Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 81- Menyelidiki


__ADS_3

"Maaf Tuan kalau saya lancang. Tapi kalau tujuan Tuan bertanya seperti itu, karena Tuan mengincar Nyonya Shreya, saya mohon dengan sangat Tuan. Tolong lupakan Nyonya Shreya. Tolong jangan mengganggunya lagi. Biarkan dia bahagia bersama Tuan Fajar.


Tuan Fajar sangat mencintainya. Apa Tuan tega, menjadi penghalang kebahagiaan mereka? Ingat Tuan, Fajar adalah sahabat Tuan sendiri. Jadi saya mohon dengan sangat, tolong jangan hancurkan kebahagiaannya" Lagi-lagi Bu Zaitun memperingatkan dengan suara lembut dan tegas.


Rahul mengakui apa yang dikatakan wanita paruh baya itu memang ada benarnya. Tidak seharusnya dia mengganggu rumah tangga Fajar, dan merusak kebahagiaan sahabatnya sendiri. Tidak seharusnya dia merusak kebahagiaan pria yang sudah dianggapnya bak saudara sendiri. Betapa jahatnya dia kalau seperti itu.


Tapi dia hanya akan merasa seperti itu jika Shreya memang benar-benar istrinya Fajar! Jika ternyata wanita itu adalah Zahra, istri sahnya. Lalu atas dasar apa dia harus menjauhi istrinya sendiri?! Justru dialah orang yang paling berhak atas perempuan itu!


Karena yang namanya istri adalah milik suaminya! Bukan milik lelaki lain! Dan dia tidak akan pernah sudi menyerahkan istrinya pada pria manapun! Walaupun itu pada sahabatnya sendiri!!


"Saya bukan tipikal orang yang suka merebut milik orang lain kok Bu. Ibu jangan khawatir. Malam ini saya akan kembali ke Jakarta. Saya datang kesini hanya untuk mengemasi barang-barang saya" Ucap Rahul datar.


"Syukurlah kalau Tuan mengerti. Saya tau bahwa Tuan Rahul adalah orang yang baik. Biarkan saya saja yang membereskan barang-barang Tuan" Bu Zaitun tersenyum lega.


"Tidak usah Bu. Biar saya sendiri saja. Ibu urus saja pekerjaan Ibu"


"Tuan yakin tidak perlu dibantu?" Tanya Bu Zaitun ragu.


"Sangat yakin Bu. Itu adalah privasi saya. Dan saya paling tidak suka privasi saya diganggu oleh orang lain. Saya harap Ibu bisa memaklumi" Rahul tersenyum tegas.


"Baiklah kalau memang itu maunya Tuan. Tapi jika nanti Tuan butuh bantuan, silahkan panggil saya atau pelayan lainnya. Saya permisi dulu"


"Iya Bu tentu saja. terima kasih"


Sesuai dengan keinginan Rahul, Bu Zaitun pun meninggalkannya dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang diinginkannya. Setelah Bu Zaitun pergi, Rahul melangkahkan kakinya menyusuri rumah mewah dan luas itu, hingga dia sampai dilantai dua.


Rahul bertekad harus mencari tau kebenarannya. Tapi dia benar-benar bingung harus mulai darimana. Dia tidak memiliki petunjuk apapun! Tidak ada satu orangpun yang bisa membantunya dirumah ini!


Malam ini dia harus kembali ke Jakarta! Tapi dia tidak mungkin pergi dari sini, jika ternyata istri yang selama ini dia cari ada disini kan?! Suami gila mana yang rela meninggalkan istrinya bersama pria lain?! Tapi masalahnya, dia masih belum ada bukti bahwa perempuan itu adalah istrinya!

__ADS_1


Ditengah-tengah kebingungannya, matanya malah tertuju pada sebuah ruangan. Itu adalah ruang kerja Fajar. Rahul berpikir sejenak. Fajar pasti sering menghabiskan waktu didalam ruangan itu kan? Mungkinkah dia bisa menemukan sesuatu dalam ruangan itu?


Rahul masih merasa ragu. Bagaimana jika nanti dia malah tidak menemukan jawaban yang diinginkannya? Dia takut kecewa nantinya. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Daripada tidak sama sekali dan hanya diam menunggu. Yang ada dia bisa menyesal seumur hidup, jika sampai menyia-nyiakan kesempatan untuk menemukan istrinya.


Akhirnya Rahul berjalan mendekati ruangan yang tertutup pintu itu. Dia melihat kesekelilingnya. Memastikan apakah ada orang disekitar tempat itu yang melihatnya. Setelah merasa yakin bahwa suasana dalam keadaan sepi dan aman, dia langsung menekan dan memutar handle pintu itu dengan perlahan.


Namun dia harus menahan kekesalan karena ternyata pintu itu terkunci. Bagaimana caranya dia masuk kedalam ruangan ini kalau pintunya terkunci seperti ini?! Tidak mungkin dia meminta kuncinya dari pelayan disini kan? Yang ada dia bisa dicurigai.


