yang merasa khawatir melihat Zahra termangu.
"Mmm.... Tidak usah. Aku hanya ingin istirahat saja" Jawab Zahra hambar.
"Ya sudah kalau begitu, saya ijin keluar dulu Nyonya. Jika nanti Nyonya butuh apa-apa, panggil saya saja"
"Iya"
Kepala pelayan itu meninggalkan Zahra sendiri dikamar itu untuk beristirahat.
*******
Seberkas ingatan muncul dan menyelinap kealam bawah sadar Zahra, hingga menjelma menjadi mimpi yang membuat tidurnya tidak nyenyak.
Dalam mimpi itu, dia melihat dirinya berlari ketakutan ditengah-tengah derasnya hujan sembari mendorong kursi roda seorang wanita yang tidak dikenalnya. Hingga segelombang air menerjang dan menenggelamkannya.
Bayangan itu tampak samar dan abu-abu hingga tidak jelas. Namun dia dengan jelas mendengar suaranya dan perempuan itu yang menangis dan menjerit minta tolong.
Dia tersentak bangun dan terduduk diatas ranjang. Nafasnya terengah-engah dan keringat dingin tampak membasahi sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa sakit. Mimpi yang aneh, namun sangat mengerikan.
Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan menuju tangga yang akan membawanya kelantai satu.
"Eh, Nyonya sudah bangun? Apa Nyonya butuh sesuatu, biar saya siapkan?" Tegur Rita dengan ramah saat melihat Zahra menuruni tangga.
"Mmm..... Tidak. Aku hanya ingin bertanya, Fajar dimana ya? Dari tadi aku tidak melihatnya Zahra menatap kesekelilingnya.
"Kalau tidak salah, dari tadi sore Tuan berada diruangan kerjanya. Sepertinya beliau sedang sibuk. Apa Nyonya mau kesana?"
"Iya tapi..... Ruang kerjanya dimana ya?" Tanya Zahra kebingungan.
"Mari ikut saya saja Nyonya, biar saya yang antar"
Zahra mengangguk dan menerima tawaran pelayan itu untuk mengantarnya menemui Fajar.
*******
Fajar sedang terlelap diruang kerjanya. Pria tampan itu tampak sedang tertidur pulas dengan posisi tubuh diatas kursi, sedangkan kepala ditelungkupkan kemeja dengan posisi kedua tangan sebagai bantalan.
Dia terjaga saat merasakan ada yang mendekatinya. Ternyata Bu Zaitun sedang meletakkan nampan berisi secangkir teh didekatnya.
"Eh.... Bu Zaitun. Sudah sejak kapan ada disini?" Fajar mengucek-ucek matanya yang baru saja terbuka.
__ADS_1
"Baru saja Tuan muda. Maaf Tuan, dari tadi saya sudah mengetuk pintunya, tapi tidak ada jawaban. Makanya saya langsung masuk saja. Eh, ternyata Tuan sedang ketiduran. Kelihatannya Tuan capek sekali ya?"
"Iya Bu, aku sibuk sekali hari ini. Harus meneliti beberapa dokumen untuk obat-obatan yang akan diluncurkan minggu depan. Oh ya, apa dia sudah tidur?" Ujar Fajar sembari merapikan dokumen-dokumen dimejanya.
"Iya Tuan, tadi saya sudah memberinya makan malam dan juga obat sesuai dengan yang Tuan katakan"
"Baguslah. Oh ya, Ibu masih ingatkan, pembicaraan kita tempo hari sebelum dia datang kesini? Tidak boleh ada satupun orang dirumah ini yang keceplosan, apalagi sampai mengatakan padanya jika dia bukan Shreya" Fajar mengingatkan dengan nada suara serius.
"Iya Tuan saya ingat, dan saya mengerti. Saya juga sudah mengingatkan semua pekerja dirumah ini, baik pelayan, supir maupun petugas keamanan. Semuanya sudah saya wanti-wanti, agar berhati-hati saat berbicara dengannya"
"Bagus kalau begitu. Terima kasih atas kerjasamanya Bu" Fajar tersenyum senang.
