Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 23- Alergi??


__ADS_3

Sementara Rahul hanya duduk mendengar dalam diam dengan seulas senyum. Mereka menjadikan taman belakang RS sebagai tempat untuk bersantai dan bercengkrama ria. Dengan karpet yang digelar sebagai alas tempat duduk.


"Akhirnya ayah Belle dimasukkan kerumah sakit jiwa, karena dianggap gila. Meski tidak percaya dengan ucapan ayahnya Belle, namun Gaston dan anak buahnya tetap pergi menyusuri hutan mencari Belle. Hingga sampailah mereka di istana Beast. Mereka melihat Belle bersama Beast. Lalu mereka bertarung hingga Beast terluka parah akibat tembakan Gaston.


"Namun, yang namanya orang jahat pasti mendapatkan balasannya. Gaston dan anak buahnya akhirnya tewas tertimpa reruntuhan bangunan, saat tengah berpesta. Sementara itu, Belle sangat menghawatirkan Beast yang sekarat dan nyaris tewas. Belle menangis dan menitikkan air matanya. Dia mengatakan jika dirinya mencintai Beast.


"Dan, keajaiban pun terjadi. Beast langsung membuka matanya dan sembuh dari sekaratnya. Tak hanya itu, dia juga berubah kembali kewujud asalnya sebagai pangeran tampan. Begitupun dengan para pelayannya. Sihir nenek tua pun akhirnya sirna. Akhirnya Belle dan Beast menikah, dan hidup bahagia selamanya. Selesai"


"Yeaaay!!" Akhirnya Belle dan Beast hidup bahagia! Seru banget ya Kak ceritanya?" Dengan gembiranya Lyra merentangkan tangannya keatas.


Sikecil polos itu sangat menikmati, dan puas dengan alur cerita yang dibawakan oleh Zahra.


"He em. Sekarang katakan, apa pelajaran yang bisa didapat dari cerita ini"


"Em...." Lyra tampak berpikir.


"Lyra tau tidak?"


"Tau dong Kak. Pelajarannya adalah..... Yang pertama, kita tidak boleh berbuat jahat kepada orang lain. Seperti Gaston yang menyakiti Beast dengan menembaknya hingga sekarat. Akhirnya dia sendiri tewas tertimpa reruntuhan. Yang kedua, kita tidak boleh sombong. Seperti Beast yang bersikap sombong pada nenek tua. Akhirnya dia dikutuk menjadi buruk rupa. Benarkan Kak?" Tutur Lyra dengan antusiasnya.


"Seratus untuk peri cantikku" Zahra merangkum wajah mungil Lyra dan mencium pipi bulatnya dengan gemas.


"Setiap perbuatan, pasti akan ada balasannya. Jika kita berbuat kebaikan, maka kita akan dibalas dengan kebaikan. Begitupun sebaliknya. Begitu pula dengan dunia ini. Yang tak lain hanyalah tempat kita singgah. Jadi apapun hiasan yang ada didalamnya, itu semua hanyalah titipan. Baik itu kekayaan, kecantikan, ketampanan. Jadi, selagi kita dipercayai untuk memilikinya, kita tidak boleh bersikap sombong dengan itu semua. Karena semua itu bukan kekal milik kita.


"Dan, kapan pun pemiliknya ingin mengambilnya, kita harus menerimanya dengan lapang dada dan tidak boleh mengeluh. Karena mungkin tanpa sadar, kita sudah melakukan kesalahan yang membuatnya tidak mempercayai kita lagi untuk memilikinya. Nah, sekarang giliran Kak Rahul"


Zahra melirik Rahul dengan senyum menggoda.


"Hah, aku?" Rahul melongo. Dia tidak menyangka, jika Zahra akan menjahilinya dengan melibatkannya dalam dongeng itu.


"Iya, jadi apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini? Tadi Lyra sudah memberikan dua jawaban. Jadi sekarang giliran Kak Rahul. Ayo jawab. Masak Kak Rahul yang dewasa, berbadan tinggi dan besar, kalah dari anak sekecil lyra" Zahra begitu menikmati melihat ekspresi Rahul yang tampak kikuk karena godaannya.


