
"Aku akan datang. Dan aku akan mencurimu"
Rahul berbalik dan berjalan. Shreya mengejarnya dari belakang.
"Rahul" Lirihnya. Namun seketika pria itu menghilang. Shreya menatap kesekelilingnya. Dia hanya bisa melihat pemandangan gunung granit serta bunga-bunga yang bermekaran dan menghampar.
Sedangkan Rahul, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki itu disana. Bagai orang hilang ditelan bumi. Shreya termangu. Apakah memang Rahul tidak ada disini? Apakah barusan dia berhalusinasi? Serindu itukah dia pada pria itu? Hingga dia bisa berhalusinasi seolah melihat pria itu dimana-mana?
Dia terkejut saat merasakan bahunya disentuh oleh seseorang dari belakang. Sedikit harapan singgah dihatinya. Dia berbalik dan tanpa melihat siapa pemilik tangan yang menyentuhnya, dia langsung memeluk tubuh pria itu.
"Hiks. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa jika aku, harus jauh darimu" Shreya terisak seraya menelusupkan wajahnya didada bidang itu. Ucapan wanita itu membuat Fajar tersenyum sumringah.
"Tidak ada yang akan meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu. Jangan menangis lagi ya" Fajar membalas pelukan Shreya dan mencoba untuk menenangkannya.
Suara lelaki itu membuat Shreya terkesiap. Dia mengenal suara itu. Namun dia yakin suara itu bukan milik Rahul. Shreya melepaskan pelukan itu. Tubuhnya menjadi tegang melihat Fajar berada dihadapannya.
Dengan kedua tangannya, pria itu menyeka air mata yang berlinang diwajah Shreya. Lalu dia mencium kening wanita itu dengan lembut.
"Fajar hentikan!" Shreya berteriak sembari memundurkan tubuhnya menjauhi Fajar. "Tolong jangan menyentuhku!"
"Tapi...."
"Iya, aku tau kamu adalah suamiku. Kamu berhak untuk melakukan apapun terhadapku. Dan sebagai istri, aku memiliki kewajiban untuk mematuhimu. Aku tau itu. Tapi aku mohon untuk kali ini saja, tolong mengertilah posisiku.
Karena aku belum bisa mengingat apapun tentangmu.
Aku tidak ingat kapan pertama kali aku bertemu denganmu, aku juga tidak ingat kapan aku menikah denganmu. Jadi tolong, beri aku waktu untuk mendapatkan kembali ingatanku. Atau, setidaknya sampai hatiku bisa yakin dan menerimamu sebagai suamiku. Aku mohon"
Shreya menangis dan berceloteh tak karuan. Pikirannya yang sedang galau membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Puas mengutarakan uneg-unegnya yang terpendam, dia berbalik dan berlari. Fajar terpaku menatap punggung dan rambut panjang Shreya yang berlari meninggalkannya. Ucapan wanita itu membuat hatinya terasa perih.
********
Sesampai dirumah, Shreya langsung berlari masuk kedalam tanpa menghiraukan Fajar yang mengejar dan memanggil-manggilnya. Pikirannya yang sedang kacau balau membuatnya tidak bisa mendengar apapun dan dari siapapun.
"Shreya. Shreya tunggu. Tolong dengarkan dulu penjelasanku!"
__ADS_1
Shreya yang terus berjalan tanpa sadar berpapasan dengan Bu Zaitun, yang menatapnya dengan heran akan sikap wanita itu.
Terlebih saat dia melihat Fajar yang menjatuhkan dirinya disofa. Dan menutup wajah dengan telapak tangannya. Tampangnya terlihat sedih. Membuat Bu Zaitun jadi penasaran.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua majikannya itu? Apakah mereka bertengkar? Setaunya tadi saat pergi, mereka berdua baik-baik saja. Kenapa sekarang mereka jadi seperti ini? Ada masalah apa sebenarnya?
Tak ingin terlalu banyak berasumsi, wanita paruh baya itu akhirnya mendekati Fajar.
"Mmm, Tuan. Maaf kalau saya boleh tau, ini ada apa ya? Tuan bertengkar dengan Nyonya muda?" Tanya Bu Zaitun dengan nada pelan.
"Ini semua salahku Bu. Aku terlalu terbawa perasaan. Hingga aku melupakan fakta yang sesungguhnya" Jawab Fajar sendu.
"Maksud Tuan?"
"Aku lupa, bahwa dia bukan Shreya. Dia bukan istriku. Tapi aku terlalu hanyut dalam peranku sebagai suaminya. Hingga aku lupa, jika itu hanya peran,bukan kenyataan. Dan kenyataannya adalah, tidak ada hubungan pernikahan yang mengikat kami berdua.
Apa aku salah Bu, jika aku menaruh perasaan lebih terhadap wanita itu? Aku tidak tau, kapan perasaan ini muncul dan berkembang dihatiku. Tapi setiap kali melihat perempuan itu, hatiku terasa sangat bahagia. Aku merasa nyaman berada didekat wanita itu.
Dan, aku tidak pernah merasakan ini pada perempuan manapun selain Shreya, istriku yang sudah tiada. Apa aku salah Bu, jika aku membuka hatiku untuk wanita lain. Wanita yang sama sekali tidak aku ketahui asal usulnya?"
