
Apa mungkin dia sudah keluar terlebih dahulu? Ah ya, mungkin Zahra sedang menunggunya dimobil. Karena tidak menemukan istrinya didalam, akhirnya Rahul memutuskan untuk keluar dari mesjid itu menyusul istrinya.
Sesampainya diteras mesjid, dia terpesona melihat Zahra yang sedang berjalan dipekarangan mesjid. Sepertinya dugaannya tidak meleset. Karena tampaknya Zahra memang sedang berjalan menuju mobil yang berada diarea parkiran. Wanita itu tampak sangat cantik dan menarik mengenakan blus pemberiannya.
Rahul hendak melangkah menuruni undakan anak tangga teras untuk menyusul Zahra. Namun langkahnya terhenti tatkala dia melihat seorang gadis buta berhijab, yang tampak sedang berjalan dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya keatas ubin pekarangan mesjid.
Posisi perempuan itu sekitar lima meter tidak jauh dari Zahra.
Beberapa detik kemudian, Rahul terkesiap melihat gadis itu jatuh tersungkur akibat ulah beberapa anak kecil yang tampaknya sengaja menghadang kaki gadis buta itu. Tongkat yang digunakannya sebagai penunjuk jalannya pun terlepas dari tangannya begitu saja.
Kelima anak lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan mereka sedang memainkan permainan yang sangat seru dan menyenangkan. Sementara gadis malang itu tampak meraba-raba ubin. Sepertinya dia berusaha mencari tongkatnya yang terhempas jauh dari posisinya terjatuh.
Namun salah satu dari anak nakal yang sedang membullynya itu malah menendang tongkatnya, hingga bergulir semakin jauh dari posisi mereka. Adegan itu benar-benar membuat Rahul geram melihatnya!
Rasanya dia tidak bisa terima ada orang lain yang bernasib sama sepertinya dulu! Direndahkan dan dibully hanya karena memiliki takdir sebagai orang buta! Sekalipun mereka masih anak-anak, tapi tidak seharusnya mereka berbuat senakal itu terhadap wanita itu!
Rahul memutuskan untuk membantu gadis malang itu dari Bullyan mereka. Namun lagi-lagi dia harus mengurungkan niatnya untuk membantu dan membela perempuan buta itu. Karena Zahra sudah lebih dulu melakukannya.
Rahul terpukau melihat Zahra memarahi anak-anak nakal itu dengan tegas. Hingga mereka semua berlari meninggalkan kedua perempuan itu. Sepeninggalnya anak-anak bandel itu, Zahra langsung mengambil tongkat gadis itu dan membantunya bangkit.
Dengan perlahan-lahan dia menuntun gadis itu berjalan hingga mereka bertemu dengan temannya, yang mengambil alih tugas Zahra untuk membimbing wanita buta itu. Dengan disertai senyuman, mereka mengucapkan rasa terima kasih dengan tulus terhadap Zahra, sebelum kedua sahabat itu melangkah meninggalkannya.
Pemandangan yang ada dihadapannya membuat Rahul semakin takjub dan kagum pada istrinya. Wanita dihadapannya itu benar-benar masih istrinya yang dulu. Zahranya, Bellenya, serta bidadari tak bersayapnya.
Mungkin saat ini Zahra memang sedang tidak memiliki ingatannya. Namun satu hal yang masih tetap dia miliki hingga kini. Yaitu kebaikan dan ketulusan hatinya.
Dan itulah yang menjadi alasan terbesarnya, mengapa dia bisa begitu tergila-gilanya pada wanita itu. Hingga dia memutuskan untuk mempersuntingnya. Karena perempuan itu memang benar-benar cantik luar dalam.
********
__ADS_1
Selepas dari mesjid, perjalanan mereka pun kembali berlanjut.
"Kamu hebat ya" Puji Rahul.
"Maksudnya?" Tanya Zahra tidak paham.
"Saat kamu membantu perempuan buta tadi. Padahal kamu kan tidak mengenalnya. Tapi kamu membelanya saat dia dibully oleh anak-anak nakal itu"
"Memangnya kalau ingin berbuat baik itu, kita harus kenal dulu, orang yang mau kita bantu itu? Bukankah kita memang harus membantu setiap orang yang sedang dalam kesulitan? Lagipula aku juga tidak mungkin diam saja, melihat ada orang tidak berdaya yang dizolimi didepan mataku. Selain itu...."
"Selain itu apa?" Rahul mengernyitkan keningnya.
