
"Mmm, nanti Om juga akan tau sendiri saat hari H nya. Oh ya, apa aku boleh melihat dan menggendong Chand?"
"Silahkan saja. Tidak ada yang melarang. Kan kamu juga unclenya" Jawab Rahul.
"Terima kasih"
Acara aqiqah pun dimulai. Serangkaian acara berlangsung dengan lancar dan khidmat. Mulai dari pembukaan yang disampaikan oleh pembawa acara, yang mengucapkan salam dan selamat datang kepada para tamu undangan. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran yang dipimpin oleh ustadzah.
Sambutan yang diberikan Rahul, dengan mengucapkan doa dan rasa syukurnya atas kehadiran jagoan kecil yang telah melengkapi kebahagiaan keluarga besarnya.
Kemudian acara doa dan sholawat. Dimana baby Chand digendong oleh Rahul dan Zahra selaku orang tuanya, dan dibawa memutari orang-orang yang hadir untuk dipotong rambutnya sedikit demi sedikit sembari melantunkan shalawat Nabi. Acara ditutup dengan pengajian dan ceramah aqiqah yang dibawakan oleh ustadzah.
*******
Seminggu pasca acara aqiqah Chand, Rahul membawanya bersama Zahra kedesa. Ini adalah kali pertamanya kembali kekampung halaman istrinya setelah anaknya lahir dan ingatan Zahra kembali. Zahra terpana melihat desa tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Sedikit banyak tempat itu sudah berubah dari sebelumnya.
Namun vibesnya masih sama seperti dulu. Udaranya masih terasa sejuk dan segar. Masih bisa membuatnya merasa nyaman dan betah berada ditempat itu. Dia sangat merindukan tempat itu. Rasanya sudah lama dia terjebak didunia lain yang membuatnya melupakan dunianya sendiri.
"Bagaimana? Apa kamu masih ingat, dengan suasana desa ini? Desa kelahiranmu, tempat pertama kali kita bertemu?" Tanya Rahul saat mereka keluar dari mobil yang terparkir dipinggir jalan beraspal, yang sedikit hancur akibat diterjang banjir bandang tempo hari.
"Iya. Meskipun desa ini sudah banyak berubah, tapi nuansanya masih sama seperti dulu. Membuatku sangat merindukan masa-masa kecilku, bersama orang tuaku ditempat ini. Tapi sayang, masa-masa itu tidak akan pernah kembali lagi, karena Ibu juga sudah meninggalkanku untuk selamanya"
Zahra menatap persawahan hijau yang membentang dihadapannya dengan sendu.
Mengingat masa-masa kecil yang penuh dengan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya, yang tidak akan pernah mungkin bisa kembali lagi membuat perasaannya melo. Rahul menatap istrinya dengan perasaan empati.
"Ibu memang sudah pergi dari dunia ini, tapi beliau akan selalu ada disini" Dengan lembut Rahul menunjuk dan menempelkan ujung jari telunjuknya bagian tengah dada Zahra.
__ADS_1
"Kamu tau, apa yang Ibu katakan di detik-detik terakhirnya?"
"Apa?" Zahra bertanya dengan penuh rasa ingin tau.
"Beliau berpesan agar aku selalu membahagiakanmu, dan jangan pernah menyakitimu. Dan aku sudah berjanji akan selalu memenuhi permintaan terakhir Ibu. Tapi kesedihanmu ini akan membuatku kesulitan dalam memenuhi janji itu. Kamu tidak mau kan, membuat Ibumu sedih karenamu?"
"Iya kamu benar. Sekarang Ibu sudah bahagia disurga. Dan aku juga harus bisa bahagia disini" Zahra berusaha memancarkan senyuman diwajahnya sembari mencium kepala Chand yang berada dalam gendongannya.
"Kamu tidak sendirian. Ada aku, Chand dan orang tuaku. Kamu bisa menganggap mereka seperti orang tuamu sendiri. Karena mereka juga sangat menyayangimu. Dan mereka sudah menganggapmu seperti putri mereka sendiri" Rahul mendekap dan menghibur istrinya.
Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Rahul mengarahkan mobilnya kesungai air terjun. Salah satu tempat didesa itu yang menyimpan kenangan indah mereka sejak awal bertemu. Dan sekarang mereka kembali kesana bersama Chand. Anak dari hasil pernikahan mereka.
Rahul benar-benar merasa telah menjadi pria yang sempurna sekarang. Dia sangat bahagia dan bersyukur untuk setiap detik yang dia lewati bersama istri dan putra kecilnya.
Seandainya waktu bisa berhenti, maka dia akan melakukannya. Karena dia tidak ingin masa-masa indah dan penuh kebahagiaan bersama dua orang terkasihnya berlalu.
