
Rahul kembali melirik Shreya yang sedang bercengkrama ria dengan Mamanya. Melihat Mamanya yang dengan begitu mudahnya dekat dan akrab dengan Shreya yang baru dikenalnya, membuat Rahul berpikir. Akankah Mama bisa sedekat dan seakrab itu pula dengan Zahra nanti?
Betapa bahagianya, seandainya wanita yang saat ini sedang bercengkrama ria dengan ibunya adalah istrinya.
"Nah, begitu dong. Semoga kamu betah disini ya Nak" Ujar Lesti dengan sumringahnya.
"Iya, terima kasih ya Tante" Shreya menjawab ucapan Lesti dengan tak kalah sumringahnya. Dia sangat senang dengan keramahan dan kelembutan yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya itu.
Tibalah mereka pada acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu acara tiup lilin dan potong kue yang dilakukan oleh Helmi dan Lesti.
Keromantisan yang mereka tampilkan saat meniup lilin, memotong hingga saling menyuapi kue satu sama lain mampu membuat iri pasangan muda mudi yang hadir memeriahkan acara itu.
Begitu pula dengan Rahul yang ikut merasa iri dan takjub, menyaksikan keberhasilan kedua orang tuanya dalam membina mahligai rumah tangga selama tiga puluh tahun lamanya.
Kedua orang tuanya sungguh beruntung. Karena mereka bisa hidup bahagia bersama pasangan tercinta sampai tua. Ingin rasanya dia berada diposisi mereka. Hidup bahagia bersama istri dan anaknya.
Kapan impian itu akan terealisasi? Kapan dia akan bertemu dan berkumpul kembali dengan istri tercintanya?
Saat pikirannya sedang berkecamuk melihat kebahagiaan kedua orang tuanya, tanpa sengaja pandangannya kembali melayang dan jatuh pada Shreya. Saat yang bersamaan, wanita itu juga melihatnya.
Keempat mata mereka kembali bertemu. Dan perasaan itu kembali dirasakan Rahul. Perasaan hangat setiap kali melihat wajah wanita itu.
*******
Pagi pun datang. Semua orang tampak sedang berkumpul dan menikmati sarapannya masing-masing saat Rahul tiba.
"Selamat pagi semuanya" Sapa Rahul sembari menarik kursi, kemudian menghenyakkan pinggulnya didepan meja makan.
"Pagi. Ayo sarapan dulu Nak" Lesti membalas sapaan anaknya.
"Iya Ma" Rahul mengambil menu sarapan yang tersuguh dihadapannya lalu mengunyahnya.
Namun seketika makanan itu malah membuatnya terpana, lantaran rasanya yang sangat tidak asing dilidah Rahul. Iya, itu adalah masakan yang sudah sering dimakannya saat masih berada didesa. Makanan yang sering dimasak oleh Zahra.
Apa ini masakan Mamanya? Rahul melirik Lesti yang duduk disebelahnya.
"Ma, ini masakan Mama?"
"Bukan itu..."
"Itu masakanku. Kenapa? Rasanya tidak enak ya?" Tukas Shreya malu-malu. Mata Rahul terbelalak mendengar pernyataan wanita itu.
"Mmm..... Tidak. Justru masakanmu sangat enak" Rahul berusaha menutupi rasa terkejutnya.
__ADS_1
Meski dalam hati sebenarnya dia bertanya-tanya. Bagaimana bisa, masakan wanita itu sama persis dengan masakan istrinya? Apakah ini hanya kebetulan saja? Atau mungkin ini hanya perasaannya saja, karena terlalu merindukan Zahra?
"Iya, masakan Shreya memang sangat enak. Beruntungnya Fajar memiliki istri seperti dia. Udah anaknya cantik, rajin dan telaten lagi, membantu Mama dan pelayan masak didapur. Tante yakin, seandainya kamu membuka restoran, pasti usahanya akan berkembang pesat"
Timpal Lesti yang dengan begitu antusiasnya memuji Shreya.
