Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 43- Mengapa Aku Tidak Merasa Nyaman??


__ADS_3

Meski aura kesedihan masih tampak, namun berangsur-angsur kesedihan itu mulai menghilang.


Bu Zaitun berharap wanita itu adalah jawaban dari rasa sakit dan kehilangan yang selama ini dirasakan oleh tuannya. Dia berharap wanita itu bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini dirindukan Fajar.


Meskipun dia sedang mengandung anak dari lelaki lain, tapi Bu Zaitun yakin jika tuan mudanya akan menerima dan menganggap anak itu seperti anaknya sendiri. Atau mungkin, keduanya dihadirkan untuk menggantikan istri dan anak Fajar yang telah tiada.


Bu Zaitun sangat berharap seperti itulah adanya.


"Apa yang Ibu katakan? Sampai saat ini hatiku masih sama, hanya Shreya satu-satunya wanita yang aku cintai. Wanita itu hanya pasienku. Dia mengalami luka yang cukup parah akibat insiden banjir bandang itu, hingga kehilangan ingatannya. Keadaan yang membuatku terpaksa mengakui dan memberikan identitas istriku padanya. Karena dia sedang hamil. Semua yang aku lakukan hanya demi kemanusiaan saja"


"Tuan, mulut bisa saja berkelit, tapi tidak dengan dengan mata apalagi hati. Lagipula, saya sudah menganggap Tuan seperti anak saya sendiri. Jadi apapun yang membuat Tuan bahagia, saya pasti akan mendukungnya. Saya senang, jika ada orang yang bisa membuat Tuan melupakan kesedihan akibat ditinggal pergi untuk selamanya oleh Nyonya Shreya. Selain itu, menurut penilaian saya.... Wanita itu juga wanita baik-baik dan sopan. Mungkin dia adalah jodoh yang dikirim Tuhan setelah Tuan kehilangan istri dan calon bayi Tuan"


"Cukup Bu. Ibu taukan dia sedang hamil? Jadi Ibu juga pasti tau, artinya dia memiliki suami. Jadi bagaimana mungkin, dia bisa menjadi jodohku?" Sanggah Fajar dengan suara pelan.


"Tuan, tidak selamanya wanita hamil memiliki suami. Kalaupun suaminya masih hidup, kenapa dia tidak mencari istrinya?"


"Bu Zaitun"


Bu Zaitun dan Fajar terkejut dengan suara lembut yang tiba-tiba membuyarkan percakapan mereka. Keduanya pun langsung menoleh kearah pintu.


Raut wajah Fajar dan Bu Zaitun seketika menjadi tegang melihat Shreya sedang berdiri didepan pintu bersama Rita.


"S.... Shreya, ka-kamu disini?" Tanya Fajar terbata-bata dengan mata membulat.


"Maaf Tuan, tadi Nyonya menanyakan Tuan. Jadi saya temani kesini" Jawab Rita.


"Iya tidak masalah. Ta-tapi sejak kapan kalian ada disini?" Fajar masih belum bisa mengatasi ketegangannya sebelum memastikan, bahwa wanita itu tidak mendengar sepatah katapun pembicaraannya dengan Bu Zaitun barusan.


"Kami baru saja masuk. Memangnya ada apa? Kenapa wajahmu tampak tegang begitu?" Shreya mengernyitkan keningnya melihat raut ketegangan diwajah pria yang mengaku sebagai suaminya itu.


"Mmm.... aku tidak apa-apa. Oh ya, ada apa kamu mencariku? Inikan sudah tengah malam, kenapa kamu sudah bangun?"


"Aku mimpi buruk, sampai aku tidak bisa tidur lagi"


"Mimpi buruk? Mimpi buruk apa?"


"Aku bermimpi, aku berlari ketakutan ditengah derasnya hujan sambil berteriak minta tolong. Dan.... aku juga seperti berusaha menyelamatkan seorang wanita cacat dan..... aku tidak tau. Semuanya terlihat samar dan abu-abu. Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas ssstt"

__ADS_1


Shreya menjelaskan kilasan-kilasan yang muncul dibenaknya sembari memegang kepalanya yang semakin terasa sakit, saat dia semakin berusaha mengingat hingga membuatnya meringis.


