Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 22- Menepati Janji


__ADS_3

"Sama Bu. Aku juga tidak mau dengan wanita bar-bar, dan sebelas dua belas dengan macan betina seperti anak Ibu ini" Rahul pun memberikan celaan balik. Namun, lagi-lagi Zahra menyerangnya dengan seonggok terigu.


"Oh, masih belum puas, main lempar-lemparan ya?" Rahul juga balas menyerang gadis itu kembali dengan wijen. Sehingga peperangan mereka kembali berlanjut.


"Berhenti!!" Lagi-lagi Bu Sakinah harus menggunakan teriakan untuk menghentikan aksi konyol dua sejoli itu.


"Kalian berdua ini benar-benar ya! Lama-lama tensi darah Ibu bisa naik gara-gara kalian! Pakai acara lempar-lemparan terigu dan wijen segala. Kalian pikir beli bahan-bahan ini semua pakai daun?! Sekarang cepat kalian bersihkan kekacauan yang sudah kalian buat ini. Cepat kalian bersihkan lantai ini dari terigu dan wijen yang berserakan ini!" Titahnya dengan suara nyaring.


"Ini semua gara-gara kau" Zahra menyalahkan Rahul.


"Kok aku? Jelas-jelas kamu duluan yang melemparku dengan terigu...." Rahul pun menyalahkannya balik.


"Rahul, Zahra! Udah, cukup bertengkarnya! Sekarang cepat kalian bersihkan dapur Ibu!"


"Iy-iya Bu"


********


Sekitar lima puluh menit kemudian, mereka sudah hampir selesai mengerjakan perintah Bu Sakinah. Lantai, meja dan bangku panjang yang sebelumnya kotor dengan terigu dan wijen yang berserakan akibat ulah mereka, kini sudah mulai bersih kembali seperti semula.


"Ra, ini semua kuenya siap kan?" Tanya Bu Sakinah sembari memeriksa kotak-kotak plastik berisi kue diatas meja.


"Iya Bu, sudah siap semua" Jawab Zahra sembari mengepel lantai.


"Ini satu untuk siapa Nak?" Bu Sakinah menunjuk kue dalam satu kotak mika yang juga berada diatas meja. Yang sepertinya sengaja disisihkan oleh Zahra untuk seseorang.


"Itu untuk pasienku Bu. Hari ini dia keluar dari rumah sakit. Jadi aku bawakan kue itu untuknya"


"Kamu mau kerumah sakit sekarang? Bukannya hari ini kamu shift malam?"


"Iya Bu, aku harus kesana sekarang. Hanya sebentar saja, karena aku sudah janji pada pasien kecilku itu. Ibu ingat Lyra kan? Gadis kecil yang aku ceritakan tempo hari?"


"Anak kecil yang menangis tidak mau diinfus itu?" Timpal Rahul yang sedang mengelap meja.


"Kok kamu bisa tau? Oh.... Jadi waktu itu kau menguping, saat aku, Wirda dan Dokter Ema sedang menenangkan anak itu?" Zahra tersenyum kesal.


"Aku hanya kebetulan lewat" Kelit Rahul.


"Alasan" Gerutu Zahra.


"Memang benar kok. Kebetulan saja aku sedang lewat saat itu. Lalu tanpa sengaja aku mendengar suara anak kecil menangis tidak mau diinfus. Eh, ternyata ada macan betina disana, sedang menenangkan macan kecil hehehe.... Aaww" Lagi-lagi Rahul terkesiap sembari mengaduh kesakitan lantaran merasakan ada benda tumpul memukul kakinya. Dan dia sangat yakin bahwa benda itu adalah sapu yang sedang digunakan Zahra untuk mengepel lantai.


"Astaga. Bu, lihat sendirikan? Kelakuan bar-bar anak Ibu ini" Adu Rahul pada Bu Sakinah.


"Bu, Ibu lihat sendirikan, dia duluan yang menyebalkan?" Zahra pun balas mengadu.


"Sudah, sudah. Ibu tidak waktu untuk menjadi juri dalam acara pertengkaran kalian. Jika kalian masih belum puas, silahkan lanjutkan diluar. Rahul, Ibu dengar kamu sudah bekerja dipabrik ya sekarang?"


