Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 71- Memintamu Untuk Menjauhiku


__ADS_3

"Fina" Shreya menegur pelayan yang berpapasan dengannya.


"Iya Nyonya"


"Itu bunga dari siapa?" Shreya menunjuk buket bunga yang ada ditangan pelayan muda itu.


"Oh ini, tadi ada yang mengantar bunga ini untuk Nyonya" Pelayan Fina menyodorkan buket bunga itu pada Shreya.


"Untukku?"


"Iya Nyonya"


"Dari siapa ya?"


"Aku juga tidak tau Nyonya. Tidak ada nama pengirimnya. Mungkin dari Tuan Fajar. Mungkin beliau sengaja ingin memberi kejutan untuk Nyonya" Fina tersenyum menggoda. Membuat Shreya merasa malu.


"Oh.... I-iya. Terima kasih"


"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya"


"Iya-iya"


Setelah Fina pergi, Shreya mulai memindai bunga itu dengan seksama. Seulas senyuman terpancar diwajahnya melihat beberapa tangkai bunga mawar merah dan melati putih cantik, yang terangkai dalam satu buket itu.


Siapapun yang mengirimkan bunga ini, dia sangat berterima kasih pada orang itu. Karena keindahan yang ada pada bunga itu telah berhasil menghadirkan suasana nyaman dihatinya. Ditambah lagi dengan aroma semerbak yang berasal dari bunga itu, yang menembus hidungnya.


Matanya menangkap secarik kertas yang terselip diantara rangkaian bunga itu. Dengan kening mengerut, Shreya mengambil kertas berwarna pink itu dan mulai membacanya.


Semoga kamu menyukai bunga yang aku kirim ini. Kamu ingat malam itu? Saat aku mengatakan ada sesuatu untukmu didalam mobil? Tapi aku tidak sempat memberikannya karena kamu tau sendiri apa yang terjadi saat itu kan? Bahkan bunga yang aku beli saat itu saja sudah layu. Jadi sekarang aku menebusnya dengan bunga yang baru. Aku harap kamu menyukainya.


Oh ya satu lagi, selain bunga, malam itu aku juga membelikan banyak makanan untukmu. Tapi makanannya pun harus aku buang karena sudah basi. Jadi sekarang aku ingin mengajakmu untuk bertemu direstoran xxxx. Aku akan memesan makanan apapun yang kamu mau. Masih ingat, seperti saat kita dikota tua? Jangan lupa datang ya. Aku tunggu.


By Rahul.


Shreya termangu membaca surat itu. Hatinya yang galau karena perkataan Bu Zaitun didapur tadi, kini semakin menjadi-jadi setelah mendapat perlakuan romantis yang diberikan Rahul untuknya seperti ini.


Dia masih ingat betul pada malam itu, Rahul mengatakan ada sesuatu untuknya. Dia tidak menyangka, bahwa pria itu sudah menyiapkan bunga cantik seperti ini untuknya. Apa yang dilakukan Rahul benar-benar membuatnya dalam dilema.

__ADS_1


Disatu sisi, dia sangat senang dan tersentuh dengan dengan semua ini. perasaannya seakan terbang kelangit tinggi. Tapi disisi lain, kepalanya masih dipenuhi oleh perkataan Bu Zaitun tadi pagi.


Haruskah dia membiarkan perasaan yang telah menjurus kepada affair ini terjadi semakin jauh dan menyakiti banyak hati? Atau menghentikannya sekarang juga, dan masalahnya berakhir sampai disini?


Shreya melirik Bu Zaitun yang sedang mengelap kaca jendela. Dia baru sadar ternyata wanita paruh baya itu telah mengamatinya sedari tadi. Bu Zaitun hanya diam membisu tanpa menghentikan aktivitasnya.


Namun dari tatapannya, sepertinya kepala pelayan itu mengetahui apa yang sedang terjadi padanya. Tatapan perempuan itu membuat Shreya semakin merasa terjepit. Dia bingung harus bagaimana.


Haruskah dia menemui Rahul dan meminta lelaki itu untuk menjauhinya? Dengan akibat dia akan kembali merasakan hidup merana seperti sebulan terakhir ini? Apa yang harus dilakukannya sekarang? Mengapa begitu sulit baginya untuk melepaskan Rahul?


*********


"Nyonya, anda mau pergi?" Tanya Rita saat melihat Shreya sudah bersiap-siap seperti hendak pergi.


"Iya, aku mau keluar sebentar. Ada urusan"


"Oh.... Ya sudah kalau begitu, Nyonya tunggu sebentar ya. Biar saya panggilkan supir dulu untuk mengantar Nyonya sampai tujuan"


"Mmm.... tidak usah. Biar aku pergi sendiri saja naik taksi"


"Maaf Nyonya. Tapi Tuan sudah berpesan, jika Nyonya keluar harus bersama supir. Karena beliau tidak yakin dengan keselamatan Nyonya jika pergi sendiri" Sanggah Rita dengan ragu.


