Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 34- Melepasmu


__ADS_3

"Lagipula, belum tentu saat ini orang tuamu tidak memikirkanmu. Bisa saja kan, selama sebulan lebih ini mereka terus menghawatirkanmu? Terus dihantui oleh rasa bersalah karena telah membuangmu. Karena aku yakin, tidak ada orang tua yang ingin kehilangan anaknya"


Zahra memberikan wejangan panjang lebar yang berhasil membuat hati Rahul sedikit melunak.


"Menurutmu seperti itu?"


"He em"


"Baiklah, demi kamu dan calon bayi kita, aku akan berusaha untuk melupakan apa yang telah terjadi dimasa lalu. Aku akan mencoba untuk berdamai dengan masa lalu dan keluargaku. Tapi dengan satu syarat" Nada suara Rahul sudah mulai melunak.


"Apa itu?


"Berjanjilah untuk selalu berada disisiku, dan jangan pernah meninggalkanku. Kalaupun nanti aku akan menemui orang tuaku, aku ingin menemui mereka bersamamu. Dan aku akan memperkenalkanmu sebagai istri dan ibu dari calon bayiku"


"Tanpa diminta pun, aku pasti akan selalu menemanimu. Mana mungkin aku bisa jauh-jauh dari satyaku" Zahra tersenyum lebar dan memeluk Rahul dengan manjanya.


Rahul membalas pelukan istrinya dengan penuh cinta. Sekarang hatinya sudah merasa lega. Sudah tidak ada lagi beban yang mengganjal. Karena dia sudah menceritakan segalanya pada istrinya.


Tengah asik berpelukan dan bermesraan, tiba-tiba ponsel Zahra yang berada diatas nakas berbunyi.


"Eh, ponselmu bunyi" Kata Rahul.


"Iya, sebentar ya" Zahra mengambil ponselnya dan menatap layarnya.


"Dari siapa?"


"Dari Wirda. Tumben dia meneleponku?" Zahra menempelkan ponsel itu didaun telinganya.


"Hallo. Iya Wir, ada apa? Tumben telpon? Apa?! Sakit Ibuku kambuh, dan sekarang dia dirawat dirumah sakit?! Ya Tuhan. Ya sudah, sekarang aku minta tolong jaga Ibuku ya. Aku akan kesana sekarang" Zahra menutup panggilan suara itu dengan perasaan kalut memikirkan kondisi ibunya diseberang sana.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan Ibu?" Tanya Rahul yang ikut cemas mendengar percakapan Zahra barusan.


"Ibu masuk rumah sakit. Kata Wirda penyakitnya kambuh" Jawab Zahra dengan suara yang terdengar frustasi.


"Astaga. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Rahul terkesiap mendengar kondisi ibu mertuanya.


"Aku tidak tau. Aku benar-benar khawatir terhadap Ibu. Aku sangat takut Ibu sampai kenapa-napa. Bagaimana ini?" Jawab Zahra dengan mata berkaca-kaca. Tangisnya sudah akan pecah.


"Tenang-tenang. Jangan panik oke. Kita harus tetap positif thinking. Ibu pasti akan baik-baik saja. Ya" Rahul memeluk dan mengelus-elus pipi Zahra dengan lembut. Berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi aku harus menemuinya. Aku tidak bisa tenang disini, sementara aku tidak tau bagaimana keadaan Ibuku disana" Tangis Zahra disertai dengan air mata yang jatuh dan berlinang diwajahnya.


"Ya sudah kalau begitu, kita kembali saja kedesa untuk melihat Ibu. Ya?" Usul Rahul.


"Tidak-tidak. Biar aku sendiri saja. Kamu tetap disini. Kan dokter bilang kamu harus tetap berada disini, sampai perban matamu dibuka"


"Jadi maksudmu, aku harus membiarkanmu pergi sendirian ditengah-tengah kondisimu yang sedang hamil begini?"


"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku janji, aku akan menjaga diriku dan sikecil baik-baik"


"Tapi...."

