Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 58- Aku Ingin Disuapi


__ADS_3

Rahul terbangun ditengah malam, saat merasakan tenggorokannya kering. Dia mengambil gelas diatas nakas disamping ranjang tempat tidurnya. Ternyata gelasnya kosong.


Mau tidak mau dia harus mengambilnya didapur. Saat menuruni tangga, dia melihat Shreya yang juga sedang menuju dapur.


Hatinya bertanya-tanya. Apa yang sedang dilakukan perempuan itu? Mau apa dia kedapur tengah malam begini? Apa wanita itu juga ingin mengambil air minum seperti dia?


Karena penasaran, akhirnya Rahul mengikuti Shreya diam-diam. Didapur dia menemukan perempuan itu sedang membuka kulkas dan memindai setiap sisi dalam kulkas itu. Kemudian dia beralih pada tudung saji.


Setelah beberapa saat melihat-lihat isi dalam tudung makanan itu, dia menutupnya kembali. Raut wajahnya tampak kecewa melihat menu-menu makanan yang ada.


"Kamu sedang apa?" Shreya sedikit terkejut mendengar suara Rahul. Spontan dia langsung berbalik.


"Aku lapar. Tapi tidak ada makanan disini yang bisa aku makan" Jawab Shreya hambar.


"Memangnya kenapa?" Rahul membuka kulkas dan tudung makanan. Memindai setiap isinya dengan seksama. Menurutnya, semua makanan yang tersedia dalam kedua tempat itu lumayan enak dan menggugah selera. Tapi kenapa Shreya bilang tidak ada yang bisa dimakan? Apa yang salah?


"Memangnya makanan ini tidak ada yang menggugah seleramu?"


"Aku tidak mau makanan itu, rasanya aku mual mencium baunya"


"Lalu, kamu ingin makan apa?"


"Aku mau makan salad buah, sate Padang, nasi biryani dan jus strawberry"


"Kamu ingin makan semua itu dijam segini?" Rahul terkejut dan tercengang .


"Iya, aku ingin sekali makan itu. Aku lapar sekali" Shreya menjawab dengan wajah memelas. Membuat Rahul jadi tidak tega untuk tidak memberikannya. Tapi, dimana dia akan mendapatkan semua makanan itu ditengah malam begini?


"Mmm.... Baiklah, aku akan buatkan. Untuk sate dan nasi biryaninya, aku akan suruh Adam untuk mencarinya"


"Jangan lama-lama ya" Shreya merengek.


"Iya aku usahakan ya. Sekarang lebih baik kamu tunggu saja diruang tengah atau dikamarmu. Nanti aku panggil kalau sudah siap"


"Baiklah" Shreya mengangguk.


*********


Dengan menggunakan bahan-bahan yang ada dikulkas, Rahul mulai membuat salad buah dan jus strawberry yang diminta Shreya. Sementara Shreya tampak duduk manis diruang keluarga sembari menonton televisi.


"Bagaimana? Sudah dapat sate Padang dan nasi biryaninya? Aku tidak mau tau, pokoknya kamu harus bisa mendapatkan semua makanan itu sebelum jam 00.50 WIB. terserah kamu mau mencarinya dimana. Kalau perlu, sebutkan saja nama keluargaku pada penjualnya agar semuanya beres. Karena aku tidak punya banyak waktu"


Rahul memberi perintah pada asistennya dengan tegas. Setelah mematikan panggilan suara melalui ponselnya, Rahul kembali melanjutkan aktivitasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Semua pelayan pasti sudah tertidur pulas.


Sebenarnya dia bisa saja membangunkan mereka, dan meminta mereka untuk membuatkan apa yang diinginkan Shreya. Karena tentunya mereka lebih berpengalaman dalam bidang ini. Tidak seperti dirinya, yang selama hidupnya jarang menginjakkan kakinya didapur. Karena baginya, itu adalah kawasan para wanita.


