
"Gala, kamu yakin mau pergi ke London dan menetap disana? Kamu tega meninggalkan Mama dan kami semua disini?" Lesti berkata dengan wajah sedih dan memelas.
Masih berusaha membujuk putra sulungnya agar membatalkan rencananya untuk meninggalkan negara itu.
Karena dia tidak sanggup untuk berjauhan dengan anaknya dalam suasana yang seperti ini. Dia ingin selalu berada didekat anaknya agar bisa selalu memberikan semangat dan dukungan untuk kembali bangkit.
Apalagi kecelakaan yang menyebabkan Rahul menghilang beberapa bulan yang lalu, hingga saat ini masih menyisakan rasa trauma dihatinya. Dan perasaan takut jika Gala akan mengalami hal yang sama tentu saja membayanginya juga.
"Ma, Mama jangan bicara begitu dong. Mama taukan kalau aku sangat menyayangi Mama dan kalian semua? Tapi tolong Mama pahami perasaanku. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan dan menata hatiku kembali. Mungkin, aku butuh suasana baru yang bisa membuatku melupakan masa laluku yang pahit dan membuka lembaran baru. Aku janji akan kembali saat aku sudah siap"
Gala memegang pundak ibunya. Mencoba menenangkan wanita yang telah melahirkannya itu. Melihat kesedihan dan air mata menetes diwajah wanita itu selalu membuatnya lemah dan tidak tega.
Namun keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Karena untuk saat ini dia sedang sangat membutuhkan waktu, untuk mengumpulkan dan menyatukan kembali serpihan-serpihan hatinya yang telah hancur.
Dan cara yang saat ini terpikirkan olehnya, adalah dengan menjauh dulu dari keluarganya. Serta meninggalkan negara yang banyak menyimpan kenangan getir yang dialaminya.
"Mama mengerti kamu sedang patah hati, tapi apa harus, kamu memulai hidup baru di London? Padahal kamu kan juga bisa memulai hidup baru disini. Mama yakin kok, kamu masih bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari mantan istrimu disini. Kenapa harus jauh-jauh ke London?"
"Sudah Ma cukup. Biarkan Gala menentukan pilihannya sendiri. Dia sudah dewasa. Dia pasti tau apa yang terbaik dan buruk untuk dirinya. Semua yang sudah terjadi bukan hal yang mudah baginya. Lagipula kita kan juga bisa sering-sering mengunjunginya di London. Kita juga bisa kok, berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Sekarang jaman sudah canggih" Helmi menimpali dengan bijaknya.
"Iya Ma Papa benar. Kan nanti kita bisa sering-sering video call. Aku janji akan sering menghubungi Mama. Nanti kan Mama juga bisa mengunjungiku disana. Jadi Mama jangan sedih lagi ya"
__ADS_1
Setelah dibujuk bersama-sama akhirnya Lesti berhenti dengan dramanya dan merelakan kepergian anaknya. Lesti dan Gala berpelukan selama beberapa saat. Sebelum akhirnya Gala beralih mendekati Rahul.
Mereka sedang berkumpul dibandara untuk mengantar Gala. Selain Rahul dan orang tuanya, ada juga Zahra bersama baby Chand yang sudah berusia satu bulan lebih.
"Kak, aku minta maaf ya. Jujur aku tidak pernah ada niat sedikitpun untuk menghancurkan rumah tangga Kakak dan Amora. Satu hal yang harus Kakak tau, aku sangat sedih melihat Kakak seperti ini. Aku berharap Kakak bisa memaklumi apa yang aku lakukan" Rahul berbicara dengan lirih dan raut wajah yang penuh dengan rasa bersalah.
Perasaan bersalah yang terasa sangat dahsyat menerjang hati nuraninya. Akibat terlalu emosi dengan tindakan yang dilakukan Amora terhadap Zahra dan Chand, dia sampai mengabaikan perasaan kakaknya sendiri.
Hingga situasinya bisa sekacau ini. Alhasil, lelaki itu harus merasakan kehancuran dan kesedihan yang mendalam. Dia benar-benar merasa telah menjadi orang yang paling jahat.
"Untuk apa kamu minta maaf? Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan memberitauku semua kebenarannya. Meskipun aku merasa kecewa karena kamu tidak jujur sejak awal, tapi aku bisa memakluminya. Aku juga minta maaf ya, karena tanpa aku sadari, aku sudah menyakitimu selama bertahun-tahun, dengan aku menikahi mantan kekasihmu"
Perasaan bersalahnya terhadap Rahul sudah menguap sekarang, melihat adiknya yang sudah sangat bahagia bersama istri dan anak yang dicintainya. Dan dia yakin hubungannya dengan Amora tidak akan lagi membuat adiknya kecewa dan patah hati.