__ADS_1


"Nanti begitu sampai, aku akan langsung menghubungimu. Begitu juga jika nanti kondisi Ibu sudah membaik, aku akan langsung kembali kesini"


"Itu artinya kamu harus bolak balik dari desa ke Jakarta? Kamu kan sedang hamil. Jika nanti kamu sampai kelelahan bagaimana?"


"Lalu aku harus bagaimana? Aku ingin melihat Ibu. Aku mohon tolong ijinkan aku pergi ya. Karena aku tidak bisa pergi tanpa ijin dari suamiku" Zahra terus berusaha membujuk Rahul agar mengijinkannya pergi dengan suara terisak.


"Maaf ya. Aku masih belum bisa menjadi pelindungmu" Lirih Rahul.


"Aku mohon jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah menyalahkanmu ataupun menganggapmu sebagai suami yang tidak berguna. Karena bagiku kamu adalah suami terbaik yang Tuhan berikan untukku. Aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu. Ini hanya masalah keadaan saja"


"Begitu nanti perban mataku dibuka, aku akan langsung menyusulmu kesana. Ingat, jangan pernah lupa untuk menghubungiku"


"Itu artinya aku boleh pergi?" Mata bulat Zahra yang masih berkaca-kaca dengan air mata mulai berbinar-binar mendengar jawaban suaminya.


"Asalkan kamu bisa memenuhi dua syarat dariku"


"Syarat apa?" Tanya Zahra antusias.


"Ya seperti yang kamu katakan tadi. Kamu akan menjaga dirimu dan little baik-baik. Dan kamu juga akan sering-sering menghubungiku selama disana"


"Aku janji" Jawab Zahra cepat disertai senyum antusias.


"Little, baik-baik ya Nak. Jangan nakal. Jangan pernah menyusahkan bidadariku" Rahul mengelus-elus perut Zahra. Lalu mencium perut yang sudah mulai buncit itu dengan lembut.


"Iya Ayah, aku janji. Dah" Zahra beranjak dari kasur namun tangannya ditarik oleh Rahul.


"Eiiit...."


"Kamu melupakan sesuatu?"


"Apa itu?"


"Ini" Rahul menggerakkan bibirnya. Zahra yang paham maksud suaminya menghela nafas berat.


"Gak usah mulai lagi deh. Ini rumah sakit"


"Jadi kamu tidak mau? Ya sudah, aku juga tidak bisa memberimu ijin untuk pergi. Bukankah seorang istri harus mendapatkan ijin dari suaminya jika ingin pergi?" Kelakar Rahul yang membuat Zahra mau tidak mau harus menuruti keinginannya.


"Baiklah suamiku sayang. Muah" Zahra mencium dan mengecup bibir suaminya selama beberapa saat. Sampai dia merasa puas dan kembali beranjak dari ranjang. "Dah"


Rahul kembali menarik tangan istrinya dan melepasnya secara perlahan-lahan. Entah mengapa rasanya sangat berat melepaskan kepergian istrinya. Hatinya terasa tidak tenang.


Mungkin karena dia harus melepaskan wanita itu untuk melakukan perjalanan jauh darinya selama beberapa hari. Ya, pasti karena itu.


Karena selama lima bulan ini dia tidak pernah berpisah dari istrinya.


Dia sangat berharap agar tiga hari segera berlalu. Dia sudah tidak sabar ingin perban matanya dibuka secepatnya. Agar dia bisa menyusul dan kembali bersama dengan istrinya.


"Hati-hati"


******

__ADS_1


Sudah tiga hari sejak Zahra kembali kedesa dan meninggalkan Rahul dirumah sakit itu sendiri. Selama dua ini mereka selalu aktif melakukan komunikasi melalui ponsel.


Namun entah mengapa, sejak kemarin Rahul terus mencoba untuk menghubungi Zahra. Namun nomor istrinya itu selalu diluar jangkauan.


Perasaan khawatir menyergapnya. Apalagi hari ini adalah hari dimana dia akan membuka perban matanya. Perasaan gugup dan gelisah menyelimuti dadanya akan hasil dari operasi ini. Apakah berhasil dan dia akan bisa melihat lagi, atau gagal dan dia akan tetap menjadi buta?


