Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 112- Apa Yang Harus Aku Lakukan??!!


__ADS_3

Mendengar pujian dan melihat semua orang sedang terpesona melihat wanita dusun itu membuatnya begitu muak. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin melihat tatapan-tatapan sinis, disertai dengan suara-suara penuh hujatan yang mereka tujukan untuk wanita kampung itu! Namun dia harus tetap bersabar menunggu waktu yang tepat. Amora tersenyum licik.


"Fajar, kamu duduk disebelah sana ya" Lesti menunjuk kursi dibagian tengah backdrop. Yakni kursi yang disediakan disebelah kursi yang diperuntukkan untuk Zahra.


"Mmm.... A-aku..." Bukannya menurut, Fajar malah memandangi Rahul dengan gelagapan.


"Fajar, tunggu apalagi? Ayo cepat. Acaranya sudah mau dimulai. Kasian Pak ustadz kalau terlalu lama menunggu" Timpal Helmi.


Namun Fajar masih tetap berdiri ditempatnya dengan gugup dan bimbang. Sesekali dia melirik Rahul yang terlihat tidak rela dan gugup. Gestur kedua pria itu tidak luput dari perhatian Zahra. Dia jadi semakin yakin jika mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Mmm.... Tante, aku duduk disamping Tante saja ya" Pinta Zahra seraya memegang lengan Lesti dengan kedua tangannya.


"Lho, kenapa? Kamu tidak ingin duduk berdampingan dengan suamimu?" Lesti bertanya dengan heran.


"A-aku ingin sekali duduk dengan Tante. Mu-mungkin bawaan bayinya" Kilah Zahra memberi alasan. Tidak mungkin dia mengatakan jika dia bingung, siapa suaminya yang sebenarnya diantara kedua pria itu kan? Tentu saja hal itu akan terdengar lucu bagi semua orang.


"Oh....ya sudah kalau begitu, Tante juga tidak bisa menolak jika sikecil yang meminta. Ayo" Lesti tersenyum hangat seraya mengelus-elus perut Zahra.


Kemudian dengan lembut dia menarik tangan wanita itu untuk duduk dikursi yang dikhususkan untuknya. Sedangkan Lesti duduk disebelahnya dengan sedikit kebingungan. Dia merasa ada yang aneh dari sikap anak-anak itu.


Meskipun merasa ada yang aneh dengan sikap Zahra yang terlihat begitu dingin terhadapnya ataupun Fajar, namun Rahul mencoba untuk mengabaikannya. Toh dia juga merasa senang karena istrinya tidak duduk bersama Fajar.

__ADS_1


Dia lebih rela Mamanya yang duduk disamping Zahra, ketimbang dia harus makan hati melihat istrinya duduk disebelah pria lain.


Acara pun dimulai dengan pengajian yang dipimpin oleh ustadz. Mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an membuat suasana hati dan pikiran Zahra sedikit lebih tenang, meski tidak sepenuhnya membaik. Serangkaian acara berlangsung dengan khidmat.


Hingga tibalah pada acara yang ditunggu-tunggu. Yakni acara siraman yang digelar secara outdoor dihalaman belakang rumah, atau didekat area kolam renang yang telah didekor dengan background kayu yang dipenuhi dengan rangkaian bunga-bunga bernuansa pastel. Dan tumbuhan tanaman rambat disekelilingnya. Serta dua standing vase yang diletakkan dikanan kiri. Suasananya terasa begitu segar dan asri.


Zahra telah mengganti baju gamisnya dengan kain jarik berwarna peach, serta roncean bunga melati yang melingkari dan menyelubungi dada serta punggungnya. Dan sebagai bandana dikepalanya. Dia duduk dikursi kayu yang telah disiapkan sebagai tempat melangsungkan upacara siraman.


Pembawa acara pun mempersilahkan Fajar untuk menaburkan bunga tujuh rupa kedalam guci berisi air, yang telah dihias dengan roncean bunga melati yang berada disamping tempat duduk Zahra. Sesuai tradisi, dia juga harus menjadi orang pertama yang melakukan siraman pada Zahra.


Lagi-lagi tatapan bingung dan heran dari semua yang hadir kembali diterima Fajar, melihat pria itu yang tak kunjung bergeming sekalipun sudah berkali-kali dipanggil. Dia tetap berdiri dengan gugup dan gelagapan. Sesekali dia melirik Rahul yang juga terlihat sama gugupnya seperti dirinya.


