
Dia berharap ucapannya bisa membuat perasaan anaknya menjadi lebih baik. Karena hanya itu yang bisa dilakukan Lesti.
"Aku sudah bilang, bahkan aku sudah memohon pada kalian semua. Kalau aku akan menjelaskan semuanya nanti. Tidak sekarang. Kalian ingin taukan, apa yang sebenarnya terjadi? Pada malam itu aku begitu putus asa. Karena Zahra terus saja menolakku. Dia terus saja menyebut nama Fajar sebagai suaminya.
Sama seperti yang kalian ketahui, itu juga yang dia ketahui. Setelah dia kehilangan ingatannya, pasca tragedi itu. Dan hal itu membuat kesabaranku habis. Aku cemburu mendengar istriku sendiri terus-terusan menyebut nama lelaki lain sebagai suaminya. Tapi aku tidak bisa marah padanya. Karena dia jelas tidak bersalah.
Sehingga tanpa bisa dicegah, aku mencium dan menyentuhnya. Itu adalah caraku untuk membuatnya mengingat lagi, pada masa-masa yang dulu kami lewati bersama. Dan aku sangat bahagia karena dia tidak menolak sentuhanku. Karena hatinya masih bisa merasakan bahwa aku adalah suami yang dia cintai. Hingga kami sama-sama tidak menyadari, jika saat itu kami sedang berada diluar. Diarea keramaian.
Tapi kalian tidak bisa bersabar menunggu penjelasanku. Karena kalian sudah terlanjur malu. Jadi kalian sibuk dengan asumsi kalian sendiri. Sibuk dengan reputasi kalian yang tercoreng gara-gara kami. Bukankah aku adalah anak kandung kalian? Seharusnya kalian tau, kalau aku sangat mencintai istriku.
Aku tidak mungkin akan melakukan perbuatan serendah itu, bersama wanita yang bukan milikku. Aku pasti memiliki alasan tersendiri, mengapa bisa melakukan semua itu. Lagi-lagi kalian membuktikan, jika reputasi dan nama baik jauh lebih penting dari aku. Dan kali ini, rasanya jauh lebih sakit dari yang dulu. Karena nyawa istri dan anakku bisa saja menjadi taruhannya"
Dengan wajah memerah dan air mata yang masih berlinang diwajah tampannya, Rahul bercerita dan mengeluarkan uneg-unegnya dengan panjang lebar. Dan dia kembali mencium kening Zahra.
Kata-kata yang dilontarkannya memang terdengar lirih dan pelan, namun terasa sangat menusuk bagi Lesti dan juga Helmi yang berada dijok depan. Rasanya mereka seperti tertampar mendengar Rahul menyalahkannya.
Mereka tidak pernah menyangka, jika situasinya akan separah dan sefatal ini! Rahul benar! Ini semua memang kesalahan mereka. Lagi-lagi mereka telah menjadi orang tua yang buruk dan egois. Lagi-lagi mereka telah mengecewakan anak bungsunya itu!
*******
__ADS_1
Zahra dibawa ke Dirgantara hospital dan langsung dimasukkan keruang IGD. Rahul tampak tidak sabaran menunggu istrinya yang sedang diperiksa didalam. Pikirannya begitu kalut dan gelisah, hingga dia terus mondar-mandir dengan tidak tenang diruang tunggu.
Helmi, Lesti dan Gala hanya bisa duduk diam dan memperhatikan Rahul dengan perasaan sedih dan simpati. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa dan berharap agar Zahra dan bayinya baik-baik saja, dan kondisinya tidak terlalu serius.
Begitu juga dengan Fajar yang berdiri dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir dan gelisah. Lain halnya dengan Amora dan Naomi yang tampak duduk dengan tenang, dan tidak terlihat raut kekhawatiran sedikitpun diwajah ibu dan anak itu. Karena memang mereka mengharapkan sebaliknya.
Sekitar beberapa menit kemudian, pintu pun terbuka dan keluarlah dokter. Rahul langsung mendekati dokter wanita itu dengan cepat.
"Bagaimana Dok, istri saya baik-baik saja kan?!!" Rahul bertanya dengan tidak sabaran.
"Ketubannya pecah. Nyonya Zahra harus segera melakukan operasi caesar sekarang juga" Jawab dokter dengan cemas.
