
Shreya tercengang menatap Caffe yang terletak tepat dipinggir jalan itu. Caffe itu semakin mengingatkannya pada Rahul. Bagaimana pria itu dengan sabar memesan makanan apa saja yang diinginkannya. Serta menemaninya menyantap semua makanan itu dengan lahap saat mengajaknya kekota tua waktu itu.
Dia sangat bahagia saat itu. Hatinya terasa begitu nyaman dan hangat. Itu adalah momen yang paling berkesan yang pernah diingatnya.
Padahal dia baru sekali pergi bersama dengan lelaki itu. Tapi kenapa setiap kenangan bersama lelaki itu terasa sangat berharga dihatinya?
"Shreya? Hey?" Fajar mengibas-ngibaskan tangannya kedepan wajah Shreya, saat melihat wanita itu kembali melamun.
"Kok melamun lagi? Jadi bagaimana? Kita makan disini?"
"Mmm.... tidak. Tidak usah. Aku masih kenyang. Kan tadi sebelum berangkat, kita sudah sarapan dirumah Om Helmi"
"Iya tapikan, tadi kamu sarapannya sedikit sekali. Aku pikir kamu bosan dengan masakan rumah. Mungkin sekali-kali kamu ingin mencoba masakan luar?"
"Tapi aku tidak lapar. A-aku hanya kelelahan saja. Mungkin karena pengaruh hormon"
"Ya sudah, kalau begitu kamu tidur saja. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan"
"Iya" Shreya membalikkan badannya, lalu memejamkan mata. Berpura-pura tertidur untuk mengakhiri pembicaraan yang membuatnya semakin lelah.
*********
Mengetahui tuan dan nyonya mudanya akan kembali dari luar kota, para pelayan dan pengawal yang bekerja sebagai abdi setia Fajar menyambut kepulangan mereka dengan antusiasnya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya. Akhirnya kalian pulang juga. Kalau saya boleh tau, bagaimana acaranya disana? Pasti kalian bersenang-senang ya?"
Tanya Bu Zaitun dengan sopannya, mewakili para pekerja lain yang kepo dengan acara majikannya saat berada diluar kota.
"Iya Bu, acaranya seru sekali. Aku juga sangat senang bisa berkumpul bersama Om Helmi, Tante Lesti, serta kedua anaknya, Rahul dan Kak Gala. Meskipun acaranya sedikit kacau, karena kemarin aku sempat ada urusan yang harus aku selesaikan di Thailand. Jadinya waktuku disana berkurang. Tapi Shreya tetap disana bersama mereka kok. Iya kan Ya?"
Fajar merangkul pundak Bu Zaitun dan bercerita dengan sumringahnya. Lalu dia melirik Shreya yang berdiri disampingnya.
Namun wanita itu hanya terdiam. Ekspresinya masih sama seperti sebelumnya. Yaitu tidak bersemangat dan dibalut kemurungan. Hingga dia tampak tidak fokus dengan pembicaraan yang sedang berlangsung dihadapannya.
"Aku kekamar dulu ya" Ucap Shreya dengan nada hambar.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, dia langsung berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai dan perasaan hampa.
__ADS_1
"Tuan, apa semuanya baik-baik saja? Itu Nyonya....?"
Bu Zaitun menunjuk Shreya dengan perasaan campur aduk, antara bingung dan cemas melihat sikap Nyonya mudanya yang terlihat tidak bergairah. Dia khawatir telah terjadi pertengkaran antara wanita itu dengan tuan mudanya.
"Dia baik-baik saja kok. Ibu tidak perlu khawatir. Mungkin dia hanya kelelahan saja, habis Perjalanan jauh. Maklumi saja Bu, dia kan sedang hamil. Mungkin itu pengaruh bayi dalam kandungannya. Biarkan saja dia beristirahat.
Oh ya, saya harus kembali kerumah sakit. Tolong Ibu jaga Shreya ya. Nanti kalau dia sudah bangun, tolong Ibu buatkan makanan apa saja yang dimintanya" Pinta Fajar dengan suara lembut dan tenang, pada wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu.
"Baik Tuan"
"Ya sudah, kalau begitu saya jalan dulu ya"
"Hati-hati Tuan"
*********
Shreya membuka pintu kamarnya. Perlahan-lahan dia melangkah masuk, sembari menatap kamar luas dan mewah itu dengan hampa. Hati dan pikirannya masih saja dipenuhi oleh Rahul. Kapan rasa ini akan berakhir?
Padahal jelas-jelas disini dia bersama suami yang baik dan tulus mencintainya. Tapi pikirannya masih saja terpusat pada lelaki, yang juga masih berstatus sebagai suami dari wanita lain.
Mungkin saat ini lelaki itu masih bersedih karena berpisah dengannya yang harus kembali ke Magelang. Tapi mungkin saja hal itu hanya akan berlangsung selama beberapa hari. Atau mungkin hanya selama beberapa saat saja.
Setelah itu dia akan kembali fokus mencari istri tercinta yang sedang mengandung anaknya. Darah dagingnya sendiri. Bukan lagi memikirkan dirinya, wanita yang sedang mengandung anak dari Fajar. Hasil pernikahan dengan sahabatnya.
Shreya memegang dan menatap perut besarnya. Mungkin kehadirannya dan bayinya hanya sebagai pelarian saja bagi Rahul. Yang tengah bersedih lantaran kehilangan istri dan calon anaknya dalam sebuah tragedi.
