
"Mungkin dulu aku memang pernah sangat mencintaimu. Tapi itu dulu. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Dan sekarang aku sama sekali tidak sudi jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya.
Dan satu lagi. Apapun yang kamu katakan dan lakukan, aku sama sekali tidak peduli. Jadi tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk memberiku ancaman yang tidak berguna seperti itu. Karena aku sama sekali tidak tertarik. Jadi sekarang silahkan keluar. Aku ingin tidur"
"Jadi kamu tidak akan peduli, jika semua orang sampai mengetahui perbuatanmu dan Shreya? Baiklah, tapi sebelumnya coba kamu pikirkan baik-baik. Bagaimana perasaan Fajar jika dia sampai tau, bahwa sahabat dan istri tercintanya yang sudah sangat dia percayai... tega menusuknya dari belakang?
Aku yakin dia pasti akan sangat marah dan sakit hati. Lalu dia akan menceraikan Shreya. Dan bukan hanya itu. Bisa jadi juga nanti Fajar akan mengambil hak asuh anak mereka sepenuhnya. Dan memisahkannya dari Shreya setelah anaknya lahir.
Tidakkah kamu membayangkan betapa hancur dan merananya wanita itu, jika sampai dipisahkan dari darah dagingnya sendiri? Kamu tidak akan merasa kasihan ataupun empati terhadap selingkuhanmu itu? Dan aku rasa bukan hanya Shreya saja. Tapi keluargamu juga akan terkena imbasnya.
Kita semua tau.... kalau Papamu adalah tipikal orang yang sangat mementingkan reputasi dan nama baik. Apa jadinya jika publik sampai mengetahui perbuatanmu dan Shreya? Reputasi dan nama baik Dirgantara group pasti akan tercoreng gara-gara kalian berdua. Dan Papamu pasti akan sangat murka jika itu sampai terjadi...."
Dengan percaya dirinya Amora melontarkan kata-kata ancaman yang bermaksud untuk menakut-nakuti Rahul. Membuat lelaki itu tersenyum geram. Ingin rasanya dia mengatakan jika hal itu tidak akan pernah terjadi, baik terhadap Zahra maupun keluarganya.
Tidak ada yang bisa memisahkan Zahra dan bayinya darinya. Mereka berdua akan selalu berada disisinya. Karena mereka adalah miliknya. Tapi tidak ada gunanya mengatakan hal itu pada wanita licik ini. Kuncinya hanya satu, tetap bersabar.
"Sudah selesai celotehanmu? Jika kamu memang ingin membongkar soal hubunganku dan Shreya pada keluargaku, lalu kenapa kamu masih disini dan membuang-buang waktu untuk mengancamku?
Bukankah pintu keluarnya ada disebelah sana? Silahkan kamu keluar dan temui orang tuaku. Lalu katakan apa yang ingin kamu katakan. Lagipula tidak ada yang akan menghalangimu kok. Silahkan"
__ADS_1
Dengan santainya Rahul merentangkan tangan kanannya kearah pintu. Ancaman Amora tidak sedikitpun membuatnya gentar. Dan hal itu sangat terlihat dari ekspresinya.
Sekarang malah Amora yang merasa resah. Takut ancamannya tidak mempan pada lelaki itu, sehingga dia bisa menanggapinya dengan begitu tenang. Tapi dia masih mencoba untuk mempertahankan powernya.
Dia rasa Rahul bersikap seperti itu hanya untuk mengujinya. Karena pria itu berpikir jika ancamannya hanya main-main saja, dan tidak akan berani untuk dia lakukan.
"Jadi kamu menantangku? Baiklah kalau memang itu maumu. Akan aku lakukan sekarang juga. Selamat malam" Amora tersenyum menantang dan berbalik berjalan menuju pintu dengan arogannya.
Belum mencapai pintu, Rahul sudah menyusul dan menarik lengannya. Mau tidak mau tubuh Amora berbalik dan menghadapnya kembali.
Amora tersenyum dengan manisnya. Dia kembali merangkul pundak Rahul dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang satunya lagi masih berada dalam cekalan tangan Rahul.
Namun dugaan hanyalah dugaan, saat Rahul kembali bersuara yang berbanding terbalik dengan dugaannya.
