Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 67- Permintaan Shreya


__ADS_3

Bu Zaitun terus mempengaruhi Shreya. Mencoba mengisi kepala perempuan itu dengan kisah Fajar dan mendiang istrinya.


Dia sangat berharap agar wanita itu bisa terpengaruh dengan ucapannya. Lalu perlahan-lahan dia akan membuka hatinya untuk Fajar. Yang dikatakan Tuan Fajar mungkin ada benarnya. Wanita itu bisa saja masih memiliki suami yang saat ini sedang mencarinya.


Dia berharap saat hari itu tiba, perempuan ini sudah jatuh cinta pada Fajar. Dan dia akan lebih memilih lelaki itu ketimbang suaminya. Semoga saja.


Dia tau pikirannya itu terlalu egois dan jahat. Karena pasti akan ada hati yang tersakiti. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Tapi dia lebih memilih orang lain yang sakit, bukan Tuan Fajar.


Dia hanya ingin tuan mudanya itu bahagia, bersama wanita yang telah berhasil membuatnya melupakan kesedihan dan keterpurukannya usai ditinggal mati oleh istrinya.


Karena dia sudah menganggap Fajar seperti anaknya sendiri. Jadi dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Fajar. Walaupun mungkin cara yang ditempuhnya itu salah.


Sementara Shreya hanya terdiam menanggapi perkataan kepala pelayan itu. Perasaan bersalah menerjangnya. Apakah sikapnya terhadap Fajar tadi siang sudah sangat keterlaluan? Apakah dia sudah berdosa karena mengabaikan lelaki yang berstatus sebagai suaminya sendiri dan malah sibuk memikirkan pria lain?


Kalau boleh memilih, dia juga tidak ingin berada dalam posisi ini. Posisi sulit yang membuatnya begitu tersiksa. Dia sudah berusaha keras membuka hatinya untuk Fajar, dan melupakan Rahul.


Tapi semakin dia berusaha, perasaan itu justru semakin kuat. Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendekatkan dirinya dengan Fajar, dan melupakan semua yang berhubungan dengan Rahul? Apa dia bisa melakukannya?


********


Fajar sedang berkutat dengan pekerjaannya saat pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.


"Masuk" Tanpa menoleh kearah pintu, Fajar mempersilahkan sipengetuk pintu untuk masuk.


"Selamat malam"


"Malam" Suara lembut itu membuat Fajar tersentak. Dan dia langsung menoleh kearah pintu.


Dan tampaklah Shreya yang baru masuk dan berdiri didepan pintu, dengan tangan memegang cangkir yang entah isinya kopi atau teh. Dia tidak terlalu memikirkan itu. Matanya terlalu fokus menatap Shreya yang entah ada angin apa tiba-tiba wanita itu menghampirinya keruang kerja.


"Eh, Shreya. Ayo masuk"


Shreya pun berjalan kedepan meja Fajar.


"Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin membawakan kopi susu coklat untukmu Kata Bu Zaitun, ini adalah kopi kesukaanmu yang dulu sering aku buatkan" Shreya berusaha agar suaranya terdengar biasa saja.

__ADS_1


Sebenarnya dia merasa canggung harus bersikap seperti ini terhadap lelaki itu. Tapi dia harus bisa menahannya. Toh lelaki itu adalah suaminya. Jadi dia harus bisa berusaha sekeras mungkin agar bisa membuka hatinya untuk Fajar.


Sementara Fajar termangu. Ternyata Bu Zaitun sudah menceritakan kebiasaan istrinya pada wanita itu. Dari lubuk hatinya yang terdalam Fajar merasa bersalah. Karena sudah terlalu jauh membohongi perempuan polos dan tidak tau apa-apa itu.


Seolah dia sudah mempergunakan kondisi amnesia perempuan itu, untuk memperdayai pikirannya.


"Fajar. Fajar"


"Mmm, iya" Fajar tersentak dan tersadar dari lamunannya.


"Kenapa? Kamu tidak suka kopinya? Apa perlu aku ganti saja?"


"Ti-tidak usah. Aku sangat menyukainya. Sini, aku akan minum" Fajar meraih cangkir kopi dari tangan wanita itu dan langsung meneguknya.


"Enak sekali. Terima kasih"


"Apa rasanya masih sama seperti dulu?"


"Mmm.... Ya, tentu saja. Rasanya masih sama seperti dulu. Kan kamu yang membuatnya" Fajar tersenyum gugup.


Shreya tersenyum cerah. Merasa puas dengan jawaban lelaki itu. "Syukurlah kalau begitu. Oh ya, soal tadi siang, aku minta maaf. Aku tau tidak seharusnya aku bersikap seperti itu terhadapmu. Seharusnya sebagai seorang istri, aku lebih bisa menghargaimu sebagai suamiku. Kamu berhak melakukan apapun terhadapku. Tapi kalau bisa, aku ingin minta sesuatu" Shreya berkata dengan lirih.


"Kamu mau minta apa? Katakan saja. Aku pasti akan memberikannya"


Shreya berjalan perlahan menuju sofa. Lalu dia menghenyakkan pinggulnya diatas sofa itu. Fajar menyusulnya dan ikut duduk diatas sofa disamping perempuan itu. Dengan sabar dan penuh rasa penasaran, Fajar menuggu Shreya menyampaikan keinginannya.


