Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 101- Aku Bahagia Bersamamu


__ADS_3

"Pengrajin? Bukankah pabrik ini milik keluargamu sendiri? Kok kamu bisa menjadi pengrajin, bukan pengelolanya?" Zahra bertanya dengan bingung.


"Nanti kamu juga akan tau sendiri"


"Aku tau. Pasti saat itu kamu sedang menyamar, seperti di film-film itu. Iya kan?" Tebak Zahra.


"Kurang lebih seperti itu" Rahul tersenyum sendu. Ingin sekali rasanya dia mengatakan


*kamulah yang membawaku ketempat ini. Dan membuatku menjadi pekerja disini. Kamulah yang membuatku melakukan penyamaran sebagai lelaki biasa. Hingga aku bisa menemukan orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Orang yang membuatku akhirnya bisa berdamai dengan takdirku. Membuatku merasa jika hidupku masih ada gunanya. Thank you my wife. I love you so much*


Namun dia masih harus menyimpan kata-kata itu dalam hatinya. Padahal dia sudah sangat ingin berujar seraya memeluk dan mencium istrinya dengan penuh perasaan.


Namun dia tidak ingin bersikap gegabah. Ada waktunya untuk dia mengatakan semua itu. Namun waktu itu bukan sekarang.


Beberapa detik kemudian, Rahul dibuat kebingungan melihat Zahra yang tiba-tiba saja tampak termenung.


"Hey?" Rahul menyentuh pundak Zahra dengan perasaan was-was. Dia takut istrinya sakit lagi seperti sebelumnya. "Kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi melamun? Apa aku ada salah bicara? Atau.... Kepalamu sakit lagi?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Aku kepikiran pada anak-anak kecil tadi. Aku tidak menyangka, ternyata dampak dari bencana yang sudah terjadi itu sangat besar bagi desa ini. Terutama bagi anak-anak itu. Mereka sampai tidak bisa sekolah lagi, karena sekolah yang menjadi tempat mereka menimba ilmu harus hancur.


Padahal aku bisa melihat, mereka sangat haus dan rindu pada pendidikan mereka. Andai saja ada seorang malaikat yang dengan sukarela mendirikan sekolah didesa ini untuk mereka, aku pasti akan sangat berterima kasih pada orang itu" Tutur Zahra lirih dengan tatapan sendu dan penuh harap.


Ucapan Zahra membuat Rahul menatapnya dengan sendu. Andai saja istrinya itu tau. Jika bencana banjir yang sedang dia bicarakan saat ini, bukan hanya berdampak besar bagi anak-anak dan desa ini.


Namun juga bagi kehidupan dan rumah tangga mereka. Dimana mereka berdua sampai terpisahkan, hingga bertemu kembali dalam situasi yang seperti ini.

__ADS_1


"Jadi, siapapun yang bisa membuat anak-anak itu bisa bersekolah kembali, orang itu akan menjadi malaikat bagimu?" Rahul bertanya memastikan.


"Ya tentu saja. Orang yang bersedia melakukan kebaikan terhadap orang lain tanpa pamrih, bagiku dia layak disebut sebagai malaikat tidak bersayap" Jawab Zahra dengan tegas dan lancar. Membuat Rahul tampak berpikir dengan wajah berseri-seri.


"Eh, Pak Rahul. Selamat sore Pak. Kami tidak tau kalau anda akan datang kemari. Kalau kami tau, pasti kami akan mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Bapak"


Percakapan mereka buyar akibat kemunculan seorang pria paruh baya yang datang menyapa Rahul dengan ramah dan sopan. Nampaknya pria itu sangat menghormati Rahul. Mungkin lantaran dia bagian dari pemilik tempat itu.


"Tidak usah repot-repot Pak. Aku datang kesini bukan untuk membahas masalah pekerjaan kok. Kebetulan saja kami sedang lewat daerah sini. Jadi sekalian kami mampir untuk mencari hiburan"


"Oh begitu? Ya sudah Pak, Bu. Silahkan masuk" Dengan penuh hormat pria berpakaian rapi itu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


"Iya-iya. Ayo" Rahul mengangguk lalu dia mengajak Zahra.


