
"Jangan tanya padaku. Tanya saja pada suami KW mu itu" celetuk Rahul dengan enggannya.
"Fajar?" Zahra mengernyitkan kening dan bertanya memastikan.
"Ya siapa lagi? Suami-suamianmu itu. Kamu tau, demi mendapatkan bukti itu, aku sampai harus menjadi detektif dan menggeledah ruang kerjanya. Supaya aku bisa membuktikan bahwa kamu adalah istriku, dan aku bisa mendapatkanmu kembali"
"Jadi.... selama ini Fajar, yang mengambil dan menyembunyikan kalung dan cincin ini?" Zahra kembali menatap cincin dan kalungnya.
"Ya.... aku sih tidak tau ya, dia yang mengambil, atau.... ada yang menyerahkannya dengan sukarela, karena merasa terpesona dengan seorang dokter duda dan tampan" Sindir Rahul.
"Maksudmu, aku yang menyerahkannya?" Zahra merasa tersinggung dengan ucapan Rahul yang menurutnya sedang menyindir dia.
"Ya.... Aku tidak bilang begitu ya. Cuma kalau kamu merasa ya.... Mungkin memang begitu adanya" Jawab Rahul dengan santainya.
"Jadi maksudmu aku punya hati pada Fajar?! Dan aku terpesona padanya?! Tega ya kamu menuduhku seburuk itu! Aku bahkan tidak tau apa-apa saat itu. Saat itu hanya dia yang ada disampingku, dan mengaku-ngaku sebagai suamiku. Mana aku tau dia jujur atau tidak! Memoriku saja tidak ada. Kamu pikir aku mau apa, hilang ingatan?! Tidak ingat asal usul. Bahkan namaku sendiri"
Zahra mengomel dengan sewotnya. Tuduhan Rahul telah berhasil membuatnya merasa tersinggung dan sedih. Ekspresi Zahra membuat Rahul ingin tertawa karena merasa sudah berhasil menjahili istrinya. Namun dia berusaha menahannya.
"Boleh aku katakan sesuatu?"
"Apa?!" Tanya Zahra ketus.
"Saat kamu cemberut seperti itu, wajahmu terlihat sangat lucu. Hahaha" Akhirnya tawa Rahul pecah. Membuat Zahra geram dan ingin sekali rasanya dia mencekik leher suaminya, karena sudah berani menjadikan dia sebagai korban kejahilannya.
"Aauww!" Rahul yang sedang asik tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba mengaduh kesakitan saat jari tangan istrinya tiba-tiba mendarat dijidatnya.
"Tu kan, mulai lagi bar-barnya" Gerutu Rahul seraya mengusap-usap dahinya yang sedikit terasa nyeri akibat sentilan jari tangan istrinya.
__ADS_1
"Tu kan, mulai lagi ngeselinnya! Pakai acara ngeprank segala. Dasar menyebalkan" Sungut Zahra yang membuat Rahul gemas melihat wajah merajuk istrinya itu.
"Istriku ngambek. Cup cup cup" Rahul membelai wajah Zahra dan menghujaninya dengan kecupan.
"Jujur ya, sebenarnya, saat pertama kali aku tau siapa kamu, aku memang sempat punya pikiran seperti itu. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa kamu mengaku-ngaku sebagai Shreya, istrinya Fajar. Kenapa kalung dan cincinmu ada padanya.
Kenapa kamu tidak datang dan mengakui dirimu sebagai istriku. Aku berpikir apakah kamu sudah menghianatiku. Aku marah, emosi, cemburu, kecewa. Sampai akhirnya aku sadar, kalau putri Belleku ini.... Tidak mungkin akan menghianati satyanya"
Rahul menempelkan hidung mereka berdua. Kemudian dia mengecup bibir mungil Zahra yang sudah menjadi candunya itu.
"Janji ya, kamu tidak akan pernah meragukan cintaku. Begitupun sebaliknya. Kita akan selalu saling mempercayai. Saling mencintai selamanya" Rengek Zahra sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji" Rahul dengan senang hati menautkan jari kelingkingnya pada jari tangan Zahra. Namun tiba-tiba ponsel Rahul berdering, dan membuyarkan kemesraan mereka.
"Sebentar" Rahul bangkit berdiri dari ranjang Zahra, dan mengangkat panggilan suara dari asistennya.