"Ya sudah kalau begitu. Tolong panggilkan supir untuk mengantarku"


"Baik Nyonya. Tunggu sebentar ya"


"Iya" Shreya terpaksa menuruti perkataan pelayan itu karena tidak ada pilihan lain.


Padahal dia ingin pergi sendiri saja untuk bertemu dengan Rahul, dan menyelesaikan masalah diantara mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin dia membantah keputusan Fajar.


Setelah Rita pergi, Bu Zaitun mulai mendekati Shreya.


"Nyonya mau keluar?"


"Iya Bu. Aku ada urusan sebentar"


"Tumben? Apa urusan ini ada hubungannya dengan Tuan Rahul, atau kiriman bunga tadi pagi? Maaf Nyonya, tapi Nyonya masih ingatkan, apa yang saya katakan tadi pagi? Saya sangat berharap jika Nyo...." Ujar Bu Zaitun dengan suara lembut namun menohok.

__ADS_1


"Jangan khawatir Bu. Aku akan selesaikan masalahku dengan Rahul. Percayalah, aku masih punya hati nurani. Aku tidak akan pernah menyakiti lelaki dan suami sebaik Fajar" Tukas Shreya tegas.


"Syukurlah kalau Nyonya mengerti. Saya sangat berharap, Nyonya bisa menepati ucapan Nyonya" Bu Zaitun tersenyum lega.


Shreya hanya memasang wajah datar. Tidak menanggapi ucapan wanita paruh baya itu lagi. Hatinya terasa kacau, karena harus melakukan hal yang sangat bertentangan dengan hati dan perasaannya.


********


Shreya sampai direstoran. Kepalanya celingukan kesana kemari, mencari orang yang telah memintanya untuk datang ketempat itu.


Hingga pada akhirnya, matanya menemukan sosok yang sangat familiar sedang duduk dikursi didepan meja yang ada ditengah-tengah restoran elite itu. Tampaknya pria itu masih belum menyadari kehadirannya ditempat itu.


Melihat Rahul selalu membuat perasaannya hangat. Andai saja lelaki itu adalah pasangannya, pasti sekarang dia sudah menghambur memeluknya.


Namun semua itu hanya ada dalam angan-angannya saja. Dan tujuannya datang kesini pun untuk mengakhiri hubungan mereka. Shreya meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya ini adalah demi kebaikan bersama.


Iya, sebelum apinya semakin berkobar dan membakar banyak orang, lebih baik dia memadamkannya dari sekarang. Huh. Shreya menghela nafas panjang sebelum melangkah menghampiri Rahul.


"Hai. Akhirnya kamu datang juga" Rahul mendongakkan wajahnya saat melihat Shreya sudah berada dihadapannya. Senyum sumringah merekah diwajah tampannya. Membuat perasaan Shreya kembali lemah.


"Kamu sudah lama menungguku?"


"Tidak juga. Ayo duduk" Rahul bangkit dari duduknya dan langsung menarik kursi yang ada didepannya. Lalu mempersilahkan Shreya untuk duduk diatas kursi itu. Shreya menurut. Dengan hati-hati, dia menghenyakkan pinggulnya diatas kursi itu.


"Ra-Rahul. A-ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Ujar Shreya terbata-bata. Dia begitu bingung harus memulai darimana. Pandangan mata Rahul membuatnya tidak sanggup untuk meminta lelaki itu menjauhinya.


"Mau bicara apa? Kok wajahmu terlihat tegang sekali?" Tanya Rahul santai.


"A-aku ingin...."


Ucapan Shreya terputus saat pelayan restoran menghampiri mereka.


"Silahkan Mas, Mbak" Pelayan wanita itu meletakkan dua buku menu didepan mereka. Rahul membuka buku itu dan melihat menu-menu yang tersedia dalam daftar.


"Kamu mau pesan apa?" Tanyanya melirik Shreya.


Namun wanita itu tidak menanggapinya, saking berkutatnya dia dengan buku menu yang ada ditangannya. Semua makanan yang ada dalam daftar buku itu membuatnya ngiler. Sehingga dia bingung harus pesan yang mana.

__ADS_1


Rahul tersenyum gemas melihat tampang perempuan itu. Seakan dia mengerti apa yang ada dalam pikiran wanita pujaan hatinya itu.


"Kenapa? Bingung mau pesan apa? Atau... Sebenarnya kamu ingin pesan semua menu yang ada disini, tapi kamu takut akan disuruh untuk cuci piring, jika sampai tidak mampu bayar?" Seloroh Rahul dengan jahilnya.


__ADS_2