"Fajar, ayo buruan sana" Tegur Gala setengah berbisik.


Jika boleh jujur, dari lubuk hatinya yang terdalam dia sangat senang dan bahagia, mendapat tugas untuk memberikan siraman pertama pada wanita itu. Tapi dia hanya bisa melakukan itu semua jika wanita itu benar-benar istrinya, dan sedang mengandung benihnya.


Namun pada kenyataannya, semua itu hanya ada dalam angan-angannya saja. Dia tidak memiliki hak apapun untuk ikut serta dalam upacara siraman itu. Tapi bagaimana caranya dia mengatakan hal itu pada mereka?!


"Fajar, kenapa kamu diam saja? Itu acaranya sudah dimulai. Cepat sana taburi bunga kedalam air yang akan digunakan untuk menyiram Shreya. Dan berikan siraman pertama untuk istri dan calon anakmu" Ujar Helmi.


"Iya Jar, kasian Shreya kalau terlalu lama menunggu" Lesti menimpali.

__ADS_1


"Mmm.... A-aku nanti saja Tante. Lebih baik sekarang kalian saja yang duluan" Cetus Fajar dengan gugup.


Sedangkan Rahul masih terdiam dengan ekspresi yang hampir sama dengan Fajar. Seharusnya dialah yang memberikan siraman pertama itu. Karena itu adalah tugas dan kewajibannya sebagai suami dan ayah dari Zahra dan anak dalam kandungannya.


Dan tentu saja dia tidak rela, bila harus menyerahkan tugas dan kewajibannya pada orang lain! Tapi bagaimana caranya dia mengatakan pada mereka semua?! Tidak mungkinkan dia mengakui semunya sekarang, dan secara tiba-tiba seperti ini?!


Pengakuannya pasti akan mengejutkan semua orang, terutama Zahra yang pasti akan syok dengan kenyataan itu. Bagaimana cara dia mengatasi masalah ini?! Dia tidak mungkin diam saja melihat Fajar terus didesak oleh semua orang seperti ini!


Tidak mungkinkan, dia membiarkan Fajar melakukan semua tugasnya?! Karena ini bukan acara main-main! Ini acara tasyakuran untuk anaknya!! Apa yang harus dilakukannya sekarang?!!


Sikap gugup dan gelagapan yang ditampakkan oleh kedua pria itu membuat Zahra terus memperhatikan mereka dengan kecurigaan yang semakin meningkat. Dia jadi semakin yakin jika diantara Rahul maupun Fajar memang sedang berbohong.


Atau mungkin.... ternyata memang benar, jika Fajar bukan suaminya?!! Buktinya pria itu merasa enggan melakukan tugasnya sebagai suami dan ayah dari anaknya dalam acara ini!!


Atau jangan-jangan memang benar, jika suaminya yang sesungguhnya adalah Rahul!! Makanya lelaki itu terlihat gelagapan saat Fajar yang diminta untuk melakukan tugas sebagai suaminya!!


Tapi kenapa dia diam saja?! Tidak berkata jujur agar masalahnya selesai?!! Apakah segitu enggannya Rahul mengakuinya sebagai istri?!! Padahal selama ini, Rahul selalu menunjukkan cinta dan perhatian yang begitu besar terhadapnya!! Apa selama ini, pria itu hanya menganggapnya sebagai lelucon atau mainan, yang tidak begitu penting baginya?!!


Bahkan lelaki itu malu menerimanya sebagai istri?!! Padahal dia akan merasa sangat senang dan bahagia, seandainya kenyataan suaminya adalah Rahul!! Zahra menatap Rahul dengan sedih dan kecewa. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Kamu kenapa jadi aneh begini sih Fajar? Ini acara untuk anakmu. Mana bisa kami yang duluan. Kamulah yang harus memberikan siraman pertama untuk istrimu. Kamu juga yang harus menaburkan bunganya" Ujar Helmi setengah berbisik dengan bingung.

__ADS_1


Sikap aneh Fajar membuatnya merasa malu dan tidak enak dengan para tamu yang sedang menunggu acaranya dimulai.


__ADS_2