Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 62- Meratapi Kepergianmu


__ADS_3

Shreya memegangi permata diamond yang terdapat pada bagian tengah kalung itu dengan perasaan hampa.


Sekilas bayangan kembali melintas dikepalanya. Bayangan sesosok pria yang tampak sedang menyematkan kalung kelehernya. Bayangan itu membuat kepalanya terasa pusing. Sebelum dia ambruk, Fajar dengan sigap sudah menangkapnya.


"Shreya, hey? Are you oke? Apa kamu sakit?" Tanya Fajar dengan cemas. Tangan kanannya menahan tubuh Shreya dari belakang. Sedangkan tangan kirinya memegang lengan wanita itu.


"Aku.... Aku" Shreya tidak sengaja menoleh kearah pintu. Dimana Rahul sedang berdiri memandangi mereka dengan raut wajah yang menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.


Melihat tatapan pria itu, yang seakan menyatakan ketidak relaannya melihat dirinya bersama Fajar, membuat membuat dada Shreya kembali terasa sesak.


Sampai pada akhirnya Rahul berbalik dan menjauhi kamar itu. Shreya yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, spontan melangkahkan kakinya hendak mengejar Rahul.


"Shreya. Kamu mau kemana?" Fajar menahan lengan Shreya hingga langkah wanita itu langsung terhenti.


"Mmm.... A... aku mau ambil minuman sebentar didapur. Aku haus" Shreya melepaskan lengannya dari cekalan tangan Fajar. Lalu dia kembali meneruskan langkahnya untuk keluar dari kamar itu. Meninggalkan Fajar yang semakin tidak mengerti dengan sikap anehnya.


********


Shreya terus saja mengejar Rahul hingga keruang tengah.


"Rahul" Tegur Shreya sendu.


Suara wanita itu spontan membuat Rahul terkesiap dan terhenti langkahnya. Dia berbalik dan melihat Shreya sudah berdiri dibelakangnya.


"Iya. Hari ini kamu akan kembali ke Magelang ya? Nanti sesampai disana, jaga dirimu baik-baik ya. Jaga Boy juga. Jaga kesehatan kalian. Makan yang banyak dan bergizi ya. Ingat, Boy butuh asupan nutrisi darimu untuk pertumbuhannya.


Oh ya satu lagi, nanti kalau kamu ingin naik atau turun, jangan lewat tangga. Gunakan lift saja. Itu lebih aman untukmu. Aku tidak ingin insiden kemarin sampai terulang lagi. Aku tidak ingin kamu dan Boy celaka dan masuk rumah sakit lagi. Minta Fajar agar menjaga dan memperhatikanmu dengan baik. Karena dia adalah suamimu. Hati-hati dijalan ya. Sampai jumpa"


Rahul berkata dengan sendu. Matanya tampak berkaca-kaca dibalik senyuman yang berusaha dia tampilkan untuk menutupi kesedihannya.


Usai mengucapkan kata-kata perpisahan yang terasa menyayat hati, Rahul kembali berbalik dan berjalan. Meninggalkan wanita itu yang tidak kuasa lagi membendung air matanya.


"Rahul" Shreya hendak mengejar Rahul lagi. Namun kali ini, dia mampu menahan diri untuk tidak meneruskan langkahnya.


********


Pagi itu Fajar pamit pada Helmi dan Lesti untuk kembali ke Magelang bersama Shreya.


"Jadi kalian akan berangkat sekarang juga" Lirih Helmi.

__ADS_1


"Iya Om, kami harus kembali ke Magelang sekarang. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak ya. Karena selama aku pergi, kalian semua sudah menjaga Shreya dengan baik disini" Fajar menyampaikan ungkapan terima kasihnya dengan tulus.


"Ah sudahlah. Kita inikan sudah seperti keluarga. Jadi memang sudah seharusnya saling menjaga" Ujar Helmi.


"Kalian hati-hati ya dijalan. Jangan lupa, sering-sering datang kemari lagi. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian berdua" Timpal Lesti yang merasa berat melepas kepergian Fajar dan Shreya.


"Iya Tante, insya Allah nanti akan kami usahakan ya, untuk bisa kesini lagi. Tapi.... Om dan Tante juga dong, sekali-kali datang ke Magelang. Masak hanya pintu rumah kalian saja yang selalu terbuka untuk kami. Kami kan juga akan selalu membuka pintu rumah kami untuk kalian" Seloroh Fajar.


Sementara Shreya hanya terdiam dengan seulas senyum terpaksa. Dia menengadahkan wajahnya keatas balkon. Dimana Rahul yang sedang memperhatikan mereka yang sedang berkumpul dipekarangan depan rumah.


Melihat tatapan sendu yang ditampakkan dari sorot mata pria itu, membuat hati Shreya lagi-lagi terasa hancur. Andai pria itu mendatanginya, dan mencegahnya untuk pergi, pasti dia akan merasa sangat bahagia.


Walaupun mungkin, hal itu tidak akan pernah bisa mengubah keadaan. Karena dia tetap harus memilih untuk ikut Fajar. Karena bagaimanapun, lelaki itu adalah suaminya.