"Iya Tuan. Oh ya, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Soal?"
"Soal wanita itu, apa Tuan menyukainya?" Bu Zaitun bertanya dengan menyelidik.
"Maksud Ibu?" Fajar mengernyitkan keningnya.
"Maaf Tuan, sebagai orang yang sudah mengenal Tuan sejak kecil, saya tidak pernah melihat Tuan seperhatian pada seorang wanita, kecuali pada almarhum Nyonya muda Shreya. Dan, sejak Nyonya muda meninggal beberapa bulan yang lalu, Tuan tampak begitu terpukul dan merasa bersalah, lantaran tidak ada waktu untuk Nyonya, hingga terjadi kecelakaan itu.
Sejak saat itu saya selalu melihat Tuan bersikap dingin pada setiap wanita yang mencoba untuk mendekati Tuan. Tuan tidak memberikan peluang sedikitpun pada mereka untuk menggantikan posisi Nyonya Shreya dihati Tuan. Tapi wanita itu, saya melihat cara Tuan menatapnya, hampir sama dengan cara Tuan menatap Nyonya Shreya. Apa itu artinya, perlahan-lahan Tuan mulai bisa move on, dari Nyonya Shreya? Karena itulah Tuan tidak ragu untuk memberikan identitas Nyonya muda pada wanita itu?"
Bu Zaitun mengutarakan uneg-unegnya dengan pelan. Wanita paruh baya itu sudah bekerja dengan keluarga Fajar sejak pria itu berusia 12 tahun.
Fajar juga sudah menganggap wanita berusia sekitar lima puluh tahunan itu seperti ibunya sendiri. Karena kedua orang tuanya sudah tiada dalam sebuah kecelakaan saat Fajar berusia dua puluh tahun.
Omanya berada di Swiss, dan hubungan mereka pun kurang baik lantaran wanita yang telah melahirkan ayahnya itu, tidak pernah merestui pernikahan anaknya dengan ibunya Fajar.
Fajar tidak pernah ambil pusing dengan sikap neneknya. Dia hanya menjalani hidupnya dengan fokus mengelola dan memimpin rumah sakit, serta perusahaan farmasi milik keluarganya.
Enam tahun yang lalu, dia bertemu dengan Shreya. Tepatnya saat dia sedang menempuh pendidikan S3 fakultas kedokteran di New Delhi.
Wanita cantik bernama lengkap Shreya Khanna, yang merupakan keturunan Hindustan juga kebetulan sedang menimba ilmu S1 fakultas psikologi di universitas yang sama dengannya saat itu.
Keduanya menjalin hubungan asmara selama empat tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan.
Namun sebelumnya, Shreya juga telah lebih dulu memutuskan untuk meninggalkan keyakinan lamanya, dan menganut keyakinan yang sama dengan Fajar. Hingga pernikahan mereka bisa berjalan lancar tanpa adanya hambatan.
Namun sayang seribu sayang, Shreya harus menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan sedang mengandung buah cinta mereka sepuluh bulan yang lalu.
Sejak saat itu dunia Fajar terasa runtuh. Dia seperti sosok yang tak memiliki jiwa dan gairah, dengan raut kesedihan yang selalu terlihat diwajahnya. Penyesalan yang mendalam dia rasakan, lantaran tidak bisa menemani istrinya hingga terjadi peristiwa naas yang menewaskan wanita tercintanya itu.
Tak jarang pula, tuan mudanya itu selalu menghabiskan waktu untuk menyendiri sembari minum-minum.
Namun selama beberapa hari ini tepatnya setelah kehadiran wanita itu, Bu Zaitun seperti melihat kembali aura kebahagiaan dan keceriaan dalam diri tuannya.
__ADS_1