
Rahul keluar dari kamarnya dan langsung menuju kekamar Zahra. Sesampainya didepan kamar Zahra, kepalanya celingukan kesana kemari menjaga situasi.
Setelah merasa aman dan tidak ada sepasang mata pun yang mengawasinya, dia langsung memutar handle pintu dan memasuki kamar tidur istrinya dan menutup pintu secara perlahan-lahan. Rahul memindai setiap sisi kamar yang dihuni oleh istrinya. Kamar itu kosong melompong. Dia tidak menemukan sosok Zahra disana.
Apa perempuan itu sedang mandi? Atau dia sudah turun kebawah? Tak lama kemudian dia mendengar suara percikan air yang berasal dari kamar mandi. Dia tersenyum simpul. Ternyata benar istrinya sedang mandi.
Andai saja dia tidak ingat sedang berada dalam lingkaran skenario yang dibuat oleh Fajar, dia pasti sudah membobol pintu kamar mandi itu untuk kemudian bergabung dengan istrinya didalam sana.
Karena dia sudah sangat ingin sekali melihat lekuk-lekuk keindahan tubuh istrinya yang selama ini sangat ingin dia lihat. Dia memang sudah berkali-kali merasakan kenikmatan tubuh Zahra, saat mereka belum berpisah dulu. Namun dia belum pernah sekalipun melihat bentuknya.
Dan disaat dia sudah bisa melihat semuanya, situasinya malah seperti ini. Hingga dia terpaksa dengan sangat untuk menahan hasratnya yang sudah membumbung hingga keubun-ubun.
Entah kapan dia bisa berbagi tempat tidur dengan istrinya lagi. Serta melakukan permainan panas mereka lagi seperti dulu diatas ranjang yang sama. Rahul tersenyum sendiri membayangkan hal itu.
Sebagai suami sekaligus lelaki normal, tidak salahkan bila dia membayangkan dan mengharapkan nafkah batin dari istrinya? Meskipun dia tidak tau kapan Zahra bisa memberikan nafkah itu lagi untuknya.
Rahul memindai ranjang besar dan mewah yang menjadi tempat tidur istrinya. Alisnya bertaut melihat sebuah benda bundar dan transparan yang tergeletak diatas kasur.
Senyum ceria merekah diwajahnya, saat dia meraih dan mengamati bola kristal yang didalamnya terdapat sepasang miniatur boneka dengan gambaran suasana yang romantis. Tentu saja dia ingat betul bahwa itu adalah pemberiannya untuk Zahra. Yang diberikannya saat dia dulu masih mengira wanita itu adalah Shreya.
Perasaan haru membuncah didadanya karena Zahra masih menyimpan pemberiannya dengan baik. Dia memang tidak memiliki alasan untuk meragukan sebesar apa cinta yang dimiliki Zahra untuknya. Sama halnya dengan cinta yang dia miliki untuk istrinya itu.
"Ahhkk!!" Rahul tersentak saat tiba-tiba dia mendengar suara pekikan seorang wanita dibelakangnya.
Spontan dia langsung membalikkan badannya, dan dia langsung beradu pandang dengan Zahra yang berdiri didepannya. Tubuhnya masih terlihat basah. Terutama rambutnya yang diusap-usapkan dengan handuk ditangannya.
"Ka-kamu? Sedang apa dikamarku?" Zahra terkejut dan bertanya dengan bingung. Rahul tidak fokus mendengarkan Zahra. Dia terlalu terpesona melihat istrinya itu.
Wanita itu mengenakan overall panjang berwarna biru navy, dipadukan dengan baju warna putih dibagian dalamnya. Perut buncitnya tampak sangat menonjol dibalik baju yang dikenakannya. Rambut panjangnya yang basah membuatnya terlihat semakin cantik dan menggoda. Hingga membuat insting kejantanan Rahul bangkit.
Andai saja hubungan mereka sebagai sepasang suami istri tidak serumit ini, sekarang dia pasti sudah mengangkat tubuh wanita itu dan membaringkannya diatas ranjang. Untuk kemudian memuaskan juniornya seperti dulu.
Rasanya pasti akan lebih menyenangkan karena sekarang dia sudah bisa melihatnya langsung. Tidak hanya sekedar mempraktekkan.
"Kok ditanya malah melamun? Hey?" Gerutu Zahra seraya melibas Rahul dengan handuknya. Membuat lelaki itu terkesiap dan kembali fokus pada dunia nyata.
"Mmm, iya?"
"Iih! Aku tanya sedang apa kamu disini?" Zahra menepuk lengan Rahul dengan kesalnya.
"Hanya numpang lewat" Rahul menjawab serampangan.
__ADS_1
"Alasan. Bilang saja kamu mau mengintipku kan?" Tuduh Zahra dengan galaknya.
"Enak aja. Si..."
"Shreya! Shreya kamu baik-baik saja Nak?!" Perdebatan tidak jelas mereka seketika buyar, saat tiba-tiba keduanya mendengar suara seruan Lesti disertai suara ketukan pintu dari luar. Membuat Zahra jadi gelagapan. Takut wanita paruh baya itu akan berpikiran yang macam-macam melihat keberadaan Rahul didalam kamarnya.
"Tante. Ayo cepat sembunyi. Disana" Dengan sikap tegang Zahra menunjuk bagian bawah ranjang didepannya sebagai tempat untuk Rahul sembunyi. Namun setelah itu dia malah menjadi ragu.
"Eh, tidak-tidak. Disana" Dia menunjuk bagian bawah sofa tanpa sandaran yang ada didepan ranjang. Namun lagi-lagi dia merasa itu bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Membuatnya menjadi semakin gelagapan.
