Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 104- Ancaman Amora


__ADS_3

"Ya sudah kalau begitu. Shreya, sekarang kamu langsung kekamar ya. Ganti baju setelah itu langsung istirahat. Biar nanti Tante suruh pelayan mengantar makanan kekamarmu"


"Tidak usah Tante. Aku mau langsung tidur saja. Aku sudah kenyang kok. Tadi sudah makan dijalan"


"Oh ya sudah kalau begitu. Selamat istirahat ya" Lesti tersenyum lembut.


"Iya Tante. Aku permisi"


"Iya-iya"


Zahra pun berjalan meninggalkan mereka menuju kekamarnya.


"Aku juga mau kekamar ya Ma. Aku mau istirahat juga" Pamit Rahul setelah Zahra lenyap dari pandangan mereka.


"Iya sayang. Selamat malam ya"


"Selamat malam juga Ma"


Amora menatap punggung Rahul yang berjalan menjauhi dia dan ibu mertuanya.


"Ma, aku kekamar juga ya. Mau tidur. Udah mengantuk"


"Iya-ya. Selamat malam juga ya sayang. Tidur yang nyenyak"


"Iya. Selamat malam juga Ma" Amora mencium kening Lesti dengan manjanya sebelum dia meninggalkan ibu mertuanya diruang keluarga itu.


********


Rahul memasuki kamar tidurnya dengan perasaan sumringah. Bisa kembali menghabiskan waktu bersama istrinya seperti dulu, adalah hal yang sangat membahagiakan dalam hidupnya.

__ADS_1


Terlebih saat dia mengecup dan bermain-main diarea bibir Zahra. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda memberontak. Malah sebaliknya, Zahra merespon dan membalas setiap kenikmatan yang dia berikan! Apa itu artinya, dibawah alam sadarnya hati Zahra masih mengingat, malam-malam indah dan penuh hasrat yang dulu mereka lalui bersama?


Kuatnya ikatan cinta mereka, perlahan-lahan akan menuntun Zahra untuk kembali padanya! Luapan kebahagiaan membuncah didadanya memikirkan kemungkinan itu!


"Ciee.... yang habis kencan seharian. Bahagia sekali sepertinya, bisa seharian menghabiskan waktu bersama istri sahabatnya sendiri. Sehingga, hampir lupa jalan pulang kerumahnya"


Suara lembut seorang wanita yang terdengar sinis dan tampak familiar ditelinganya, menyadarkan Rahul dari lamunan kebahagiaannya. Dia membalikkan badannya, dan tampaklah Amora yang sedang menutup pintu kamarnya secara perlahan-lahan.


"Amora? Ngapain kamu disini?" Rahul bertanya kebingungan. Sudah lama perempuan itu tidak mengganggunya lagi. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba dia memasuki kamarnya secara diam-diam seperti ini? Mau apa lagi dia?


Dengan senyuman genit yang tersungging dibibirnya, Amora berjalan mendekati Rahul. Dengan lembut dia menggerayangi dada bidang Rahul, dan mulai membuka kancing kemejanya secara perlahan-lahan. Kelakuan Amora membuat Rahul merasa risih dan kebingungan. Sebenarnya apa yang diinginkan wanita ini darinya sekarang?


"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh bersenda gurau dengan adik iparku sendiri? Lebih tepatnya, mantan pujaan hati terindahku. Tidakkah kamu ingat, momen-momen indah yang dulu kita lalui bersama? Percintaan yang penuh dengan hasrat dan birahi? Tidakkah kamu merindukan masa-masa itu Beib?"


Amora menyandarkan kepalanya didada Rahul dengan manjanya. Membuat Rahul akhirnya hilang kesabaran, hingga dia mendorong Amora dengan kasar, membuat wanita itu hampir terjungkal kebelakang.


Sekarang silahkan kamu urus suamimu dikamarmu, dan tinggalkan kamarku! Karena aku sangat lelah dan ingin istirahat! Aku tidak ada waktu untuk orang tidak penting sepertimu!" Ujar Rahul gusar.


Namun bukannya merasa gentar, Amora masih saja memperlihatkan senyuman centilnya.


"Lalu menurutmu siapa yang penting? Wanita sok alim, suci dan ternyata munafik itu? Yang sudah menyita waktumu seharian ini? Yang sekarang membuatmu kelelahan seperti ini? Setelah dia menyerahkan tubuhnya untuk menggoda dan memuaskan hasratmu?" Tanya Amora sinis.


"Jaga bicaramu! Jangan pernah sekalipun kamu berani mengatakan hal buruk tentang Shreya dihadapanku! Atau...." Ancam Rahul dengan rahang mengeras dan mata melotot, mendengar Shreya alias Zahranya dituding sehina itu, membuatnya murka.


