
Dia ingat betul, itu adalah rasa kue kesukaannya saat didesa dulu. Kue yang dijadikan sumber pencarian nafkah istri dan almarhum ibu mertuanya. Bagaimana bisa, wanita ini membuat kue dan makanan yang rasanya sama persis dengan istrinya?
Kenapa dia seolah-olah seperti melihat Zahra dalam diri Shreya? Ini hanya kebetulan, perasaannya saja, atau memang ada sesuatu diantara kedua wanita itu?
"Ini.... kue buatanmu?" Tanya Rahul dengan nada serius.
"Ya.... siapa lagi? Kan kamu lihat sendiri, aku yang sedang membuatnya disini. Tapi ada juga sih, bersama Mamamu. Sedari tadi beliau disini membantuku. Tapi sekarang sedang ketoilet" Jawab Shreya yang masih tampak fokus dengan adonan kuenya tanpa menoleh melihat Rahul.
"Sebenarnya kamu belajar masak dan membuat
kue ini darimana? A-apa kamu punya teman?" Tanya Rahul penasaran.
"Teman?" Shreya berbalik dan mengernyitkan keningnya.
"Iya, apa kamu belajar membuat semua ini dari temanmu?" Tanya Rahul semakin tak sabaran ingin tau.
"Mana aku tau" Shreya mengangkat bahunya dengan santai, lalu kembali bermain dengan adonan dan bahan-bahan kuenya.
"Ba-bagaimana kamu bisa bilang tidak tau? Bukankah jawabanmu seharusnya iya atau tidak?" Rahul semakin penasaran dan bingung dengan jawaban Shreya yang menurutnya tidak jelas.
"Shreya, maaf ya Tante lama" Kemunculan Lesti membuyarkan percakapan mereka.
"Iya Tante, tidak masalah"
"Rahul, kamu sudah pulang? Sedang apa disini?" Lesti melirik Rahul.
"Mmm..... tadi aku ingin minum, tapi aku malah melihat dia sedang membuat kue disini. Jadi aku cicipi saja" Jawab Rahul kaku.
"Kenapa, kuenya enak ya? Kamu mau? Ya sudah kalau begitu, biar nanti kami hidangkan dimeja makan, biar yang lain juga ikut mencicipi. Sekarang lebih baik kamu mandi dulu dan ganti pakaian dulu ya. Udah sana"
"Iya Ma"
********
Selepas maghrib, mereka semua berkumpul diruang makan untuk menyantap hidangan makan malam.
"Enak sekali ya, kue buatanmu ini. Harus Om akui, kamu memang pantas memiliki usaha boga. Udah masakannya enak, kuenya juga enak lagi" Dengan antusiasnya Helmi menyantap dan memuji kelezatan kue basah buatan Shreya.
"Terima kasih Om, Om bisa aja" Shreya tersenyum malu sekaligus terharu.
Sementara Amora sedari tadi hanya diam dengan raut wajah masam, melihat mertuanya yang terus-terusan memuji Shreya layaknya wanita sempurna didunia. Padahal jelas-jelas dia bukan menantu mereka. Hanya istri dari lelaki yang sudah mereka anggap anak sendiri.
Tapi mereka memanjakannya layaknya putri hanya karena dia sedang hamil. memujinya layaknya seorang dewi, hanya karena dia jago memasak.
__ADS_1
Amora menggeleng kepalanya dengan malas. Lalu dia menatap Shreya dengan iri, cemburu dengki dan kesal. Baru juga datang kerumah ini, sudah sok carmuk didepan semua orang!
"Oh ya Shreya, kalau boleh tau, darimana kamu belajar semua ini, sampai masakan dan kue buatanmu bisa seenak ini?" Rahul yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, melanjutkan pertanyaannya yang terjeda didapur tadi.
Dia benar-benar sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan wanita itu, yang mungkin saja ada hubungannya dengan Zahra.
"Iya-iya, Om juga penasaran. Kamu belajar darimana, masak seenak ini? Dari teman atau keluargamu?" Timpal Helmi.
