
Ucapan Rahul membuat Shreya sedikit tersenyum dibalik air mata yang sedikit membasahi pipinya.
"Baiklah, kamu tunggu disini. Biar aku yang menemui pria itu" Mau tidak mau akhirnya Rahul mendekati lelaki botak itu, daripada dia harus melihat Shreya menangis ditempat umum seperti ini. Kan tidak lucu.
"Permisi Mas" Rahul menyapa pria itu dengan kaku. Lelaki berkepala plontos itu menengadah dan menatapnya dengan heran.
"Mmm...." Rahul merasa bingung dalam memilih kata-kata yang tepat, untuk mengutarakan tujuannya yang ingin mengelus-elus kepala kelaki itu.
Tidak mungkinkan, dia langsung melakukannya? Jika orangnya tidak terima dan marah? Tidak lucu jika dia sampai baku hantam ditempat umum seperti ini?
"Bisa saya bicara sesuatu?"
"Iya silahkan" Lelaki botak itu masih menatapnya heran.
"Mmm..... begini, itu istri saya" Rahul menunjuk Shreya yang sedang berdiri agak jauh dan melihat mereka. "Dia sedang hamil besar. Mmm..... Saat ini dia sedang ngidam. Dan.... Ngidamnya adalah....." Rahul semakin merasa kikuk untuk bicara secara to the poin.
Seandainya ada alternatif lain yang bisa dia lakukan, untuk menghindarinya dari tugas mengelus-elus kepala licin lelaki dihadapannya ini, pasti sudah dia lakukan. Tapi sayangnya, ini bak tugas negara yang harus tetap dilaksanakannya meskipun dia merasa enggan.
"Dia ingin saya.... Mengelus-elus kepala Mas...." Dengan menahan harga dirinya, akhirnya Rahul menyampaikan tujuannya.
"Maksudnya apa nih?! Mas mau ngeledekin saya? Mentang-mentang kepala saya botak?!" Ucapan Rahul membuat pria itu tersulut emosi hingga dia bangkit berdiri dengan mata melotot.
"Mm, tolong jangan salah paham dulu. Ini murni keinginan istri saya yang sedang hamil" Rahul mengangkat tangannya. Kepalanya tampak celingukan melihat orang-orang yang berlalu lalang disekelilingnya.
Suara keras pria botak itu menarik perhatian para pengunjung lain hingga semua menatap mereka aneh. Hal itu membuat Rahul malu karena menjadi pusat perhatian.
"Begini saja, sebagai gantinya, saya akan bayar berapapun yang Mas minta. Mas mau 50 juta, seratus, atau satu M? Tinggal sebutkan saja. Ini kontak person saya. Biar nanti saya hubungi asisten saya untuk mengurus semuanya. Bagaimana?"
Akhirnya Rahul bernegosiasi dengan menyerahkan kontak personnya, agar masalahnya selesai dan menghindari keributan.
"Rahul Aryan Dirgantara?" Lelaki itu membaca nama yang tertera pada kontak person itu. Lalu dia melirik Rahul. "Ja-jadi anda ini adalah, anak dari pemilik Dirgantara Group itu?" Tanyanya dengan mata terbelalak takjub.
"I-iya" Sikap Rahul masih kikuk.
"Wah! Ini suatu kehormatan buat saya. Rahul Aryan Dirgantara menemui saya! Mas mau elus-elus kepala saya? Silahkan" Lelaki botak itu tersenyum sumringah dan berbicara seramah mungkin.
Membuat Rahul tersenyum geli. Dasar lelaki aneh. Tadi marah-marah, sekarang malah ramah sekali. Tapi ya sudahlah. Yang penting sekarang apa yang dia inginkan sudah didapat. Yaitu kepala botak lelaki itu. Karena sudah ada ijin dari pemiliknya sendiri.
********
__ADS_1
Dibagian itu! Keatas lagi! Kebawah lagi! Hahahaha!!" Sembari mengemut gulalinya, Shreya dengan cerianya memberi aba-aba tentang bagian-bagian kepala botak lelaki itu yang harus dielus-elus Rahul. Dia sangat menikmati pemandangan didepannya hingga tertawa terbahak-bahak.
Sementara Rahul hanya bisa menahan malu, saat dia harus terus mengelus-elus kepala lelaki yang duduk disebelahnya, dan manjadi tontonan orang-orang yang hilir mudik yang melihatnya dengan tatapan aneh, hingga mereka semua cekikikan. Layaknya sedang menonton pertunjukan badut sircus.
"Mas memang benar-benar suami yang hebat ya. Sabarnya luar biasa menghadapi istrinya yang sedang hamil dan ngidam. Sangat berbeda sekali dengan saya. Saya nih, waktu istri sedang hamil, tidak pernah sekalipun saya menuruti keinginannya. Meskipun dia ngakunya ngidamlah, apalah, saya sih bodo amat.
Kalau dia masih merengek, saya tampar aja, langsung dia diam. Tapi melihat Mas memperlakukan istri Mas yang sedang hamil dengan penuh cinta, membuat saya menyesal Mas. Andai dulu saya bisa sedikit bersabar menghadapi istri yang sedang mengandung anak saya, mungkin dia tidak akan pernah meninggalkan saya"
Lelaki berkepala plontos itu bercerita panjang lebar dengan raut wajah sedih. Membuat Rahul dan Shreya merasa geli.
Namun dari semua ucapan lelaki itu, yang paling melekat dihati Rahul adalah, kata-kata suami idaman.
