
Semalaman suntuk Rahul uring-uringan, karena keinginannya untuk berkomunikasi dengan istrinya melalui ponsel tak kunjung terjadi. Berkali-kali dia melakukan panggilan suara dengan Zahra, namun berkali-kali pula nomornya berada diluar jangkauan.
Sebenarnya kemana wanita itu? Apa yang terjadi padanya? Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Padahal dia yakin jika Zahra tidak mungkin lupa, bahwa hari ini adalah jadwal pembukaan perban matanya. Apakah wanita itu tidak penasaran dengan hasil operasinya? Berhasil atau tidak?
Apa mungkin jika ponsel Zahra dicopet? Tapi jika iya, bukankah dia bisa meminjam ponsel teman atau tetangganya untuk mengabarinya?
Atau jangan-jangan?
Rahul menggeleng-geleng kepalanya. Berusaha membuang segala macam bentuk pikiran buruk
yang melintas dikepalanya. Dia harus tetap yakin jika istrinya pasti baik-baik saja.
Sepertinya ini sudah saatnya dia kembali kedesa untuk menyusul istrinya. Lagipula operasinya juga sudah selesai dan berhasil. Jadi dia sudah bisa meninggalkan tempat ini.
Iya, dia akan kembali kedesa sekarang juga dan memberi kejutan pada istrinya. Rahul pun bersiap-siap untuk tujuannya. Dia membereskan barang-barangnya.
Suara adzan yang berkumandang menghentikan aktivitasnya. Dia melirik jam dinding. Ternyata sudah masuk waktu zhuhur.
Kata Zahra dan pak Umar, jika mendengar suara adzan,maka kita harus bergegas melaksanakan sholat lima waktu. Karena sholat bisa menjadi obat penenang hati yang sedang gelisah. Apalagi saat ini perasaannya pun sedang tidak tenang memikirkan istrinya didesa sana.
Rahul pun bergegas mengambil wudhu, kemudian melaksanakan sholatnya. Dia berdoa untuk Zahra agar istrinya baik-baik saja dan semua pikiran negatifnya meleset.
Usai sholat, Rahul menggulung sajadah yang menjadi alas sholatnya.
Tok tok tok (pintu diketuk dari luar)
"Masuk" Seru Rahul. Pintu terbuka, seorang perawat wanita memasuki ruangan itu dan menyapanya dengan ramah.
"Selamat siang Pak Rahul. Maaf mengganggu istirahat anda"
"Iya Sus, tidak masalah"
"Saya hanya ingin menyampaikan, ada yang ingin bertemu dengan Bapak"
"Siapa Sus? Apa itu istri saya?" Raut wajah Rahul menjadi sumringah mendengar ucapan perawat itu.
Namun raut wajah sumringahnya berubah menjadi terkejut saat dia melihat sosok yang memasuki kamar itu. Seorang wanita paruh baya yang masih tampak muda dan cantik, yang terasa sangat familiar dimatanya.
"Rahul!" Seru wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Mama" Mata Rahul membulat saking terkejutnya melihat siapa yang datang.
Lesti menghambur memeluk anaknya, diikuti oleh dua orang pria berbeda generasi yang tak lain adalah papa dan kakaknya.
__ADS_1
"Rahul anakku. Akhirnya Mama bisa melihatmu lagi Nak. Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Kamu kemana saja selama ini? Kenapa kamu menghilang begitu saja Nak? Kamu tidak tau kan, betapa kalutnya Mama memikirkanmu?"
Lesti menangis terisak memeluk putra bungsunya yang sama sekali tidak membalas pelukannya. Dia malah menatap ketiga orang itu dengan terkejut dan bingung. Rahul melepaskan pelukan ibunya.
"Rahul, alhamdulillah Dek. Kamu baik-baik saja" Gala tersenyum terharu.
"Kakak, Papa. Ba-bagaimana kalian bisa berada disini?" Tanya Rahul terbata-bata. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan keluarganya secepat ini.