"Mmm..... Da-dari Ibuku Om. Iya, aku belajar dari Ibu" Shreya tampak tergagap dan ragu menjawab.
"Oh" Helmi manggut-manggut. "Lalu dimana Ibumu sekarang?"
"Mmm..... Ibuku sudah meninggal Om"
"Sayang sekali ya, padahal Tante ingin sekali kenalan dengan orang tuamu" Ujar Lesti kecewa. Shreya menanggapinya dengan senyum kecut.
Begitupun dengan Rahul. Namun dia bukan kecewa lantaran mengetahui jika ibunya Shreya sudah tiada, Melainkan karena jawaban wanita itu yang ternyata tidak ada hubungannya dengan Zahra.
Padahal tadinya dia sangat berharap agar ternyata Shreya mengetahui sedikit banyak tentang Zahra. Mungkin dengan itu bisa sedikit menjadi petunjuk baginya, untuk menemukan istrinya.
Tapi ternyata itu hanya bagian dari angan-angannya saja. Kenapa dia bisa begitu naif? Bagaimana mungkin Shreya bisa mengenal Zahra? Bukankah selama ini dia tinggal di Delhi, lalu di Magelang setelah menikah dengan Fajar?
Apakah bertemu dan berkumpul kembali dengan Zahra dan calon anaknya, adalah harapan yang terlalu tinggi baginya? Sampai kapan dia harus menunggu tanpa kepastian seperti ini?!
"Ya besok saja kita langsung berangkat. Kan acaranya besok lusa" Jawab Helmi.
"Undangan apa ya Kak? Kok aku tidak tau?" Tanya Rahul bingung.
"Itu lho sayang, undangan pernikahan anak sulungnya Om Michael, salah satu kerabat kita yang tinggal di Kanada. Kamu masih ingatkan? Jadi rencananya.... kita akan berada disana selama beberapa hari" Ujar Lesti.
"Jadi kalian semua akan kesana, untuk menghadiri pesta itu?"
"Memangnya kamu tidak ikut?" Tanya Gala.
"Tidak ya Kak. Kalian saja yang pergi. Aku dirumah saja" Jawab Rahul.
"Kenapa Nak? Apa kata mereka kalau kamu absen? Mereka kerabat dekat kita lho. Tidak enak kan?" Tegur Lesti.
"Kalau kita semua pergi, bagaimana dengan perusahaan? Apalagi saat ini aku juga sedang mengurus dan mengawasi proyek pembangunan mall dikota A itu"
"Memangnya kamu tidak bisa menyuruh asisten atau karyawanmu yang lain saja, untuk mengawasinya selama kamu pergi?" Tanya Lesti yang seolah tidak menerima alasan Rahul.
"Maaf Ma tapi aku tidak bisa. Ini bukan hanya soal perusahaan, tapi juga soal Zahra. Bagaimana bisa nanti aku disana berpesta dengan penuh sukacita? Sementara istriku saja sampai saat ini masih belum aku temukan.
__ADS_1
Suami macam apa aku? Yang bisa berbahagia menikmati keseruan pesta, sementara istriku masih belum ada kabar. Apakah saat ini dia dalam keadaan senang dan baik-baik saja atau tidak" Lirih Rahul yang membuat semua orang terdiam.
"Ya sudah kalau memang itu keputusanmu, kami tidak akan memaksa. Kamu dirumah saja" Kata Helmi dengan bijaknya. Rasanya percuma saja berdebat, saat anak bungsunya itu sudah bersikukuh dengan keputusannya. Yang ada hanya akan memperkeruh suasana dan berakhir dengan keributan.
Shreya menatap Rahul dengan penuh kekaguman. Dia tidak mengerti mengapa dia bisa merasa begitu tersentuh, terharu dan bahagia mendengar ungkapan hati pria itu, yang tampak begitu pilu tentang istrinya yang hilang.
Beruntungnya Zahra memiliki suami yang sangat mencintai dan setia padanya. Seandainya hal yang sama terjadi padanya, apakah Fajar juga akan merasakan hal yang sama seperti Rahul?