Tapi ini adalah masalah hatinya sendiri! Karena Amora sudah jelas-jelas selingkuh dan tidur dengan banyak pria dibelakangnya! Selain itu, selama ini wanita itu juga tidak pernah mencintainya! Wanita itu hanya memanfaatkannya saja, supaya dia bisa masuk dan menjadi bagian dari keluarga Dirgantara group.
Jadi apa gunanya dia mempertahankan hubungan yang seperti itu?! Hubungan yang penuh dengan kebohongan, kepalsuan dan kepura-puraan!
"Kakak tidak perlu minta maaf. Karena semua yang terjadi bukan kesalahanmu. Lagipula soal hubunganku dan Amora dimasa lalu, aku sudah melupakannya. Karena sekarang aku sudah sangat bahagia bersama istri dan anakku" Rahul merangkul Zahra yang berdiri menggendong baby Chand disebelahnya.
"Dan aku harap Kakak juga bisa menemukan kebahagiaan seperti yang aku rasakan saat ini. Doaku akan selalu menyertaimu" Rahul berkata dengan lirih dan tulus.
__ADS_1
Mungkin rasa bersalah terhadap kehancuran hidup kakaknya akan sedikit berkurang, hanya jika lelaki itu bisa kembali menemukan kebahagiaannya. Menemukan wanita yang dengan tulus mencintainya hingga maut memisahkan.
"Jangan pernah berhenti untuk mendoakanku. Doakan agar aku bisa secepatnya menemukan istri baru, dan anak selucu Chand" Gala mencoba berkelakar seraya mengambil Chand dari tangan Zahra.
"Itu pasti Kak" Rahul berusaha menanggapi gurauan kakaknya dengan senyuman yang terlihat sendu. Kemudian dia memeluk Gala yang balas memeluknya dengan hangat. Puas berpelukan dengan adiknya, Gala melirik Zahra.
"Adik ipar, aku senang karena kamu sudah kembali dalam kehidupan adikku, bersama jagoan kecil kalian ini. Aku akan selalu berdoa, agar kebahagiaan selalu menyertai kalian seperti ini. Aku yakin kamu pasti tau, kalau suamimu ini sangat keras kepala. Semoga kamu bisa betah dan sabar menghadapinya. Dan terus buat dia bahagia"
Gala melirik Rahul dengan menggunakan sedikit gaya humor. Dengan tujuan bisa mencairkan suasana yang sedang penuh dengan kesedihan dan haru biru. Namun tampaknya idenya kurang ampuh, karena wajah-wajah sedih masih tetap terlihat.
"Iya Kak, itu pasti. Kakak hati-hati ya. Aku doakan semoga Kak Gala selalu bahagia" Meski masih menjadi anggota baru dikeluarga suaminya, namun Zahra juga bisa ikut merasakan kesedihan melihat keterpurukan dan kehancuran rumah tangga kakak iparnya.
Sekalipun pria itu berusaha untuk bergurau dan tersenyum, namun dia tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Zahra hanya bisa mendoakan, semoga wajah sedih itu suatu saat nanti akan menjadi wajah penuh dengan kebahagiaan setelah pria itu menemukan cintanya yang baru.
"Terima kasih adik ipar" Gala masih memperlihatkan senyumannya "Little Boy, uncle pergi dulu ya. Jangan lupa, nanti sering-sering jenguk uncle disana. Biar nanti uncle bisa mengajakmu jalan-jalan keliling kota London. Oke little Boy?" Gala berbicara dengan baby Chand yang sedang digendongnya.
Kemudian dia mencium bocah itu dengan lembut dan bertubi-tubi. Meluapkan segala bentuk rasa sayangnya. Karena setelah ini dia pasti akan sangat merindukan keponakan kesayangannya. Karena mereka akan berpisah dalam waktu yang tidak bisa dia tentukan.
"Oke uncle" Rahul mengelus-elus kepala baby Chand sembari menirukan suara bocah, seakan-akan mewakili putranya dalam menjawab perkataan kakaknya.
Mereka semua menatap kepergian Gala hingga pesawat yang dinaikinya lepas landas dengan perasaan sedih, prihatin dan bersalah atas apa yang sedang dialami oleh lelaki malang itu. Terutama Rahul, orang pertama yang merasa andil dalam kehancuran hidup kakaknya sendiri. Semoga kepergiannya bisa menyembuhkan lukanya, dan mengantarkannya pada kebahagiaan sejatinya.
__ADS_1