Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 97- Kencan Kita Part 2


__ADS_3

Rahul hanya berdiri dengan santai menyaksikan aktivitas istrinya sembari tersenyum sumringah. Dia membiarkan Zahra melakukan apapun sesuka hatinya. Puas memetik bunga hingga sudah terkumpul banyak dalam genggaman tangannya, Zahra menyodorkan satu tangkai kepada Rahul.


"Untukku?" Tanya Rahul.


Zahra mengangguk. "He em. Satu saja"


"Dasar pelit" Seloroh Rahul seraya menerima tangkai bunga itu dari tangan istrinya.


"Masih untung aku berikan. Daripada tidak sama sekali" Sungut Zahra yang lantas berjalan menjauh. Meninggalkan Rahul yang menatapnya dengan senyum dan geleng-geleng kepala.


Mereka habiskan waktu selama berjam-jam dibawah air terjun yang dikelilingi oleh tumbuhan hijau dan segar itu. Menikmati nuansa relaksasi dan romantis yang terasa sangat nyaman dan membuat betah untuk berlama-lama.


Rahul merasa sangat puas dan bahagia. Melihat senyum bahagia yang senantiasa merekah diwajah istrinya, membuatnya ikut merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


Dulu saat mereka menghabiskan waktu disini, dia masih belum bisa melihat dan mengetahui gambaran pemandangan yang ada ditempat ini. Dia hanya bisa mendengar suara air terjun itu. Begitupun dengan suara tawa dan wajah bahagia Zahra.


Hari ini dia merasa sangat beruntung bisa melihat semuanya. Melihat keindahan alam serta senyum dan tawa lepas istrinya. Semoga kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya, sampai ingatan istrinya kembali agar kebahagiaan mereka menjadi semakin sempurna.


********


Mereka meninggalkan sungai air terjun itu saat hari sudah siang. Kebanyakan bermain air membuat Zahra tampak merasa kedinginan. Sehingga dia terus berpangku tangan sepanjang perjalanan. Berharap dengan melakukan itu akan mengurangi rasa dingin yang menyerangnya.


"Kedinginan?" Tanya Rahul sembari menyetir.


"He em" Jawab Zahra singkat.


"Lagian pakai acara main air segala. Seperti anak kecil saja. Jadinya bajumu sekarang basahkan?"


"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Kan kamu yang mengajakku kesungai itu. Kalau hanya sekedar untuk melihat-lihat pemandangan tanpa perlu merasakan kesejukan airnya, aku bisa melihatnya di TV atau YouTube. Tidak perlu jauh-jauh datang kemari" Zahra mengomel tak karuan.


Lagi-lagi sikapnya membuat Rahul tersenyum gemas. Dia mengambil paper bag yang ada disampingnya dan menyodorkannya pada Zahra. "Nih"

__ADS_1


Zahra menerima paper bag itu. Lalu dia merogoh isinya dengan bingung. Ternyata isinya adalah blus panjang berwarna hitam dengan kombinasi warna pink pada lengan panjang dan bagian dadanya. "Apa ini? blus?"


"Daripada kamu kedinginan pakai baju basah. Jadi ganti saja dengan baju itu"


"Kok kamu bisa punya baju wanita? Kapan belinya?"


"Tidak sekalian kamu tanyakan, siapa penjualnya? Jam berapa aku membelinya?" Celetuk Rahul yang membuat Zahra cekikikan.


Sebenarnya Rahul sengaja membelikan blus itu untuk Zahra. Namun dia masih belum menemukan waktu dan alasan yang tepat untuk memberikannya. Mengingat status hubungan mereka yang masih runyam dan masih belum bisa dia ekspos hingga saat ini.


"Tapi aku harus menggantinya dimana? Masak disini?" Zahra melihat-lihat kesekelilingnya.


"Memangnya kenapa? Ada masalah ganti baju disini?"


"Dasar! Kalau bicara jangan asal. Kamu pikir aku cabe-cabean sampai ganti baju dalam mobil ditengah jalan seperti ini? Mana ini mobil atapnya sedang terbuka lagi. Ditambah disini ada kamu. Keenakan dong, itu mata mesumnya" lagi-lagi sikap Rahul membuat Zahra kembali mengomel.


"Enak aja bilang aku mesum"


"Kalau bukan mesum lalu apa namanya? Berkali-kali menciumku. Untung saja suamiku tidak melihat perbuatanmu. Kalau tidak, dia pasti sudah menghajarmu habis-habisan"


"Kata siapa?"


"Buktinya, berkali-kali aku menciummu. Tapi sikapmu selalu biasa saja. Tidak pernah marah ataupun menamparku. Itu artinya apa? Kamu meleleh setiap kali menerima ciumanku"


"Memangnya aku lilin sampai meleleh segala? Lagipula.... bagaimana bisa aku menamparmu? Nanti yang ada malah aku yang ditampar balik. Kamu kan lelaki. Badan besar dan tinggi" Zahra berkilah dengan malu.