Membuat Zahra jadi kepo sendiri karena dia tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya melalui ponsel itu. Rahul menutup panggilan suara itu dan kembali mendekati Zahra. Dia duduk diatas ranjang didepan istrinya.
"Kamu mau pergi?" Tanya Zahra.
"Iya, aku harus kekantor. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan sekarang juga" Jawab Rahul yang kembali menggunakan gaya humornya. Sekalipun dia terlihat keras, tegas dan serius saat berbicara diponsel barusan, namun hal itu tidak serta merta dia lampiaskan pada istrinya yang tidak mengerti apapun.
"Tapi kok, wajahmu terlihat serius dan marah begitu? Apa ada masalah?" Zahra mengernyitkan keningnya dan menatap Rahul dengan tatapan menyelidik.
"Biasalah, ada beberapa karyawan yang tidak melakukan pekerjaannya dengan benar. Tentu saja aku marah. Aku harus bersikap tegas kan pada mereka? Agar mereka tidak mengulanginya dan merugikan perusahaan" Rahul terpaksa berkelit.
Zahra manggut-manggut. "Oh... Begitu? Ya sudah, hati-hati ya. Ingat, semarah apapun, mukanya jangan terlalu serius. Kasian karyawannya, nanti pada gemetaran" Seloroh Zahra dengan disertai sedikit nasehat.
__ADS_1
"Siap ratuku. Berikan aku vitamin dulu" Kelakar Rahul sembari menggunakan isyarat hormat, dengan meletakkan tangan kanannya disamping kepala. Kemudian dia memonyongkan bibirnya yang langsung disambut oleh kecupan bibir Zahra.
Setelah puas berciuman dan saling memadu cinta, Rahul meninggalkan istrinya dalam pengawasan pengawal dan perawat dirumah sakit milik keluarga besarnya itu.
*******
Rahul menemui asisten Adam dan anak buahnya di basecamp yang sudah mereka tentukan, untuk menuntaskan permasalahan yang masih belum bisa membuatnya tenang dan puas.
"Jadi kalian orangnya, yang sudah merusak acara tujuh bulanan istriku, hingga membuatnya masuk rumah sakit dengan memutar video itu?" Rahul mencecar dua lelaki berbadan agak besar dan berpakaian tidak rapi, yang tampak seperti berandalan. Dia menatap mereka dengan dingin.
Membuat kedua pria yang sedang berada dalam tawanan anak buahnya itu bergidik ngeri, melihat tatapan kemurkaan Rahul terhadap mereka. Tentu saja mereka tau betul siapa pria itu, dan betapa besar pengaruh Dirgantara group, yang bisa melakukan apa saja terhadap mereka maupun keluarganya.
"Sa-saya mohon tolong maafkan kami Pak. Ka-kami hanya menjalankan perintah...." Jawab salah satu dari kedua pria itu dengan takut dan terbata-bata.
"Siapa yang memerintahkan kalian?!" Sergah Rahul dengan tatapan tajam.
Kedua tawanan itu hanya terdiam dengan wajah menunduk takut. Suasana ditempat itu terasa sangat mencekam bagi kedua lelaki itu. Rasanya mereka seperti dua orang terdakwa yang sedang berhadapan dengan hakim dipersidangan.
"Kenapa diam?! Aku tanya siapa yang memerintahkan kalian untuk mengacaukan acara tujuh bulanan istriku?!! Kalau kalian tidak mau buka mulut, jangan salahkan aku jika keluarga kalian yang harus menanggung akibatnya!!"
Melihat mereka yang bungkam membuat Rahul kehilangan kesabaran, hingga dia membentak dan mengancam kedua lelaki yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada istri dan anaknya itu, dengan kata-kata ancaman yang terlontar begitu saja dari mulutnya.
Suara Rahul yang menggelegar membuat mereka tersentak sekaligus takut dengan ancaman yang dia lontarkan.
"To-tolong jangan libatkan keluarga saya Pak. Mereka tidak salah apa-apa...." Pinta salah satu dari mereka dengan raut wajah memelas.
"Lalu apa salah istriku pada kalian, sehingga kalian tega mengusiknya? Padahal dia sedang hamil" Tukas Rahul dengan dingin.
__ADS_1
"Mmm... Se-sebenarnya.... Ibu Naomi yang menyuruh kami" Akhirnya salah satu dari mereka buka suara dan membeberkan semuanya, lantaran sudah merasa tidak memiliki pilihan lain.