********


Mereka sedang berada didalam gudang pabrik yang dipenuhi dengan alat dan bahan-bahan pembuat gitar. Ruangan yang digunakan sebagai tempat khusus untuk merapikan dan pengecatan gitar.


Ruangan itu juga dipenuhi oleh belasan para pekerja, yang tampak sedang berkutat dengan alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan proses penghalusan dan pengecatan gitar-gitar, yang belum sepenuhnya terbentuk dan rampung


diatas meja-meja yang tersedia dalam ruangan itu.


Para pengrajin itu tampak dengan tekun dan telatennya dalam melakukan pekerjaan mereka. Gitar-gitar yang sudah terbentuk sempurna juga nampak bergelantungan dilangit-langit dan memenuhi ruangan itu.


"Iya Pak. Semuanya baik-baik saja. Minggu depan produk-produk ini siap untuk diluncurkan. Dan rencananya, kami juga akan merekrut beberapa pengrajin dari desa ini. Karena kita masih kekurangan pengrajin Pak"

__ADS_1


Rahul manggut-manggut. "Aku percayakan semuanya padamu. Lakukan saja apa saja yang terbaik, untuk membuat pabrik ini semakin berkembang"


"Iya Pak baik"


Rahul melirik kesekelilingnya untuk mencari keberadaan Zahra yang sedari tadi tidak terdengar suaranya. Terlalu sibuk berbincang dengan karyawannya membuat pikirannya sejenak teralihkan dari istrinya.


"Bu, sini biar saya saja. Nanti tangan Ibu lecet atau terluka" Rahul melihat salah seorang pengrajin sedang menegur Zahra dengan nada sopan, saat melihat wanita itu tampak memegang ampelas dan sedang ikut melakukan proses merapikan alat musik gitar yang berada diatas salah satu meja diruangan itu.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan kenapa-napa kok. Lagipula aku ingin mencobanya. Ini sangat menyenangkan" Zahra tidak menggubris teguran dan larangan karyawan itu untuk mundur.


Dia tetap bersikeras untuk tetap meneruskan aktivitasnya. Sangat terlihat bahwa perempuan itu sangat menikmati kegiatan itu.


"Tapi Bu...." Lelaki itu masih saja melarang dengan ragu.


Namun beberapa detik kemudian dia sadar jika Rahul sedang memperhatikannya. Serta memberi kode agar dia enyah dari hadapan istrinya itu. Pengrajin itu langsung menjauhi Zahra sesuai dengan kode perintah dari atasannya.


Dengan seulas senyum hangat, Rahul mendekati Zahra. Kemudian dia berdiri disamping istrinya untuk membantu menyelesaikan proses pembuatan alat musik itu.


Zahra menoleh kesampinngnya, melirik Rahul dengan wajah berseri. Perasaan hangat kembali menyelimutinya setiap kali dia berdekatan dengan lelaki itu. Pekerjaan yang sebelumnya begitu menyenangkan, kini seratus kali terasa semakin seru dan menyenangkan, saat dia melakukannya berdua dengan lelaki itu.


Tidak terasa mereka menghabiskan waktu selama berjam-jam dipabrik itu. Zahra terlihat begitu ceria dan menikmati kegiatan yang mereka lakukan ditempat itu. Dia melakukannya dengan senang hati dan gembiranya. Sangat terlihat jika merakit gitar bukanlah pekerjaan yang sulit dan asing baginya.


Tentu saja Rahul tau betul akan kemahiran istrinya dalam bidang itu. Dulu ketika dia masih menjadi pekerja dipabrik yang sebelumnya, Zahra selalu menemaninya disetiap waktu senggangnya. Bahkan wanita itu selalu merengek minta diajari olehnya.


Rahul sangat bersyukur lantaran dia masih bisa mengulangi momen bahagia itu bersama wanita yang sama. Meskipun dalam suasana yang berbeda. Dimana dulu Zahra masih memiliki ingatan penuh akan hubungan mereka sebagai pasangan suami istri. Sangat berbanding terbalik dengan situasi saat ini.

__ADS_1


Kendati demikian, kebahagiaan dan rasa syukurnya tetap tidak berkurang atas setiap saat bahkan setiap detik yang dia lewati bersama wanita tercintanya itu, meski apapun situasinya.


__ADS_2