Tapi sepertinya dia tidak perlu membangunkan pelayan. Kalau hanya sekedar membuat salad, dia bisa melihat tutorialnya di YouTube. Sedangkan jus strawberry, itu adalah jus kesukaannya sejak kecil. Jadi dia bisa membuatnya sesuai dengan seleranya.

__ADS_1


Dia jadi heran, kenapa Shreya ingin sekali minum jus favoritnya? Mungkin wanita itu sedang ngidam. Dia juga heran, mengapa semua yang berhubungan dengan perempuan itu terasa sangat berharga baginya. Hingga dia selalu ingin melibatkan dirinya secara langsung, tanpa ingin melibatkan orang lain.


Setelah dua puluh menit, akhirnya salad dan jus strawberry itu siap. Rahul langsung membawanya kehadapan Shreya.


"Ini dia, salad dan jus strawberrynya sudah jadi. Ayo, silahkan dicoba"


Shreya hanya memandang makanan yang tersuguh dihadapannya, tanpa bergeming untuk menyentuhnya.


"Lho, kok diam? Tadi katanya ingin salad dan jus strawberry. Oh iya aku lupa. Untuk sate Padang dan nasi biryaninya sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi Adam datang. Kamu sabar sedikit lagi ya"


"Bukan itu masalahnya, tapi...." Sanggah Shreya ragu.


"Tapi? Apalagi masalahnya? Kenapa kamu masih tidak mau makan?"


"A-aku.… Aku ingin...." Shreya merasa malu untuk mengatakannya.


"Kamu ingin disuapi?"


Shreya terkesiap mendengar tebakan Rahul. Bagaimana pria itu bisa mengetahui isi hatinya? Makanan dan minuman didepannya memang sangat menggugah seleranya. Tapi dia ingin sekali memakannya dari tangan Rahul. Entah bagaimana keinginan itu bisa muncul dan membumbung dihatinya.


Namun dia terlalu malu untuk mengatakannya. Seandainya lelaki didepannya itu adalah suaminya, maka dia pasti akan merengek minta disuapi. Tapi masalahnya mereka tidak memiliki hubungan itu. Jadi dia harus bisa menjaga sikap demi mempertahankan harga dirinya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Ayo makan" Rahul menyendokkan salad buah itu dan menyuapinya kemulut Shreya, yang dengan begitu antusias melahapnya.


"Bagaimana, apa salad dan jus buatanku enak?"


"Serius?"


"Iya"


Rahul tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh wanita itu. Padahal ini pertama kalinya dia membuat salad itu, tapi Shreya terlihat begitu antusias dan menikmati hasil buatannya.


Tapi ya sudahlah, yang penting perempuan itu menyukainya. Hal itu membuat Rahul sangat senang dan puas. Tengah asik menyuapi Shreya, ponsel Rahul berdering.


"Sebentar" Rahul mengambil ponselnya. Setelah melihat layarnya, dia langsung meletakkan benda pipih itu didaun telinganya.


"Iya Adam, bagaimana? Oh kamu sudah didepan? Baiklah, tunggu disana. Aku akan segera keluar" Rahul mengakhiri panggilan suara dengan asistennya dan kembali melirik Shreya.


"Kamu tunggu disini sebentar ya, aku keluar dulu. Sate Padang dan nasi biryani pesananmu sudah datang"


"Beneran?" Tanya Shreya dengan raut wajah berbinar-binar, yang dijawab dengan anggukan kepala serta senyuman diwajah tampan Rahul.


"Baiklah, cepat ya"


"Oke" Rahul meninggalkan Shreya diruang keluarga. Dia beranjak keteras depan, dimana asistennya sedang menunggunya dengan ditemani seorang security.


"Ini Pak, sate dan nasi biryaninya" Adam menyerahkan dua kantong plastik berisi kotak Styrofoam ketangan Rahul.

__ADS_1


"Terima kasih, kerjaanmu malam ini bagus. Besok akan aku berikan bonus" Rahul tersenyum puas.