"Tidak Tuan. Tuan tidak salah. Yang namanya cinta itu berasal dari hati. Kita tidak bisa mengontrol hati kita untuk berlabuh pada siapa. Lagipula saya yakin Tuan, almarhum Nyonya Shreya pasti ingin Tuan bisa bahagia, bersama perempuan yang Tuan cintai setelah kepergiannya"
Bagaimana jika seandainya nanti, suaminya datang untuk menjemputnya? Bagaimana caraku untuk mencegahnya Bu? Sementara statusku, hanyalah suami palsu. Bagaimana aku bisa menang melawan suami yang asli?
Mungkin saat ini dia percaya dengan pengakuan dan semua bukti yang aku berikan. Bukti yang sudah aku manipulasi. Mungkin logika dia mempercayainya. Tapi bagaimana dengan hatinya? Hatinya pasti bisa merasakan jika aku ini bukan siapa-siapanya.
Hatinya pasti tau siapa suaminya yang sesungguhnya. Karena adanya ikatan cinta yang begitu kuat diantara mereka. Yang tidak dia miliki denganku"
Panjang lebar Fajar mengungkapkan keluh kesahnya. Dia terlihat sangat putus asa. Membuat Bu Zaitun menatapnya dengan iba.
Kasian sekali tuan mudanya itu. Rasanya dia tidak tega melihat lelaki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu bersedih.
Apa dia harus turut campur untuk membantu Fajar mendapatkan hati perempuan itu?
*********
"Selamat malam Nyonya" Bu Zaitun membuka pintu dan memasuki kamar Shreya, sembari membawa nampan berisi menu makan malam untuk perempuan itu.
__ADS_1
"Eh, malam Bu. Masuk Bu" Shreya mempersilahkan wanita itu dengan suara lembut. Bu Zaitun berjalan mendekati Shreya, lalu berdiri disamping ranjang tidur wanita itu.
"Nyonya, ini saya buatkan makan malam untuk Nyonya. Kata tuan, makanan ini bagus untuk wanita hamil"
"Terima kasih Bu. Letakkan saja disitu. Nanti saya makan" Shreya menunjuk nakas yang ada disamping tempat tidurnya. Sesuai keinginan perempuan itu, Bu Zaitun meletakkan nampan itu diatas nakas yang ditunjuk.
"Dimakan ya Nyonya. Jangan sampai sikecil kelaparan" Bu Zaitun memperingatkan dengan suara lembut.
"Iya Bu, nanti saya makan kok"
"Mmm.... Maaf Nyonya, bukannya saya lancang mau ikut campur. Kalau saya boleh tau, sebenarnya Nyonya dan Tuan ada masalah apa ya, hingga kalian bertengkar?"
"Bertengkar?" Dengan tampang bingung Shreya membalas pertanyaan Bu Zaitun dengan pertanyaan juga.
"Maaf Nyonya. Apa ada, sikap atau tindakan Tuan yang membuat Nyonya marah atau merasa tidak nyaman?"
"A-aku...."
"Bukankah kalian berdua suami istri? Bukankah hal yang wajar jika Tuan melakukan sesuatu terhadap Nyonya?" Perlahan-lahan Bu Zaitun melancarkan rencananya untuk mempengaruhi Shreya. Membuat wanita itu terdiam dan bingung harus menjawab apa.
Kalau dipikir, apa yang dikatakan wanita paruh baya itu memang ada benarnya. Fajar adalah suaminya. Pria itu berhak untuk melakukan apapun terhadapnya. Dan sebagai seorang istri, dia memiliki kewajiban untuk berbakti pada lelaki itu.
Tapi, apa itu artinya dia juga wajib untuk....? Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Mengapa dia bisa merasa setakut itu? Bukankah mereka sudah pernah melakukannya hingga dia bisa hamil seperti ini?
Bu Zaitun tersenyum sebelum melanjutkan. "Tapi saya yakin, jika Tuan belum melakukan apapun terhadap Nyonya. Karena beliau menghargai kondisi Nyonya saat ini. Karena saat ini Nyonya sedang hilang ingatan, dan tidak mengingat apapun. Tapi saya ingat semuanya.
Saya ingat seperti apa dulu kalian saling mencintai. Seperti apa Tuan sangat mencintai Nyonya. Beliau tidak pernah mengabaikan Nyonya. Selalu menuruti apapun keinginan dan permintaan Nyonya.
Kesalahan Tuan hanya satu. Dihari kecelakaan itu, Tuan menolak untuk menemani Nyonya jalan-jalan keluar. Dan, saat kecelakaan itu terjadi, Tuan sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri. Beliau tidak bisa menerima kenyataan"
"Tidak bisa menerima kenyataan? Bukankah aku baik-baik saja setelah kecelakaan itu?" Shreya mengernyitkan keningnya. Dia merasa ada ucapan Bu Zaitun yang tidak sesuai dengan logikanya.
Sadar telah keceplosan, Bu Zaitun jadi gelagapan hingga dia merasa perlu memutar otaknya lagi untuk memoles ucapannya.
"Mmm.... Maksud saya, saat itu Nyonya terluka parah bahkan sampai kritis. Dan Tuan sangat terpukul saat itu. Beliau takut jika Nyonya tidak...."
"Maaf Nyonya, kalau saya terlalu ikut campur. Saya sudah menganggap Tuan Fajar seperti anak saya sendiri. Saya sudah bekerja dengan orang tuanya sejak beliau masih kecil. Beliau sangat sedih dan merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Nyonya.
__ADS_1
Nyonya hilang ingatan dan tidak mengingat apapun tentang beliau. Mungkin dia berpikir, jika ini adalah hukuman untuknya. Hukuman karena pada saat itu dia lebih memilih pasiennya yang harus dioperasi, ketimbang menemani Nyonya yang merengek minta ditemani ke jalan-jalan"