Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 78- Bertemu Di Acara Meeting


__ADS_3

"Ricky" Pria paruh baya berusia sekitar 40 puluh tahunan itu mengulurkan tangannya dengan ramah.


"Rahul" Rahul membalas uluran tangan itu.


"Hari Pak" Asistennya pun ikut mengulurkan tangan yang langsung dibalas oleh Rahul.


"Rahul"


"Silahkan duduk Pak" Adam mempersilahkan mereka semua untuk duduk.


"Iya. Oke Pak Ricky, mungkin asisten saya sudah menjelaskan semuanya pada anda?" Ujar Rahul yang menunjuk Adam diakhir ucapannya.


"Iya tentu saja Pak" Pak Ricky mengangguk mengerti.


"Baiklah, mungkin saya harus menjelaskannya lagi. Jadi saya ingin membangun rumah sakit yang besar dan mewah. Dan saya ingin pembangunannya atas nama istri saya"


"Jadi ceritanya, Pak Rahul ingin memberikan kejutan atau hadiah untuk istri anda?" Goda Pak Ricky. Rahul hanya menanggapinya dengan senyum kecut.


"Ya.... Bisa dibilang begitu. Jadi istri saya adalah seorang petugas medis. Dan dia sudah banyak menghabiskan hidupnya pada orang-orang yang membutuhkan perawatan medis. Jadi ya, anggap saja ini hadiah untuk pekerjaan mulianya selama ini"


Ujar Rahul dengan penuh cinta membayangkan Zahra. Membuat perasaannya menjadi ringan. Meskipun hatinya sedang gundah gulana dan kecewa terhadap penolakan Shreya, namun hal itu tetap tidak mengurangi cintanya pada Zahra, yang sampai saat ini masih tetap menjadi pemilik hatinya.


"Istri anda memang wanita yang sangat beruntung ya Pak, memiliki suami seperti anda" Puji Pak Ricky.


"Anda salah Pak. Justru saya lah, pria yang sangat beruntung karena memiliki istri seperti dia. Karena cinta tulus yang telah dia berikan untuk saya, membuat saya bisa seperti ini. Walau mungkin, saya sering melupakan ketulusan cintanya terhadap saya" Sanggah Rahul tegas.


Dia merasa tidak pantas mendapat sebutan sebagai suami terbaik, yang membuat istrinya menjadi wanita beruntung karena memilikinya. Justru dia merasa sudah menjadi suami terburuk didunia.


Dia hanya berharap, semoga masih ada kesempatan baginya untuk bisa bertemu lagi dengan Zahra dan menebus semua kesalahannya. Memperbaiki ikatan suci pernikahan mereka yang sudah dinodai olehnya.


Semoga dengan membangun rumah sakit ini, bisa membuatnya jadi lebih fokus pada Zahra dan melupakan Shreya! Dia ingin Zahra lah yang menjadi prioritas utamanya, untuk saat ini dan selamanya. Bukan wanita lain!


*******


Meeting pun hampir selesai dua jam kemudian. Tiba-tiba ponsel Pak Ricky berdering.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya ijin angkat telpon sebentar" Pak Ricky mohon ijin sembari merogoh ponselnya.


"Oh ya, silahkan Pak. Tidak masalah" Jawab Rahul tenang.


"Iya Ma? Oh, kalian sudah sampai? Oh ya-ya. Mama langsung masuk saja bersama Chika. Ini sebentar lagi Papa meetingnya juga sudah selesai. Nanti Papa susul kemeja kalian. Udah dulu ya. Klien Papa masih disini"


Rahul menjadi salah satu dari yang mendengarkan percakapan Pak Ricky diponsel. Kalau dari percakapannya, nampaknya itu panggilan suara dari istrinya.


"Dari istrinya Pak Ricky?" Tanya Adam basa-basi setelah Pak Ricky mematikan dan meletakkan ponselnya.


"Iya Pak Adam. Kebetulan hari ini saya ada janji lunch diluar bersama istri dan anak saya. Ternyata sekarang mereka sudah sampai diluar. Udah mau masuk katanya" Jawab Pak Ricky malu.


Rahul merasa iri dengan cerita Pak Ricky. Betapa bahagianya pria itu, bisa hidup bersama istri dan anaknya. Menghabiskan waktu setiap saat bertiga. Melakukan banyak hal. Bercanda ria bersama keluarga kecil. Entah kapan hal itu juga akan terjadi padanya?


Entah kapan impiannya untuk bisa hidup bahagia bersama keluarga kecilnya akan terealisasi? Beruntungnya Pak Ricky, karena memiliki istri dan anak yang berada dalam jangkauannya.


Sangat jauh berbeda dengannya, yang entah sampai kapan akan terus hidup dalam penantian yang tak kunjung usai.


"Ya sudah kalau begitu silahkan saja, temui istri dan anak anda. Kasian kalau mereka menunggu terlalu lama. Lagipula meetingnya juga sudah selesai. Saya juga sudah mau pergi kok" Rahul bangkit dari duduknya.