Disaat-saat seperti ini, dia membutuhkan Zahra untuk memberinya semangat. Dia berusaha keras untuk menepis pikiran-pikiran negatif yang menghantuinya. Dia harus yakin istrinya baik-baik saja.


Mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurus Ibu yang sedang sakit. Iya, pasti seperti itu. Dia harus tetap bisa berpikir positif.


"Selamat pagi Pak Rahul. Perkenalkan saya Dokter Surya. Saya bertugas menggantikan Dokter Hadi yang sedang bertugas di Singapura selama beberapa bulan ini. Hari ini adalah waktunya perban mata anda akan dibuka. Apakah anda sudah siap"


Rahul mendengar suara seorang pria yang sepertinya pria sudah berumur. Tidak seperti dokter Hadi yang kedengarannya masih sebayanya.


"iy-iya Dok, saya siap" Jawab Rahul gugup.


"Baiklah. Sebelum perbannya dibuka, kita akan melakukan pemeriksaan Terlebih dulu"


"Sekarang saya akan membuka perbannya. Tidak perlu gugup Pak, santai saja" Setelah memeriksa kondisi Rahul, dokter mulai membuka perban matanya secara perlahan-lahan.


Hingga kini matanya sudah dalam keadaan polos. Tidak tertutup suatu apapun meskipun masih dalam keadaan terpejam.


"Nah, sekarang coba buka mata anda pelan-pelan, dan kedipkan pelan-pelan jika sudah terbuka"


Sesuai aba-aba dari dokter, Rahul pelan-pelan membuka matanya. Semua didepannya tampak putih. Dia tidak melihat apapun. Dia kembali memejamkan matanya dan membukanya perlahan-lahan. Dia masih belum bisa melihat apapun. Semuanya terlihat abu-abu. Dia mencoba lagi. Penglihatannya mulai muncul namun masih sangat buram. Rahul kembali memejamkan matanya dan membukanya perlahan-lahan.


Kali ini, dia begitu terpukau dengan apa yang ada didepannya. Dia bisa melihat dengan jelas setiap pemandangan yang ada didepannya.


Rahul mengalihkan pandangannya pada dua orang yang berdiri disamping ranjangnya.


Seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja dengan balutan jas putih. Dan seorang wanita muda dengan pakaian perawat yang berdiri disamping dokter itu.


"Pak Rahul, bagaimana Pak? Apa anda bisa melihat saya?" Tanya dokter memastikan.


"Dokter? Iya Dok, saya bisa melihat. Semua yang ada diruangan ini, saya bisa melihatnya dengan jelas. Hah" Rahul tersenyum terharu memindai setiap sisi ruangan itu. Dia bisa melihat segalanya. Semua tampak terang dan jernih


"Alhamdulillah, operasinya ternyata berhasil Pak. Sekarang saya akan mencoba mengecek ulang kornea mata anda" Dokter pun mengecek kembali kondisi mata Rahul. "Selamat ya Pak, atas keberhasilan operasi mata anda. Kalau begitu kami permisi dulu"


"Iya Dok, terima kasih"


Dokter dan asistennya pun berlalu, meninggalkan Rahul dengan perasaan bahagia tiada tara.


Ini seperti mimpi yang selama ini dia pikir tidak akan pernah menjadi kenyataan. Selama bertahun-tahun, dia pikir dirinya akan menjadi lelaki buta untuk selamanya hingga akhir hayatnya.


Tapi sekarang mukjizat benar-benar menghampirinya. Dan itu semua tidak lepas dari doa dan dukungan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang telah membuatnya kembali percaya pada cinta. Ibu dari calon anaknya. Istri tercintanya.


Rahul mengambil ponselnya diatas nakas dan kembali menghubungi Zahra. Dia sangat berharap kali ini ponsel wanita itu sudah bisa dihubungi. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan keberhasilan operasi ini.


Namun harapan hanyalah harapan. Karena untuk kesekian kalinya, nomor Zahra tetap tidak bisa dihubungi.


"Kenapa nomornya masih tetap tidak bisa dihubungi? Apa yang terjadi dengannya?" Ucap Rahul dengan perasaan resah.

__ADS_1


__ADS_2