"Rahul. Ka-kamu sudah bisa melihat lagi Nak....?" Helmi terpana melihat Rahul yang bisa membalas tatapan matanya.
"Kenapa? Papa terkejut? Papa bingung, kenapa anak Papa yang buta dan tidak berguna ini, yang sudah divonis mengalami kebutaan permanen, tiba-tiba bisa melihat lagi seperti dulu?" Tukas Rahul sinis.
"Rahul, kenapa kamu bicara seperti itu sama Papa?" Tegur Gala.
"Karena memang itukan kenyataannya? Bukankah kalian sendiri yang ingin aku menjauh dari hidup kalian? Dengan membuangku keluar negeri hingga aku mengalami kecelakaan?"
"Apa yang kalian inginkan sudah tercapai. Selama lima bulan ini aku sudah menghilang dari hidup kalian. Lalu untuk apa sekarang kalian datang kemari untuk menemuiku? Kalian ingin memastikan, apakah aku bisa hidup tanpa kalian atau tidak?"
"Jika memang itu tujuan kalian, maka jawabannya adalah.... Aku sangat bahagia hidup tanpa kalian selama ini. Kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan saat aku bersama kalian selama dua setengah tahun ini, berhasil aku dapatkan tanpa kalian selama lima bulan ini" Rahul meracau dengan menggebu-gebu.
"Rahul. Mama tau Mama salah. Mama tau kamu kecewa dengan sikap kami selama ini. Sekarang Mama sadar Nak, tidak seharusnya Mama bersikap egois dan tidak adil terhadapmu. Seharusnya Mama ada disaat kamu butuh. Tolong maafkan Mama Nak"
"Kamu boleh membenci atau menghukum Mama sesuka hatimu. Tapi Mama mohon Nak, tolong jangan pergi lagi. Tolong jangan tinggalkan Mama untuk kedua kalinya. Ayo kita pulang Nak. Kita pulang ke rumah kita" Lesti memohon-mohon dengan deraian air mata.
"Rumah kita? Sepertinya Mama harus mengoreksi ucapan Mama. Karena selama dua setengah tahun ini, aku sudah tidak lagi merasa jika rumah itu adalah rumahku. Bukankah bagianku didalam rumah itu hanya sebatas kamar saja?"
"Selama lima bulan ini Papa hidup dalam penyesalan dan kekhawatiran. Papa terus dihantui oleh rasa bersalah terhadapmu. Karena itulah Papa kerahkan seluruh anak buah Papa untuk mencarimu. Dan Alhamdulillah, sekarang Papa bisa bertemu denganmu. Silahkan tuntaskan segala bentuk kemarahan dan kekecewaanmu. Tapi tolong jangan pergi lagi. Jangan buat Papa semakin merasa bersalah Nak"
Timpal Helmi dengan suara lirih dan raut wajah penuh penyesalan.
"Rahul, apapun bentuk kemarahan dan kekecewaanmu, kami akan menerimanya. Karena kami sadar jika kami memang bersalah. Kami tidak bisa mengerti perasaanmu. Tapi satu hal yang harus kamu tau, sejak kamu pergi, tidak ada satupun dari kami yang bisa tidur dengan nyenyak. Pikiran kami selalu tertuju padamu. Bagaimana keadaanmu diluar sana. Apa kamu baik-baik saja. Apa kamu bisa makan. Kamu tau? bahkan Mama sampai sakit karena memikirkanmu"
Timpal Gala dengan nada sedih. Rahul terdiam mendengar permohonan dari ibu, ayah dan kakaknya. Jujur hatinya masih belum bisa menerima dan melupakan apa yang telah terjadi.
Namun kata-kata Zahra waktu itu terngiang dibenaknya. Dia sudah berjanji pada istrinya. Jika dia tidak akan pernah lagi mengingat masa lalunya. Dia akan berdamai dengan masa lalunya.
Dia tidak boleh mengingkari dan membuat wanita itu kecewa. Nanti dia juga harus memperkenalkan istrinya pada keluarganya. Zahra pasti akan sangat senang.