"Iya Bu"


"Kok kamu masih disini? Kamu tidak kesana sekarang?"


"Hari ini libur Bu"


"Oh.... kalau begitu hari ini Ibu titip Zahra ya padamu. Tolong dijaga dari orang-orang yang berniat tidak baik terhadapnya ya"


"Iya Bu, aku pasti akan menjaganya dengan baik" Rahul tersenyum cerah.

__ADS_1


"Ibu. Kenapa juga harus menyuruhnya untuk menjagaku? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak perlu pakai dititipkan padanya" Bantah Zahra.


"Lha, memangnya kenapa? Rahul inikan lelaki, sudah sewajarnya dia menjagamu yang seorang wanita. Lagipula dia bisa kok. Buktinya kemarin, saat Amar dan teman-temannya ingin berbuat tidak senonoh terhadapmu, dia mampu melawan mereka demi kamu. Iya kan Rahul?"


"Iya Bu. Semua itu terjadi begitu saja. Karena aku tidak terima mereka berbuat tidak sopan terhadap Zahra. Selain itu, ada yang mengatakan padaku.bKalau dibalik kekurangan seseorang, pasti ada kelebihannya masing-masing. Dan aku sangat berterima kasih pada orang itu. Karena berkat dia, aku jadi bisa mengukur dan mengetahui kemampuanku"


Rahul berkata dengan menyunggingkan senyum menggoda. Zahra hanya diam mendengarkan dengan raut wajah tak terbaca. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Yang jelas dia tahu bahwa lelaki itu sedang menyindirnya.


Bu Sakinah yang sepertinya mengerti siapa yang dimaksud Rahul, hanya menanggapinya dengan geleng-geleng kepala disertai seulas senyum melihat tingkah laku dua insan yang sedang kasmaran itu.


"Ya sudah, sekarang sana kalian berangkat" Titah Bu Sakinah dengan suara lembut.


"Iya Bu" Jawab Zahra.


********


"Selamat pagi peri cantikku!" Sapa Zahra dengan senyum ceria, begitu membuka pintu dan memasuki kamar rawat Lyra.


Lyra menoleh dan seketika, matanya terbelalak dengan senyum lebar yang menghiasi wajah mungilnya.


"Kak Zahra!" Seru Lyra sembari memeluk Zahra yang juga balas memeluknya.


"Bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Zahra sembari melepaskan pelukannya dari gadis kecil itu.


"Baik Kak. Hari ini aku sudah bisa pulang" Jawab Lyra dengan antusiasnya.


"Oh benarkah? Itu artinya Lyra sudah menuruti tante Dokter dan kakak suster. Makanya sekarang Lyra sembuh dan boleh pulang. Benar begitu?"


"He em"


"Yeaaay!"


Rahul yang sedari tadi mengekor dibelakang Zahra, hanya berdiri mendengarkan percakapan dua gadis beda generasi itu, dengan seulas senyum hangat.


Meski terkadang jiwa bar-bar gadis itu sering bereaksi, yang membuatnya terlihat seperti macan betina. Namun dibalik itu bisa tersimpan jiwa lembut dan penyayang, serta keibuan yang membuatnya bisa begitu dekat dan akrab dengan anak-anak.


Rahul semakin mengagumi pribadi gadis itu. Bahkan dia mulai bingung. Apakah perasaannya pada wanita itu hanya sekedar mengagumi, atau sudah lebih dari itu?


Entahlah, biarkan waktu saja yang menjawabnya.


"Oh ya Kak. Kan hari ini aku sudah boleh pulang, bagaimana dengan janji Kakak tempo hari?"


"Mmm.....Janji yang mana ya?" Zahra mengernyitkan dahi dengan gemasnya.


"Ih Kakak! Kan waktu itu Kakak janji, akan melanjutkan cerita beauty and the beast, saat aku pulang dari sini. Masak Kakak lupa sih" Sungut Lyra.


"Kok peri kecilku wajahnya jadi cemberut begini? Nanti cantiknya hilang loh" Zahra mencubit pelan pipi chubby Lyra dengan gemasnya. "Baiklah, sesuai dengan permintaan peri cantikku, maka cerita beauty and the beastnya akan dilanjutkan"


"Beneran Kak?" Wajah cemberut Lyra seketika kembali menjadi ceria mendengar pernyataan Zahra.