Rita yang berdiri disamping Shreya langsung memegang dan memastikan kondisi nyonya muda barunya. Fajar pun langsung mendekati Shreya dan berusaha untuk memenangkannya.


"Tenang ya tenang. Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya mimpi, hanya bunga tidur. Lebih baik sekarang kamu tidur lagi ya. Ayo, aku temani" Fajar memegang tangan Shreya dan menggasuk-gasuk kepalanya. Lalu dia melirik Bu Zaitun. "Bu, minumanku tolong dibawa kekamar saja ya"


"Iya Tuan"


******


Rahul keluar dari mobil Mercedes-Benz E warna merah. Dia terlihat sangat tampan dan gagah dalam balutan jas hitam yang dikenakannya.


Rahul menatap gedung megah dan menjulang tinggi yang ada didepannya dengan perasaan hampa. Sudah bertahun-tahun dia tidak menginjakkan kakinya digedung perusahaan milik keluarganya, Dan sekarang dia kembali lagi kesini.


Dulu, dia sangat memimpikan bisa kembali lagi kesini, memimpin perusahaan seperti biasanya. Namun saat semuanya telah terwujud dan berada didepan mata, entah mengapa dia merasa semua itu semu dan tidak ada artinya.


Gala yang sedari tadi bersamanya dalam mobil, akhirnya ikut turun juga dan menghampiri adiknya.


"Selamat ya Dek, akhirnya kamu kembali juga keperusahaan setelah sekian lama. Dan hari ini kamu akan diangkat sebagai presiden direktur Dirgantara Group" Gala menepuk bahu Rahul dan tersenyum ceria.


Pasalnya, para pemegang saham sudah mendengar soal kembalinya Rahul. Dan mereka semua mendesak agar pria itu kembali memimpin Dirgantara Group, setelah sekian lama dia menghilang dan pihak keluarga mengklaim, bahwa saat itu Rahul berada diluar negeri.


Sebenarnya Rahul merasa enggan untuk terlibat dalam perusahaan, karena saat ini dia masih butuh waktu untuk menata hatinya, sampai dia mendapat kabar yang jelas soal keberadaan Zahra.


Namun kedua orang tuanya terus membujuk dan mendesaknya agar kembali menjadi direktur utama, dengan menjanjikan akan tetap mengurus dan melanjutkan pencarian Zahra, hingga Rahul tidak lagi memiliki alasan untuk menolaknya.


"Kenapa, kamu terlihat tidak bergairah dari tadi?" Gala memegang pundak Rahul dan bertanya dengan lirih, menyadari suasana hati adiknya yang belum sepenuhnya stabil.


"Kakak taukan, aku tidak pernah menginginkan semua ini? Yang aku inginkan hanya hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Dulu aku selalu mengeluh dan menyalahkan Tuhan karena kebutaanku. Aku menganggap itu sebagai musibah sepanjang hidupku. Tapi setelah Zahra hadir dalam kehidupanku, aku merasa dia adalah hikmah yang telah Tuhan siapkan dibalik musibahku. Rasanya sekarang, seandainya aku diharuskan untuk menukar penglihatanku dengan Zahra, aku sama sekali tidak keberatan untuk itu"


Lirih Rahul dengan tatapan menerawang. Membuat Gala kembali merasa prihatin dengan nasib adiknya.


"Aku mengerti perasaanmu. Ini adalah ujian bagi cintamu. Yang bisa kamu lakukan saat ini adalah berdoa dan berikhtiar. Percayalah, jika kamu dan Zahra masih ditakdirkan untuk berjodoh, maka Tuhan pasti akan mempertemukan kalian kembali" Hibur Gala.


"Menurut Kakak seperti itu?"


"Ya tentu saja. Ya sudah, ayo sekarang kita masuk. Papa dan Mama sudah menunggu didalam" Gala menarik lengan Rahul yang mau tidak mau harus mengikuti langkah kakaknya.

