Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 25- Pameran festival


__ADS_3

"Maaf ya Bu, Ra. Aku tidak bisa membantu apapun" Ujar Rahul lirih.


"Kamu tidak perlu minta maaf Nak. Ini masalah keluarga kami. Jadi kami yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Justru seharusnya Ibu yang minta maaf. Lantaran sudah membuatmu berurusan dengan juragan Sigit karena masalah ini" Jawab Bu Sakinah cepat.


Sebenarnya, lima ratus juta bukan nominal yang besar bagi Rahul. Itu jika dia masih menjadi bagian dari keluarga Dirgantara.


Tapi sekarang, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang pria biasa yang bekerja sebagai pengrajin dipabrik gitar. Mustahil dia bisa mendapatkan uang tiga ratus juta, dalam waktu satu minggu untuk membantu mereka. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?


********


"Apa sih Yan?" Protes Zahra kesal saat tangannya ditarik Yanti menuju ujung koridor.


"Tu, gebetanmu sudah menunggu dari tadi" Dengan senyum jahil yang mengembang diwajahnya, Yanti menunjuk bagian ujung koridor.


Zahra mengikuti arah pandangan Yanti. Dan matanya langsung menangkap sosok pria yang sangat familiar baginya. Siapa lagi kalau bukan Rahul. Tumben dia kesini.


"Kalau bicara jangan asal. Dia temanku, bukan gebetanku" Sanggah Zahra jengkel.


"Oh..... teman? Maksudnya TTD?" Yanti tersenyum menggoda.


"Apa itu?" Zahra mengernyitkan kening.


"Teman tapi demen"


Senyuman menyebalkan yang menghiasi wajah siresek Yanti, membuat Zahra semakin jengkel melihatnya. Hingga dia melepaskan sepatunya dan mengangkatnya keatas. Ingin melemparnya kewajah Yanti.


"Pergi gak"


"Have fun ya. Hahaha!" Yanti berlari dengan tawa penuh ledekan.


Zahra menghela nafas berat melihat tingkah laku sahabatnya itu, sebelum berjalan menghampiri Rahul.


"Ehem" Zahra berdehem. Mengagetkan Rahul yang sedari tadi berdiri menunggunya.


"Hai" Rahul tersenyum manis.


"Sudah lama disini?"


"Ya..... lumayan. Tadi aku bertanya pada salah satu temanmu. Katanya sedang ada operasi. Jadi aku tunggu saja disini"


"Oh..... kamu tidak kepabrik?"


Rahul menghela nafas dan memiringkan kepalanya. "Inikan sudah sore. Tentu sudah waktunya pulang"


"Oh....."


"Kamu sendiri, belum pulang? Bukankah hari ini shiftmu dari pagi? Inikan sudah sore?" Tanya Rahul balik.


"Aku lembur"


"Lembur, tumben? Apa ini ada hubungannya, dengan hutangmu pada juragan Sigit?" Tanya Rahul menyelidik.

__ADS_1


Tentu dia masih ingat betul insiden kedatangan dan sikap bar-bar rombongan rentenir yang mengamuk, hingga terlibat perseteruan dengannya. Dan ini sudah tiga hari berlalu dari insiden itu. Tinggal empat hari lagi batas waktu yang diberikan rentenir itu. Entah darimana mereka akan mendapatkan uang tiga ratus juta dalam waktu sedekat itu.


"Kamu bawa apa itu?" Zahra menunjuk kantong plastik berisi ditangan Rahul. Lebih tepatnya, dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, agar pria itu tidak lagi membahas masalah rentenir maupun hutangnya.


"Ini, aku bawa batagor. Tadi waktu dijalan kesini ada penjual keliling. Jadi aku beli saja dua. Kamu mau?" Rahul mengangkat kantong plastik berisi ditangannya kedepan.


"Tentu saja. Inikan makanan kesukaanku. Thank you" Zahra tersenyum ceria seraya merenggut kantong itu dari tangan Rahul.


"Yuk, kita makan ditaman belakang saja"


"Ayo"


********


"Yah....." Keluh Zahra menatap kotak Styrofoam yang sudah kosong ditangannya.


