
Dia merasa sangat marah melihat apa yang dilakukan Fajar terhadap Shreya. Hingga rasanya ingin sekali dia menghampiri mereka, dan menghajar sahabatnya itu.
Tapi dia berusaha untuk menahan diri, karena merasa tidak memiliki alasan untuk melakukan itu. Wanita yang dicium Fajar adalah istrinya sendiri. Sebagai seorang suami, bukankah pria itu berhak melakukan apapun terhadap istrinya?
Lalu dimana salahnya? Dan apa haknya untuk marah? Bukankah justru dia yang salah, jika sampai melirik wanita milik pria lain?
Setelah Fajar pergi dan menghilang dari pandangan mereka, Lesti juga meninggalkan Shreya tanpa menyadari keberadaan Rahul yang berdiri dipojokan ruangan.
Namun Shreya pada akhirnya melihat pria itu, yang juga sedang memandangnya dengan raut wajah memerah seperti menahan amarah.
Entah kenapa dia merasa ada perasaan bersalah dihatinya, saat melihat ekspresi diwajah lelaki itu. Padahal dia tidak merasa melakukan kesalahan.
Tanpa berkata apapun, Rahul melangkah pergi, meninggalkan Shreya yang masih mematung dengan perasaan bimbang dan bingung. Ingin rasanya dia menghampiri lelaki itu. Tapi rasanya itu tidak sopan, hingga dia berusaha untuk menahan diri.
********
Rahul yang sedang sibuk bertelepon membicarakan masalah perusahaan, sembari menuruni tangga dengan langkah yang lebar, langsung berhenti saat ditegur Lesti begitu dia sampai dilantai bawah.
"Rahul"
"Iya Ma kenapa?" Rahul langsung mematikan ponselnya dan menatap Mamanya yang sedang berdiri bersama Shreya.
"Mmm.... Begini, hari ini jadwal Shreya kontrol kandungannya kedokter. Barusan Fajar mengirim WA, dan merekomendasikan dokter terbaik di Jakarta yang akan memantau kandungan Shreya selama dia di Jakarta. Tapi masalahnya, tidak ada yang bisa menemani dan mengantarnya.
Semua supir sedang bertugas. Ada juga yang sedang cuti dan sakit. Mama juga sedang tidak enak badan. Karena itulah Mama tidak bisa menemaninya. Bisa tidak, kamu saja yang mengantar Shreya cek up?"
"Aku?" Rahul menunjuk dirinya sendiri, lalu melirik Shreya yang langsung menunduk saat mendapat tatapan dari lelaki itu.
"Iya, tolong ya Nak ya. Masak dia pergi sendirian? Nanti kalau ada apa-apa dengannya dijalan bagaimana? Dia kan sedang hamil"
"Mmm.... Tante, sepertinya Rahul sedang sibuk. Aku tidak enak kalau harus merepotkannya. Biar aku naik taksi saja ya" Shreya akhirnya angkat bicara karena merasa tidak enakan.
"Jangan sayang. Masak kamu mau pergi sendirian naik taksi. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Jaman sekarang itu banyak kejadian aneh-aneh. Apalagi kamu wanita hamil. Nanti kalau ada apa-apa denganmu, Tante harus bilang pada Fajar?"
"Tapi Tante....."
"Mama benar, tidak baik jika kamu pergi sendirian. Ayo, biar aku yang mengantarmu" Rahul berkata dengan lancarnya. Nada suaranya tidak terdengar ada rasa keberatan sedikitpun.
"Tu, kamu dengar sendirikan? Rahul saja tidak keberatan. Kamu ikut saja dengannya ya. Tenang saja, anak Tante ini pria baik-baik kok. Tante jamin, dia tidak akan berbuat macam-macam terhadapmu. Tidak usah takut ya"
Karena Lesti terus membujuk dengan lembut, akhirnya Shreya pun menerima tawarannya untuk pergi bersama Rahul.
********
__ADS_1
Mobil Lexus warna merah yang dikendarai Rahul melaju dengan kecepatan standar menyusuri jalan beraspal. Diperjalanan, Rahul mengambil ponsel dan menghubungi asistennya.