"He em"


"Yeaaay!" Lyra bersorak gembira dengan kedua tangan yang direntangkan keatas.


"Oh ya, Kakak ada sesuatu untuk Lyra"


"Apa Kak?"

__ADS_1


"Taraaa!" Zahra mengambil kotak mika berisi kue basah yang tadi dia letakkan diatas nakas dan menyodorkannya kedepan Lyra.


"Wah, kue! Ini buat Lyra Kak?" Lyra menatap kue itu dengan mata berbinar-binar.


"He em. Ini buatan Ibuku. Dijamin, rasanya akan membuat Lyra ketagihan"


"Makasih ya Kak" Lyra sangat senang menerima kue basah itu.


"Sama-sama sayang"


"Kak, siapa kakak tampan itu?" Lyra menunjuk Rahul yang berdiri tak jauh dari ranjang yang dia duduki bersama Zahra. Sepertinya gadis manis itu baru sadar akan keberadaan Rahul sedari tadi, saking asiknya bercengkrama ria dengan Zahra.


Rahul mendekat sembari meraba-raba. Kemudian dia menghenyakkan pinggulnya ditepi ranjang, didepan Zahra dan Lyra.


"Hello, namaku Rahul"


"Kak Rahul tampan sekali. Kakak pacarnya Kak Zahra ya?"


"Hah?" Zahra terkejut mendengar ucapan Lyra. Ya Tuhan, anak sekecil ini sudah mengerti hal semacam itu?


"Iya. Kata temanku, jika ada pria dan wanita dewasa bersama, itu artinya mereka pacaran, dan akan menikah. Lalu punya anak deh. Kak Rahul dan Kak Zahra juga begitu kan?"


"Lyra. Boleh Kakak tanya sesuatu?" Tanya Rahul dengan seulas senyum.


"Apa Kak?"


"Berapa usiamu saat ini?"


"7 tahun Kak"


"Lyra sekolah kelas berapa?"


"Kelas 2 SD Kak"


"Oke. Lyra kan masih 7 tahun, masih kelas 2 SD. masih kecilkan?" Rahul bertanya dengan suara lembut.


"He eh" Lyra mengangguk.


"Nah. Anak kecil itu tugasnya hanya dua" Rahul mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya.


"Sekolah dan bermain. Bukan membahas masalah orang dewasa. Karena itu belum waktunya untuk anak seusia Lyra. Dan, jika ada temanmu yang membahas masalah semacam itu, itu artinya mereka bukan teman yang baik. Dan, teman yang tidak baik itu, harus dijauhi. Karena, mereka membawa pengaruh buruk pada kita. Lyra paham kan, maksud Kakak?"


"Iya Kak. Nanti, Lyra akan jauhi teman-teman seperti itu"


"Anak pintar. Tos dulu" Rahul mengacungkan telapak tangannya yang langsung dibalas dan ditepukkan oleh tangan mungil Lyra.


"Yeaaaay!"


Zahra hanya diam dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, menyaksikan tingkah dua orang dihadapannya ini.


Dia tidak menyangka. Rahul yang sebelumnya dia kenal sebagai sosok yang begitu rapuh dan temperamen, akibat problem hidupnya yang terlalu bertubi-tubi, ternyata bisa menjadi sosok yang begitu bijak dan sabar, dalam masalah anak-anak.


********


"Setelah diusir oleh Beast, Belle menyusuri hutan meninggalkan istana itu. Namun, dia malah dicegat oleh serigala dan hendak dimangsa. Tanpa diduga, Beast datang menyelamatkannya. Dia bertarung dengan serigala hingga terluka parah. Belle kembali ke istana itu untuk merawat Beast yang terluka. Sementara itu,ayah Belle yang telah sampai di desanya, menceritakan tentang semua yang dialaminya pada warga sekitar. Namun, mereka tidak percaya karena terhasut oleh Gaston, pria yang mencintai Belle"


Zahra begitu antusias dalam berdongeng, sembari menyuapi kue basah kemulut sikecil Lyra yang merebahkan diri dalam pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2