
"Lalu bagaimana dengan istrimu? Aku dengar dari Om Helmi kalau...."
"Dia menjadi korban dalam tragedi banjir bandang didesa. Dan masih belum ditemukan sampai sekarang. Kami sekeluarga sudah berusaha sebisa mungkin untuk mencarinya. Tapi sampai sekarang masih belum ada hasilnya juga" Tukas Rahul sendu sembari menunduk.
Membuat Fajar menatapnya dengan penuh empati. Iya, bagaimanapun dia pernah berada diposisi itu. Kehilangan istri tercinta secara tragis, adalah hal yang sangat menyakitkan bagi seorang suami. Itulah yang dia rasakan saat kehilangan Shreya, istrinya untuk selamanya.
Namun rasa sakit itu perlahan-lahan mulai terobati, oleh kehadiran perempuan yang dia akui sebagai istrinya itu. Meskipun dia masih belum tau asal usul perempuan itu, namun dia sangat berharap agar Shreya palsu itu, adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Semoga saja.
"Aku turut sedih mendengarnya. Kamu yang sabar ya. Aku hanya bisa mendoakan, agar kamu bisa bertemu kembali dengan istrimu" Fajar menepuk-nepuk pundak Rahul. Mencoba menghiburnya sebagai sesama teman.
"Terima kasih" Rahul tersenyum sendu.
"Oh ya, tapi bagaimana istrimu bisa menjadi korban dalam tragedi didesa? Memangnya dia berasal dari desa? Lalu bagaimana ceritanya kalian bertemu?" Fajar menjadi tertarik ingin ingin mengetahui kisah percintaan sahabatnya itu.
"Ceritanya panjang. Yang jelas kami bertemu dan menikah enam bulan yang lalu. Dia wanita yang baik. Ya.... meskipun waktu itu aku masih dalam keadaan buta, tapi aku tetap bisa merasakan bahwa dia adalah gadis yang baik dan tulus mencintaiku. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahinya"
Rahul bercerita dengan nada lirih dan serius. Membicarakan Zahra selalu membuat perasaannya hanyut. Begitupun setiap kali membicarakan Shreya. Entah apa yang terjadi padanya. Entah bagaimana dua wanita itu bisa memiliki tempat yang sama dihatinya.
"Tunggu. Jadi kamu pernah buta? Kok aku tidak tau?" Fajar sedikit terkejut dengan mata terbelalak.
"Jadi keluargaku belum cerita apapun padamu? Sebenarnya ceritanya terlalu panjang. Nanti kapan-kapan saja aku ceritakan ya. Yang jelas pada saat itu, aku sedang berada di Jakarta untuk melakukan operasi mata, sampai aku bisa melihat lagi seperti sekarang. Karena itulah aku bisa terhindar dari tragedi itu. Beda dengan Zahra, yang harus berada didesa untuk merawat ibunya yang sedang sakit saat itu. "
"Kamu pasti sangat sedih dan terpukul ya, atas apa yang menimpa istrimu?"
"Tentu saja. Mana ada suami yang tidak sedih jika istrinya hilang tanpa kabar dalam sebuah bencana? Ditambah lagi, istri yang sedang mengandung anaknya" Jawab Rahul lirih.
"Jadi istrimu sedang hamil?" Ucapan Rahul kali ini membuat Fajar semakin terkesiap.
"Iya. Kenapa? Kok kamu kelihatan terkejut begitu?" Rahul menautkan alisnya.
"Mmm.... ti-tidak. Aku hanya turut prihatin saja dengan apa yang terjadi pada istrimu. Kamu yang tabah ya" Fajar tersenyum kaku.
__ADS_1
"Iya terima kasih"
Fajar mencoba menggabungkan kisah tragedi yang menimpa istri Rahul dengan tragedi yang menimpa Shreya. Kalau dipikir, kisahnya hampir sama.
Shreya juga korban dari bencana banjir bandang yang terjadi disebuah desa. Dan wanita itu juga sedang hamil. Apa mungkin jika Shreya adalah.....?
Fajar menggeleng-geleng kepalanya. Berusaha menepis pikiran yang membuatnya merasa ketar-ketir. Tidak, tidak! Dalam tragedi itu pasti banyak perempuan hamil yang juga menjadi korban! Bukan hanya Shreya! Lagipula, belum tentu juga istri Rahul selamat dari bencana itu.
Bukannya dia mau berpikir atau mengharapkan hal buruk terjadi pada istri sahabatnya itu, namun dia hanya mencoba untuk berpikir realistis. Namun meski begitu, dia tetap akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan kisahmu dan istrimu? Aku dengar kalian pertama kali bertemu di Delhi? Bagaimana ceritanya?"
"Iya, kami bertemu sekitar enam tahun yang lalu. Saat itu kami sama-sama sedang menempuh pendidikan dikampus yang sama. Namun beda fakultas dan angkatan. Empat tahun kami menjalin hubungan. Hingga akhirnya memutuskan untuk menikah"
Fajar tersenyum sedih bila mengingat kisah percintaan dengan istri tercintanya yang sudah tiada.