Masih pantaskah sebutan itu ditujukan untuknya? Setelah dia dengan tidak tau dirinya berani melirik perempuan lain, disaat istrinya sedang mendapat musibah hingga dinyatakan hilang?
Dan yang lebih parahnya perempuan itu adalah istri sahabatnya sendiri. Hal itu selalu menjadi beban pikirannya. Disatu sisi, dia tidak ingin menghianati istri dan sahabatnya. Tapi disisi lain, dia benar-benar tidak bisa menjauhi Shreya.
Karena dia merasa sangat nyaman berada didekat wanita itu. Perasaan yang sama yang dia rasakan, saat dia bersama Zahra dalam keadaan buta dulu.
********
"Hahaha! Jadi kamu sampai harus mengaku sebagai suamiku, agar lelaki botak itu mengijinkanmu untuk mengelus-elus kepala botaknya?" Shreya tertawa terbahak-bahak didalam mobil mendengar cerita Rahul yang begitu konyol.
"Terima kasih ya" Shreya tersenyum manis.
"Hem?" Rahul mengerutkan keningnya.
"Untuk semuanya. Semua pengorbananmu. Terutama untuknya" Shreya memegang perutnya dengan lembut.
"Dia masih baik-baik saja disini karenamu. Seandainya malam itu kamu tidak cepat-cepat membawaku kerumah sakit, atau menyerah saat begal itu menyandraku, mungkin saat ini kami berdua sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku dan bayiku sangat berhutang budi padamu"
Ujar Shreya lirih. Membuat Rahul merasa terharu mendengarnya.
"Jangan terlalu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan aku yakin, siapa pun yang ada diposisiku saat itu juga pasti akan melakukan hal yang sama" Rahul berusaha berbicara sebiasa mungkin, agar tidak terlalu menonjolkan perasaannya yang sebenarnya.
"Bisa aku katakan sesuatu?"
"Apa?"
"Istrimu adalah wanita yang sangat beruntung, karena memiliki suami sepertimu"
__ADS_1
Rahul terdiam mendengar ucapan Shreya. Dia menatap wanita itu dengan intens. Lalu berbicara dengan nada lirih dan serius.
"Apa kamu juga merasa beruntung, memiliki suami seperti Fajar?"
Shreya terpaku menatap Rahul. Dia tidak tau jawaban apa yang harus dia berikan, atas pertanyaan yang diajukan lelaki itu padanya.
********
Mereka sampai dirumah saat jam pukul sepuluh malam. Shreya yang kelelahan tampak sudah tertidur pulas dijok mobil.
Karena merasa tidak tega, Rahul memilih untuk tidak membangunkan perempuan itu. Perlahan-lahan dia mengangkat tubuh Shreya dan membopongnya dengan hati-hati, agar tidak menggangu tidurnya.
"Tuan sudah pulang?" Bu Susan menyambut Rahul begitu dia memasuki rumah.
"Iya"
"Itu Nyonya Shreya....?" Bu Susan terkejut melihat Shreya yang tertidur dilengan Rahul.
"Dia kelelahan, jadinya tertidur dimobil. Aku akan membawanya kekamar. Setelah itu aku juga mau tidur"
"I-iya Tuan"
Rahul melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Bu Susan dalam keadaan melongo melihatnya yang begitu akrab dan perhatian terhadap Shreya. Hingga membuat perempuan paruh baya itu sedikit curiga dan resah.
Kemana saja mereka sehaian ini? Kenapa baru pulang malam-malam begini? Dan apa yang sebenarnya mereka lakukan? Sebagai orang yang sudah hampir 25 tahun bekerja dengan keluarganya, Bu Susan tau betul seperti apa kehidupan Rahul selama ini.
Selama hampir tiga tahun tuan majikannya itu hidup dalam keterpurukan. Bagai orang yang kehilangan jiwanya, lantaran harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami kebutaan.
Bahkan hal itu sampai menjadi pemicu perseteruan antara dia dengan keluarganya, hingga Rahul memilih untuk meninggalkan keluarga besarnya. Setelah kembali dalam keadaan bisa melihat lagi, hubungan mereka perlahan-lahan membaik.
Namun keterpurukan masih tetap menyelimuti Rahul. Tuan mudanya itu masih menjadi sosok yang tidak memiliki semangat hidup. Karena harus kehilangan istri yang sedang mengandung anaknya dalam tragedi banjir bandang itu.
Tapi beberapa hari terakhir ini, raut kesedihan dan keterpurukan yang selama ini dia lihat Dimata Rahul, sepertinya perlahan-lahan mulai berkurang. Bahkan Tuan mudanya itu terlihat ceria. Meski terkadang raut kesedihan itu masih ada. Namun sudah tidak sebesar dulu. Apakah semua itu karena pengaruh Shreya?
Jujur Bu Susan merasa senang, jika tuan Rahul bisa melupakan kesedihan pasca kehilangan istrinya. Dan bisa menemukan harapan baru dalam hidupnya. Karena dia juga sudah menganggap lelaki itu seperti anaknya sendiri.
Tapi dia berharap wanita itu bukanlah Shreya. Jangan sampai kehilangan istrinya dalam keadaan hamil, membuat Rahul jadi terpikat pada sosok Shreya yang juga sedang berbadan dua.
Hingga membuat mereka berdua sampai terlibat dalam hubungan terlarang, yang bisa membuat renggangnya hubungan keluarga Dirgantara dan Lazuardi. Bu Susan sangat berharap agar perkiraannya meleset.
__ADS_1