"Hehe. Kamu ini bisa saja. Iya nanti kami usahakan ya untuk mampir ketempat kalian sekali-kali"


"Benar ya Om"


"Iya"


"Oh ya Om, Tante, Kak Gala dan Rahul kemana ya? Dari tadi aku tidak melihatnya. Aku kan juga ingin pamit dengan mereka berdua"


"Mmm.... Tadi pagi Gala pamit, katanya mau kerumah mertuanya bersama Amora. Kalau Rahul, mungkin dia sedang sibuk. Tidak apa-apa, biar nanti Tante saja yang sampaikan pada mereka"


Wanita yang telah mengkhianati Fajar dan membawa pengaruh buruk pada Rahul? Dua orang yang memiliki kedudukan yang sama dihati mereka, yaitu sama-sama sebagai anak. Hati Shreya terasa mencelos jika membayangkan hal itu terjadi.


"Oh... Ya sudah kalau begitu. Tolong sampaikan salamku pada mereka ya Tante. Katakan juga, kalau nanti mereka ke Magelang, jangan lupa singgah kerumah kami. Kami pasti akan menyambut mereka dengan baik disana"


"Iya nanti pasti Tante sampaikan" Lesti mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit ya Om, Tante" Fajar menyalami tangan Helmi dan Lesti dengan sopan.


"Hati-hati ya Nak" Ujar Helmi lembut.


"Om, Tante, aku pamit ya" Shreya pun ikut menyalami tangan sepasang suami istri itu.


"Hati-hati ya sayang. Jaga diri baik-baik. Jaga juga sikecilmu ya. Semoga dia sehat terus didalam sini, sampai waktunya tiba untuk dia lahir" Lesti mengelus-elus perut bulat Shreya, lalu membelai wajah wanita itu dengan lembut.


Hatinya terasa begitu berat untuk melepas kepergian perempuan itu. Meski Shreya baru beberapa hari datang kerumahnya, namun dia sudah merasa sangat sayang pada wanita muda itu.

__ADS_1


Terlebih lagi setiap kali dia melihat dan memegang perut buncit perempuan itu. Hatinya terasa hangat. Seakan dia juga sudah merasa sayang pada janin yang ada dibalik perut itu.


"Iya Tante"


Fajar berjalan masuk kedalam mobil. Begitupun dengan Shreya, yang perlahan-lahan membuka pintu mobil. Namun matanya terus memandangi Rahul yang masih berdiri diatas balkon, dan menatapnya dengan ekspresi yang sama.


Ekspresi itu seolah mengatakan padanya 'jangan pergi, aku tidak bisa jauh darimu'.


Dan tatapan itu selalu membuat hatinya serasa lemah dan berat untuk melangkah. Dengan mengeraskan hatinya, akhirnya Shreya masuk kedalam mobil yang langsung melaju meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.


Rahul yang sedari tadi hanya berdiri mematung dibalkon menatap kepergian Shreya, akhirnya tidak sanggup lagi untuk menahan diri. Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari sekencang mungkin menuju tangga. Menuruni satu anak tangga demi anak tangga lainnya.


Setelah semua undakan itu habis dipijakinya, akhirnya dia tiba dilantai bawah. Namun langkah kakinya sontak terhenti. Atas dasar apa dia mengejar perempuan itu? Dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghentikan kepergian Shreya. Karena yang membawa pergi wanita itu adalah suaminya sendiri.


Alasan apa yang bisa dia gunakan, untuk mencegah seorang suami membawa pulang istrinya sendiri? Justru dialah lelaki tidak tau diri, yang tega menjadi orang ketiga dalam pernikahan sahabatnya sendiri!


Rahul menengadahkan wajahnya. Mengerjab-ngerjabkan matanya. Menahan cairan yang hampir tumpah dari matanya yang tampak memerah.


Lagi-lagi dia hanya bisa pasrah menjadi pecundang, yang harus menerima kekalahan dalam hidupnya. Saat wanita yang dicintainya harus kembali meninggalkannya untuk kesekian kali.


********


Mobil yang dikendarai Fajar melaju dengan batas kecepatan normal. Sepanjang perjalanan, Shreya hanya terdiam dan termenung dengan posisi tubuh yang bersandar pada badan jok mobil.


Hati dan pikirannya terus terisi oleh Rahul. Tatapan sendu dan kecewa yang dia lihat dengan jelas Dimata pria itu, rasanya selalu membuat dadanya sesak. Membuatnya merasa tidak sanggup untuk pergi.


Dia hanya berharap, semoga setelah dia kembali ke Magelang, semua rasa yang pernah dia rasakan terhadap pria itu akan menghilang seiring waktu. Dia harap ini hanya perasaan sesaat saja. Yang akan memudar dan menghilang, saat dia sudah bersama kembali dengan suaminya dirumah mereka nanti.


"Shreya. hey, Shreya?" Fajar yang sedari tadi mengernyitkan kening melihat Shreya yang selalu melamun, akhirnya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menegur wanita itu.


"Mmm.... Iya?" Shreya tersentak dan menatap Fajar dengan gelagapan.


"Kamu baik-baik saja kan? Kok dari tadi melamun terus? Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Fajar dengan lembut disertai sedikit rasa cemas.


"Ti-tidak. Aku tidak memikirkan apapun" Kilah Shreya.


"Benar?" Tanya Fajar memastikan.


"Iy-iya"

__ADS_1


"Atau mungkin kamu lapar? Bagaimana kalau kita mampir dulu kerestoran terdekat? Kamu bisa pesan makanan apapun yang kamu mau?"


Saat Fajar menawarkannya untuk makan, mobil mereka melewati Caffe. Shreya tercengang menatap Caffe yang terletak tepat dipinggir jalan itu.


__ADS_2