
Sedangkan Amora dan Naomi hanya bisa mengerutkan wajah dengan kecewa. Niat mereka untuk menggagalkan acara tujuh bulanan itu digelar dirumah ini, jadi kacau gara-gara ceramah sok bijak Lesti.
"Silahkan Tuan, Nyonya" Seorang pelayan muncul dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas jus jeruk untuk para majikannya yang sedang berkumpul diruang keluarga itu. Dengan sopannya dia menata satu persatu gelas itu dihadapan mereka.
"Bu Susan, Shreya kemana ya? Kok tidak kelihatan?" Tanya Lesti yang merasa bingung. Disaat semua orang sedang berkumpul diruangan ini untuk membahas acara tujuh bulanannya, orang yang sedang mereka bahas malah tidak kelihatan sedari tadi.
"Mmm.... Nyonya Shreya ada dikamarnya Nyonya. Sepertinya beliau sedang tidak enak badan"
"Shreya sakit? Perasaan tadi pagi dia baik-baik saja?" Lesti mengernyit heran.
Sementara Rahul dan Fajar merasa terkejut dan langsung cemas mendengar tentang kondisi Zahra. Terutama Rahul yang juga merasa bingung. Setaunya tadi pagi istrinya baik-baik saja dan tidak terlihat sedang sakit sedikitpun.
Kenapa sekarang tiba-tiba dia menjadi tidak enak badan?! Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?! Rahul menjadi panik dan tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri kondisi istrinya.
"Saya juga kurang tau Nyonya. Mungkin, bawaan bayinya" Jawab pelayan bernama Ina itu.
Sementara Amora dan Naomi tampak saling pandang dengan seulas senyuman licik yang tersungging dibibir mereka. Sepertinya sedikit banyak mereka mengerti apa yang sedang terjadi pada wanita dusun itu. Hem.... Rasanya dugaan mereka memang mendekati kebenaran.
Nampaknya kondisi wanita dusun itu saat ini sedang memprihatinkan dan tidak baik-baik saja. Mungkin memang benar, itulah yang menjadi alasan utama Rahul dan Fajar, kenapa mereka berdua masih belum bisa berterus terang perihal kenyataan yang sebenarnya.
Tampaknya situasi ini masih bisa mereka gunakan untuk memancing diair yang keruh secara diam-diam.
"Iya, mungkin benar juga katamu" Kata Lesti.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, Tuan"
"Iya-iya" Ujar Helmi lalu kembali melirik Fajar.
"Fajar, kamu sudah bertemu dengan Shreya?"
__ADS_1
"Mmm.... Belum Om"
"Lalu kenapa kamu masih disini? Memangnya kamu tidak merindukan istrimu? Sudah sebulan lebih lho, kalian tidak bertemu" Ujar Helmi.
Fajar menatap Rahul dengan dengan ragu, sebelum memberikan jawaban pada Helmi. "Iy-iya Om, aku akan menemuinya sekarang. Kalau begitu, aku permisi keatas dulu"
"Iya Nak, silahkan"
Fajar beranjak dari sofa dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Semuanya, aku juga permisi kekamar dulu. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan" Setelah Fajar berlalu, Rahul juga bangkit dari duduknya.
"Iya sayang, selamat bekerja ya" Ujar Lesti dengan lembut.
Amora menatap kepergian Rahul. Dia tau jika kerjaan hanya alasan lelaki itu saja supaya bisa meninggalkan ruangan ini. Padahal sebenarnya, dia ingin melihat dan memastikan keadaan istri rahasianya itu.
Entah adegan drama apalagi yang akan terjadi setelah ini? Dia hanya bersabar dan menunggu, hingga tiba saatnya untuk meledakkan bomnya.
Saat semua orang sedang berkumpul diruang keluarga dan berkutat dengan persiapan acara tujuh bulanannya, Zahra malah menyendiri didalam kamarnya dan berkutat dengan pikirannya. Berusaha menguras otak untuk mendapatkan ingatannya kembali.
Namun yang muncul hanya bayangan-bayangan tidak jelas yang sulit dipahaminya. Yang berakibat pada rasa sakit yang menyerang kepala serta perutnya.
"Shreya, kamu tidak apa-apa? Kepalamu sakit lagi? Apa perlu kita kedokter? Atau aku hubungi dokter kelarga untuk kesini?" Rahul masuk dan langsung mendekati Zahra. melihat istrinya yang tampak lemas serta wajahnya pun terlihat pucat, dengan keringat dingin yang tampak membasahi sekujur tubuhnya, membuat Rahul menjadi begitu panik.