"Kenapa?"


"Habis...."


"Hah. Belum juga setengah jam, dan kau sudah menghabiskan sekotak batagor itu? Ya Tuhan.... Ternyata gadis ini rakus juga ya"


Celaan Rahul membuat Zahra menyipitkan mata, dan menautkan kedua jarinya untuk menyentil kening Rahul.


"Aaaw! Kebiasaan ya, dikit-dikit main sentil" Gerutu Rahul sembari mengusap keningnya yang disentil Zahra barusan.


"Makanya, kebiasaan mencelaku jangan dimulai terus. Huh, dasar. Namanya juga makanan favorit. Ya wajarlah kalau doyan banget. Jika tidak mau memberi ya sudah. Tidak perlu bergunjing" Gerutu Zahra kembali.


"Serius, ini untukku?" Zahra menerima batagor itu dengan senyum sumringah.


"Ya mau bagaimana lagi. Daripada aku terus jadi korban sentilanmu hanya gara-gara batagor ini. Atau lebih parahnya lagi, jika sampai kau menangis. Lalu ada yang lewat dan melihat. Nanti dikiranya aku macam-macam lagi" kelakar Rahul.


"Uhg...." Zahra mendorong pundak Rahul. "Memangnya aku anak kecil, sampai menangis segala?"


"Oh ya, tadi aku dengar dari teman-teman dipabrik, katanya malam ini ada acara pameran festival didesa sebelah. Kita kesana yuk. Kan, kita juga butuh hiburan sekali-kali" Ajak Rahul.


"Malam ini?"


"Iya"


"Kau pergi sendiri saja. Aku tidak bisa, karena kan harus lembur"


"Aku tahu kau sedang butuh uang, untuk melunasi hutang-hutangmu. Tapi bukan berarti kau harus bekerja keras siang dan malam tanpa henti. Kau juga butuh istirahat. Jika tenagamu terus diforsir tanpa jeda, yang ada kau malah sakit" Tegur Rahul.


"Tidak apa-apa aku yang sakit, asal jangan Ibu. Aku tahu betul seperti apa juragan Sigit. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Karena itulah, aku harus bisa melunasi hutang itu dalam waktu satu minggu. Jika tidak ya..... mungkin mau tidak mau aku harus menikah dan menjadi istri keempatnya. Sebenarnya aku sudah pasrah, jika memang itu sudah menjadi bagian dari takdirku. Tapi aku yakin, Ibu pasti tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karena aku tahu betul seperti apa Ibuku. Dan aku tidak bisa membiarkan, dia sampai terluka ditangan rentenir itu"


Zahra tersenyum sendu. Membuat Rahul jadi merasa bersalah, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu masalah hutang wanita itu.


"Ya sudah baiklah. Jika kau bersikeras ingin mengumpulkan uang itu dalam waktu satu minggu, aku tidak akan menghalangimu. Tapi malam ini saja, temani aku keacara pameran festival itu. Aku ingin sekali kesana. Tapi kau tahu sendirikan? aku tidak mungkin pergi sendirian. Ya, aku mohon"


Rahul menasehati dan terus membujuk dengan tampang memelas. Membuat Zahra jadi tidak tega lagi untuk menolaknya.

__ADS_1


"Huh" Zahra menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Baiklah. Tapi malam ini saja ya"


"Siap bos, thank you" Rahul tersenyum manis.


"Uhg, dasar" Zahra mendorong pipi Rahul.


"Sudah ah, aku mau makan lagi" Zahra kembali melahap batagornya.


Sementara Rahul merasa senang karena rencananya untuk mengajak Zahra keluar berhasil. Meskipun dia tidak bisa membantu dalam masalah finansial, namun setidaknya dia bisa menghibur gadis itu kan? Membantunya mendapatkan suasana, baru yang bisa membuat pikirannya sedikit tenang.


**********


"Sudah sampai?" Tanya Rahul saat mereka memasuki gedung pameran itu.


"Iya. Oh ya, kau masuk saja duluan. Aku mau beli cemilan dan minuman dulu"


"Yakin, tidak mau ditemani?"


