
Dengan cepat dia berbalik untuk memastikan dengan mata kepala sendiri, apakah itu orang yang dikenalnya atau bukan.
Tanpa sadar, minuman dan makanan ditangannya jatuh dan tumpah kelantai. Saking terpananya dia dengan pemandangan yang ada diatas ring. Dengan jelas dia melihat Rahul berdiri bersama pemandu acara dan, seorang pria berbadan tambun dan tinggi. Bahkan tinggi pria itu melebihi Rahul.
"Ya, Rahul! Nama yang tampan, setampan orangnya! Hey, apa kau buta?" Pembawa acara itu mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mata Rahul. Sepertinya dia baru sadar, pria itu buta.
"Iya. Aku mengalami kecelakaan, dua setengah tahun yang lalu"
"Oh.... begitu ya? Kau tidak bisa melihat. Apa kau yakin, ingin mengikuti pertarungan ini? Kau tahu kan, jika kau harus melawan seorang pegulat profesional, yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar darimu? Serta fisik yang sempurna. Kau yakin akan sanggup?" Tanya lelaki itu lagi sangsi.
"Iya, aku yakin" Jawab Rahul tegas.
"Kau tidak takut?"
"Rasa takut hanya milik mereka, yang memiliki jiwa pecundang. Dan aku tidak ingin lagi, menjadi bagian dari mereka" Jawab Rahul tanpa ragu.
"Ow! Luar biasa! Pemikiran yang sangat cerdas!! Tapi Rahul, ada satu pertanyaan lagi. Apa yang membuatmu begitu yakin, bahwa kau akan mampu mengalahkan Gautam Phogat?"
"Karena aku ingat perkataan seseorang yang mengatakan, jangan pernah jadikan kekurangan, sebagai kelemahan. Tapi jadikanlah sebagai senjata, untuk membuktikan pada dunia. Bahwa kita juga bisa menjadi berharga. Karena dibalik setiap kekurangan, pasti ada kelebihan"
"Baiklah tuan. Jika kau memang sudah sangat yakin, untuk ikut andil dalam pertarungan ini, maka apa boleh buat? Good luck, semoga sukses"
"Dan, inilah dia! Gautam Phogat dan..... Rahul Aryan!! Berikan tepuk tangan untuk kedua petarung ini!!" Pria yang bertugas sebagai pemandu acara itu kembali bersuara lantang, melalui microphone ditangannya. Suara tepuk tangan semua orang kembali membahana.
Karena kompetisi akan dimulai, kedua calon petarung yang memiliki tinggi badan dengan selisih sekitar 7 cm itu, diminta untuk mengambil bagian masing-masing ditengah-tengah ring.
Gautam Phogat berjalan ketengah- tengah ring dengan sikap arogan. Mungkin sikapnya itu dipicu lantaran dia sudah merasa sebagai seorang pegulat handal yang sukar untuk dikalahkan. Terlebih, kali ini dia mendapatkan lawan yang unik. Seorang pria buta.
Mungkin dia tidak menganggapnya sebagai rival. Melainkan sebuah mainan, sebagai hiburannya diatas ring. Ya, mungkin saja itulah isi pikirannya terhadap Rahul. Dan hal itu sangat terlihat jelas, dari caranya menatap Rahul dengan sinis.
Sama halnya dengan Gautam, Rahul pun berjalan dengan pelan-pelan kebagian tengah-tengah ring, dengan tongkat sebagai penuntun arahnya.
Keduanya memiliki bentuk tubuh yang kontras. jika Rahul memiliki bentuk tubuh yang atletis, dengan tinggi sekitar 184 cm. Berbeda dengan Gautam yang memiliki bentuk tubuh bulat dan tambun, dengan tinggi sekitar 190 cm.
Pertarungan pun berlangsung dengan sengit. Dengan beringasnya Gautam memperagakan gerakan-gerakan, dan jurus-jurus gulat yang dimilikinya.
"Ya Tuhan. Apa yang dia lakukan?! Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya?!" Zahra mengomel pada dirinya sendiri, menyaksikan Gautam unggul dalam pertarungan itu. Sedangkan Rahul, hanya menjadi bulan-bulanannya saja.
