Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 52- Kecelakaan!!


__ADS_3

Keturunan yang akan menjadi penerus Dirgantara Group. Anak yang akan membuat Rahul melupakan Zahra dan bayi dalam kandungannya. Dua orang yang sangat dia harapkan sudah lama menemukan ajalnya itu.


Tapi semua angan-angannya itu harus buyar, karena ocehan suami dan mertuanya yang tidak berguna dan menyebalkan itu! Yang membuatnya tidak lagi memiliki alasan untuk tidak ikut dengan mereka, hanya untuk menghadiri acara yang tidak penting itu.


Meninggalkan Rahul bersama wanita caper itu berdua dirumah ini!


Untung saja dia tidak perlu merisaukan hubungan mereka berdua. Karena Shreya itukan istrinya Fajar, dan sedang mengandung anak dari lelaki itu. Sedangkan Rahul, yang dia tau saat ini pria itu sangat mencintai istrinya yang tidak jelas itu.


Jadi rasanya tidak mungkinlah, jika dia akan bermain api dengan istri sahabatnya sendiri.


*******


Rahul sampai dirumahnya saat jam menunjukkan pukul 9 malam, ditengah-tengah derasnya hujan yang sedang mengguyur bumi. Yang membuat udara terasa begitu dingin hingga menembus kulit.


"Tuan sudah pulang" Bu Susan menyapa Rahul dengan penuh hormat, saat dia membukakan pintu untuk tuan mudanya itu.


Mata Rahul tampak berkeliaran kesana kemari.


"Mmm.... Dia kemana ya?"


"Maksud Tuan, Nyonya Shreya?"


"Iya"


"Sepertinya beliau, sedang istirahat dikamarnya Tuan. Tuan ada perlu, dengan Nyonya muda Shreya? Biar saya panggilkan"


"Tidak usah, biarkan saja dia beristirahat. Oh ya, tolong buatkan aku kopi susu hangat, dan antarkan keruang kerjaku ya"


"Baik Tuan"


Rahul menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu dia langsung menuju ruang kerjanya, untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum tuntas.


Saat sedang berkutat dengan laptop dan berkas-berkas penting perusahaan, tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan cepat dari luar. Membuat Rahul sontak terkejut.


Bu Susan masuk dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat sangat panik. Membuat Rahul merasa heran.


"Tuan!!"


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat panik begitu? Ada masalah?"

__ADS_1


"Tuan, Nyo.... Nyonya..... Nyonya Shreya...." Bu Susan berkata dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa dengan Shreya!" Rahul terkesiap dan langsung bangkit dari kursinya, mendengar nama Shreya disebut-sebut membuatnya ikutan panik.


"Nyo.... Nyonya Shreya jatuh dari tangga"


"Apa?!!" Rahul terkejut bukan main mendengar Bu Susan mengatakan Shreya celaka. Tanpa menghiraukan lagi kepala pelayan yang sudah berumur itu, dia langsung berlari keluar mencari Shreya dengan perasaan ketar-ketir.


Sesampainya diruang tengah, dia mendapati Shreya dalam keadaan tersungkur diatas lantai dekat tangga. Tampak juga beberapa pelayan dan pengawal yang sedang mengerumuni dan mencoba menenangkannya.


"Aaaahhkkkk!! Sakit!!" Shreya merintih dan menjerit kesakitan sembari memegang perut buncitnya.


"Shreya!!" Pekik Rahul yang langsung berlari mendekati wanita malang itu, diikuti Bu Susan dari belakang. Rahul berjongkok didepan Shreya.


"Kamu baik-baik saja?! Hah?!" Tanya Rahul dengan perasaan khawatir yang luar biasa melihat wanita itu kesakitan.


"Tolong cepat bawa aku kerumah sakit! Aku tidak mau terjadi apapun pada bayiku!! Aaahhhkk!!" Shreya mencengkeram baju Rahul sembari berteriak menahan rasa sakitnya.


"Iya ya, tenang ya tenang" Rahul merangkum wajah Shreya dengan lembut. Keringat dingin tampak membasahi sekujur tubuh wanita itu. Membuat dada Rahul terasa sesak melihatnya.


"Kenapa kalian diam saja?! Cepat siapkan mobil!!" Rahul membentak beberapa pengawalnya yang sedang menjadi bagian dari kerumunan itu.


"Karena takut hujan deras, lalu kita harus diam saja, melihat seorang ibu sekarat disini bersama bayinya?!! Cepat siapkan mobilku sekarang, atau silahkan kalian resign dari pekerjaan kalian!!"


Rahul mengancam para pengawalnya dengan suara keras, yang hampir setara dengan suara petir yang sedang sambar menyambar diluar. Membuat semua orang disana terutama pengawal seketika langsung menciut nyalinya.


"Ba-baik Tuan"


*********


Mobil yang dikendarai Rahul melaju diantara bisingnya rintik-rintik air hujan yang sedang turun dari langit, dan menghantam permukaan bumi dengan derasnya, hingga menyisakan genangan air disepanjang tempat.


Disertai dengan guntur dan halilintar yang saling bersahutan, hingga suaranya terdengar sangat menakutkan.


Namun tidak dengan Rahul. Ketakutannya saat ini adalah melihat dan mendengar suara jeritan kesakitan, yang berasal dari wanita malang yang duduk di jok mobil disampingnya.


"Aaarrrhhhggg!! Sakit!! Tolong aku!!" Tak puas hanya dengan menjerit, Shreya juga mencengkeram baju Rahul yang sedang menyetir mobil disepanjang jalan. Keringat dingin masih tampak bercucuran disekujur tubuh wanita itu, ditengah-tengah cuaca yang sedang dingin-dinginnya.