"Adam, tolong pending dulu meeting ku hari ini. Katakan pada mereka, kalau aku akan tiba disana sekitar dua jam lagi. Tidak perlu banyak tanya, lakukan saja sesuai apa yang aku katakan" Rahul berbicara dengan tegas pada lawan bicaranya diseberang sana.
Shreya yang duduk disebelahnya hanya bisa menjadi pendengar dalam diam. Sepertinya pria itu sedang sibuk dengan masalah pekerjaannya, tapi harus mengantarnya kedokter karena tidak bisa menolak permintaan Mamanya.
Dia jadi semakin merasa tidak enak, karena harus merepotkan lelaki itu dengan masalah kehamilannya. Padahalkan, mereka bukan siapa-siapa.
"Maaf ya, pekerjaanmu jadi terganggu arena harus mengantarku cek up. Sebenarnya aku sudah menolak, tapi Tante Lesti memaksa agar aku pergi denganmu. Kalau kamu memang benar-benar sibuk, tidak masalah, turunkan saja aku disini. Biar aku cari taksi saja. Dan kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu"
Begitu panggilan suara Rahul dengan asistennya berakhir, Shreya langsung bicara memberikan saran, karena takut pria itu merasa terganggu dengan kehadirannya.
Namun ucapan wanita itu malah membuat Rahul tertawa.
"Kamu ini lucu ya. Kamu kira aku sekejam itu, hingga tega menurunkan wanita hamil ditengah jalan seperti ini? Aku masih punya hati. Lagipula, kamu kan istrinya Fajar, sahabatku. Jadi tidak mungkin jika aku akan meninggalkanmu disini. Dia pasti akan membunuhku, jika tau hal itu"
"Kamu.... Sudah lama, bersahabat dengan Fajar?"
"Iya, kami sudah bersahabat sejak kecil. Hal itu bermula dari hubungan keluarga kami yang sudah sangat dekat. Tapi saat SMA, dia malah pindah keluar negeri bersama orang tuanya. Sejak itulah kami jadi berjauhan" Rahul bercerita dengan lembut dan tenangnya.
Biasanya dia akan selalu bersikap dingin dan cuek, pada orang yang baru dikenalnya. Tapi tidak tau kenapa, dia tidak bisa bersikap seperti itu pada wanita ini. Malah dalam hati kecilnya yang paling dalam, dia merasa senang dan terhibur dengan keberadaan wanita ini didekatnya.
Shreya hanya manggut-manggut mendengar kisah persahabatan kedua lelaki itu.
"Oh ya, kamu sendiri, sudah lama mengenal Fajar?"
"Oh ya. Lalu bagaimana awal pertemuan kalian?" Rahul menjadi semakin tertarik.
"Maksudmu?"
"Ya maksudku, seperti apa pertemuan pertama kalian? Apa kalian langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, atau.... kalian ada ribut dulu seperti di film-film"
"Mmm.... pertemuan pertama kami..... "Sikap Shreya yang terlihat gugup dan bingung membuat Rahul menatapnya dengan alis bertaut.
"Waktu itu.... Fajar menyelamatkanku dari beberapa lelaki berandalan yang hendak menggangguku. Sejak itulah aku jadi menyukainya. Iya" Dengan suara kaku, akhirnya Shreya menemukan cerita yang dapat dia berikan untuk menjawab pertanyaan pria itu.
Karena dia tidak ingat bagaimana awal pertemuannya dengan Fajar. Tapi dia tidak mungkin berkata jujur pada orang yang baru dikenalnya, bahwa dia sedang dalam keadaan amnesia.
"Oh... Romantis juga ya, pertemuan pertama kalian" Rahul manggut-manggut sembari tersenyum. Lalu dia menatap Shreya. "Apa kamu sangat mencintai Fajar?" Tanyanya lirih.
"Ya.... tentu saja. Dia kan suamiku" Shreya memalingkan wajahnya. Karena jujur, dia sendiri merasa ragu dengan jawaban yang dia berikan terhadap Rahul.
Tapi tidak mungkin kalau dia tidak mencintai Fajar kan? Secara lelaki itu adalah suaminya. Meskipun saat ini, dia tidak merasa ada cinta dihatinya terhadap lelaki itu. Tapi mungkin itu efek, karena saat ini dia sedang kehilangan memorinya. Iya, pasti karena itu.
