Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 117- Operasi Caesar


__ADS_3

Operasi pun dilaksanakan setelah Rahul memberikan keputusannya, dan menandatangani surat-surat yang dibutuhkan dalam melakukan prosedur operasi. Dengan berat hati Rahul harus mengikhlaskan putra pertamanya, karena dia sudah tidak punya pilihan lain.


Selama masa operasi berlangsung, Rahul memilih untuk menenangkan dirinya dimushola, seraya mendoakan istri dan anaknya yang sedang berjuang antara hidup dan mati diruang operasi. Sekarang dia hanya bisa menyerahkan segalanya pada yang maha kuasa.


Berharap dan berdoa agar istri dan anaknya mampu melalui semua ini. Meskipun dia sudah memutuskan untuk memprioritaskan keselamatan istrinya, namun harapan dihatinya masih sangat besar agar anaknya juga bisa selamat. Sekalipun kemungkinan itu terlalu tipis.


Namun dia tetap percaya, tidak ada yang tidak mungkin selama Tuhan sudah berkehendak. Dan dia sangat berharap agar keajaiban itu datang lagi kepadanya. Karena dia tidak pernah ada niat sedikitpun, untuk mengorbankan anaknya demi menyelamatkan istrinya! Dia sangat menyayangi dan mencintai putra kecilnya, yang masih berada dalam perut istrinya itu!!


Namun dia juga tidak bisa mengorbankan nyawa istrinya!! Dia masih sangat membutuhkan Zahra!! Wanita itu adalah segala-galanya baginya!!


Perasaan dilema dan bersalah masih setia membayangi dan berkecamuk dalam sanubarinya!


Fajar memutuskan untuk ikut mendoakan Zahra dimushola bersama Rahul. Berdoa untuk kelancaran operasi itu. Dia dengan tulus berdoa agar Tuhan masih memberikan Zahra kesempatan untuk hidup bahagia. Meskipun dia harus menerima kenyataan, bahwa kebahagiaan itu bukan bersamanya, melainkan bersama Rahul suaminya!


Namun itu jauh lebih baik baginya. Dia masih bisa menahannya! Ketimbang dia harus melihat wanita itu pergi untuk selamanya, seperti Shreya dulu yang tidak bisa terselamatkan!! Itu jauh lebih menyakitkan baginya!! Dan belum tentu dia sanggup menahannya!!


Helmi dan Lesti pun ikut menyusul Rahul dan Fajar kemushola. Mereka juga dengan tulus memberikan doa untuk menantu dan calon cucu pertama mereka. Mereka sangat berharap agar keduanya bisa diselamatkan! Walaupun mungkin minim kemungkinannya.


Hanya tinggal Gala, Amora dan Naomi yang masih berada didepan ruang operasi.


"Sayang, Ma, ayo kita kemushola bersama yang lain. Kita ikut doakan Zahra dan bayinya, supaya mereka berdua bisa melewati operasi itu dengan selamat" Ajak Gala.


"Mmm.... Kamu saja ya sayang. Aku sedang datang bulan" Amora memberi alasan dengan enggannya. Gala melirik Naomi yang terkejut dan mencoba memutar otak, karena mendapat tatapan interogasi dari menantunya.


"Mmm.... Mama juga tidak bisa. Sedang lampu merah juga"


"Kok, kalian berdua bisa menstruasi secara bersamaan seperti ini?" Gala mengernyit heran seraya menatap istri dan ibu mertuanya secara bergantian.

__ADS_1


"Ya Mama tau. Kan itu sudah kodratnya kami sebagai wanita. Bukan kami juga yang mengontrol, kapan menstruasinya datang" Kelit Naomi dengan santainya.


"Ya sudah kalau begitu, aku tinggal dulu ya" Ujar Gala pasrah.


"Iya-iya sayang. Mama dan Amora, mendoakan dari sini saja ya" Naomi mengangguk dan berbicara dengan manisnya.


"Iya Ma" Gala pun meninggalkan istri dan ibu mertuanya, menuju mushola untuk menyusul orang tua dan adiknya. Kini hanya tinggallah Amora bersama Mamanya didepan ruang operasi itu.


"Untuk apa kita mendoakan wanita dusun itu dan anaknya selamat ya Ma? Kan yang kita harapkan justru sebaliknya" Ujar Amora sinis.


Sebenarnya dia tidak ada maksud, untuk membuat wanita kampung itu sampai kritis seperti ini. Karena tujuan dia hanya ingin menyingkirkannya dari rumah mertuanya. Dan dia tidak pernah menyangka, jika yang terjadi malah lebih parah dari yang dibayangkannya.