"Atau apa? Kamu akan memukulku? Atau.... Kamu akan menamparku? Memangnya kamu mampu melakukannya? Rahul..... Rahul. Sebagai wanita yang pernah ada di hatimu, aku tau betul, seorang Rahul sangat pantang untuk menyakiti seorang wanita. Benarkan beib?"


Tukas Amora yang kembali mendekati Rahul. Kemudian bergelayut dilengannya sembari menyandarkan dagunya dipundak pria itu dengan manja. Rahul menepis tubuh Amora dari tubuhnya dengan sembarangan.


"Sebenarnya apa maumu? Apa yang ingin kamu katakan? Dan apa yang kamu inginkan dariku? Tolong jangan berbelit-belit. Karena aku tidak punya banyak waktu untukmu" Tanya Rahul datar.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu memaksa. Tunggu sebentar" Amora mengeluarkan ponselnya, kemudian memperlihatkannya pada Rahul. Rahul menatap ponsel itu dengan mata terbelalak. Melihat foto dan video kemesraannya bersama Zahra di Caffe tadi.


"Darimana kamu mendapatkan foto dan video ini?" Rahul bertanya dengan bingung.


"Memangnya penting darimana dan bagaimana aku mendapatkan foto-foto ini? Bukankah yang terpenting itu adalah.... Bagaimana kira-kira, reaksi keluargamu terutama suami dari perempuan ini, jika mereka sampai melihat adegan seperti ini bisa kalian lakukan?


Jujur ya, sebenarnya aku memang sudah merasa ada yang aneh dengan sikap kalian berdua, sejak aku kembali dari Kanada. Dan Fajar yang saat itu juga baru kembali dari Thailand.


Tapi aku tidak pernah menyangka, kalau kamu dan Shreya akan melakukan hal sejauh itu. Bermain api dibelakang Fajar. Padahal, kalian berdua kan sudah seperti saudara. Tapi kok kamu tega, merebut istrinya?"


"Sebenarnya apa maksudmu menunjukkan foto-foto ini, dan mengatakan hal seperti ini padaku? Apa maumu?! Cepat katakan sebelum kesabaranku habis!" Rahul masih berusaha tenang dan sabar menghadapi wanita sok tau ini. Berusaha agar tidak terpancing.


Amora kembali mendekati Rahul dan bergelayut manja dilehernya. "Tenang sayang. Tidak perlu emosi. Kamu jangan khawatir. Ini hanya akan menjadi rahasia diantara kita. Tapi dengan satu syarat"


"Syarat? Maksudmu?"


Amora merapikan kerah kemeja Rahul dengan genitnya. "Maksudnya, aku berjanji akan menjaga rahasiamu dan Shreya dari Fajar maupun keluargamu dengan sebaik mungkin. Asalkan kamu meninggalkan Shreya dan jangan pernah lagi berhubungan dengan perempuan itu.


Dan kamu juga harus kembali lagi padaku seperti dulu. Kalau perlu kamu nikahi aku. Karena aku masih sangat mencintaimu. Aku tau kalau saat ini kamu masih sangat marah dan kecewa padaku. Karena aku pernah menyakitimu. Aku tau aku memang salah karena pernah meninggalkanmu.


Tapikan aku sudah menyesali semuanya. Dan.... Bukankah semua orang itu berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua? Lagipula, bukankah dulu kamu juga sangat mencintaiku selama bertahun-tahun? Jadi aku sangat yakin, jika perlahan-lahan perasaan cinta itu pasti akan tumbuh lagi untukku.


Dan soal Gala.... kamu tenang saja. Aku akan mengurus perceraian ku dengannya. Karena aku tidak pernah mencintainya. Dari dulu hingga sekarang, hanya kamu satu-satunya lelaki yang aku cintai Beib"


Dengan gusar Rahul kembali menyingkirkan tubuh Amora yang terus menempel padanya tanpa malu.


"Kamu pikir aku peduli? Jika kamu memang ingin berpisah dengan kakakku, itu urusanmu. Dan sebagai seorang adik, aku sangat bahagia jika kakakku bisa terlepas dari jeratan wanita culas dan licik sepertimu. Tapi soal meninggalkan Shreya dan menikah denganmu, memangnya kamu siapa, hingga merasa berhak untuk mengatur hidupku?


Dengar baik-baik Nona Amora Fransisca alias Kakak iparku tersayang. Ini adalah hidupku. Jadi tidak ada yang berhak menentukan apa yang ingin dan tidak ingin aku lakukan, kecuali diriku sendiri. Dan aku tidak sudi untuk menikah, serta harus memiliki istri sepertimu"

__ADS_1


__ADS_2