__ADS_1


Hari itu dia menghadiri rapat bersama para pemegang saham dan petinggi perusahaan. Rapat yang diadakan untuk menyambut dan menetapkan Rahul sebagai direktur utama yang akan kembali memimpin Dirgantara Group.


Semua orang yang hadir dalam acara itu memberikan tepuk tangan meriah dan antusias terhadap keputusan itu, lantaran mereka semua mengapresiasi kinerja Rahul yang dinilai memiliki kecerdasan dan ketajaman dalam berbisnis.


Tak lupa mereka semua memberikan ucapan selamat pada Rahul yang hanya membalasnya dengan seulas senyum hambar.


********


Jadwal cek up kehamilan Shreya pun tiba. Fajar dengan setia dan penuh perhatian menemaninya untuk memeriksakan kandungan kedokter obgyn terbaik yang ada dirumah sakit Lazuardi miliknya.


"Sekarang usia kehamilan Ibu Shreya sudah menginjak minggu ke 19. Ukuran janin sudah semakin membesar, dan gerakannya juga sudah mulai aktif. Selain itu, indra penglihatan, pengecap, pendengaran dan penglihatan juga sudah mulai berkembang pesat seiring dengan perkembangan saraf janin"


Dokter wanita berusia sekitar 30 tahunan menjelaskan perkembangan janin dalam rahim Shreya melalui USG.


"Tapi kondisi janinnya baik-baik saja kan Dok?" Tanya Fajar memastikan.


"Iya Dokter, kondisi janinnya baik-baik saja. Detak jantungnya kuat, meskipun gerakannya masih belum teratur, lantaran usia kehamilannya yang belum genap lima bulan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan"


Fajar menatap layar monitor dengan sendu, dimana dalam layar itu terlihat gambar janin yang bergerak-gerak. Dia kembali teringat pada calon bayinya yang belum sempat merasakan hidup didunia, tapi sudah harus pergi bersama istrinya karena kelalaiannya.


"Lalu bagaimana dengan kondisi ibunya Dok? Apakah sehat juga?"


"Kondisi Ibu Shreya juga baik Dok. Tekanan darahnya normal. Hanya saja, saat ini beliau sedang dalam masa pemulihan, jadi kondisinya masih belum bisa dikatakan baik secara keseluruhan"


"Lalu apa yang harus kita lakukan Dok?" Tanya Fajar sedikit khawatir.


"Ibu Shreya harus banyak istirahat, tidur yang cukup, jangan terlalu kecapekan dan paling penting adalah, hindari stress. Karena hal itu dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi. Saya sarankan juga agar Ibu banyak makanan yang bergizi dan mengandung zat besi. Sering-sering diajak jalan-jalan keluar untuk refreshing dan mendapatkan suasana baru. Jadinya Ibu Shreya bisa lebih rileks"


"Terima kasih banyak Dok. Nanti saya akan coba ikuti saran dari Dokter. Yang terpenting istri dan calon anak saya sehat-sehat saja"


"Wah Bu, Ibu Shreya sangat beruntung memiliki suami sebaik dan seperhatian Dokter Fajar. Saya bisa melihat, beliau sangat mencintai dan memanjakan anda" Dokter obgyn yang bernama Jenar itu berbisik dengan sedikit senyum menggoda Shreya, yang membalasnya dengan senyum terpaksa.


Jujur dalam hatinya, dia bisa merasakan jika Fajar adalah lelaki dan suami yang baik. Selama satu minggu ini mereka bersama, Fajar selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian.


Namun entah mengapa, dia justru merasa risih dan tidak nyaman dengan semua perhatian yang diberikan oleh pria itu. Padahal seharusnya dia senangkan, memiliki suami yang begitu mencintainya? Tapi hatinya justru merasa bersalah, entah pada siapa dan kenapa?


Dia sangat menyesal dengan apa yang dirasakannya terhadap suaminya sendiri. Dia seperti wanita yang tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Berdosakah dia karena memiliki perasaan seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2