Arrgghhh!! Kenapa otaknya menjadi buntu begini?! Karena merasa tidak ada gunanya berada disana, akhirnya dia memutuskan untuk melangkah pergi. Saat menuju ruang tengah, dia melihat Fina yang sedang mengepel lantai dengan tekunnya.


Rahul tampak berpikir. Hingga akhirnya sebuah ide melintas dikepalanya. Perlahan-lahan dia mendekati pelayan wanita itu.


"Ehem" Rahul berdehem. Fina sontak terkejut dan langsung menoleh. Dan ternyata pria itu sudah berada didepannya.


"Eh, Tuan Rahul? Sudah sejak kapan disini Tuan?" Fina tampak salah tingkah.


Rahul tersenyum menggoda. Bermaksud untuk mengambil hati gadis centil itu. Sebenarnya dia sangat enggan bersikap sok manis seperti ini pada perempuan yang tidak bisa membuatnya bergairah. Namun dia harus melakukannya demi misi.


"Ah, Tuan bisa saja. Inikan memang sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya Tuan. Kalau saya tidak mengerjakannya dengan baik, nanti malah dibilang makan gaji buta lagi" Fina tersenyum dan tersipu malu.


"Bagus itu Mbak Fina. Yang namanya pekerjaan memang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kan bekerja juga bagian dari ibadah. Bukankah begitu?"


"Iya tentu saja Tuan. Oh ya, Tuan Rahul masih disini? Bukankah Tuan mau kembali ke Jakarta?"


"Iya Mbak. Saya memang mau kembali ke Jakarta. Makanya sekarang saya mau packing barang-barang saya dulu"


"Oh.... kirain mau ketemu saya" Fina tersenyum genit membuat Rahul merasa geli. Namun meski begitu, dia tetap memperlihatkan senyuman termanisnya.


"Oh ya Mbak, ini ada apa ya dirambutnya?" Rahul menyentuh rambut Fina dengan lembut dan sok mesra. Membuat perempuan itu tersipu malu hingga meleleh hatinya. Jarang-jarang dia diperlakukan seromantis ini oleh pria setampan ini.

__ADS_1


Dia tidak sadar jika itu hanya akal-akalan Rahul saja. Padahal tanpa sepengetahuan Fina, Rahul diam-diam merenggut jepit rambut yang ada dikepala wanita itu.


"Hah? Kenapa Tuan?" Fina bertanya kebingungan.


"Ini. Ada semut dirambut Mbak" Rahul beralasan.


"Hah? Kok bisa? Perasaan dirumah ini tidak ada semut?" Fina mengernyitkan kening dengan bingungnya.


"Kan semut Mbak, bukan kucing. kalau kucing, itu baru bisa dipastikan tidak ada dirumah ini. Tapi kalau semut, siapa yang bisa menjamin? Bentuknya saja sangat kecil "


"Iya juga sih" Fina berucap dengan lugunya.


"Ya sudah kalau begitu. Saya permisi mau beres-beres dulu ya. Silahkan dilanjut lagi kerjanya Mbak Fina"


"Iya Tuan, terima kasih" Fina tersenyum cerah.


Rahul meninggalkan pelayan centil itu dan kembali kedepan ruang kerja Fajar. Kepalanya celingukan kesana kemari. Setelah merasa yakin tidak ada sepasang mata pun yang mengawasinya, Rahul langsung memulai misinya.


Dia mencoba membuka pintu ruangan itu dengan menggunakan jepit rambut milik Fina. Dia bernafas lega karena keberuntungan berpihak padanya. Jepit rambut yang dia dapatkan dari pelayan itu ternyata bisa membantunya membuka pintu itu.


Rahul masuk kedalam ruangan itu dan menutup pintunya dengan perlahan. Dengan tujuan agar tidak ada penghuni rumah itu yang melihatnya dari luar ruangan. Rahul menatap ruangan luas dan dipenuhi dengan alat-alat dan peralatan medis yang dia sendiri tidak begitu mengerti fungsinya.


Dalam ruangan itu juga terdapat meja dan kursi kerja. Lemari sebagai tempat penyimpanan arsip dan berkas-berkas. Serta sofa dan meja untuk bersantai.


Rahul menggeledah ruangan itu secara perlahan-lahan. Mulai dari laci meja hingga lemari yang berhasil dia buka, dengan menggunakan jepit rambut yang dia dapatkan secara diam-diam dari Fina.


Setelah hampir setengah jam berkutat dengan arsip dan dokumen-dokumen berisi data-data kesehatan dan obat-obatan yang tidak berguna baginya, dan dia letakkan kembali pada tempat asalnya. Akhirnya dia menemukan benda yang cukup menarik perhatiannya. Sebuah pigura yang diselipkan diantara arsip dan berkas-berkas.


.

__ADS_1


__ADS_2