"Alasan. Kamu pikir aku tidak ada kerjaan, hingga bisa bertindak pengecut dengan menampar seorang wanita? Lagipula aku juga sudah sering kok, dihajar oleh wanita. Tapi aku tidak pernah membalasnya"


"Oh ya? Bagaimana ceritanya?" Tanya Zahra merasa tertarik.


"Ya.... Seperti yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Ketika disungai tadi. Kakiku diinjaklah oleh seorang perempuan. Tapi aku tidak pernah membalasnya tuh" Sindir Rahul. Membuat Zahra langsung memasang wajah masam.

__ADS_1


"Itu karena kamu sendiri yang ngeselin. Jadi perempuannya ikut darah tinggi menghadapi pria sepertimu" Zahra berkata dengan sewot. Membuat Rahul cekikikan.


"Iya deh. Perempuan memang selalu benar. Didepan sana ada mesjid. Kamu bisa ganti baju dalam toiletnya. Kalau tidak mau dilihatin olehku"


"Lagipula siapa juga yang mau dilihatin oleh pria sepertimu. Tapi bagus juga sih, ada mesjid disekitar sini. Sebentar lagi mau masuk waktu zhuhur. Jadi kita bisa sekalian sholat"


"Ide bagus. Kita sholat dulu disana" Ujar Rahul dengan wajah berbinar-binar. Beberapa saat kemudian, mobil pun berhenti.


"Lho, kok berhenti? Kan kita belum sampai dimesjidnya?" Tanya Zahra bingung. Namun bukannya menjawab, Rahul malah membuka jaket yang dikenakannya.


"Kamu mau apa buka baju?" Zahra bertanya dengan was-was. Pikiran-pikiran negatif mulai kembali singgah dikepalanya.


Rahul mendekatkan dirinya pada Zahra. Membuat tubuh wanita itu seketika menjadi tegang dan dadanya ikut berdebar-debar menatap Rahul. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh lelaki itu? Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menciumnya lagi seperti yang sudah-sudah?


Apa yang harus dia lakukan? Apa Rahul tidak sadar jika sekarang mereka sedang berada ditengah jalan? Bahkan mobil ini atapnya terbuka. Bagaimana jika ada orang atau kendaraan yang lewat lalu melihat mereka?


Semoga Rahul tidak melakukan hal-hal gila seperti itu lagi disini.


Dan segala macam pikiran buruknya pun meleset. Karena ternyata yang dilakukan Rahul adalah menyelimuti tubuhnya dengan jaketnya.


"Pakai ini dulu sampai kita tiba dimesjid. Supaya kamu tidak terlalu merasa kedinginan" Ucap Rahul santai. Membuat Zahra menatapnya dengan terpana. Sementara Rahul kembali fokus menyetir untuk melanjutkan perjalanan.


********


Mereka tiba disebuah mesjid minimalis sekitar dua puluh lima menit kemudian. Keduanya langsung mengambil wudhu dan melaksanakan sholat zhuhur bersama para jemaah yang lain.


Usai sholat Rahul kemudian berdoa. Mengucapkan rasa syukurnya pada Tuhan yang telah menunjukkan keajaibannya dengan mengembalikan Zahra padanya. Sehingga sekarang mereka bisa melakukan ibadah dalam satu mesjid. Dia tidak akan pernah berhenti mengucapkan syukur atas anugerah terbesar itu.


Namun dia masih memiliki satu doa yang akan selalu dia panjatkan dalam setiap sujudnya. Yaitu doa agar Tuhan menyembuhkan Zahra seperti sedia kala. mengembalikan ingatan istrinya supaya wanita itu bisa kembali mengingatnya sebagai seorang suami. Bukan sebagai orang asing. Sebagai imam dalam hidupnya. Bukan sebagai selingkuhan yang memiliki hubungan terlarang dengannya.


Dia sudah sangat rindu wanita itu memeluk dan menciumnya dengan perasaan bahagia seperti dulu. Bukan dengan perasaan sedih atau bersalah pada orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Memanggilnya dengan sebutan suami atau Satya lagi seperti dulu. Rahul mengusapkan kedua telapak tangan kewajahnya.

__ADS_1


Usai berdoa, dia kemudian menyusul istrinya pada bagian shaf wanita. Namun dia tidak menemukan sosok Zahra diantara para jemaah wanita yang sedang merapikan mukena dan sajadahnya masing-masing sembari berbincang-bincang.


Rahul menjadi sedikit panik. Kemana Zahra? Kenapa dia tidak bisa menemukannya diantara para jemaah wanita itu?


__ADS_2