"Iya Kak, ayo dijawab aja. Lyra juga ingin mendengar kesimpulan Kakak tentang cerita ini"


"Baiklah, siapa takut? Jadi, pelajaran ketiga yang bisa diambil dari cerita ini adalah.... Bahwa cinta sejati itu ada. Cinta tulus yang berasal dari hati. Yang mampu mengubah kebencian menjadi sayang. Mampu mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. Meskipun dengan cara yang sederhana. Seperti cinta tulus Belle kepada Beast. Yang mampu mematahkan kutukan yang dideritanya selama bertahun-tahun. Dan hanya orang yang beruntunglah, yang bisa merasakan dan menemukan cinta sejatinya"


Rahul berfilosofi dengan suara lirih dan mendalam. Zahra hanya diam mendengarkan dengan seulas senyuman. Filosofi Rahul membuat hatinya tersentuh.


"Lyra, kau disini rupanya. Ayo sekarang kita pulang. Kau kan masih harus istirahat. Udahkan, bermain dengan Kak Zahra?" Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan, yang tak lain adalah ibunya Lyra, muncul dan membuyarkan cengkrama ria mereka.


"Iya Bu, sebentar ya. Lyra mau bicara dulu dengan Kak Rahul" Lyra mendekati Rahul. "Kak Rahul"


"Iya sayang"


"Kakak suka tidak, seperti Beast yang melindungi Belle hingga bertarung dengan serigala?"

__ADS_1


"Tentu saja. Itulah tugas lelaki. Melindungi wanita yang dicintainya, dari siapapun yang menyakitinya"


"Apa Kakak juga akan seperti itu terhadap Kak Zahra?" Pertanyaan yang dilontarkan Lyra berhasil membuat Rahul diam terpaku.


Begitupun Zahra yang tampaknya begitu penasaran dengan jawaban yang akan dia dengar dari mulut Rahul.


"Tentu saja. Kakak akan selalu melindungi Kak Zahra, dari siapapun yang akan menyakitinya"


"Tapi.... bukan berarti jika Kak Rahul sampai harus bertarung dengan serigala. Kan itu berbahaya. Beast saja hampir tewas karena itu. Lyra tidak inginkan, Kak Rahul sampai terluka karena itu?" Timpal Zahra seraya memegangi pundak Lyra dengan lembut.


"Tidak Kak"


"Ya sudah. Sekarang Lyra pulang ya. Supaya bisa istirahat dirumah" Kata Zahra.


"Iya Kak, Lyra pulang dulu ya. Dah"


"Dah cantik"


*******


"Hebat kamu ya" Ujar Rahul kala mereka sedang dijalan.


"Hem?"


"Iya. Dengan begitu mudahnya kamu bisa mengambil hati, dan berbaur dengan anak kecil. Padahal aku masih ingat betul. Bagaimana kerasnya Lyra tidak mau diinfus. Sekalipun Dokter Ema dan Wirda sudah membujuk mati-matian. Tapi kau, dengan mudahnya bisa menjinakkan anak itu"


"Ayo. Kebetulan aku juga lapar"


********


"Silahkan Mas, Mbak Zahra" Dengan senyum ramah, pedagang warteg itu meletakkan makanan pesanan Zahra dan Rahul didepan mereka.


"Iya Bu, terima kasih" Ujar Zahra.


"Kamu sering, makan disini? Kok sepertinya kamu sudah sangat akrab dengan pemilik wartegnya?"


"Iya. Kan lokasi warteg ini lumayan dekat, dengan rumah sakit. Jadi terkadang, jika aku pulang kerjanya siang-siang, aku sering singgah kesini untuk makan. Soalnya menu disini enak-enak. Apalagi kari ini. Sepertinya resepnya baru"


Jawab Zahra sembari mengaduk-aduk dan mengunyah makanannya dengan lahap.