"Shreya, kamu juga tetap dirumah saja ya. Fajar kan sudah mewanti-wanti, agar kamu tidak melakukan perjalanan jauh sampai dia kembali dari Thailand" Saran Lesti.
"Tantemu benar, kamu tetap dirumah saja sampai kami kembali. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, katakan saja pada pelayan. Mereka pasti akan menemani dan melayanimu dengan baik" Timpal Helmi meyakini Shreya.
"Iya Om, Tante" Jawab Shreya patuh.
Rahul kembali terdiam mendengar keputusan orang tuanya, jika dia akan tinggal satu atap berdua dengan Shreya selama beberapa hari. Bukan karena dia membenci wanita itu, tapi karena dia bingung, bagaimana dia harus bersikap terhadap wanita itu nantinya.
Karena wanita itu selalu membuat perasaannya tak karuan. Setiap kali dia dekat dan melihat wanita itu, hatinya selalu merasa bergetar dan melayang entah kemana. Hingga rasanya ingin sekali dia menerkam istri sahabatnya itu.
Jika seperti ini terus, mampukah dia menjaga hatinya untuk selalu setia pada Zahra dan pernikahan mereka?
Shreya juga memikirkan hal hampir sama dengan Rahul. Memikirkan jika selama beberapa hari kedepan dia akan menjadi penghuni rumah itu, bersama pria yang telah membuatnya merasakan perasaan aneh.
Perasaan hangat dan nyaman, membuatnya bingung bagaimana dia akan menghadapi lelaki itu nantinya. Dia takut jika hal itu akan membuatnya menjadi wanita murahan yang tidak bisa merasa nyaman dan puas dengan suaminya sendiri, hingga mencari kenyamanan dan kepuasan pada pria yang sedang berduka karena kehilangan istrinya.
Astagfirullah hal azzim. Apakah dirinya seburuk itu? Shreya bergidik ngeri.
"Ma, Pa, aku juga tidak usah ikut ya?" Amora pun akhirnya ikut menimpali.
"Lho, memangnya kenapa sayang" Tanya Gala yang duduk disebelahnya.
"Mmm, aku merasa tidak enak badan sayang. Jadi aku dirumah saja ya?" Kilah Amora dengan manjanya.
"Tapi apa kata keluarga mereka nanti, kalau banyak dari kita tidak datang? Apalagi kamu kan juga belum lama, menikah dengan Gala. Mereka pasti ingin sekali bertemu dan mengenalmu sebagai menantu kami. Apalagi kan, Zahra sebagai menantu termuda dikeluarga ini, sampai sekarang masih belum diketahui keberadaannya. Jadi hanya kamu satu-satunya menantu keluarga Dirgantara yang ada saat ini. Jadi tolong usahakan agar kamu juga ikut ya"
Lesti menegur dan membujuk menantu pertamanya dengan suara lembut dan tegas.
"Iya sayang, tidak enak kalau kamu tidak datang. Nanti begitu sampai disana, kita akan langsung cek up kedokter kalau kamu merasa tidak enak badan atau sakit"
Gala menimpali dan menyeimbangi alasan yang diberikan istrinya. Membuat Amora tidak bisa kehabisan ide dan alasan, hingga dia tidak bisa berkutik lagi.
"Iya sayang" Amora tersenyum dengan manisnya. Namun dalam hatinya tersimpan kekesalan yang luar biasa.
Padahal ini adalah kesempatannya untuk bisa mendekati dan menggoda Rahul lagi. Siapa tau jika mereka hanya berdua saja dirumah ini, perlahan-lahan pria itu akan luluh dan kembali jatuh cinta padanya seperti dulu.
__ADS_1
Syukur-syukur jika mantannya itu sampai khilaf dan tergoda dengan keindahan dan kemolekan tubuhnya. Lalu mengajaknya untuk tidur diatas satu ranjang. Mungkin saja setelah itu, dia bisa memberikan keturunan untuk pria itu.