Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 109- Siapa Aku Sebenarnya??!!


__ADS_3

Melihat Zahra yang mulai tampak tegang dan tidak lagi berkutik, Amora merasa puas dan menambahkan.


"Lho, kok kamu diam saja? Jangan bilang kalau kamu lupa, kapan kamu menikah dengan Fajar? Astaga. Kamu serius tidak ingat? Atau kamu amnesia? Jadi kamu hanya mengandalkan pengakuan, bukan ingatan tentang suamimu?" Amora bersikap sok terkejut.


"Atau mungkin.... pengakuan yang kamu dengar itu, bukan kenyataan yang sebenarnya. Begini saja, coba deh kamu pikir. Kok bisa-bisanya Fajar membiarkanmu dari Magelang ke Jakarta bersama Rahul, dan menyuruhmu untuk tinggal dirumah ini? Apa kamu tidak merasa jika itu aneh?


Ya.... Kalau alasannya karena dia harus keluar negeri untuk mengurus pekerjaannya, dia bisa pergi saja. Bukankah disana banyak pelayan dan pengawal yang bisa dia tugaskan untuk menjagamu selama dia pergi? Tapi kenapa dia harus jauh-jauh mengirimmu untuk tinggal dirumah ini? Seolah-olah dia seperti membuatmu mengungsi kesini.


Saranku, sebaiknya kamu berhati-hati ya, dengan kedua lelaki itu. Aku rasa mereka sengaja mempermainkanmu. Yang satu mengaku sebagai suamimu. Yang satunya lagi membiarkan semuanya terjadi. Mungkin dia ingin melepas tanggung jawabnya.


Kamu pernah mendengar istilah.... Suami penggantikan? Atau mungkin.... karena mereka berdua adalah sahabat. Yang namanya sahabat itukan harus berbagi. Mungkin dalam pikiran mereka, istri pun harus dibagi"


Puas meracuni pikiran Zahra dengan segala hasutannya, Amora meninggalkan wanita malang itu dengan kebingungan dan mata yang tampak mulai berkaca-kaca. Dengan pikiran yang kacau balau dan tidak lagi jernih, Zahra mencoba mencerna setiap perkataan Amora.


Benarkah Fajar bukan suaminya?! Benarkah suaminya adalah Rahul?! Ta-tapi bagaimana itu mungkin?! Jelas-jelas dia sudah melihat sendiri foto-foto mesranya bersama Fajar! Bahkan foto pertunangan hingga pernikahan mereka berdua pun juga ada!! Lalu bagaimana bisa jika pria itu bukan suaminya?!


Tapi bila dipikir-pikir, sedikit banyak apa yang dikatakan Kak Amora memang masuk akal. Dia juga merasa aneh dengan sikap Fajar yang dengan begitu mudah membiarkannya pergi bersama Rahul, dan memintanya untuk tinggal disini selama berbulan-bulan.


Namun karena terlalu terlena dengan keberadaan Rahul disisinya, dia memilih untuk menutup matanya dan mengabaikan kejanggalan itu. Zahra berusaha keras mengurus otaknya untuk mengingat kembali masa lalunya. Namun hasilnya nihil.

__ADS_1


Tindakannya malah membuat kepalanya terasa pusing dan berat. Namun dia berusaha mengabaikannya. Perkataan Amora benar-benar mempengaruhinya, hingga dia sangat ingin mendapatkan ingatannya kembali. Agar dia bisa mengetahui siapa yang berkata jujur, dan siapa yang telah berkata bohong padanya.


Namun semakin keras dia berusaha, semakin membuat kepalanya terasa sakit. Tak hanya itu, perutnya pun mulai terasa kram. Sembari meringis kesakitan, Zahra mendekati kursi dan merebahkan tubuhnya yang terasa sakit semua.


Perlahan-lahan dia mencoba mengingat kebersamaannya dengan Rahul. Meski dia tidak bisa mengingat dan mengetahui, apakah Rahul memang sudah hadir dan menjadi bagian dari masa lalunya atau tidak. Namun dia ingat saat lelaki itu mengajaknya kedesa tempo hari.


Desa yang katanya adalah kampung halaman istrinya. Namun anehnya, dia merasa familiar dengan vibe desa itu. Seakan-akan dia sudah pernah berada ditempat itu. Terlebih lagi saat Rahul mengajaknya kesungai air terjun. Begitu pula saat mereka bermain dengan anak-anak kecil dipinggir sawah itu.