"Iya. Menu makanannya enak-enak sekali" Rahul menyetujui.


"He eh. Aww, aduh. Sssssttttt" Saat sedang asik berceloteh dan melahap makanannya, Zahra tiba-tiba meringis, seraya menggaruk-garuk tubuhnya yang terasa gatal.


"Kamu kenapa sih? Kok meringis gitu? Sakit?" Tanya Rahul kala mendengar ringisan Zahra.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja badanku terasa gatal, dan...... kulitku jadi bintik-bintik merah begini" Keluh Zahra sambil terus menggaruk-garuk hampir sebagian tubuhnya, yang mulai penuh dengan bintik-buntik merah.


"Kamu belum mandi kali" Rahul menanggapinya dengan senyum meledek.


"Ih!" Zahra mendorong pundak Rahul dengan kesalnya. "Masih saja bercanda. Ini aku serius. Sepertinya aku alergi. Sepertinya aku harus kembali kerumah sakit untuk periksa"


"Ini kamu serius? Kamu alergi?" Tanya Rahul memastikan. Raut wajahnya seketika berubah tegang.


"Ya aku tidak tau. Makanya aku mau periksa dulu" Jawab Zahra ketus.


"Ya sudah kalau begitu, aku temani ya?"


"Ya-ya, Ayo"


********


"Jadi sebelumnya kau makan apa Ra?" Cecar Dokter Ema usai memeriksa Zahra diruang periksa.


"Memangnya kenapa ya Dok?" Tanya Zahra balik.


"Karena menurut diagnosa saya, ini adalah gejala alergi.


"Sejak kecil, hanya ada satu makanan yang paling saya takuti. Yaitu kacang almond. Karena setiap kali saya menyentuh makanan itu, pasti saya selalu masuk rumah sakit. Tapi saya rasa, hari ini saya tidak makan apapun yang aneh-aneh kok Dok. Saya hanya makan makanan biasa saja diwarteg. Jika tidak percaya, Dokter tanya saja padanya"


Zahra menunjuk Rahul yang duduk di kursi disebelahnya.


"Iya Dok. Yang dikatakannya benar. Seharian ini dia bersama saya. Dan saya tahu jika dia tidak makan yang aneh-aneh"


"Ya sudah kalau begitu. Agar lebih jelas, kita akan lakukan tes darah. Untuk mendeteksi kadar antibodi alergen dalam tubuhmu. Mungkin tanpa sadar, kamu pernah mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat, yang menyebabkan alergimu kambuh" Saran Dokter Ema.


"Iya Dok" Jawab Zahra pasrah.


********


"Jadi, kamu alergi terhadap kacang almond sejak kecil?" Tanya Rahul saat mereka sedang berjalan dikoridor RS.


"Iya. Pokoknya aku sangat membenci makanan itu. Karena setiap kali aku mencicipinya, akibatnya pasti selalu fatal. Terkadang aku merasa gatal, hingga kulitku bentol-bentol seperti sekarang. Dan yang lebih parahnya lagi, terkadang aku merasa sakit perut, pusing, bahkan pingsan. Ya, pokoknya makanan satu itu adalah masalah dalam hidupku. Tidak disangka, sekarang aku kembali terjebak mengkonsumsinya"


"Ya, mungkin itu cara alam untuk memberitahuku, perihal makanan yang wajib kau pantang"


"Lalu, setelah kau tahu, apa yang akan kau lakukan?"


"Ya... aku akan menjagamu dari makanan itu. Karena aku tidak ingin kau kesakitan"


"Waaah. So sweetnya" Zahra memonyongkan bibirnya dengan gemas. "Tapi menurutku, terlalu lebay. Sudah, ayo pulang. Aku mau cepat-cepat sampai rumah, supaya bisa istirahat dan minum obat. Agar bentol-bentol ditubuhku ini cepat menghilang. Aku tidak ada waktu untuk meladeni gombalanmu"

__ADS_1


"Baik Nona" Rahul tersenyum geram.


__ADS_2