Iya, sudah saatnya dia melupakan masa lalu, dan fokus pada masa depan.
"Jujur aku masih sangat kecewa dengan kalian. Karena kalian meninggalkanku sendirian dalam kegelapan. Membiarkanku meraba-raba sendirian. Rasanya hatiku selalu sakit setiap kali membayangkan itu.
"Tapi masalahnya aku sudah berjanji pada istriku. Jika aku akan melupakan segala kenangan buruk yang terjadi dimasa laluku. Juga berdamai dengan kalian. Maka baiklah, mulai sekarang kita lupakan saja apa yang terjadi dimasa lalu. Dan kita mulai semuanya dari awal"
__ADS_1
"Itu artinya, kamu mau pulang bersama Mama dan Papa?" Lesti memastikan ucapan anaknya dengan perasaan penuh harap.
"Iya Ma, aku akan pulang bersama kalian" Jawab Rahul dengan seulas senyum.
Lesti memeluk Rahul dengan air mata kebahagiaan. Rahul membalas pelukan ibunya. Helmi dan Gala tersenyum senang karena berhasil menaklukkan Rahul.
"Terima kasih Nak. Mama sangat bahagia akhirnya bisa bersama denganmu lagi"
Rahul melepaskan pelukan ibunya. Lalu dia beralih memeluk ayah dan kakaknya. Mereka saling meminta maaf.
"Rahul, tadi kamu bilang tentang istri. Memangnya kamu sudah menikah?" Tanya Gala penasaran.
"Iya ya. Kamu sudah menikah? Lalu dimana istrimu?" Timpal Helmi.
"Iya Nak, dimana menantu Mama?"
"Dia adadi....."
"Pemirsa, banjir bandang melanda kecamatan xxxx kabupaten A dan menerjang enam desa yang ada di wilayah tersebut. Berikut cuplikannya"
Rahul mengalihkan pandangannya pada televisi yang ada dikamar itu. Dia terpaku melihat gelombang air menerjang dan menenggelamkan perumahan warga yang ada disana.
Rasanya seperti disambar petir disiang bolong, mendengar lokasi kejadian bencana alam itu. Bu-bukankah itu nama desa yang selama ini ditempatinya? Tempat dia bertemu dan menikah dengan Zahra?
Jika benar dan desa itu saat ini sedang dilanda banjir bandang, lalu bagaimana dengan Zahra? Ya Tuhan, apa karena ini Zahra tidak ada kabar dan sulit dihubungi?
********
Sebuah mobil Lexus warna abu-abu berhenti diantara reruntuhan dan puing-puing perumahan yang sudah bercampur melebur dengan lumpur.
Rahul keluar dari mobil itu dengan perasaan ketar-ketir. Terlebih saat dia melihat kondisi tempat itu yang telah luluh lantak dengan tanah dan lumpur.
Jika benar ini tempat yang selama ini dihuninya dan tempat ini sekarang sehancur ini, lalu bagaimana dengan Zahra? Apa dia....?
Gala dan kedua orang tuanya ikut turun dari mobil. Mereka terpaku melihat pemandangan yang terasa menyesakkan itu.
"Kak, Kakak yakin ini tempatnya?" Desak Rahul memastikan.
"Iya aku yakin kok. Ini sesuai dengan lokasi yang kamu sebutkan" Jawab Gala apa adanya.
Dada Rahul terasa semakin sesak mendengar jawaban kakaknya.
"Zahra! Zahra! Kamu dimana?! Zahra!" Rahul berlari menerobos lokasi yang telah rata dengan tanah dan lumpur itu sembari berteriak-teriak memanggil Zahra.
__ADS_1
"Rahul!" Gala mengejarnya dari belakang, Berusaha mendampingi adiknya. Begitupun dengan Helmi dan Lesti.
Rahul tidak sedikitpun menggubris kakak dan kedua orang tuanya. Dia terus berlari dan bertariak-teriak diantara para tim SAR yang sedang berusaha menyelamatkan, dan mengevaluasi para korban yang tertimbun lumpur dan reruntuhan.