
"Ya sepertinya sih begitu. Mama lihat saja sendiri, perut dia sebuncit itu. Ya itu artinya saat ini dia sedang mengandung anaknya Rahul. Bukan anaknya Fajar. Dan mungkin.... inilah keajaiban yang selama ini diyakini dan digembar-gemborkan Rahul. Dan sekarang semuanya terbukti"
"Tapi, kenapa Rahul diam saja ya? Kok dia tidak memberitau keluarganya kalau perempuan itu adalah Zahra. Istrinya yang selama ini mereka cari? Kenapa dia masih saja mengakui perempuan itu sebagai istrinya Fajar? Mama tidak habis pikir" Naomi menautkan alisnya dengan tatapan menerawang bingung.
"Aku rasa sih.... ini ada hubungannya dengan kondisi wanita dusun itu Ma. Kan dia sedang amnesia. Dan saat ini yang dia tau suaminya adalah Fajar. Sama seperti yang kita tau. Entahlah Ma, aku juga tidak mengerti.
Tapi kalau Rahul saja lebih memilih diam, berarti masalahnya tidak sesimpel itu. Berarti kondisi Zahra saat ini sedang tidak baik-baik saja" Amora menerka-nerka kemungkinan yang menurutnya besar kebenarannya.
"Kalau benar begitu, sepertinya kita bisa memanfaatkan situasi ini sayang. Kita bisa memancing diair yang keruh" Naomi tersenyum licik. Tampaknya sebuah ide cemerlang melintas dikepalanya.
"Aduh Ma.... Please deh Mama jangan macam-macam. Tidak usah cari gara-gara dengan Rahul. Mama lupa aku pernah bilang? Dia sudah mengancam akan memberitau keluarganya, tentang hubungan kami dimasa lalu.
Kalau dia sampai benar-benar membuktikan ucapannya itu, kita bisa mendapatkan masalah besar Ma. Sama aja dengan kita membangunkan singa yang sedang tidur, untuk memangsa dan menendang
kita dari rumah ini"
Sanggah Amora dengan resahnya. Ancaman Rahul hingga saat ini masih membuatnya was-was, dan lebih berhati-hati dalam melangkah.
"Tenang sayang. Kita tidak perlu mencari gara-gara dengan Rahul. Tapi dengan istri tercintanya"
"Maksud Mama Shreya eh, maksudku.... Zahra?"
"Ya terserahlah mau Shreya atau Zahra. Satu orang juga kan?" Ucap Naomi masa bodoh.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ma, pada wanita dusun sok cantik itu?" Amora bertanya dengan penasaran. Naomi memberi kode agar Amora mendekat padanya. Dengan patuh Amora mendekati ibunya yang langsung membisikkan ide liciknya.
*******
__ADS_1
Zahra baru saja selesai menyiram bunga ditaman belakang rumah. Cuaca panas membuatnya merasa gerah. Tubuhnya pun gampang kelelahan. Mungkin efek dari kehamilannya yang sudah semakin membesar setelah menginjak usia ketujuh bulan.
Zahra mengelus-elus perut buncitnya dengan lembut dan penuh sayang. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya, yang baru bisa dia lahirkan dan dia lihat sekitar dua bulan lagi.
Zahra menatap segelas jus strawberry yang berada dalam nampan diatas meja teras. Ngiler melihat jus itu, Zahra langsung berjalan beberapa langkah saja menuju teras. Dia meraih gelas bening berisi jus itu dengan antusiasnya.
Pandangannya tertuju pada secarik kertas warna putih diatas nampan dan tertindih dibalik gelas jus. Zahra meletakkan gelas jus diatas meja dan beralih pada kertas itu. Dengan fokus dia membaca tulisan yang ada pada kertas itu.
*Jusnya segar. Enak diminum saat cuaca panas begini. Jangan lupa dihabiskan. Semoga kamu dan Boy menyukainya
Rahul*
Senyum sumringah merekah diwajah cantiknya setelah dia membaca surat itu. Rahul memang selalu memiliki cara untuk membuatnya merasa bahagia dan tersanjung. Satu bulan sudah dia tinggal dirumah ini. Dan Rahul tidak pernah sedikitpun berpaling darinya.
Pria itu selalu menunjukkan perhatiannya yang begitu besar terhadapnya dan bayinya. Memperlakukan mereka dengan penuh cinta, seperti selalu mengingatkannya untuk jangan lupa minum vitamin. Makan makanan yang bergizi.
