
"Lho, kok jadi menyalahkan kami? Memangnya kami ini, bapaknya pacarmu itu? Hingga kami bertanggung jawab, dengan apa yang dia lakukan?" Amar masih saja menanggapi tuduhan Zahra dengan olok-olokan. Pun dengan kedua sahabatnya.
"Iya. Mau pacarmu itu bertarung dengan manusia jumbo atau manusia kerdil, urusannya dengan kami apa? Hahaha!" Timpal Thoriq. Lalu ketiganya kembali tertawa mengejek. Membuat Zahra semakin geram, dengan tingkah laku trio itu. Sebenarnya manusia macam apa mereka ini?
"Aku tahu manusia seperti apa kalian. Kalian pasti sudah mencuci otak Rahul, hingga dia nekad mengikuti kompetisi gila itu. Iya kan....?!" Zahra masih kukuh menuduh trio itu dengan suara keras.
BRUK!!
Zahra terkesiap dengan suara keras itu. Pun ketiga lelaki yang sedang mengolok-oloknya. Spontan mereka semua langsung menoleh kedalam ring. Dimana Rahul yang sudah terkapar tak berdaya. Dengan tubuh dan wajah yang telah babak belur parah.
"Rahul" Ujar Zahra sendu. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu. Tingkat kekhawatirannya terhadap pria itu semakin bertambah, melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti itu.
"Astaga, Zahra. Aku jadi ragu, apakah pria butamu itu, masih akan tetap hidup setelah ini. Lihat saja, dia sudah sebabak belur itu dihajar oleh tiang besi itu. Aku rasa, kau akan lebih dulu menjadi janda, ketimbang menjadi istri. Hahaha"
Alih-alih merasa prihatin melihat kondisi pria malang didalam area ring itu, Amar justru malah menjadikan hal itu sebagai bahan, untuk menakuti dan mengolok-olok Zahra. Ketiganya kembali tertawa mengejek untuk kesekian kalinya.
"Untung saja prioritas utamaku saat ini adalah keselamatan Rahul. Jika tidak, aku pasti sudah menampar dan menendang pusaka lahir kalian satu persatu" Geram Zahra. Ketiga lelaki itu benar-benar membuat tensinya naik.
Sayangnya dia tidak ada waktu, untuk meladeni mereka lebih lama lagi. Karena dia harus cepat bertindak, sebelum terjadi hal yang semakin parah lagi terhadap Rahul.
Dengan kekesalan yang belum tuntas terhadap Genk rusuh itu, Zahra berlari secepat mungkin menuju area ring, dengan perasaan ketar ketir. Meninggalkan mereka yang masih membalas rutukannya dengan tawa mencemooh.
Suasana menjadi semakin menegangkan saat Rahul yang sudah babak belur, namun tetap berusaha bangkit dan bersikeras untuk melanjutkan pertarungan. Namun sama seperti sebelumnya, lagi-lagi dia harus menahan rasa sakit, saat kembali mendapat serangan bertubi-tubi dari Gautam.
Zahra yang baru mendekati tangga ring, langsung dihadang dan oleh dua petugas keamanan.
"Maaf Nona, ini area kompetisi. Sebaiknya anda kembali kebarisan penonton" Kata salah satu petugas itu dengan tegas.
"Pak, itu temanku. Dia buta. Aku mohon tolong hentikan kompetisi ini. Temanku bisa kenapa-napa Pak" Zahra mengiba pada dua petugas itu seraya menunjuk Rahul.
"Maaf Nona, kompetisi ini sedang berlangsung. Tidak bisa dihentikan begitu saja"
"Dimana akal sehat kalian! Apa kalian tidak punya hati nurani, hingga tetap membiarkan pertarungan tidak seimbang ini berlangsung!Bagaimana jika dia sampai terluka atau cidera?! Apakah kalian bisa bertanggung jawab?!" Zahra merutuk kedua petugas yang sedang mencekal lengannya itu. Pikirannya yang sedang kalut, membuat emosinya meluap-luap tanpa terkontrol.