"Ya sudah kalau begitu, saya duluan ya. Selamat siang. Adam" Sebelum melangkahkan kakinya, Rahul terlebih dahulu memberi isyarat pada Adam agar mengikutinya.


"Iya Pak" Bak kerbau yang dicocol hidungnya, Adam langsung berjalan mengikuti Rahul dari belakang.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, dari arah yang berlawanan muncul seorang gadis belia bersama seorang wanita paruh baya, dengan penampilan yang elegan. Tanpa diduga, gadis itu langsung berlari memeluknya.


"Kak Rahul!"


Rahul menatap gadis yang berusia kira-kira sekitar 12 tahun itu dengan bingung. Kedua tangan gadis itu melilit perutnya. Dia tidak mengerti siapa gadis itu? Kenapa berani memeluknya? Bahkan dia sampai tau namanya? Apa mungkin dia mengenalnya? Tapi dimana? Dia sama sekali tidak mengingat gadis kecil ini.


"Chika. Kamu ngapain sayang? Tidak boleh seperti itu. Ini klien Papa. Kamu harus sopan. Pak Rahul, saya minta maaf ya, atas sikap anak saya" Tegur Pak Ricky sembari menarik tubuh gadis itu dengan lembut agar melepaskan Rahul. Lalu dia melirik Rahul dan merasa tidak enak atas tindakan putrinya barusan.


"Iya-iya tidak apa-apa" Ujar Rahul yang masih merasa bingung.


Ternyata gadis yang memeluknya itu adalah putri dari Pak Ricky? Padahal dia baru saja mengenal Pak Ricky. Lalu sejak kapan dia mengenal anaknya? Rahul tidak habis pikir.

__ADS_1


"Pa, ini Kak Rahul. Suaminya Kak Zahra. Itu lho, Kakak perawat yang sering Chika ceritakan"


Rahul terkesiap mendengar gadis itu menyebut nama Zahra! Apakah gadis kecil ini mengenal Zahra, istrinya?! Rahul mencoba berpikir. Sepertinya dia mulai ingat sesuatu yang belum terlalu diyakininya.


"Tunggu-tunggu, sebentar. Nama kamu Chika?" Dengan penasaran Rahul memegang dan menarik bahu anak itu dengan lembut agar menghadapnya.


"Iya Kak, ini aku Chika" Chika mengangguk dengan antusias.


"Chika gadis yang pernah merayakan ultah ditaman rumah sakit dulu?" Rahul kembali bertanya untuk memastikan.


"Iya Kak benar. Kak Rahul sudah bisa melihat sekarang?" Chika mengamati mata Rahul dengan seksama. Sepertinya ia baru ingat jika lelaki itu dulunya buta.


"Iya. Kak Rahul sudah menjalani operasi mata. Dan alhamdulillah, sekarang Kakak sudah bisa melihat"


"Wah. Kakak jadi semakin tampan ya sekarang" Chika tersenyum kagum.


"Kecil-kecil sudah pintar menggoda lelaki dewasa ya" Seloroh Rahul yang membuat semua orang terkekeh, hingga Chika merasa malu.


"Oh ya Chika, tadi kamu bilang kalau Pak Ricky ini adalah.... Papa, dan.... istrinya ini adalah, Mama? Bukankah Ibumu sudah tiada? Dan Ayahmu tidak pernah....?" Cecar Rahul.


Seingatnya dulu Zahra pernah cerita, kalau ibunya Chika sudah tiada. Sedangkan ayahnya tidak pernah menyayanginya. Lalu kenapa sekarang Pak Ricky dan istrinya bisa menjadi orang tua dari anak itu? Rahul jadi bingung dan penasaran.


"Nanti Chika ceritakan semuanya ya Kak"


********


Rahul ikut bergabung dengan Chika, Pak Ricky dan istrinya dalam satu meja. Sedangkan kedua asisten mereka sudah tidak terlihat lagi. Sepertinya dua lelaki yang berprofesi sebagai asisten itu sudah enyah dari sana.


"Jadi, sampai sekarang Kakak masih belum tau, dimana Kak Zahra setelah tragedi itu?"


"Iya. Kak Rahul dan keluarga besar Kakak sudah berusaha mencari keberadaan Kak Zahra. Tapi sampai sekarang masih belum ada hasilnya juga" Jawab Rahul lirih.


"Chika ikut sedih ya Kak. Kakak yang sabar. Chika paham bagaimana perasaan Kakak. Chika doakan semoga Kakak bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Kak Zahra dan dedek bayi kalian. Chika juga sama sedihnya seperti Kakak.


Karena sampai sekarang, Chika juga masih belum ketemu dengan teman-teman usai tragedi banjir bandang itu. Rere, Ronny, Doddy dan Razak. Chika juga sangat merindukan mereka. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaik Chika. Mereka selalu ada saat aku membutuhkan dukungan. Tapi sekarang mereka semua hilang dalam tragedi itu" Tutur Chika sendu sembari menundukkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2