"Tante bisa saja. Aku jadi malu dipuji seperti itu. Kan aku hanya membuat masakan biasa saja. Semua orang juga pasti bisa membuat masakan segampang itu" Ujar Shreya tersipu malu.
"Kamu terlalu merendah Nak. Yang dibilang tantemu benar kok, masakanmu memang enak. Amora, kamu harus banyak belajar masak dari Shreya ya. Karena sejak kamu menikah dengan Gala, Papa tidak pernah melihatmu turun kedapur.
Memangnya kamu tidak ingin, menyihir dan membuat suamimu ketagihan dengan masakanmu? Papa saja nih ya, sampai sekarang masih sangat ketagihan dengan masakan Mamamu, yang kelezatannya tidak bisa dikalahkan oleh chef manapun" Helmi menimpali.
"Papa tidak usah menggombal pagi-pagi. Malu udah tua" Lesti menegur suaminya dengan suara datar.
"Kenapa harus malu? Kan yang digombali istri sendiri, bukan istri orang" Jawab Helmi dengan santainya yang membuat Lesti semakin geram.
"Iya deh pasangan serasi dan harmonis yang baru saja merayakan anniversary. Kami semua disini percaya, jika kalian adalah pasangan yang romantis" Fajar pun akhirnya buka suara melihat tingkah kocak dua sejoli yang sudah berumur itu.
"Tapi ya Mas, menurut saya untuk apa ya, Amora harus susah-susah belajar masak dari Shreya? Memangnya dia koki? Lagipula kita kan udah mempekerjakan pelayan. Kalau pekerjaan rumah kita sendiri yang mengerjakan, lalu fungsi mereka apa? Makan gaji buta dong" Naomi pun ikut bicara.
"Maaf Tante, tapi sepertinya aku kurang setuju ya, dengan pendapat Tante. Memang benar sih, kalau pelayan itu harus bekerja dengan maksimal karena mereka sudah digaji. Tapi sebagai seorang wanita khususnya seorang istri, masak mau selalu melemparkan tanggung jawab untuk melayani suaminya pada pelayan? Bahkan hanya sekedar memasak atau menyetrika pakaian suaminya.
Jujur ya, sebagai seorang pria, aku sangat menyukai tipe wanita yang rajin dan gigih. Dan aku rasa semua pria yang ada disini setuju ya, dengan pendapatku. Aku tau jika Kakakku adalah tipe pria yang baik dan setia. Tapi ya, hati manusia siapa yang bisa menebak? Bisa saja kan, jika suatu saat nanti kesabarannya habis?
Membuat raut wajah Amora menjadi masam. Apa sebenarnya maksud lelaki itu berkata seperti itu terhadapnya? Ingin mempermalukannya didepan keluarganya?
Dasar lelaki sombong! Mentang-mentang sudah mendapatkan lagi kekayaannya karena sudah bisa melihat kembali, seenaknya saja merendahkan dirinya!! Nasibnya benar-benar sial!! Sudah ditolak, dihina pula!
"Iya, tidak apa-apa Hul. Aku sangat menghargai pendapatmu. Tapi insya Allah, aku bisa menjaga hatiku untuk selalu setia pada pernikahan kami. Karena aku sangat mencintai Istriku" Gala tersenyum simpul dan berkata dengan yakinnya.
Membuat Amora dan Naomi tersenyum dengan cerahnya. Rahul hanya bisa tersenyum terpaksa. Dia tau jika kakaknya sangat mencintai Amora.
Dan itulah yang menjadi salah satu pertimbangannya, mengapa selama ini dia tidak mengatakan apapun pada keluarganya, tentang hubungan masa lalunya dengan wanita itu.
Meskipun beberapa tahun ini hubungannya dengan keluarganya merenggang, namun tetap saja, dia tidak tega menyakiti hati kakaknya jika dia sampai tau yang sebenarnya.
Meskipun dia merasa kasian, karena Gala harus jatuh kepelukan wanita yang salah. Wanita yang tidak pernah tulus mencintainya. Namun dia bisa apa? Saat hati sudah berbicara.
