
Fajar memang pria yang beruntung. Istri dan calon anaknya dalam keadaan sehat, dan berada dalam jangkauannya. Sangat berbanding terbalik dengannya, yang tidak bisa menjaga istrinya sendiri.
"Lalu, bagaimana dengan ibunya? Apakah kehamilannya yang sudah ditahap ini akan membuatnya mengalami keluhan yang lebih berat dari sebelumnya?"
"Pada usia kehamilan 22 minggu ini, mungkin Ibu akan mengalami kontraksi Braxton Hicks, atau kontraksi tanpa rasa sakit. Biasanya ibu hamil akan akan merasakan mulas saat kontraksi ini datang. Rasa sakitnya memang ringan, tapi bila bila rasa lebih parah atau sering terjadi, sebaiknya segera konsultasi pada dokter.
Karena kondisi itu dapat menjadi pertanda kelahiran secara prematur. Selain itu, kondisi janin yang semakin membesar akan memakan ruang pada tubuh sang ibu. Hingga mengakibatkan terjadinya tekanan pada tulang rusuk, yang dapat menyebabkan Ibu mengalami gejala sesak nafas"
penjelasan dokter yang panjang lebar membuat Rahul terdiam dan prihatin, membayangkan masa-masa sulit yang harus dilalui Shreya selama kehamilannya, membuatnya merasa sangat khawatir. Ternyata seberat itu perjuangan seorang ibu dalam menghadirkan buah hatinya kedunia.
Seketika dia kembali teringat Zahra. Apakah itu juga yang sedang dirasakan oleh istrinya sekarang? Apakah Zahra mampu melewati semua itu tanpa kehadirannya? Memikirkan hal itu membuatnya sangat sedih dan cemas.
"Nah, apakah ada dari penjelasan saya yang Bapak masih kurang mengerti?"
"Mmm, tidak Dok, saya mengerti"
"Oleh karena itu saya sarankan, anda sebagai suami dan ayah dari calon bayinya untuk terus mendampingi dan menguatkan istri Bapak. Karena dimasa-masa seperti ini, seorang istri sangat membutuhkan support dari suaminya"
Ucapan dokter itu yang menyebut mereka sebagai suami istri membuat Rahul dan Shreya terdiam. Hanya dua pasang mata mereka yang saling bertatapan.
********
"Stop, stop!" Seru Shreya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. Membuat Rahul terlonjak, dan reflek langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Ada apa?" Tanya Rahul panik.
"Tunggu sebentar ya, aku lapar sekali. Kebetulan itu ada tukang batagor" Shreya keluar dari mobil dan langsung berlari, menghampiri pedagang batagor dipinggir jalan.
"Eh tunggu-tunggu. Shreya!" Karena wanita itu sama sekali tidak menggubris seruannya, akhirnya Rahul pun ikut turun dari mobil dan menyusul Shreya yang sedang asik menyantap
batagornya dengan lahap.
"Pak, mau pesan batagor?" Pria pedagang batagor mendekati Rahul dan bertanya dengan sopan.
"Mmm, iya-iya, saya pesan satu"
"Mau makan disini atau dibungkus Pak?"
"Makan disini saja"
"Baiklah, silakan duduk Pak"
"Iya-iya" Rahul duduk diatas kursi plastik didepan Shreya. Matanya terus memandangi wanita itu yang sedang asik melahap makanannya, tanpa menghiraukan kehadirannya.
__ADS_1
Membuat Rahul tersenyum gemas melihat tingkah kocak wanita hamil itu.
"Silahkan Pak" Pedagang batagor mendekati Rahul dan menyerahkan sepiring batagor pesanan lelaki itu.
"Terima kasih" Rahul mengangkat tangannya, hendak mengambil piring itu. Namun gerakannya kalah cepat dari Shreya yang lebih dulu menyambar batagor itu dan langsung melahapnya dengan cepat.
"Kamu pesan lagi saja ya. Aku masih sangat lapar" Usul Shreya dengan asal sembari menyantap makanannya dengan begitu lahap, seperti orang yang sudah tidak diberi makan selama berhari-hari.