Rahul hanya tersenyum tipis melihat gestur tubuh istrinya yang kepanikan dan gelagapan. Sebenarnya kehadiran Mamanya bukan masalah serius baginya. Karena dia masih punya cara dan alasan untuk mengatasinya. Namun menyenangkan juga melihat wajah memerah istrinya. Jadi dia nikmati saja drama heboh ini.
"Tapi kelihatan. Disana saja" Akhirnya dia menunjuk meja rias dibelakangnya. Dan tempat itu dirasa cukup aman untuk menyembunyikan tubuh atletis Rahul.
"Ayo cepat" Zahra menarik tubuh Rahul dan mendorongnya supaya terduduk dibalik meja itu.
"Shreya! Kamu tidak apa-apa kan?! Jawab Tante Nak!" Suara ketukan pintu disertai dengan suara seruan Lesti kembali terdengar.
"I-iya Tante! Aku baik-baik saja kok!" Zahra yang masih heboh dan gelagapan menyembunyikan Rahul dibalik meja rias, memberikan jawaban dengan suara yang juga nyaring sambil sesekali melirik kearah pintu. Memastikan Lesti sudah membuka pintu itu atau tidak.
"Lalu kenapa kamu tidak mau membuka pintunya?!"
"Iya Tante sebentar! A-aku sedang ganti baju! Tante tunggu sebentar ya!" Usai memberi alasan pada Lesti, Zahra melirik Rahul dan memperingatkannya dengan galak. Seperti sedang memperingatkan anak kecil saja. "Diam disini"
"Ka...." Zahra yang hendak memprotes sontak terdiam saat Rahul mengangkat jari telunjuknya kedepan. Lalu dia menunjuk kearah pintu, bermaksud memberi isyarat jika Mamanya masih berada dibalik pintu itu.
Membuat kejengkelan Zahra semakin bertambah melihat wajah menyebalkanya itu. Namun dia tidak bisa apa-apa saat ini, karena harus menemui Tante Lesti sebelum wanita itu masuk kesini, dan melihat anaknya yang resek ada dikamarnya.
Dengan wajah masam Zahra menuju pintu. Meninggalkan Rahul dengan senyuman puas yang tersungging dibibirnya, karena telah berhasil menggoda istrinya hingga wajahnya memerah seperti itu. Zahra membuka pintu dan dia langsung berhadapan dengan Lesti.
"Tante" Zahra tersenyum dengan salah tingkah.
"Kamu tidak apa-apa? Kok tadi Tante seperti mendengar ada ada suara teriakan dari kamarmu? Tante pikir kamu sedang kesakitan?" Lesti menatap Zahra dari wajah hingga kebawah. Memastikan kondisinya dengan pancaran kekhawatiran.
"Tidak kok Tante. A-aku tidak sakit. Aku baik-baik saja"
"Lalu kenapa tadi kamu menjerit?"
"Ta.... tadi aku terkejut. Gara-gara melihat tikus didalam" Zahra berkilah dengan gugup.
"Hah? Ada tikus dikamarmu? Setau Tante, selama ini tidak pernah ada tikus dirumah ini?" Lesti tampak berpikir dengan bingung.
__ADS_1
"Mu-mungkin tikusnya nyasar Tante kekamarku" Zahra memberi alasan sembari sesekali melirik kedalam kamarnya. Memantau takut-takut Rahul berbuat ulah hingga dia terlihat oleh Mamanya dari sini.
"Kamu kenapa lihat kedalam terus? Masih merasa takut bila tikusnya masih ada?" Lesti bertanya dengan polosnya melihat sikap Zahra.
"I-iya Tante"
********
VISUAL
RAHUL ARYAN DIRGANTARA
Pria tampan, cool, gagah dan perfeck yang menjadi idola para kaum hawa. Dia juga memiliki kecerdasan dan ketajaman dalam dunia bisnis. Usianya 29 tahun. Sifatnya dingin, cuek, dan sedikit temperamen apalagi sejak mengalami kebutaan selama hampir tiga tahun.
AZZAHRA ALFATHUNNISA
Seorang gadis desa yang memiliki kecantikan yang alami. Berusia 23 tahun. Dia berprofesi sebagai seorang perawat didesanya. Sifatnya periang, ceria, dan sedikit bar-bar. Namun memiliki hati yang baik, tulus dan penyayang terhadap sesama.
FAJAR LAZUARDI
Seorang dokter muda, tampan, gagah, sukses dan ternama yang juga digilai para kaum wanita meskipun dia seorang duda. Usianya 29 tahun. Dia juga seorang direktur utama dirumah sakit peninggalan keluarganya. Sifatnya ramah, tenang, lembut, supel dan sedikit humoris.
AMORA FRANSISCA
Usianya 24 tahun. Cantik, seksi, elegan dan perfeksionis. Namun dibalik itu tersimpan sifat angkuh, arogan, egois, licik, penuh siasat serta kepura-puraan. Hidupnya hanya diperuntukkan untuk dua hal. Yaitu materi dan kedudukan. Dia tidak pernah peduli pada apapun selain dari itu.
GALA JOSHUA DIRGANTARA
Saudara satu Ibu dengan Rahul. Usianya 32 tahun. Tampan dan cerdas, namun tidak setampan, secerdas dan seperfeck adiknya. Memiliki sifat yang lembut, kalem, tidak banyak bicara. Tipikal yang suka mengalah dan sangat sayang pada keluarganya.
Bagi yang merasa kurang puas atau kecewa dengan visual para tokoh utamanya yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi readers, author minta maaf ya yang sebesar-besarnya yaππ Readers bebas kok berhalu-haluan sendiri.
__ADS_1
Dalam dunia haluan saya kurang lebih ya seperti ini. Mohon tetap tinggalkan jejak ya berupa like, comen dan vote. Terima kasihπππ