"Iya, aku bisa sendiri. Hanya beli cemilan saja. Sudah sana masuk" Kata Zahra dengan nada memerintah.


"Ya sudah" Rahul menaikkan alisnya Sebelum melangkah menjauhi Zahra.


Keduanya pun berjalan kearah yang berlawanan. Rahul menuju barisan penonton. Sedangkan Zahra menuju bazar makanan untuk mendapatkan cemilan dan minuman.


Festival itu diselenggarakan oleh pihak perusahaan dari negara India. Oleh sebab itu, sepanjang gedung acara dipenuhi dengan nuansa India. Mulai dari pernak pernik serta hiasan ruangan. Makanan maupun pertunjukan yang dipamerkan. Juga penampilan para panitia acara.


Suasana didalam gedung pameran itu sudah lumayan ramai, dengan kehadiran para pengunjung yang terus bertambah. Sehingga para pengunjung yang singgah kebazar harus ikut antri, dan bersabar dalam mendapatkan apa yang ingin dibelinya.


Begitupun dengan Zahra yang tampak berdiri dengan tenang. Berbaur dengan para pengunjung lain. Mengantri didepan lapak bazar makanan. Menunggu hingga tiba gilirannya mendapatkan cemilan dan minuman yang diinginkannya.


"Selamat malam para hadirin sekalian! Senang sekali rasanya pada malam hari ini, saya dapat menyapa kalian semua! Dalam acara, pameran festival India!!"


Suara pembawa acara menggema memenuhi setiap penjuru balai acara. Yang disambut dengan suara tepuk tangan meriah dari para pengunjung.


"Dan pada kesempatan kali ini! Kami juga mengadakan pertunjukan gulat! Yang mana, pemenangnya akan mendapatkan hadiah sebesar 1 milyar rupiah plus, dua tiket liburan ke India!! Dan! Mari langsung saja kita sambut! Ini dia, sang juara yang sudah lima kali berturut-turut berhasil memenangkan piala emas dalam ajang gulat se-India! Gautam Phogat!!"


Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Zahra yang masih berbaur dengan pembeli lain, masih tetap fokus pada antriannya. Tanpa menghiraukan seruan sipembawa acara itu. Sekalipun dia mendengarnya dengan jelas suara dibalik microphone yang digunakan pria pemandu acara itu.


"Siapapun dia diantara kalian yang bisa mengalahkannya! Maka hadiah sebesar 1 milyar dan 2 tiket liburan ke India, akan menjadi milik anda! Jangan lewatkan kesempatan ini! Bayangkan, anda liburan bersama pasangan tercinta! Menikmati keindahan alam yang tercipta dinegara Hindustan! Ayo! Ada yang berminat?! Siapapun!"


Pembawa acara mencoba mengiming-imingi para pengunjung, untuk ikut dalam kompetisi gulat itu. Dengan imbalan hadiah yang menggiurkan.


Zahra masih tetap tak bergeming dengan apa yang terjadi diarea ring itu. Entah siapa yang akan tergiur untuk mengikuti kompetisi itu. Jika dipikir-pikir, satu milyar adalah jumlah yang cukup fantastis. Bahkan jauh lebih dari cukup, kalau hanya untuk membayar hutang-hutangnya pada juragan Sigit.


Tapi caranya terlalu sulit. Harus bertarung dan mengalahkan seorang pegulat handal, yang sudah memiliki jam terbang tinggi? Mustahil dia bisa melakukannya. Dia hanya seorang wanita yang tau bumbu dapur, obat-obatan dan cara merawat orang sakit. Yang ada bukannya mendapatkan hadiah uang, tapi malah mendapatkan perawatan intensif dirumah sakit.


Tanpa terasa, penantiannya pada minuman segar dan makanan ringan pun berakhir, saat pikirannya sedang asik melantur.


"Dan ya, ini dia! Siapa namamu?!"


"Rahul Aryan"

__ADS_1


Zahra yang baru saja mendapatkan makanan dan minuman yang sedari tadi ditunggunya, seketika langsung terkesiap, mendengar suara dan nama yang sangat familiar ditelinganya.


__ADS_2