
Andai dia tidak ingat batasan, pasti dia sudah memeluk Shreya dengan erat. Namun keinginan itu harus dia tahan. Karena dia tidak bisa berbuat terlalu jauh.
"Shreya? Hey?" Fajar mengibas-ngibaskan tangannya kedepan wajah Shreya. Membuat wanita itu tersentak begitupun dengan Rahul.
"Mmm, iya?"
"Kamu kenapa? Kok melihat Rahul seperti itu?" Fajar menatap Shreya dan Rahul secara bergantian dengan tatapan curiga.
"Ti-tidak. A.... Aku hanya kaget saja, melihatmu pulang bersama Rahul. Karena setauku, bukankah dia tinggal di Jakarta? Kok bisa ada disini?" Kilah Shreya gelagapan. Lalu dia melirik Rahul.
"Iya, kebetulan aku sedang ada urusan disini. Sebenarnya itu tugasnya Kak Gala. Tapi karena dia sedang ada masalah dengan istrinya, jadi dia memintaku untuk menggantikannya" Jawab Rahul gugup.
"Oh..... begitu?"
"Iya. Jadi selama beberapa hari kedepan, Rahul akan tinggal disini bersama kita. Kamu tidak keberatan kan?" Timpal Fajar.
"Keberatan? Ten-tentu saja tidak. Kemarin saja saat kita ke Jakarta, mereka menyambut kita dengan sangat baik" Shreya mencoba agar suaranya terdengar biasa saja. Padahal dalam hatinya meloncat kegirangan, mendengar bahwa dia akan serumah dengan Rahul selama beberapa hari kedepan.
Fajar tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, nanti saja lanjut lagi bicaranya. Sekarang ayo kita masuk dulu" Ajak Fajar yang lantas berjalan masuk.
"Iya, ayo silahkan masuk" Shreya mempersilahkan.
"Iya terima kasih" Sebelum melangkahkan kakinya mengikuti Fajar, Rahul kembali menatap Shreya yang juga menatapnya dengan penuh kerinduan.
********
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Semua penghuni rumah mewah itu termasuk para pelayan, sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Shreya berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman, lantaran dia merasa tenggorokannya kering. Namun tiba-tiba dia terkesiap saat ada tangan yang menarik lengannya.
"Hey!" Pekik Shreya.
"Mmm.... Ka-kamu? Kamu mau apa?" Shreya tergagap. Jantungnya terasa deg-degan melihat Rahul ada dihadapannya. Tangan lelaki itu mencekal kedua lengannya. Jarak wajah mereka hanya sekitar 4 inci saja.
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku sangat merindukanmu. Kamu tau? sejak kamu pergi, setiap detik aku selalu memikirkanmu. Tidak sedetikpun aku tidak memikirkanmu. Katakan padaku, apakah kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan? Apakah kamu tidak pernah sekalipun memikirkanku, walau hanya sedetik saja?"
Ujar Rahul lirih. Suaranya terdengar begitu mendalam. Membuat Shreya merasa tak berdaya saat menatap mata lelaki itu.
"Kamu salah jika kamu berpikir seperti itu. Sejak aku kembali dari Jakarta, aku selalu saja memikirkanmu. Dimanapun dan kapanpun, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu. Bayanganmu senantiasa menghantuiku. Mati-matian aku berusaha untuk menyingkirkanmu dari ingatanku.
Tapi percuma. Pada akhirnya, aku selalu melihatmu. Sampai rasanya aku begitu membenci perasanku ini. Perasaan rindu yang selalu aku pendam untukmu. Yang tidak bisa aku utarakan, karena aku tidak bisa menyakiti Fajar, pria yang berstatus sebagai suamiku. Sampai aku merasa sebagai wanita terburuk didunia.
Wanita tidak tau diri, yang bisa terus-terusan memikirkan lelaki lain, sementara aku sudah memiliki suami sebaik Fajar. Tapi aku bisa apa? Bukan aku yang inginkan semua ini. Semuanya terjadi diluar kuasaku. Aku membencimu yang selalu mendominasi hati dan pikiranku. Hiks"
Dia tidak menyangka bahwa Shreya bisa menyimpan rasa yang begitu dalam terhadapnya. Tanpa bisa dicegah lagi, Rahul memeluk perempuan itu dengan erat. Mendekap wanita itu didadanya.
Lama mereka berada dalam posisi itu. Terbuai dengan perasaan. Saling menyalurkan kerinduan yang membuncah dihati masing-masing.
Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi aktivitas mereka. Orang itu tak lain adalah Bu Zaitun, yang merasa shok melihat adegan yang sedang berlangsung didepan matanya. Kebersamaan dua sejoli itu membuat hatinya merasa ketar-ketir.