__ADS_1
"Nona. Ini adalah inisiatif temanmu sendiri, yang nekad mengikuti kompetisi ini. Tidak ada satupun dari pihak kami yang memaksanya. Jadi tolong, jangan buat keributan disini" Dua petugas itu berusaha menarik dan menyeretnya, agar kembali kebarisan penonton. Namun Zahra terus memberontak dengan sekuat tenaga, agar dia bisa mendekati ring.
"Bukan aku yang membuat keributannya, tapi jagoan kalian itu! Apa kalian tidak lihat? Dia menghajar temanku habis-habisan tanpa ampun! Apakah begini, sikap seorang pegulat sejati?! Menyakiti musuhnya yang sudah tidak berdaya! Sekarang lepaskan aku!"
"Maaf Nona, tolong mengerti. Kami hanya menjalankan tugas. Kami mohon padamu, kembalilah kebarisan penonton, atau tinggalkan saja tempat ini. Kami tidak ingin mendapat masalah, jika kau sampai kenapa-napa disana"
"Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, selama Rahul masih disana!"
Sementara Zahra masih terlibat dalam perdebatan, bersama dua petugas keamanan yang sedang menyeretnya, Rahul yang masih terlibat dalam pertarungan bersama pegulat itu, kembali kehilangan keseimbangan, dan ambruk kelantai ring.
Melihat rivalnya yang kembali terkapar akibat tendangan, dan tinju yang dilayangkannya, Gautam menghadap penonton sembari merentangkan kedua tangan dengan arogannya.
Pembawa acara mendekati Rahul dengan rasa iba. Dia mencoba memastikan kesanggupan Rahul dalam melanjutkan kompetisi. Atau menyerah saja, agar pemenangnya dapat ditentukan sekarang juga.
"Tiga! Dua!" Pria itu menjentik-jentikkan jarinya didepan Rahul, yang sudah dalam posisi tengkurap dilantai ring.
"Rahul! Rahul! Aku mohon bertahanlah! Rahul! Ayo bangun! Cepat kalahkan dia! Ayo bangun!" Zahra berteriak sekeras mungkin. Membangunkan Rahul yang sudah tak sadarkan diri, usai ambruk kelantai. Rahul membuka matanya. Suara Zahra menggema memenuhi telinganya.
Gautam menggeram marah melihat rival butanya yang begitu keras kepala, hingga bersikeras ingin melanjutkan pertarungan mengalahkannya. Dengan kemarahan yang memuncak, pria jumbo itu mengangkat kakinya kewajah Rahul. Namun kali ini, Rahul dapat menahan kaki lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Iya Rahul, bagus! Ayo semangat kalahkan dia! Jangan berikan dia kesempatan untuk menyakitimu lagi! Ayo cepat! Aku tahu kau bisa! Ayo tunjukkan pada kami semua disini, bahwa kau tidak lemah!!"
Zahra yang masih berada dalam cengkeraman dua petugas keamanan, kembali menjerit dengan geramnya. Suara jeritan gadis itu seperti power yang disalurkan pada Rahul, hingga dia berhasil mendorong kaki besar Gautam. Membuat pria itu terjengkang kebelakang.
Tak terima dengan apa yang dilakukan Rahul terhadapnya, Gautam mengangkat tangannya. Hendak meninju pria itu untuk kesekian kalinya.
Namun kali ini Rahul juga berhasil menghindar dari serangan itu. Selain itu, dia yang berhasil memberikan serangan ketubuh Gautam.
Suasana semakin heboh. Para penonton yang sebelumnya sangat yakin, bahwa lelaki buta itu tidak akan pernah mungkin bisa memenangkan kompetisi itu, kini keyakinan mereka mulai goyah, melihat Rahul yang mulai mengungguli pertarungan. Meski sesekali dia masih mendapat serangan, berupa tinju maupun tendangan dari lawannya itu.
Namun sedikit banyak, dia sudah mampu mengimbangi setiap serangan yang diterimanya. Sebagian dari mereka berpikir, jika keajaiban mungkin saja bisa terjadi pada pria buta malang itu. Namun tak sedikit yang beranggapan, jika pria itu hanya sedang beruntung saja sebentar. Nanti juga akan kembali terhempas seperti sebelumnya.