"Iya ya, sabar ya sabar. Kita akan sampai dirumah sakit sebentar lagi. Tolong tenang ya. Kamu harus kuat demi bayimu. Jadi aku mohon bertahan ya. Aku yakin kamu bisa" Rahul menggenggam tangan Shreya dengan lembut, berusaha menenangkan wanita itu.

__ADS_1


Karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Andai rasa sakit wanita itu bisa berpindah ketubuhnya, rasanya dia rela menggantikan rasa sakit itu. Melihatnya menangis dan menjerit kesakitan seperti itu, membuat hatinya terasa teriris.


Rasanya ini jauh lebih sakit dari saat dirinya masih mendapat cemoohan, dan hinaan karena kebutaannya dulu. Dan, saat tubuhnya dihajar habis-habisan oleh pegulat diatas ring waktu itu.


Dia sendiri heran, kenapa dia bisa merasa jika wanita itu sangat berharga baginya. Bahkan dia tidak tau, apakah perasaannya saat ini murni karena rasa kemanusiaan, atau ada rasa lain?


Ditengah-tengah kepanikan dan kekalutannya melihat kondisi menyedihkan wanita itu, tiba-tiba dari luar matanya seperti melihat sesuatu yang tergeletak ditengah jalan. Membuatnya sangat terkejut dan langsung menghentikan kendaraan roda empat yang sedang dikemudinya, karena keberadaan sosok itu menghalangi mobilnya untuk lewat.


"Apalagi ini!" Gerutu Rahul, lalu dia melirik Shreya yang sudah tampak lemah dan berbicara selembut mungkin. "Kamu tunggu sebentar ya, aku cek dulu"


Rahul keluar dari mobilnya, menerobos derasnya air hujan yang menimpa tubuhnya. Berjalan dengan langkah lebar mendekati sosok yang terlihat seperti seorang pria, yang tersungkur ditengah jalan beraspal yang basah dan penuh dengan genangan air.


Disamping tubuh pria itu terdapat sebuah sepeda motor yang tergeletak. Sepertinya pria itu sedang tidak sadarkan diri, atau mungkin dia korban tabrak lari?


"Mas.... Mas.... Bangun Mas. Anda kenapa? Mas" Rahul berjongkok, kemudian dia memegang dan menggerak-gerakkan tubuh lelaki itu, berusaha memastikan apakah orang itu masih hidup atau tidak.


Namun hal yang berada diluar dugaannya pun terjadi, saat tiba-tiba. "Mau apa kalian?" Rahul bangkit berdiri dengan tubuh yang tegang saat ada tiga lelaki yang entah muncul darimana, tau-tau langsung menyergap dan menodongkan senjata tajam padanya.


Tak hanya itu, lelaki yang tadi dikiranya pingsan ditengah jalan pun bangkit berdiri, dengan tubuh terlihat segar bugar. Rahul baru mengerti, ternyata dia sedang diprank dan dibegal.


"Serahkan dompet, mobil dan semua harta berharga yang kamu miliki, atau nyawamu akan melayang. Cepat!" Ancam salah satu dari mereka dengan ekspresi garang.


Sebenarnya Rahul tidak merasa takut sedikitpun dengan keempat lelaki berbadan tinggi dan kekar yang sedang mengintimidasinya itu. Karena dia sangat yakin bisa menghadapi mereka dengan tenaganya.


Tapi masalahnya saat ini dia sedang tidak ada waktu, karena Shreya harus secepatnya dibawa kerumah sakit dan mendapatkan perawatan.


Pada akhirnya Rahul pasrah menyerahkan dompet dan ponselnya ketangan begal itu.


"Kok cuma ini? Mana kunci mobil, dan cincin yang kamu pakai itu?! Cepat serahkan! Kamu jangan main-main ya!!" Hardik pria yang tadi pura-pura pingsan sembari melihat dompet dan ponsel, yang baru saja dia rampas dari tangan pemiliknya.


Lalu dia mengadahkan tangannya sembari menunjuk cincin yang melingkar dijari manis Rahul.


"Silahkan ambil semua uang saya, tapi tidak dengan cincin dan mobil. Karena saya sedang buru-buru. Dan saya tidak ada waktu untuk meladeni kalian" Rahul berkata dengan nada datar tanpa merasa gentar sedikitpun.


Untuk harta lainnya, mungkin dia tidak akan keberatan untuk menyerahkannya begitu saja. Tapi tidak dengan cincin dan mobil. Karena itu adalah cincin pernikahannya. Simbol cintanya dengan Zahra, yang sampai mati pun tidak akan pernah dia lepaskan ketangan lelaki berandalan yang tidak bertanggung jawab itu.


Begitupun dengan mobilnya yang saat ini sedang sangat dia butuhkan. Karena hanya mobil itu yang bisa mempercepat waktunya, untuk menolong Shreya dan membawanya kerumah sakit.


"Oh..... Nantangin dia" Ujar pria itu dengan sinis sembari mengangguk-angguk. Karena kesal dengan sikap Rahul, akhirnya pria itu memberikan serangan padanya. Namun dengan cepat Rahul menangkis serangan itu.

__ADS_1


Seketika terjadilah baku hantam antara Rahul dan keempat lelaki begal yang sedang mengeroyoknya, dalam derasnya hujan yang membuat tubuh mereka basah kuyup. Disertai dengan suara petir dan kilat yang terus bersahutan, seolah menjadi saksi dan musik dari pertarungan sengit mereka.


__ADS_2