"Iya Bu saya mengerti. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Ketubannya sudah pecah, jadi kehamilannya pun sudah tidak bisa dilanjutkan hingga usia kesembilan bulan. Jadi mau tidak mau, bayinya harus dilahirkan sekarang juga. Jika tidak, akibatnya bisa fatal...."
"Lakukan apapun asalkan istri dan anakku bisa selamat" Tukas Rahul dengan cepat dan tegas. Yang ada dipikirannya saat ini hanya keselamatan Zahra dan anaknya! Dan dia tidak peduli bagaimana caranya. Yang jelas mereka berdua harus selamat dan baik-baik saja!
"Maaf Pak, pendarahannya lumayan hebat. Hal itu itu dipicu oleh stress berat dan tekanan yang dialami Ibu Zahra, yang membuatnya saat ini berada dalam fase kritis. Jadi.... Kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya" dokter berkata dengan ragu dan takut. Perkataan dokter itu membuat Rahul begitu terkejut dan murka.
"Apa?! Hanya bisa menyelamatkan salah satunya?! Lalu apa yang bisa kalian lakukan?! Bukankah kalian semua dibayar untuk menyelamatkan semua pasien kalian tanpa terkecuali?! Lalu bagaimana bisa kalian membunuh salah satu pasien kalian?!
__ADS_1
Aku tidak mau tau, selamatkan istri dan anakku!! Selamatkan mereka berdua!! Bukan hanya salah satunya!! Jika sampai salah satu dari mereka kenapa-napa, aku pastikan kalian semua akan menyesal!!"
Rahul meraung-raung. Bahkan kata-kata ancaman pun sampai keluar dari mulutnya saking frustasinya. Sikap Rahul membuat nyali dokter itu semakin menciut, hingga tubuhnya pun tampak bergetar.
Biar bagaimanapun, dia tidak bisa menyepelekan kemarahan maupun ancaman dari lelaki itu. Karena yang dihadapinya saat ini adalah anggota keluarga dari pemilik utama rumah sakit besar itu. Salah-salah, hal itu bisa mempengaruhi kehidupan maupun pekerjaan mereka, jika sampai tidak berhati-hati dalam mengambil tindakan.
"Rahul, tenangkan dirimu. Aku yakin mereka tidak ada maksud untuk membunuh salah satu dari Zahra maupun bayinya. Mereka hanya berusaha melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Mungkin kondisinya saat ini memang sedang darurat, dan tidak segampang yang kita bayangkan"
Gala mendekati Rahul dan mencoba menenangkan adiknya yang sedang emosi dan tidak terkontrol itu.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Sementara nyawa istri dan anakku sedang berada diujung tanduk?! Mungkin bagi Kakak gampang bicara seperti itu! Karena Kakak tidak pernah merasakan berada diposisiku!! Bagaimana bisa aku diharuskan untuk membunuh salah satu dari dua orang yang aku cintai?! Kalian puas sekarang?! Reputasi dan nama baik kalian mungkin akan terselamatkan!!
Tapi sebaliknya, nyawa istri dan anakku yang akan melayang!! Kalian pikir hatiku tidak sakit, menerima kenyataan jika istriku sendiri menganggap pria lain sebagai suaminya?! Kalian pikir aku tidak hancur?! Tapi aku berusaha dengan keras untuk menahannya!! Karena aku akan jauh lebih hancur lagi, jika aku sampai kehilangan mereka untuk selama-lamanya!!"
Rahul meraung-raung tak karuan. Meluapkan emosinya pada semua orang yang berada disana. Membuat mereka semua terdiam dengan perasaan sedih dan bersalah yang semakin mendalam. Helmi mendekati Rahul.
"Papa sangat memahami perasanmu. Papa dan kami semua benar-benar minta maaf, jika kami yang menjadi penyebab atas apa yg terjadi pada istrimu. Tapi kami benar-benar tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Seharusnya kamu memberitau kami sejak awal, agar kesalah pahaman ini tidak terjadi. Kita ini keluarga. Seharusnya kamu tidak perlu menutupi apapun, supaya kita bisa saling mendukung"
Helmi berbicara dengan pelan dan sedikit menekan. Mencoba memberi pengertian pada anak bungsunya yang sedang menggila itu. Rahul terdiam selama beberapa detik. Lalu dia mencoba mengatur nafasnya. Tampaknya ucapan Helmi sedikit banyak bisa membuatnya tenang.
__ADS_1