"Aku juga tidak mengerti. Aku merasa seperti sudah sering membantu dan menuntun orang buta semacam itu. Mereka seperti memiliki sesuatu yang terasa berkesan dihatiku. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja" Tutur Zahra dengan tatapan menerawang.
Rahul tersenyum puas mendengar jawaban yang dilontarkan istrinya itu. Meski tidak memiliki ingatan, namun dia senang karena ternyata Zahra masih memiliki feeling yang kuat, akan kenangan yang mereka lalui bersama saat dia masih dalam keadaan buta dulu.
Semoga saja perlahan-lahan, feeling itu akan mengantarkan Zahra pada ingatannya.
"Maksudmu?"
"Ya maksudku.... saat kamu masih mengingat semuanya. Mungkin sekarang kamu tidak tau dan merasa bingung, karena kamu tidak mengingat apapun tentang masa lalumu. Jadi kamu tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi"
"Kamu tau kalau aku amnesia?" Tanya Zahra sedikit terpana.
"Kenapa memangnya? Ada masalah kalau aku tau semua itu? Kan itu bukan kejahatan atau aib yang perlu ditutup-tutupi"
"Kamu tau semuanya dari Fajar?"
"Aku dan Fajar adalah sahabat sejak kecil. Jadi tidak akan ada rahasia apapun diantara kami"
__ADS_1
"Apa dia juga cerita padamu soal perubahan sikapku setelah aku amnesia?"
"Maksudmu?"
"Maksudku, kata Fajar kami menikah karena cinta. Tapi aku tidak pernah merasa mencintai Fajar. Mungkin ini efek dari amnesia yang sedang aku alami. Makanya aku jadi merasa bersalah dan bingung. Seandainya aku bisa mengingat semuanya, mungkin hidupku tidak akan serumit ini. Sehingga aku bisa merasakan ketidak nyamanan ketika bersama suamiku sendiri" Tutur Zahra lirih dan sendu.
Membuat rasa bersalah yang dipendam Rahul muncul dan membumbung kembali. Mau sampai kapan dia harus terus membohongi istrinya seperti ini? Membiarkan istrinya hidup dalam rasa bersalah yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan.
Dia benar-benar tidak tega harus memperlakukan istrinya seperti ini. Tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko yang bisa berpengaruh pada kondisi Zahra dan anaknya. Rahul menggenggam buku jemari tangan Zahra dengan lembut. Mencoba untuk menenangkan emosi istrinya.
"Kamu tenang saja. Aku akan membantumu supaya kamu bisa mengingat lagi" Ujar Rahul lirih.
"Kamu? Membantuku? Bagaimana caranya? Memangnya kamu dokter?" Tanya Zahra sinis.
"Iya, aku dokter cinta" Gurau Rahul seraya tersenyum.
"Huh, gaya" Celetuk Zahra sembari mendorong bahu Rahul.
Mobil yang dikendarai Rahul melaju dijalanan beraspal, ditengah-tengah persawahan yang padinya sudah tumbuh kuning dengan suburnya. Dan tampaknya sebentar lagi sudah siap untuk dipanen.
Dipinggir jalan tepatnya didepan area sawah itu, tampak beberapa anak kecil yang sedang duduk bercengkrama ria diatas rerumputan. Mereka semua tampak memegang alat-alat tulis seperti buku, pensil dan sebagainya. Didepan mereka juga terdapat papan tulis berwarna putih. Tampaknya anak-anak itu juga sedang belajar ditempat itu.
"Eh stop.... Stop" Seru Zahra yang membuat Rahul sontak menghentikan mobilnya.
"Kenapa?" Tanya Rahul bingung. Namun bukannya menjawab, Zahra malah keluar dari mobil dan menghampiri anak-anak itu. Untuk kemudian ikut bergabung dengan mereka.
Membuat Rahul ikut turun dari mobilnya. Lagi-lagi dia dibuat terpukau melihat istrinya yang dengan begitu mudahnya berbaur, dan bercengkrama ria bersama anak-anak yang ada disitu. Meskipun dia sudah tau, bahwa istrinya adalah tipikal wanita yang memiliki jiwa keibuan yang sangat tinggi. Walaupun dibalik sifatnya yang terkadang suka bertingkah bar-bar.
Melihat Zahra memperlakukan anak-anak itu dengan begitu lembut dan manis, membuat Rahul merasa sangat senang dan yakin bahwa nanti Zahra juga pasti akan memperlakukan anak mereka lebih baik dari itu.
__ADS_1
Akhirnya Rahul ikut bergabung bersama mereka. Dengan riang gembiranya dia dan Zahra bercengkrama seraya mengajari anak-anak itu belajar.