Namun dia tetap senang dan menikmati setiap perlakuan penuh cinta yang dia dapatkan dari lelaki itu. Dia merasa seolah-olah pria itu adalah suaminya. Andai kenyataannya memang seperti itu. Maka dia pasti akan menjadi wanita yang sangat bahagia. Karena Rahul adalah pria yang dicintainya.
Namun sayang, takdir hidupnya telah lebih dulu berkata lain. Dan takdir itu tidak bisa dia rubah lagi sekarang. Zahra meneguk jus yang terbuat dari buah strawberry itu hingga tandas tak bersisa. Tubuh dan kepalanya kini terasa segar dan jernih. Gerah dan kelelahan yang dia rasakan sedikit banyak kini berkurang.
"Eh bumil. Cerah sekali wajahnya, secerah cuacanya. Mana makin lama semakin terlihat cantik lagi. Menurut yang aku dengar ya, jika selama kehamilan aura kecantikannya selalu terpancar, biasanya anaknya itu akan terlahir perempuan. Berbeda dengan anak lelaki. Bumil pasti akan terlihat berantakan"
Kicau Amora yang tiba-tiba muncul dan berbicara semanis mungkin.
"Aku kurang tau Kak kalau soal itu. Tapi menurut USG, jenis kelamin bayiku lelaki. Tapi aku tidak peduli anakku nanti terlahir lelaki atau perempuan. Yang penting dia lahir dalam keadaan sehat dan selamat saja, aku sudah sangat bersyukur" Jawab Zahra jujur dan agak sungkan.
Bagaimana tidak? Sejak pertama kali dia datang kerumah ini, dia merasa wanita itu selalu bersikap cuek terhadapnya. Feelingnya mengatakan, jika istri dari Kak Gala itu kurang menyukainya.
__ADS_1
Tapi entahlah, mungkin itu hanya prasangkanya saja. Dan dia juga tidak mau terlalu ambil pusing. Toh dia juga tidak merasa mengganggu siapapun disini.
"Wah. Jadi kalian sudah tau jenis kelaminnya? Aku jadi penasaran, seperti apa reaksi Fajar saat mengetahui jenis kelamin bayi kalian waktu itu. Pasti dia sangat kegirangan ya?" Amora bertanya dengan kepo.
"Mmm.... Saat itu Fajar sedang ke Thailand Kak. Jadi saat itu.... Rahul yang menemaniku USG"
"Hah? Jadi Rahul yang lebih dulu mengetahui jenis kelamin bayi kalian? Bukan Fajar?" Amora berlagak terkejut.
"Bukan Kak"
"Lalu bagaimana reaksi Rahul, saat mengetahui jenis kelamin bayimu saat itu?"
"Ya tentu saja dia ikut senang"
"Aku jadi heran, kenapa hubungan kalian bertiga jadi membingungkan seperti ini ya?" Amora pura-pura bingung.
"Maksud Kak Amora?" Zahra menatap Amora dengan penuh tanda tanya.
"Ya maksudku, sebenarnya suamimu disini yang mana sih? Fajar.... atau Rahul?"
"Maksud Kak Amora apa ya, bicara seperti itu?" Zahra mulai kesal.
"Ya aku hanya merasa bingung saja. Kalau aku perhatikan ya, kamu lebih terlihat seperti istrinya Rahul ketimbang istrinya Fajar. Atau jangan-jangan, kamu salah suami lagi"
"Cukup Kak. Atas dasar apa Kakak berpikiran seperti itu?! Jelas-jelas kita semua tau, kalau suamiku adalah Fajar, bukan Rahul!" Zahra mulai menaikkan nada suaranya yang tampak mulai bergetar.
"Oh ya? Kalau begitu aku ingin tau dong, kapan kalian berdua menikah? Maksudku.... hari, tanggal, bulan dan tahunnnya apa? Kamu pasti masih ingat betulkan?" Amora menatap Zahra dengan sinis.
__ADS_1
Membuat Zahra terpaku dan bingung harus memberikan jawaban apa. Bila ditanya kapan dan bagaimana dia bisa menikah dengan Fajar, tentu saja jawabannya dia tidak tau. Karena tidak ada satupun memori tentang masa lalunya yang dia ingat saat ini. Dia bahkan tidak tau, apakah dia pernah mencintai Fajar atau tidak.