Apa jadinya jika kakaknya sampai tau, bahwa istri tercintanya sampai sekarang masih mencoba untuk menggodanya? Memikirkan hal itu membuatnya dilema.
*******
Fajar tampak sedang sibuk berbincang lewat ponsel saat Shreya memasuki kamar mereka dengan membawa secangkir teh.
__ADS_1
"Jadi aku harus kesana? Memangnya tidak ada yang bisa menggantikan ku? Baiklah, aku akan pesan penerbangan paling awal" Fajar mengakhiri panggilan suara itu.
"Ada apa? Kenapa tadi aku mendengarmu menyebut soal penerbangan? Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku harus ke Thailand sekarang. Barusan karyawanku yang bertugas disalah satu rumah sakit cabang yang ada disana memberitau, jika ada sedikit masalah disana yang sangat membutuhkan kehadiranku"
"Lalu aku?"
"Kamu tetap disini saja ya? Kita kan sudah berjanji pada Om Helmi dan Tante Lesti, akan menginap disini selama beberapa hari. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Jadi kamu saja ya, yang mewakiliku? Lagipula dokter Jenar juga sudah bilang, tidak baik jika dikondisimu ini melakukan perjalanan jauh keluar negeri"
"Berapa lama kamu disana?"
"Aku juga masih kurang tau. Mungkin bisa beberapa minggu atau beberapa bulan, sampai urusannya selesai"
"Baiklah kalau begitu, aku akan bereskan barang-barangmu"
"Iya, terima kasih"
********
"kamu kan baru saja datang Nak, masak langsung pergi lagi" Protes Lesti saat Fajar pamit ingin pergi
"Iya maaf ya Tante. Masalahnya ini menyangkut rumah sakit dan pasienku yang ada di Thailand. Jadi mau tidak mau aku harus kesana. Tante jangan marah ya" Fajar mencoba membujuk Lesti yang sedang memasang muka cemberut.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya. Ingat jaga kesehatan, jangan lupa makan dan istirahat. Jangan kesehatan pasien terus yang diurus" Akhirnya Lesti berkata dengan berat hati.
"Iya Tante cantik. Aku juga titip Shreya ya. Dia akan tetap disini selama aku pergi. Karena aku tidak mungkin mengajaknya kesana dalam kondisinya yang sedang hamil besar seperti ini" Fajar menunjuk Shreya.
"Iya. Kamu tenang saja kalau soal Shreya. Dia akan baik-baik saja disini. Tante pasti akan menjaganya dengan baik seperti anak Tante sendiri" Lesti mengelus-elus rambut Shreya dengan lembut.
"Thank you so much Tante. Tante memang yang terbaik" Fajar menggenggam tangan Lesti dan menciuimi punggung tangannya. Lalu dia mendekati Shreya. "Aku pergi dulu ya. Jaga diri dan kandunganmu baik-baik. Aku akan sangat sedih jika kamu dan baby sampai terluka" Kata Fajar dengan lembut sembari menyentuh perut Shreya.
Pada saat itu Rahul lewat, hingga mau tidak mau dia harus melihat dan mendengar percakapan mereka.
"Iya, aku pasti akan menjaga diri dan kandunganku baik-baik. Kamu tidak perlu khawatir" Jawab Shreya kaku. Entah kenapa dia selalu merasa tidak nyaman setiap kali Fajar menyentuhnya.
Andai dia memiliki alasan untuk menolaknya, pasti sudah dia lakukan. Tapi, alasan apa yang bisa dia gunakan untuk melarang suaminya sendiri menyentuh perutnya? Padahal dia sedang mengandung anak mereka.
Tentunya pria itu memiliki hak untuk merasakan kehadiran darah daging mereka, yang sedang tumbuh didalam rahimnya bukan?
Sebelum melangkah pergi, Fajar terlebih dahulu mencium kening Shreya dengan lembut. Layaknya seorang suami yang hendak meninggalkan istrinya.
Melihat adegan itu, hati Rahul seketika menjadi panas. Hingga dia harus mengepalkan tangannya menahan amarah.
__ADS_1