Dia berharap apa yang dipikirkannya tentang Rahul, itu juga yang akan dia rasakan nanti saat dia sudah lama berjauhan dengan lelaki itu. Semoga kedepannya mereka bisa sama-sama menjalani kehidupan bersama pasangan masing-masing, tanpa bersinggungan satu sama lain.
Menurut Fajar, mereka menikah karena saling mencintai. Saat ini dia tidak bisa merasakan adanya cinta terhadap pria itu dihatinya. Entah cinta itu memudar atau goyah lantaran kondisinya yang saat ini sedang amnesia.
Yang pasti dia sangat berharap, agar perasaan itu bisa tumbuh kembali perlahan-lahan. Karena dia tidak ingin menyakiti lelaki dan suami sebaik Fajar lebih jauh lagi.
********
Disaat Shreya sedang galau meratapi perpisahannya dengan Rahul, hal yang sama pun dirasakan oleh pria itu, yang lagi-lagi harus merasakan sakitnya kehilangan orang yang dicintai.
Siang itu saat dia masuk kedalam mobilnya dan hendak menyetir, matanya malah lebih dulu melihat buket bunga dan beberapa bungkusan makanan yang dibelinya direstoran elite.
__ADS_1
Rahul mengambil dan memandangi buket bunga dan bungkusan itu dengan hampa. Dia baru ingat, ternyata malam itu dia sengaja membeli bunga dan makanan itu untuk Shreya. Sebagai tanda permintaan maafnya lantaran sudah membuat perempuan itu bersedih, setelah dia membentak-bentaknya pada pagi hari.
Dia mengira permintaan maafnya pada malam itu akan sangat berkesan. Sebelumnya dia sudah membayangkan, senyum sumringah yang merekah diwajah cantik perempuan itu, yang kegirangan menerima bunga dan makanan darinya.
Dia juga membayangkan, wanita itu meminta disuapi olehnya dengan malu-malu seperti pada saat tengah malam waktu itu.
Namun ternyata, semua itu hanya angan belaka. Salahnya dia juga, karena terlalu berharap pada wanita itu. Padahal jelas-jelas dia sendiri tau, kalau wanita itu sudah ada pemiliknya. Dan perempuan itu juga sedang mengandung anak dari suaminya.
Tapi dia malah melupakan kenyataan itu dan tetap nekat menaruh hati pada istri dari sahabatnya itu. Sehingga semua harus berakhir seperti ini. Mungkin inilah teguran dari Tuhan agar dia berhenti bermain api dan fokus kembali mencari istrinya.
Iya, Zahra. Wanita yang sudah dengan tulus mencintai dan menerimanya. Meski dengan segala kekurangan yang dimilikinya pada saat itu. Saat semua orang merendahkannya sebagai lelaki buta yang tidak berguna.
Namun wanita itu malah menerimanya dengan senang hati. Dan menemaninya melewati masa-masa terberat dalam hidupnya. Mencurahinya dengan semangat hidup, saat dia sudah berkubang begitu dalam dengan keterpurukan dan rasa putus asa.
Tapi sekarang, setelah bisa melihat dan mendapatkan kejayaannya kembali? Dengan begitu mudahnya dia melupakan cinta dan ketulusan yang diperuntukkan wanita itu untuknya? Lantaran dia terpesona melihat Shreya? Istri dari lelaki yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
Padahal mungkin saja saat ini Zahra sedang berada dalam masa sulit dan sangat membutuhkannya. Tapi dia malah terlena bersama wanita lain disini. Ya Tuhan, lelaki dan suami macam apa dirinya?!
Seandainya Zahra ada disini, dan wanita itu mengetahui kelakuannya, akan seperti apa reaksi istrinya itu? Apakah Zahra akan menganggapnya sebagai lelaki brengsek dan tidak tau diri? Yang tega mengkhianati ikatan suci pernikahan mereka, disaat dirinya sedang dalam musibah?
Arrgghhh!! Membayangkan hal itu membuatnya frustasi. Sebelum masalah ini semakin besar dan merembes terlalu jauh, mungkin memang lebih baik jika dia mengakhirinya sekarang juga.
Rahul keluar dari mobil dengan membawa serta buket bunga dan bungkusan-bungkusan itu. Kemudian melemparkannya kedalam tong sampah.
Dia berharap dengan membuang barang-barang yang dia persiapkan untuk Shreya, maka dia juga bisa membuang perempuan itu dari hati dan pikirannya. Semoga saja.
Rahul mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya
"Hallo, bagaimana? Apa kalian sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan istri saya?"
"Maaf Tuan, kami masih belum menemukan petunjuk apapun" Jawab suara pria diseberang sana dengan takut dan ragu.
"Lalu apa saja kerja kalian selama ini?! Mencari satu perempuan saja kalian tidak becus! Kalau kalian tidak memang tidak sanggup, atau tidak ada niat untuk melakukan pekerjaan ini, katakan saja. Biar aku cari orang lain!!" Rahul menghardik anak buahnya dengan nada tinggi saking emosinya. Hingga dia mengakhiri panggilan suara itu.
Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Dia sangat ingin bertemu dengan Zahra. Ini sungguh aneh. Saat Shreya ada disini, tidak sedikitpun dia merasa rindu pada istrinya. Tapi belum juga sehari perempuan itu pergi, pikirannya sudah kembali kacau seperti ini.
Sebenarnya diantara Zahra dan Shreya, siapa yang sangat dia rindukan? Kenapa kedua perempuan itu bisa membuatnya sebingung ini?! Tidak mungkin hatinya terpatri untuk dua wanita sekaligus kan?
__ADS_1