********
Pagi itu Shreya terbangun pagi-pagi sekali dan memutuskan untuk menyiapkan sarapan didapur. Kehadiran Rahul dirumah itu membuat hidupnya terasa berwarna dan bersemangat. Hanya dengan melihat wajah lelaki itu saja, sudah membuat perasaannya begitu sumringah.
Apalagi saat Rahul memeluknya dan menenangkannya semalam. Tubuh dan hatinya merasakan kehangatan yang tiada tara karena pelukan itu. Andai pelukan itu bisa diterimanya setiap saat, pasti hidupnya akan menjadi lebih semarak lagi.
__ADS_1
"Wah. Nyonya pagi-pagi sekali sudah didapur. Padahalkan harusnya tidak perlu Nyonya. Kan ada saya dan pelayan. Kami bisa kok menyiapkan segalanya" Tegur Bu Zaitun yang baru saja tiba didapur.
"Tidak apa-apa Bu. Aku juga bisa kok. Lagipula aku juga bosan dikamar terus, tidak melakukan apapun" Jawab Shreya dengan cerianya sambil memotong sayuran.
"Sudah hampir satu bulan Nyonya menyendiri dan tidak melakukan apapun, saya tidak pernah mendengar Nyonya bilang bosan. Bahkan saya lihat sekarang, Nyonya jadi mudah tersenyum dan nafsu makan Nyonya juga naik dengan drastis. beda dari biasanya. Apakah ini karena kehadiran Tuan Rahul, yang membuat Nyonya menjadi begitu sumringah?"
Selidik Bu Zaitun dengan suara yang terdengar lembut namun terasa menusuk. Membuat Shreya diam terpaku. Lalu dia melirik pelayan paruh baya itu dengan tatapan sendu. Seolah bertanya apa maksud dari ucapan wanita itu sebenarnya.
"Maaf Nyonya, bukannya saya lancang atau sok tau. Tapi saya hanya tidak ingin Nyonya sampai menyakiti Tuan Fajar. Apalagi dengan sahabatnya sendiri. Saya rasa Nyonya sudah tau, kalau Tuan Fajar dan Tuan Rahul adalah sahabat sejak kecil. Bahkan orang tua mereka pun sudah seperti keluarga.
Apakah Nyonya bisa membayangkan bagaimana perasaan Tuan Fajar, jika apa yang saya pikirkan tentang Nyonya dan Tuan Rahul benar adanya? Begitupun dengan keluarga mereka, yang mungkin saja juga akan berdampak karena hal ini. Jadi saya mohon Nyonya, sebelum terlambat, tolong akhiri semua ini. Jangan sakiti orang sebaik Tuan Fajar. Jangan hancurkan hubungan kekeluargaan diantara Tuan Fajar dan Tuan Rahul. Saya mohon"
Bu Zaitun memperingatkan dengan suara lembut namun tegas. Dia tau sebenarnya dia tidak ada alasan, untuk melarang wanita itu mau dekat atau berhubungan dengan siapapun.
Toh dia juga bukan istri Tuan Fajar. Tapi masalahnya, Tuan Fajar sangat mencintai perempuan itu. Dan dia sangat berharap, agar wanita itu bisa menjadi pengganti mending istrinya.
Apa jadinya, jika Fajar sampai tau ternyata wanita itu malah memiliki perasaan terhadap Tuan Rahul, sahabatnya sejak kecil? Tuan Fajar pasti akan merasakan patah hati dan kehancuran untuk kedua kalinya.
Tidak, tidak! Dia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Hanya perempuan ini yang bisa membuat Fajar terlepas dari kesedihan, dan memulai hidup baru dengan kebahagiaan. Maka dia harus memperjuangkan wanita ini untuk Fajar.
Puas mengoceh panjang lebar, Bu Zaitun berbalik dan meninggalkan Shreya dalam kebimbangan. Ucapan Bu Zaitun membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Namun harus dia akui, bahwa apa yang dikatakan oleh kepala pelayan itu memang benar.
Dia sudah terlalu bermain api dengan Rahul. Hingga dia sampai lupa akan statusnya sebagai istri Fajar. Apa jadinya, andai Fajar sampai mengetahui tentang dia dan Rahul? Istri dan sahabat karibnya tega menusuknya dari belakang.
Apakah lelaki itu akan kecewa, marah dan menceraikannya? Serta memutuskan hubungan persahabatan yang sudah terjalin antara dirinya dengan Rahul sejak kecil? Bisa jadi masalah ini juga akan mempengaruhi hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun diantara mereka.
Rahul dan Fajar sudah seperti saudara. Fajar juga sudah menganggap Om Helmi dan Tante Lesti seperti orang tuanya sendiri. Apakah hubungan harmonis antara dua keluarga itu, akan berisiko untuk berakhir karena dirinya?
__ADS_1
Betapa jahatnya dia kalau seperti itu. Sepertinya apa yang dikatakan Bu Zaitun memang benar. Sebelum keadaannya menjadi semakin runyam, dia harus mengakhirinya sekarang juga.