"Wah. Sepertinya kisah percintaan yang romantis ya" Goda Rahul.
Sebenarnya dalam hatinya, ada sedikit rasa cemburu bila membayangkan kebersamaan Fajar dengan Shreya. Namun dia harus bisa menepisnya. Karena dia tidak ada hak untuk merasakan itu.
"Orang tua? Ma-maksudmu, orang tua Shreya tidak merestui hubungan kalian berdua?" Tanya Rahul menyelidik.
"Ya begitulah. Padahal aku sudah berusaha sampai sekarang untuk memperbaiki hubunganku dengan mereka. Tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Mereka tetap menganggapku sebagai pem...." Fajar bercerita dengan lirih.
"Pem? Pem apa maksudmu?" Tanya Rahul yang merasa penasaran dengan cerita Fajar yang tiba-tiba terputus.
"Mmm, tidak. Tidak penting kok. Sudah lupakan saja" Fajar geleng-geleng kepala seraya tersenyum gugup.
Sikapnya itu membuat Rahul menatapnya dengan alis bertaut. Merasa aneh dengan sikap pria itu. Entah kenapa dia merasa Fajar seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ya sudahlah. Itu bukan urusannya. Dia juga tidak perlu terlalu banyak ikut campur.
"Oh ya, tadi kamu bilang, sampai sekarang kamu masih mencoba untuk memperbaiki hubunganmu dengan keluarga Shreya? Jadi maksudmu, orang tua Shreya masih hidup sampai sekarang?" Tanya Rahul memastikan.
__ADS_1
"Ya... tentu saja. Mereka ada di Delhi. Kenapa? Kok kamu terkejut begitu?
"Tidak. Tidak apa-apa. Hanya ingin tau saja" Rahul tersenyum kaku. Dia masih ingat betul, saat Shreya mengatakan padanya dan keluarganya, jika orang tuanya sudah meninggal.
Tapi sekarang Fajar mengatakan bahwa mertuanya masih hidup. Kenapa dia bisa mendapat jawaban yang tidak sinkron seperti ini? Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh sepasang suami istri itu? Kenapa dia merasa ada hal yang mereka tutup-tutupi?
********
Shreya sedang menyemprot dan merapikan tanaman bunga yang ada dibalkon. Meski tidak memiliki gairah untuk melakukan apapun, namun hanya itu yang bisa dilakukannya untuk mengusir kejenuhan yang terus saja menetap dihatinya.
Setidaknya bentuk, warna dan aroma semerbak yang berasal dari bunga-bunga cantik itu bisa membuat pikirannya sedikit tenang.
Dia memandangi kebawah balkon. Melihat dua mobil yang sedang melaju dengan pelan Memasuki pekarangan luas dan elite itu.
Shreya sangat hafal mobil Fajar. Lalu mobil siapa yang satu lagi? Apakah mereka kedatangan tamu? Atau Fajar mengajak temannya kerumah? Shreya memperhatikan Fajar yang keluar dari mobil. Lalu berjalan mendekati mobil yang ada disampingnya.
Dari dalam mobil itu, turunlah seorang pria berpakaian rapi dan bersih. Badannya terlihat atletis dan tinggi. Shreya memperhatikan lelaki itu dengan seksama dan.....
DEG....
Shreya merasa jantungnya akan copot. Dia melihat Rahul? Pria itu ada disini? Dihadapannya? Apakah dia bermimpi, atau berhalusinasi lagi seperti kemarin? Apakah yang dia lihat itu benar-benar nyata?
Tanpa sadar kakinya langsung berlari seraya memegang perut buncitnya menuju lift. Perasaan rindu, haru dan senang bercampur menjadi satu dan membuncah didadanya.
Begitu sampai dilantai bawah, dia langsung berlari menuju pintu. Dengan sumringahnya dia membuka pintu itu. Pintu pun terbuka dan tampaklah dua pria tampan yang berdiri dihadapannya. Keduanya sama-sama menatapnya dengan penuh cinta.
Namun perhatian Shreya hanya fokus pada Rahul. Pria yang sangat dia rindukan. Yang selama hampir satu bulan ini terus menetap dihatinya. Yang membuatnya hampir gila karena memikirkannya.
Dan sekarang pria itu ada dihadapannya?! Sedang menatapnya dengan hangat?! Andai ini mimpi, dia sangat berharap tidak akan pernah terbangun dari mimpi itu.
Begitupun dengan Rahul. Rasanya dia tidak percaya bisa melihat Shreya lagi. Selama hampir sebulan ini dia harus menahan kerinduan yang menghujamnya karena tidak bisa menggapai wanita itu.
__ADS_1
Yang bisa dia lakukan hanyalah mengulang memori-memori yang pernah mereka lewati bersama. Memori yang begitu singkat namun sangat membekas dihati. Serta memandangi foto-foto kebersamaan mereka berdua yang tersimpan dimemory ponselnya.
Dan sekarang, wanita itu nyata berdiri dihadapannya. Menatapnya dengan begitu dalam.