Rahul hanya bisa melongo melihat kelakuan wanita itu. Seketika dia jadi kembali teringat pada momen yang dia habiskan bersama Zahra. Bagaimana wanita itu juga sangat menyukai batagor, bahkan istrinya itu pernah merengek meminta bagiannya.
Kenapa sekarang dia jadi merasa dejavu melihat tingkah wanita itu? Seolah-olah wanita itu memiliki sifat yang sama dengan istrinya.
Tapi hal itu tidak bisa dia jadikan alasan untuk membandingkan kedua wanita itu bukan? Mungkin tingkah laku Shreya ini karena pengaruh hormon. Iya, namanya juga wanita hamil. sifatnya susah ditebak. Mungkin inilah yang dinamakan ngidam.
Tak ingin berlama-lama larut dengan asumsinya, akhirnya Rahul kembali memesan batagor lain. Namun matanya tak bisa lepas dari menatap Shreya yang terus melahap batagornya.
Membuat Rahul menggeleng-geleng kepalanya dengan senyum kecil yang terus tersungging dibibirnya. Kehadiran wanita ini seolah telah mengembalikan moodnya. Shreya baru berhenti setelah menghabiskan tiga piring batagor.
"Hehe. Hebat sekali kamu ya, bisa menghabiskan tiga piring secara maraton" Seloroh Rahul yang dibalas dengan tatapan tajam Shreya.
"Udah Pak, dimaklumi aja. Namanya juga bumil. Wajar kalau nafsu makannya banyak. Kan Ibu makan untuk dirinya dan dedek bayi. Itu mah masih mending Pak, hanya nafsu makannya yang naik. Belum emosinya yang sewaktu-waktu bisa labil. Jadi saya sarankan, Bapak sebagai suami harus banyak bersabar, kalau nanti istrinya tiba-tiba minta yang aneh-aneh. Karena istri saya juga begitu waktu hamil dulu"
Pedagang batagor ikut dan berceloteh tak karuan. Rahul dan Shreya terdiam dan kembali saling menatap mendengar celotehan pedagang itu.
Seharusnya mereka bisa membantah ucapan kedua orang itu, dan menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya kan? Namun kenapa, rasanya mereka justru merasa senang mendengarnya?
********
Kehadiran Shreya dan calon bayinya terasa sangat melekat dihati Rahul. Mereka terus menerus mendominasi hati dan pikirannya.
Rahul sendiri merasa bingung dengan perasaannya. Baru satu hari dia menghabiskan waktu bersama Shreya, tapi dia sudah merasa memiliki ikatan yang kuat dengan wanita itu.
Terlebih saat dia melihat janin yang sedang tumbuh dengan sehatnya diperut wanita itu. Membuatnya tidak bisa mengalihkan pikirannya dari sosok manusia kecil yang belum lahir kedunia itu. Dia merasa sangat menyayangi bayi itu.
Bahkan rasanya, ingin sekali dia menangkap dan memeluk malaikat kecil yang dia lihat bergerak-gerak dengan aktifnya dilayar monitor saat itu.
Mungkinkah ini nalurinya sebagai seorang suami dan ayah yang sangat merindukan istri dan calon anaknya? Hingga dia bisa melampiaskan emosi itu pada Shreya yang calon bayinya?
Rahul membuka laci nakas yang berada disamping ranjang tempat tidurnya. Dia mengambil foto berisi gambar hasil USG 2D. Itu adalah gambar USG milik Zahra yang dia dapat saat menemani istrinya cek up dulu.
Untungnya dia sempat menyimpan foto itu. Dan hanya foto itulah satu-satunya kenang-kenangan yang dia miliki.
"Hai little. Bagaimana keadaanmu sekarang sayang? Bagaimana keadaan bidadariku yang saat ini sedang ini mengandungmu? Kalian berdua baik-baik saja kan? Kamu tidak menyusahkan ibumu atau membuatnya kesakitan kan?