Dia sempat kesakitan saat itu. Dan kalau diingat-ingat, dua kali Rahul memanggilnya dengan nama.... ZAHRA?!! Zahra tersentak dan menegakkan tubuhnya, dengan tangan yang masih memegang kepala dan tangan satunya lagi memegang perutnya yang terasa sakit.


Iya dia ingat. Dua kali Rahul memanggilnya dengan nama Zahra ketika didesa itu. Apakah lelaki itu keceplosan?! Dan benarkah jika dirinya adalah Zahra?! Istrinya Rahul?! Tapi jika itu memang benar, lalu kenapa selama ini malah Fajar yang mengaku-ngaku sebagai suaminya?! Kemana Rahul?!


*********


"Jadi bagaimana menurutmu Fajar? Kamu setuju kan, kalau acara tujuh bulanan Shreya diadakan dirumah ini?" Tanya Helmi penuh harap.


"Kalau aku sih.... Terserah Om dan Tante saja. Lagipula menurutku, itu bukan ide yang buruk" Jawaban yang diberikan Fajar membuat Helmi, Lesti, Gala merasa sangat puas. Khususnya Rahul yang merasa begitu sumringah, lantaran bisa menggelar dan menyaksikan acara tujuh bulanan kehamilan istrinya dirumahnya!


Hanya Naomi dan Amora saja yang tidak merasa senang dengan rencana dan keputusan itu.

__ADS_1


"Maaf ya Mas, Mbak. Tapi menurut saya, kenapa acaranya tidak digelar di Magelang saja ya, dirumahnya Fajar? Bukankah lebih baik seperti itu? Karena kan, itu acara untuk calon bayi mereka" Naomi mengeluarkan pendapatnya. Atau lebih tepatnya, mencoba mengacaukan situasi.


"Bagiku tidak masalah kok Tante Naomi, acaranya mau digelar dimana saja. Lagipula aku juga sudah menganggap Om Helmi dan Tante Lesti seperti orang tuaku sendiri. Lebih tepatnya, sebagai pengganti kedua orang tuaku yang sudah tiada. Jadi.... Aku akan sangat senang jika mereka ikut mendampingi kami" Fajar menyanggah pendapat Naomi dengan alasannya yang terdengar masuk akal.


"Iya Tante mengerti Fajar, kalau kamu ingin berbagi kebahagiaan bersama orang yang sudah kamu anggap seperti orang tuamu sendiri. Kamu ingin kami semua ikut mendoakan calon anak kalian. Tapi, bukankah kalau acaranya digelar di Magelang, kita semua juga bisa kesana ya?


Jarak antara Magelang dan Jakarta kan, tidak terlalu jauh. Banyak alat transportasi yang bisa digunakan seperti mobil atau jet pribadi. Itu bukan masalah besar kan, untuk orang seperti kita?" Naomi bersikeras dengan pendapatnya.


"Tapi masalahnya, kondisi Shreya tidak memungkinkan untuk sering-sering melakukan perjalanan jauh Tante. Jadi akan lebih baik jika acaranya digelar dirumah ini saja, supaya kita semua juga bisa ikut mendampingi"


Rahul ikut angkat bicara dengan perasaan geram dan takut yang berusaha dia sembunyikan. Dia takut bila acara tujuh bulanan istrinya terancam batal digelar dirumahnya sendiri, gara-gara ocehan mertua kakaknya itu.


"Maaf ya Rahul, tapi kok, sepertinya kamu tau sekali kondisinya Shreya? Bukankah seharusnya Fajar yang lebih mengetahui ketimbang kamu, karena dia adalah suaminya?" Sindir Naomi yang membuat Rahul merasa greget dan gugup.


Sedangkan Amora tersenyum tipis, lantaran dia sudah tau apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu.


"Sudah-sudah. Kita tidak perlu berdebat seperti ini. Mbak Naomi, saya sangat menghargai pendapat Mbak. Tapi kalau Fajar saja tidak keberatan dengan usulan kami, seharusnya kita tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Lagipula yang dikatakan Rahul juga ada benarnya. Kita juga harus memikirkan kondisi Shreya dan bayinya.


Saya jadi ingat waktu dulu saya hamil Gala. Saya sampai pernah pendarahan akibat keseringan bepergian keluar kota. Makanya waktu hamil Rahul, saya jadi trauma. Dan mungkin hal itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan Fajar. Iya kan Jar?" Tutur Lesti dengan bijaknya menengahi perdebatan mereka.

__ADS_1


"Mmm.... Iya Tante" Jawab Fajar dengan seulas senyum gugup.


__ADS_2