"Tapi sebelumnya... apa kamu juga sudah memberitahu mereka tentang masa lalu kita? Tentang masa-masa indah yang dulu pernah kita lalui bersama? Tentang bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan hingga kebutaan selama bertahun-tahun?
Dan tentang bagaimana kamu merendahkan dan mencampakkanku, setelah aku mengorbankan diriku untuk menyelamatkanmu pada saat itu? Apa ada dari keluargaku yang tau tentang hal itu? Jika tidak, apa perlu aku yang memberitau mereka?"
Rahul bertanya dengan suara pelan dan lembut. Namun mengandung makna yang terdengar menakutkan bagi Amora. Membuat wanita itu merasa gentar dan terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Rahul tersenyum sinis. Dia melepaskan cekalan tangan Amora dan menyingkirkan lengan wanita itu dari pundaknya dengan lembut. Kemudian dia berjalan menuju ranjang dan duduk diatas tempat tidurnya yang empuk itu.
"Amora.... Amora. Kamu pikir aku sebodoh itu, sampai aku tidak tau apa tujuanmu ingin menikah denganku? Aku yakin kamu pasti sudah tau kan, kalau aku dan Kak Gala hanya saudara satu ibu, dengan ayah yang berbeda? Dan sebagai anak kandung dari Helmi Dirgantara, tentu saja posisiku sebagai ahli waris Dirgantara group jauh lebih kuat, dibandingkan Kak Gala yang hanya anak sambung.
Dan itukan alasanmu, kenapa kamu sampai berniat untuk meninggalkan Kak Gala untuk kembali padaku? Karena bagimu, sekarang aku jauh lebih berguna dibandingkan Kakakku. Benar begitukan? Tapi maaf, hatiku sudah sepenuhnya terisi oleh perempuan lain. Dan tertutup dengan sangat rapat untukmu.
Daripada kamu sibuk memikirkan bagaimana reaksi keluargaku tentang hubunganku dan Shreya, kenapa tidak kamu pikirkan saja bagaimana reaksi mereka, jika mereka sampai mengetahui sifat aslimu? Kamu yakin mereka akan tetap sudi menerimamu sebagai menantu dirumah ini, jika mereka sampai mengetahui tentang masa lalu kita?
Bagaimana jika mereka sampai memaksa Kak Gala untuk menceraikanmu? Soal Shreya yang mungkin akan ditendang oleh Fajar, atau soal keluargaku yang akan marah besar pada kami, kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa mengurusnya. Tapi jika keluargaku sampai menendangmu dari rumah ini, siapa yang akan peduli?"
Rahul beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati Amora dengan tatapan nyalang.
"Dengar baik-baik Kakak iparku sayang. Selama ini aku diam, karena aku sangat menyayangi dan menghargai kakakku yang sangat mencintaimu dengan tulus. Sekalipun aku tau, kamu tidak pernah tulus mencintai Kak Gala.
Tapi aku tidak bisa menghancurkan perasannya dengan aku memberitau dia, selicik dan seculas apa wanita pujaan hatinya ini. Jadi aku mohon dengan sangat. Tetaplah menjadi istri yang baik untuk kakakku. Menantu yang baik untuk kedua orang tuaku. Dan Kakak ipar yang baik untukku. Maka aku pun akan tetap menjadi adik ipar yang baik untukmu.
Dan satu hal lagi, tolong jauhi Shreya. Jangan pernah kamu mencoba untuk mengganggunya. Seujung kuku saja dia terluka akibat ulahmu, maka aku pastikan.... bahwa kamu akan menyesal seumur hidupmu. Kamu pahamkan maksudku?"
Panjang lebar Rahul membalas ancaman Amora dengan yang terdengar serius. Membuat wanita itu menjadi tegang hingga nyalinya menciut. Dia lupa jika masa lalunya dengan Rahul juga bisa menjadi bumerang baginya.
__ADS_1
Apalagi jika melihat tatapan Rahul yang sepertinya memang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya. Bukan hal yang mustahil jika lelaki itu akan melakukan apapun, untuk memberikannya serangan balik jika dia sampai berani macam-macam.