__ADS_1
Jadi anak baik ya little. Jangan buat ibumu kesakitan ya. Kasian dia, dia sudah cukup kesakitan saat diterjang banjir itu, dan Papa tidak ada disana untuk melindunginya. Jadi tolong jangan buat dia semakin kesakitan lagi karena kenakalanmu ya. Papa akan selalu berdoa, agar Tuhan mau mempertemukan kita lagi"
Dengan mata berkaca-kaca, Rahul berbicara dengan foto berisi gambar janin itu seolah sedang berbicara dengan anaknya.
Kemudian dia mencium foto itu dengan penuh sayang, seolah mencium bayinya. Meluapkan kerinduannya yang begitu besar pada calon buah hatinya.
********
Rahul baru tiba dirumahnya menjelang maghrib. Karena merasakan tenggorokannya kering, dia langsung menuju dapur untuk mengambil minuman.
Sesampai didapur, dia langsung membuka kulkas dan mengambil air putih lalu meneguknya. Rahul menoleh dan melihat Shreya yang sedang asik membuat adonan kue, tanpa menyadari kehadirannya. Ternyata wanita itu sudah berada didapur sebelum dirinya.
Rahul memperhatikan Shreya yang terlihat cukup terganggu dan kerepotan dengan rambut panjangnya yang terurai kewajahnya, hingga mengganggu aktivitasnya.
Wanita itu tampak menggerak-gerakkan kepalanya, bermaksud untuk menyingkirkan helaian rambut bergelombang yang singgah diwajahnya agar menyingkir kebelakang.
Rahul yang merasa gemas melihatnya hanya bisa menyunggingkan senyuman. Tanpa menegur, Rahul meninggalkan dapur.
Beberapa saat kemudian dia kembali dan mendekati Shreya. Tanpa berkata apapun, dia langsung memegang dan menyibak rambut hitam wanita itu kebelakang dengan lembut. Lalu mengikatnya dengan ikat rambut yang dia bawa.
Membuat Shreya terkejut saat merasakan ada seseorang yang sedang bermain dengan rambutnya. Shreya menoleh dan dia langsung mendapati Rahul yang sedang berdiri dengan santainya, sembari mengikat rambut panjangnya dengan hati-hati.
"Terima kasih" Shreya tersipu malu, dia pun kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa merasa terganggu atau memberontak perlakuan pria itu terhadap rambut panjangnya. Malah, dia merasa sangat menikmatinya hingga senyum ceria terpancar dari wajah cantiknya.
"Makanya, lain kali kalau mau bekerja apalagi memasak, rambutnya dikuncir dulu. Agar tidak menggangu aktivitasmu. Oh ya, kamu sedang membuat apa?"
"Ya kalau aku membuat adonan, itu artinya aku sedang membuat kue. Masak membuat rendang" Seloroh Shreya.
"Kenapa tidak sekalian aja, jawabannya sedang membuat jus" Balas Rahul. Keduanya pun tertawa terbahak-bahak.
Rahul menatap wajah cantik yang sedang tertawa dengan lepasnya. Melihat wajah wanita itu membuat hatinya terasa sangat teduh.
Semakin lama diperhatikan, kecantikan wanita ini semakin jelas terpancar. Wajahnya cantik dan imut, dengan bibir yang mungil. Rasanya ingin sekali Rahul mencium bibir indah itu.
Hatinya bertanya-tanya, apakah Zahra juga memiliki wajah secantik dan semenarik ini?
Rahul menggeleng-geleng. Berusaha menepis pikiran-pikiran kotor yang singgah dikepalanya. Bisa-bisanya dia memikirkan untuk membandingkan istrinya dengan istri sahabatnya sendiri. Dan yang lebih gilanya lagi, dia sampai memiliki hasrat untuk mencium wanita itu?
Arrgghhh! Sepertinya kehilangan Zahra sudah membuatnya menjadi pria gila yang tidak bermoral.
"Wah, ternyata ada yang sudah matang?" Rahul melihat kue-kue basah yang sudah jadi dimeja. Dia meraih salah satu kue dari dalam piring putih itu.
Jika dilihat dari bentuknya, sepertinya kue itu akan sangat menggugah seleranya. Rahul membelalakkan matanya saat dia mencicipi kue yang rasanya sangat familiar dilidahnya.
__ADS_1