Jadi mereka hanya bermain dipinggir sungai, diatas jembatan dan Padang rumput sembari menikmati keasrian pemandangan alam air terjun, dan hamparan bunga-bunga yang tumbuh dengan mekarnya. Dan semua momen itu mereka abadikan dengan berswa foto.
Menjelang siang hari Rahul membawa Zahra kesuatu tempat yang masih berada dikawasan desa itu.
"Silahkan Tuan, Nyonya" Kedatangan mereka disambut dengan ramah dan sopan oleh semua orang yang berada ditempat itu. Mereka semua berbaris dan membungkukkan badannya dengan hormat begitu melihat Rahul dan Zahra keluar dari mobil. Tampaknya mereka semua adalah karyawan Rahul atau Dirgantara group.
"Sat, ini tempat apa? Sejak kapan disini ada bangunan semegah ini?" Zahra terpana melihat sebuah gedung besar dan unik, yang desain gedungnya memiliki tampilan banyak jendela yang dikombinasikan dengan batu bata.
Gedung itu memiliki tiga lantai, dengan pekarangan yang luas. Zahra merasa heran. Sejak kapan gedung itu dibangun? Sebagai penduduk asli desa ini sejak lahir, baru kali ini dia melihat ada gedung yang berdiri ditempat itu.
Seingatnya dulu tidak ada. Dan kalau dia tidak salah, gedung itu adalah sebuah sekolah dengan desainnya menggunakan konsep ala-ala villa di puncak. Membuatnya nampak artistik dan terasa sejuk dipandang.
__ADS_1
"Ini adalah sekolah yang aku buat untukmu. Karena aku, ingin menjadi malaikat tidak bersayap bagimu?"
"Maksudmu?"
"Kamu lupa, saat kita menemani anak-anak belajar dipinggir sawah dulu? Kamu pernah bilang, kalau kamu merasa kasian dengan mereka yang harus kehilangan sekolahnya akibat tragedi itu. Dan kamu juga bilang, siapapun yang berhasil membuat mereka bisa merasakan bersekolah kembali, maka orang itu akan menjadi malaikat tidak bersayap bagimu.
Kamu tidak lupa kan? Karena, aku akan memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak yang yang tidak mampu mulai dari TK hingga SMA. Dan nanti setelah mereka lulus, mereka juga akan berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan di universitas di kota, bagi yang mampu meraih prestasi dan mendapatkan juara"
Zahra terkesima mendengar penuturan suaminya. Dia tidak menyangka jika lelaki itu akan melakukan hal sebesar itu demi mewujudkan mimpinya pada desa ini!
Dia tau jika Rahul sangat mencintainya. Tapi dia tidak pernah membayangkan, bahwa cinta yang dimiliki Rahul untuknya ternyata sebesar itu. Terkadang dia merasa jika semua itu adalah mimpi. Dan dia tidak ingin terbangun, agar mimpi itu tidak pernah berakhir.
Dengan perasaan haru dan bahagia yang meluap, Zahra memeluk Rahul dan Chand. Dua lelaki tercintanya yang telah memberinya kebahagiaan yang tak ternilai.
"Kamu bukan hanya malaikat tidak bersayap untukku, tapi juga untuk semua anak dan orang tua didesa ini. Kamu sudah memberikan mereka harapan dan kebahagiaan. Kamu adalah malaikat bagi desa ini. Dan aku sangat beruntung memilikimu. Raja, pemilik hatiku ini" Zahra membelai wajah Rahul. Lalu mengambil tangan suaminya dan dia letakkan didadanya.
"Dan aku adalah pria yang paling beruntung memilikimu sebagai bidadari yang sudah memberiku seorang malaikat kecil. Ratu penguasa hatiku. Aku sangat mencintai kalian. Dan aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian selalu bahagia bersamaku" Dengan penuh cinta, Rahul mencium kening Zahra. Kemudian beralih pada kening putranya.
"Aku pasti akan selalu bahagia bersama suami dan putra tercintaku" Zahra mencium baby Chand yang berada ditangan Rahul.
Salah seorang karyawan wanita yang memegang nampan berisi sebuah gunting yang dihiasi dengan pita mendekati mereka. Lalu menyodorkan nampan itu. Rahul mengambil gunting dalam nampan itu, dan menyerahkannya pada Zahra yang menerimanya dengan senang hati.
Kemudian Rahul menyerahkan Chand ketangan karyawannya, yang menggendongnya dengan hati-hati.
Acara pemotongan pita sebagai tanda peresmian sekolah itu pun tiba. Zahra menggunakan gunting ditangannya untuk memotong pita. Sedangkan Rahul memegang tangan istrinya dengan lembut.
Keduanya saling beradu pandang dan senyuman penuh kebahagiaan, yang mereka harap selamanya senyuman itu akan senantiasa menyertai hidup mereka.
__ADS_1
๐ENDโ๏ธ