"Aku hanya meminta kesabaranmu. Kesabaran untuk menungguku, setidaknya..... sampai ingatanku kembali. Karena jujur, untuk saat ini.... hatiku masih belum bisa menerimamu sepenuhnya. Aku tau ini salah. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya ingin ingatanku kembali dulu. Agar aku bisa memahami segalanya. Apakah.... Kamu bisa bersabar menunggu itu?"


Shreya berusaha berbicara sepelan mungkin. Sebenarnya dia ragu dan takut lelaki itu akan merasa sakit hati. Namun dia juga tidak bisa gegabah, karena hatinya masih berkata lain. Dia sangat berharap pria itu bisa mengerti dan menerima permintaannya.


Fajar kembali terdiam. Jika ingatan wanita itu kembali, maka dia akan tau semuanya. Dia akan tau bahwa mereka berdua bukanlah suami istri. Saat itu terjadi, apakah wanita itu akan meninggalkannya dan pergi untuk mencari suaminya yang sesungguhnya?


Seharusnya dia senang jika wanita itu bisa bersatu kembali dengan suaminya. Tapi, kenapa dia malah merasakan sebaliknya. Merasa takut dan gelisah. Mungkinkah ini perasaan seorang pria yang takut kehilangan perempuan yang dicintai?


"Fajar. Fajar" " Shreya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Fajar.

__ADS_1


"Eh iya" Fajar kembali tersentak dari lamunannya.


"Kenapa? Apa aku salah bicara? Apa kamu keberatan dengan permintaanku?" Tanya Shreya ragu dan takut jika Fajar akan tersinggung dengan ucapannya.


"Mmm.... Keberatan? Tentu saja tidak. Apapun yang kamu minta, pasti akan aku berikan. Dengan senang hati aku akan menunggu sampai ingatanmu kembali"


Shreya tersenyum cerah. "Terima kasih banyak atas pengertianmu. Aku sangat menghargainya. Tidak heran kenapa aku bisa menerimamu sebagai suamiku. Karena kamu adalah lelaki yang baik. Aku sangat menyesal, karena sampai saat ini aku masih belum mengingat apapun tentangmu. Aku hanya berharap, agar ingatan itu segera kembali. Agar aku bisa mengingat, bagaimana kenanganku bersama suami sebaik kamu"


Shreya berkata dengan lirih. Membuat Fajar tersenyum simpul. Betapa mengharukannya kata-kata itu. Seandainya perempuan itu adalah istrinya, dan dia mengatakannya dalam keadaan sadar, pasti Fajar akan merasa senang tiada tara mendengarnya.


Namun sayangnya, dia hanya istri palsunya. Dan wanita itu juga mengatakannya dalam keadaan amnesia. Jadi ucapan yang dilontarkan perempuan itu hanya semakin menambah rasa bersalah dan sakit hatinya.


"Iy-iya. Aku juga begitu"


*******


Sudah hampir satu bulan sejak Shreya kembali ke Magelang. Dan sejak itu pula, Rahul hanya bisa merenungi hari-harinya yang nestapa. Memendam rindu yang entah sampai kapan akan reda atau tersalurkan.


Meskipun dia sudah berusaha menyibukkan dirinya dengan perusahaan, bertemu rekan bisnis, bepergian keluar kota atau negeri untuk masalah perusahaan. Dia berharap kesibukan itu akan membuat pikirannya teralihkan dari Shreya, maupun segala masalah yang berkecamuk dipikirkannya.


Namun usahanya seakan percuma. Karena pada kenyataannya bayangan Shreya senantiasa mendominasi hati dan pikirannya. Wajah cantik, mata bulat dengan bulu yang lentik, bibir mungil, tawa dan tangisan perempuan itu selalu hadir kapanpun dan dimanapun dia berada.


Setiap kali dia masuk dapur dan melihat orang yang sedang asik dengan aktivitas memasaknya, pasti ingatan saat Shreya kerepotan memasak dengan rambut panjangnya yang terurai kewajahnya akan selalu hadir.


Senyum sumringah serta ucapan terima kasih yang dilontarkan wanita itu, saat dirinya datang dan membantu dengan menguncir rambut panjang dan bergelombang itu.


Begitupun saat dirinya berada dimeja makan dan berbaur bersama anggota keluarganya. Yang selalu muncul dibenaknya hanya bayangan saat dia menghabiskan waktu bersama Shreya dimeja makan itu.


Bagaimana wanita itu membuat masakan untuknya, yang rasanya sama persis dengan masakan Zahra. Iya, sampai sekarang dia masih tidak mengerti, bagaimana dua perempuan itu bisa membuat dan memiliki keterampilan yang sama persis?


Entahlah, dia tidak ingin terlalu ambil pusing akan hal itu. Yang jelas saat ini, dia sangat ingin bertemu dengan Shreya. Rindu ini benar-benar bisa membunuhnya jika tidak pernah tersalurkan.


Setiap kali dia melihat lelaki botak, pasti perasaannya akan campur aduk. Antara tersenyum lucu dan sedih. Lucu bila mengingat bagaimana dia harus melakukan hal konyol dengan mengelus-elus kepala licin, dan menjadi tontonan serta tawaan banyak orang seperti badut, demi memenuhi keinginan perempuan hamil itu.


Sedih karena wanita yang memintanya melakukan hal yang memalukan itu bukanlah miliknya. Kenyataan yang pahit, namun harus tetap diterimanya.

__ADS_1


__ADS_2