Zahra terus berteriak menyemangati Rahul tanpa henti. Suara teriakan wanita itu seperti energi yang terus memompa kekuatan Rahul, dalam menghadapi pertarungan yang semakin sengit itu.
__ADS_1
Amar dan kedua sohibnya yang masih setia menyaksikan kompetisi itu dengan hati riang, melihat Rahul yang sudah berkali-kali terhempas, akibat serangan yang diberikan oleh gergasi itu, kini mulai resah melihat gergasi itu juga mulai babak belur, akibat serangan yang diberikan oleh sibuta itu.
Mereka jadi sadar, jika kemampuan pria buta itu, sepertinya tidak bisa terlalu dianggap remeh. Bukan tanpa alasan mereka berpikir seperti itu. Tempo hari saja, dia berhasil mengalahkan mereka bertiga saat dijalan. Bukan tidak mungkinkan, jika malam ini dia juga bisa melakukan hal yang sama pada pria gendut itu?
Mereka hanya berharap, agar hal itu tidak terjadi. Jika sampai iya, maka rencana mereka akan gagal total.
Dan kekhawatiran mereka pun akhirnya menjadi kenyataan, saat Rahul berhasil menyerang Gautam hingga dia kehilangan keseimbangan dan rubuh kelantai. Tubuhnya yang tinggi dan bulat membentur lantai dengan kerasnya. Membuat semua orang melongo, dengan mata terbelalak saking terkejutnya, dengan apa yang dilakukan oleh lelaki buta itu.
Pembawa acara mendekati Gautam. Lalu menjentik-jentikkan jarinya didepan wajah lelaki yang tak sadarkan diri, dengan posisi tengkurap itu.
"Tiga! Dua!" Gautam tak kunjung merespon seruan pemandu acara.
"Sa....!" Suasana pun menjadi semakin menegangkan dari sebelumnya. Semua orang terpaku dengan perasaan deg-degan, menanti hasil akhir dari kompetisi itu.
Tak terkecuali Zahra. Dia berdoa dalam hatinya, agar Rahul bisa memenangkan kompetisi itu. Bukan demi hadiah yang jumlahnya fantastis itu. Tapi lebih pada keselamatan pria itu.
Dia tidak ingin Rahul semakin terluka parah ditangan pegulat arogan itu, jika pertarungan ini masih berlanjut. Dia tahu pria itu sangat keras kepala. Dan tidak akan mau berhenti sebelum mendapatkan keinginannya, meski apapun resiko yang harus dihadapinya.
"Tu...! Dan, pemenangnya adalah! Rahul Aryan!! Berikan tepuk tangan untuknya!" Seru pria itu dengan suara lantang, sembari memegang dan mengangkat tangan kiri Rahul keatas.
Suara tepuk tangan penuh kebanggaan membahana, bersamaan dengan kehadiran dua panitia, yang membawa dan menyerahkan piala serta giant check ketangan Rahul.
Zahra yang kini sudah dapat bernafas dengan lega, lantaran kompetisi itu sudah berakhir, berdiri sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Luar biasa! Dengan keterbatasan penglihatan, dan hanya berbekal keberanian, tuan Rahul berhasil mengalahkan Gautam Phogat! Seorang pegulat profesional, yang memiliki ukuran tubuh lebih besar darinya! Dan oleh karena itu, Maka dia berhak mendapatkan uang tunai, sebesar 1 milyar rupiah! Plus, dua tiket liburan ke India!!"
Seru pria itu dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya. Semua orang yang sebelumnya selalu memberikan sorakan disetiap aksi Rahul, dan melihatnya dengan sinis, kini memberikan tepuk tangan, dan melihatnya dengan penuh kekaguman.
"Selamat tuan" Pria pembawa acara itu menjabat tangan Rahul dengan tersenyum.
"T-terima kasih" Rahul membalasnya dengan kikuk.
"K-kenapa malah begini?" Ucap Thoriq terbata-bata dengan wajah melongo. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekalipun mereka sudah merasakan sendiri, kemampuan Rahul dalam menghadapi mereka waktu itu.
__ADS_1