Dengan perasaan campur aduk, antara khawatir melihat Rahul dihajar habis-habisan oleh pegulat asal luar negeri itu, serta kesal atas tindakan bodoh yang dilakukan lelaki itu, tanpa bicara apapun padanya. Zahra melangkahkan kakinya, hendak berlari kearea ring. Namun baru dua langkah dia berlari, dia langsung ditegur oleh pedagang bazar.
__ADS_1
"Nona. Kau belum membayar makanan dan minuman yang sudah kau jatuhkan itu"
"Cctt..... Ini" Zahra mencicit sembari merogoh tas selempang yang dipakainya. Mengambil uang dengan nilai seratus ribu, dan menyerahkannya dengan sembarangan saking kalutnya.
Setelah itu dia langsung berlari, tanpa mengindahkan lagi suara seruan pedagang itu.
"Nona! Kembaliannya!"
Zahra berlari menuju barisan penonton. Matanya tak bisa beralih dari area ring. Dimana Rahul yang sedang menerima serangan bertubi-tubi dari Gautam, tanpa ada kesempatan untuk memberikan serangan balasan.
Ditengah-tengah kecemasannya memikirkan nasib Rahul ditangan pegulat itu, percakapan serta tawa tiga orang lelaki dibarisan penonton, berhasil menembus telinga dan menyedot perhatiannya.
"Besar juga ya, nyali sibuta itu. Hingga dengan beraninya mengadu adrenalin, untuk bertarung dengan raksasa itu. Hahaha!" Zacky tersenyum dan tertawa mencemooh menyaksikan adegan gulat diatas ring.
"Kita saja yang normal bisa melihat, tidak yakin, mampu mengalahkan manusia jumbo itu. Ini dia? Hahaha!" Timpal Thoriq menunjuk Rahul dengan ekspresi dan tawa yang sama.
"Jangankan untuk mengalahkannya, membayangkannya saja sudah membuat kita bergidik ngeri. Hebat ya kamu Mar. Berhasil memprovokasi sibuta itu, hingga dia bisa berada disana" Puji Zacky.
"Tentu saja. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Amar? Dan inilah akibatnya, bagi orang yang berani macam-macam dengan Amar. Mungkin tempo hari, aku tidak bisa menghajarnya hingga babak belur. Tapi aku yakin, malam ini gergasi itu yang akan melakukannya. Aku datang kemari untuk menonton pertunjukan. Tapi aku tidak menyangka, jika pertunjukannya jauh lebih seru dari yang kubayangkan. Hahaha!"
Amar tertawa licik. Matanya serasa dimanjakan oleh pertunjukan seru, yang sedang berlangsung dihadapannya.
Bagaimana bisa, dia seorang pria tampan, berbadan kekar, serta memiliki fisik yang tidak cacat, bisa kalah bertarung dengan lelaki buta yang tidak bisa melihat apapun?! Apakah dunia ini benar-benar sudah terbalik?!
Tapi ya sudahlah. Lagipula sekarang, sedikit banyak rasa sakit hatinya sudah terbalaskan, melihat sibuta itu babak belur ditangan gergasi asal India itu.
(Beberapa menit yang lalu)
"Huh. Aku berhasil mengajak Zahra kesini. Dan tampaknya, dia sedikit terhibur dan melupakan masalah hutangnya pada juragan Sigit. Tapi aku yakin itu hanya sementara, sebelum hutang itu lunas. Andai aku bisa membantunya, pasti akan kulakukan. Tapi masalahnya, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak tiga ratus juta, dalam waktu satu minggu?"
Gumam Rahul gelisah saat berdiri dibarisan penonton
"Hei Bro. Kau disini juga rupanya?"
Rahul mendengar suara pria yang sudah tidak asing lagi ditelinganya. Dia juga merasakan ada lengan yang merangkul pundaknya.
"Amar?" Tanya Rahul memastikan.
"Wow, amazing. Kau sudah sangat hafal suaraku ya ternyata? Wah, luar biasa Bro" Amar tersenyum meledek.
__ADS_1
"Bro. Kenapa sih, kita kemana-mana selalu DL?"
Timpal Zacky sinis.
"DL? Apa itu?" Tanya Amar.
"Dia lagi, dia lagi Bro" Jawab Zacky mencemooh.