__ADS_1
Sementara Rahul hanya tersenyum simpul. Entah kenapa pernyataan Shreya yang menyebut dirinya mencintai Fajar, seakan membuat hatinya terasa teriris.
Padahal, wajar bila jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut seorang istri terhadap suaminya. Malah akan terdengar aneh, jika seorang istri mengatakan tidak memiliki cinta terhadap suaminya sendiri.
"Oh ya, lalu bagaimana denganmu? Aku dengar dari Om Helmi, katanya kamu baru saja kehilangan istrimu. Tapi beliau belum menceritakannya secara detail. Kalau boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Kini giliran Shreya yang bertanya tentang kisah Rahul. Dia bertanya sepelan mungkin, agar tidak membuat pria itu bersedih.
"Dia menjadi salah satu korban yang hilang, dalam tragedi banjir bandang yang terjadi bulan yang lalu. Aku dan keluargaku sudah berusaha untuk mencarinya. Tapi sampai sekarang, masih belum ada hasilnya" Tutur Rahul sendu.
"Apa kamu sangat mencintai istrimu?"
"Sangat. Dia adalah wanita terhebat dan sempurna yang pernah aku temui. Aku sangat beruntung, karena Tuhan telah memilihnya sebagai istriku" Jawab Rahul dengan cepat dan yakinnya.
Dari nada suaranya, Shreya bisa merasakan adanya cinta yang begitu mendalam yang disimpan Rahul terhadap istrinya. Sepertinya istri Rahul adalah wanita yang sangat beruntung, memiliki suami yang sangat mencintainya.
Bahkan saat sedang dinyatakan hilang, suaminya dengan setia dan sabar mencari dan menunggunya.
Sebenarnya dia juga merasa sangat beruntung, karena memiliki suami sebaik dan selembut Fajar. Tapi dia justru merasa tidak nyaman dengan perhatian yang pria itu berikan untuknya.
Semoga Tuhan mengampuninya, karena telah memiliki perasaan seperti itu terhadap suaminya.
"Aku doakan, semoga Tuhan mempertemukan kalian kembali" Ucap Shreya lirih yang dibalas dengan senyum simpul Rahul.
"Terima kasih"
********
"Sekarang usia kehamilan Ibu Shreya sudah memasuki minggu ke 22, atau lebih tepatnya, sudah memasuki bulan kelima. Wajah bayi kini sudah terbentuk sempurna dan semakin terlihat jelas. Selain itu, indra pendengarannya juga sudah mulai bekerja. Sehingga janin bisa mendengar suara-suara yang berasal dari luar perut ibunya.
Seperti misalnya saat Ibu berbicara. Jadi dianjurkan untuk sering-sering mengajak sikecil berbicara ya Bu, untuk melatih indra pendengarannya agar lebih berkembang lagi"
Dokter wanita paruh baya dengan penampilan berhijab, dengan sabar menjelaskan dan memberi saran perihal perkembangan janin yang masih berada dalam rahim Shreya melalui USG 4D.
"Lalu bagaimana dengan jenis kelaminnya Dok? Bayinya lelaki atau perempuan?" Rahul yang sedari tadi berdiri disamping brankar tempat Shreya berbaring, tidak bisa menahan diri untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan bayi yang terlihat bergerak-gerak dengan lincahnya dilayar monitor. Hingga membuat Rahul menjadi begitu antusiasnya.
"Menurut alat kelamin yang telah terbentuk disini, sepertinya dapat dipastikan jika jenis kelamin bayinya adalah lelaki"
"Lelaki Dok?"
"Iya Pak"
Rahul terlihat begitu sumringah. Matanya yang tampak berkaca-kaca terus menatap layar monitor. Melihat janin yang sudah menyerupai seorang bayi mungil itu, membuat hatinya terasa sangat bahagia.
__ADS_1
Mungkin kebahagiaan itu akan terasa lebih nyata, seandainya malaikat kecil itu adalah miliknya.
Namun sayangnya, bayi itu adalah milik Fajar. Begitupun dengan wanita yang sedang mengandungnya, keduanya bukanlah miliknya.