Sementara Fajar hanya berdiri mematung didepan pintu, menyaksikan kebersamaan sepasang suami istri itu dengan perasaan sedih, kecewa dan cemburu yang mendalam. Ingin sekali rasanya dia berada diposisi Rahul. Bisa dengan bebas mendekati, menunjukkan perhatian dan cintanya yang besar terhadap wanita itu.
Namun dia harus menahan diri. Dia harus melawan keinginan hatinya. Karena dia tidak memiliki hak untuk itu. Ada Rahul yang akan senantiasa melakukan tugas dan kewajibannya sebagai suami dari perempuan itu. Dan dia tau, bahwa wanita itu hanya mengharapkan cinta dan perhatian dari suami aslinya. Bukan darinya.
"Ti-tidak usah. Aku baik-baik saja kok. Mungkin hanya kelelahan saja. Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu" Zahra melepaskan tubuhnya dari cekalan tangan Rahul. Pikirannya masih terlalu kacau untuk menghadapi Rahul. Dia begitu bingung harus bersikap seperti apa terhadap pria itu.
__ADS_1
"Kamu ingin menanyakan apa?"
"Sewaktu kita berada disungai air terjun dulu, aku sempat merasa pusing disana. Begitu juga saat kita sedang bermain dan mengajari anak-anak dipinggiran sawah itu. Kepalaku sempat sakit. Dua kali aku hampir terjatuh pada hari itu. Dan kalau aku ingat-ingat, dua kali juga kamu memanggilku dengan nama Zahra. Sebenarnya apa maksudmu, memanggilku dengan nama istrimu?"
Pertanyaan Zahra membuat Rahul jadi gelagapan. "Mmm.... Mmm.... A-aku... Waktu itu aku panik melihatmu yang tiba-tiba saja seperti itu. Jadi.... aku refleks menyebut nama Zahra. Aku tidak sadar saat melontarkannya. Karena, Zahra selalu ada dalam pikiranku setiap saat" Jawabnya gugup.
"Apa kamu sangat mencintai Zahra?" Zahra menatap Rahul dengan intens. Mencoba mencari tau kebenarannya melalui mata lelaki itu.
"I... ya.... Tentu saja. Aku sangat mencintai Zahra. Dia adalah segala-galanya bagiku" Jawab Rahul jujur namun gugup.
Dia merasa bingung kenapa tiba-tiba Zahra mempertanyakan hal seperti itu padanya? Apa mungkin dia merasa cemburu, karena hingga saat ini wanita itu masih mengira jika dia dan Zahra adalah orang yang berbeda?
Jika memang benar seperti itu, apa dia sudah memberikan jawaban yang salah, yang bisa membuat Zahra semakin ragu padanya?
Zahra terdiam dan mencoba untuk mencerna jawaban yang dia dengar dari mulut Rahul. Meski dia bisa melihat adanya kejujuran dan ketulusan dari cara Rahul mengatakan cinta terhadap istrinya, namun dia juga bisa merasakan adanya kegugupan dari caranya berbicara. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Apa ini ada hubungannya dengan status mereka yang sebenarnya? Apakah ini yang dimaksud oleh Kak Amora?
"Fajar? Kamu ada disini?" Zahra melirik Fajar yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.
Fajar yang sedang melamun tersentak saat Zahra menyadari keberadaannya ditempat itu.
"Iya. Aku diminta datang kesini oleh Om Helmi, untuk membahas acara tujuh bulanan kehamilanmu yang akan diadakan dirumah ini. Kamu baik-baik saja kan? Apa sebaiknya kita kerumah sakit? Atau... Biar aku memeriksa keadaanmu? Takutnya nanti, kondisimu bisa mempengaruhi kondisi bayimu" Saran Fajar dengan perhatiannya.
"Bayimu? Bukankah ini bayi kita berdua?" Zahra menatap Fajar dengan curiga. Membuat lelaki itu ikut gelagapan juga.
"Mmm.... I.. ya. Maksudku.... Bayi kita. Jadi bagaimana, apa kamu yakin baik-baik saja? Tidak perlu diperiksa oleh dokter?"
"Iya, aku tidak apa-apa kok. Mungkin, ini hanya pengaruh kehamilanku saja. Karena kehamilanku sudah semakin besar, jadi aku gampang kelelahan. Mungkin aku butuh banyak istirahat. Apa kalian bisa meninggalkanku?"
__ADS_1
Zahra mengusir mereka secara halus. Pikirannya begitu campur aduk antara bingung, sedih dan kecewa.