"Ya mau bagaimana lagi Bro? Dunia ini terlalu sempit. Sesempit daun kelor. Hahaha!" Jawab Thoriq sinis. Ketiganya pun tertawa terkekeh-kekeh.
"Jika kehadiran kalian disini hanya untuk mengganggu atau membullyku, sebaiknya enyahlah dari hadapanku. Kita sedang berada ditempat umum. Jadi tolong kendalikan sifat kekanak-kanakan kalian itu. Jangan sampai insiden kemarin terulang lagi ditempat seramai ini. Tolong jangan terus menerus menguji kesabaranmu"
Tegur Rahul dengan geramnya. Entah mengapa dia selalu saja bertemu dengan trio rusuh ini. Bahkan saat kepalanya sedang pusing tujuh keliling, memikirkan nasib hutang keluarga Zahra. Tingkat kepusingannya harus bertambah tujuh keliling lagi gara-gara genk biang kerok ini.
"Tenang-tenang Bro. Slow seperti di Moscow. Santai, seperti dipantai. Kita disini bukan untuk membullymu kok. Justru, kita ingin memberi solusi untuk masalahmu" Kelakar Amar.
"Solusi? Omong kosong macam apa itu? Sejak kapan, orang seperti kalian bisa memiliki solusi, untuk masalah orang lain? Sudah lah, sebaiknya kalian menjauh dariku. Karena aku tidak ada waktu, untuk orang-orang seperti kalian" Sanggah Rahul ketus.
"Kamu yakin? Yah, sayang sekali. Padahal aku ada cara lho, agar kamu bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejap, untuk melunasi hutang Zahra dan ibunya pada rentenir kejam itu" Ujar Amar.
Mendengar solusi untuk masalah hutang Zahra, Rahul menjadi tertarik.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan nada mendesak.
"Ow..... Jadi kamu ingin tahu caranya? Baiklah, coba dengarkan itu" Amar kembali merangkul pundak Rahul, lalu mengarahkannya untuk fokus mendengar apa yang sedang disampaikan oleh pemandu acara didepan.
Seketika Rahul langsung terpana dengan pemberitahuan, yang sedang didengarnya melalui alat pengeras suara. 1 milyar adalah jumlah yang besar. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan hutang Zahra pada rentenir itu. Jika dia berhasil mendapatkannya, maka kesulitan Zahra akan berakhir malam ini juga.
"Satu milyar Bro. Coba bayangkan apa yang bisa kamu lakukan, pada uang sebesar itu. Kamu bukan hanya bisa melunasi hutang Zahra pada juragan Sigit. Tapi mungkin, kamu juga bisa menikahinya. Bahkan bisa membawanya honeymoon keluar negeri. Tapi kamu tahukan, caranya seperti apa? Kamu hanya perlu naik keatas sana, dan membantai manusia gergasi itu. Dan uang 1 milyar plus dua tiket liburan ke India, langsung jadi milikmu. Tapi masalahnya sekarang, kamu berani tidak, bertarung dengan si tiang besi itu?"
Amar mencoba memprovokasi Rahul dengan sinisnya. Rahul hanya terdiam tanpa bersuara lagi. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sepertinya terpengaruh, dengan ucapan lelaki disampingnya itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Rahul langsung melangkahkan kakinya, menuju arena ring.
"Hahahaha......!" Mereka tertawa terkekeh-kekeh mengingat keberhasilan mereka, dalam menjerumuskan lelaki buta songong itu kelubang singa.
"Oh.....! Jadi kalian, biang kerok dari semua ini?!" Damprat Zahra dengan suara kencang. Sontak ketiga lelaki itu terlonjak dengan suara sergahan gadis itu yang tiba-tiba.
"Eh, Neng Zahra. Kemana saja dari tadi? Padahal kekasihmu, sedang bertarung dengan raksasa itu" Olok Amar dan melirik keatas ring sekilas.
"Tidak perlu banyak bicara. Apa yang kalian lakukan pada Rahul, hingga dia nekad melakukan hal sekonyol itu?!" Tuduh Zahra membentak mereka bertiga, sembari menunjuk Rahul yang sedang dihajar habis-habisan, didalam lingkaran ring.
__ADS_1