"Terima kasih Pak. Oh ya Pak, kalau boleh tau, kenapa ya Bapak pesan makanan malam-malam begini? Padahalkan ini sudah lewat tengah malam Pak? Ditambah lagi, Bapak sangat bersikeras hanya ingin nasi biryani dan sate Padang itu" Tanya Adam kepo.


"Tugasmu sudah selesai. Kamu boleh pulang sekarang, saya sedang sibuk" Setelah mendapatkan pesanannya, Rahul langsung masuk kembali kedalam rumah tanpa menghiraukan tatapan heran dari asisten dan securitynya. Dia kembali menemui Shreya diruang keluarga.


"Nah ini dia, sate Padang dan nasi biryaninya sudah datang. Ayo makan" Rahul meletakkan dua makanan itu dimeja dihadapan Shreya yang hanya diam menatap makanan dalam dua box itu.


"Kok diam saja? Tadi katanya ingin makan itu"


Shreya masih terdiam. Masih terlalu malu untuk meminta disuapi lagi oleh lelaki itu.


Ya Tuhan, kenapa bayi ini selalu meminta yang aneh-aneh? Dan kenapa permintaannya selalu berhubungan dengan Rahul, seperti saat di kota tua kemarin? Padahal jelas-jelas pria itu bukan ayahnya. Kalau begini terus, lama-lama lelaki itu akan mengetahui perasaannya yang akan membuat harga dirinya hilang.


"Oh ya aku lupa, ingin disuapi? Baiklah, ayo makan" Rahul kembali menyuapi Shreya dengan kedua makanan yang baru saja dibawanya.


Shreya melahap semua makanan dari tangan pria itu dengan antusiasnya, tanpa peduli lagi pada rasa malunya. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah agar perutnya bisa kenyang.


********


"Bagaimana sekarang, sudah kenyang?" Tanya Rahul saat melihat Shreya bersandar disofa dengan tubuh yang tampak lemah, efek kekenyangan setelah menghabiskan semua makanan yang dibuat dan dipesan olehnya.


"Iya"


"Ya sudah, sekarang tidurlah. Tidak baik kelamaan begadang, kasian calon putramu"


"Tapi aku ingin minum air putih. Aku mau kedapur dulu" Shreya akan beranjak dari sofa, namun Rahul langsung menghentikannya.


"Kamu tunggu disini saja. Biar aku yang ambil didapur"


"Serius?"


"Iya Nona" Kelakar Rahul.


"Baiklah, terima kasih" Shreya tersenyum manis dengan diiringi sedikit candaan.


Rahul beranjak kedapur. Beberapa menit kemudian, dia kembali keruang keluarga dengan membawa segelas air putih ditangannya.


Namun dia malah terpana, melihat Shreya yang sudah tertidur dengan pulasnya diatas sofa. Senyum hangat tersungging dibibir sensualnya. Rahul mendekati Shreya dan membopong tubuhnya dengan lembut menuju kamar.


Sesampainya dikamar, Rahul langsung membaringkan tubuh perempuan itu diatas kasur. Perempuan itu tidak bergeming sedikitpun. Tampaknya dia sudah berbaur dengan mimpinya. Rahul menyelimuti tubuh dengan perut buncit itu.


Setelah itu dia mencium kening wanita itu dengan lembut. Andai dia tidak mengingat batasan yang harus dijaga antara dirinya dengan perempuan itu, pasti dia sudah mencium dan ******* bibir wanita itu. Bibir mungil yang terasa sangat menggoda hingga ingin sekali dia rasakan.


Tapi dia harus bersabar dan dan berusaha keras untuk bisa menahan hasratnya. Karena wanita itu bukan miliknya.


"Tidur yang nyenyak ya kalian berdua. Selamat malam" Bisik Rahul sembari membelai rambut Shreya sebelum dia keluar dari kamar perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2