Dan dia juga bisa apa, jika perempuan itu dan bayinya tidak selamat? Mungkin memang itu sudah takdir mereka. Toh dia juga tidak pernah membunuh mereka kan? Jadi semua bukan kesalahannya.


"Iya sayang. Kalau dia selamat, semua yang sudah kita lakukan, sia-sia dong" Naomi sedikit terkekeh.


"Iya-iya" Sahut Naomi dengan cemberut.


********


Setelah setengah jam berada dimushola, Rahul dan keluarganya akhirnya kembali kedepan ruang operasi. Berjam-jam mereka dengan setia dan sabar menunggu Zahra yang masih berjuang didalam sana, dengan perasaan harap-harap cemas.


Rahul duduk dikursi tunggu dengan tangan memegang tasbih dan mulut komat-kamit melafalkan zikir. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan hati dan pikirannya dari kegelisahan dan kekalutan.


Beberapa menit kemudian, mereka semua dikejutkan oleh suara tangisan bayi yang berasal dari ruang operasi Zahra.


"Ma, kok.... ada suara tangisan bayi?" Helmi menanyai istrinya dengan bingung sembari menunjuk ruang operasi menantunya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Iya Pa. I-itu.... Suara tangisan cucu kita Pa" Lesti menjawab dengan perasaan campur aduk antara terkejut, bingung, tidak yakin, terharu dan senang. Setengah dari hatinya merasa yakin bahwa itu adalah suara tangisan cucunya. Namun setengahnya lagi takut mendapat harapan palsu.


Suara tangisan bayi disertai ocehan orang tuanya dihadapannya, membuat Rahul bangkit dan menatap pintu ruang operasi itu dengan perasaan tak menentu, antara bingung dan cemas.


Rasa penasaran yang membumbung tinggi membuatnya ingin sekali menerobos pintu itu, untuk mengetahui seperti apa kondisi didalam sana. Seperti apa kondisi istri dan anaknya?! Apakah mereka selamat dan baik-baik saja?!


Tak lama kemudian, pintu terbuka dan dokter pun keluar. Dengan jantung yang berpacu cepat, Rahul langsung mendekati dokter itu.


"Dok, bagaimana?!" Tanya Rahul dengan perasaan ketar-ketir.


"Selamat Pak, bayinya lelaki. Sudah terlahir dengan selamat" Dokter tersenyum sumringah. Perkataannya membuat semua orang yang ada disana terharu, gembira dan bisa bernafas dengan lega, kecuali Amora dan Naomi yang tampak saling pandang dengan wajah melongo dan cemberut.


"Alhamdulillah!" Rahul tersenyum haru sembari mengusapkan telapak tangan kewajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca oleh air mata kebahagiaan. Tidak menyangka jika kini dia sudah benar-benar menjadi seorang ayah.


Begitupun dengan Helmi dan Lesti yang saling berpelukan dengan bahagianya atas kehadiran cucu pertama mereka. Begitu juga dengan Gala dan Fajar yang ikut merasa lega dan sumringah. Gala mendekati Rahul untuk memberikan selamat.


"Selamat datang Papa baru. Semoga kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk jagoan kecilmu" Ujar Gala seraya memeluk adiknya dengan perasaan bahagia.


"Te-terima kasih Kak" Rahul membalas pelukan kakaknya dengan terharunya.


"Ba-bayinya selamat Dok? Apa itu artinya... Ibunya yang....?" Dengan terbata-bata Naomi buka suara untuk memastikan rasa penasarannya. Karena setaunya, hanya ada satu orang yang bisa selamat seperti keterangan dokter itu sebelumnya.


Jika bayinya selamat, itu artinya ibunya yang mati. Dan dia berharap memang seperti itulah yang terjadi sekarang. Dengan begitu, kesempatan Amora untuk mendapatkan Rahul kembali akan terbuka dengan selebar-lebarnya, setelah wanita kampung itu enyah dari dunia ini.


Suasana yang sudah mencair dan melegakan, kembali pekat dan menegangkan akibat ucapan Naomi. Semua orang kembali dilanda gelisah dan cemas, memikirkan nasib Zahra yang masih membuat mereka penasaran.


Terutama Rahul yang mulai kembali frustasi. Perasaannya yang seperti sudah bisa terbang tinggi, kini kembali terjatuh memikirkan keadaan istrinya yang masih hidup atau...?!!

__ADS_1


__ADS_2