
Berbeda dengan Shreya yang tampak sangat menikmati berpose didalam museum 3 dimensi itu dengan hebohnya, Rahul hanya menikmati suasana itu ala kadarnya. Karena dia sudah merasa terlalu tua untuk bersikap seperti anak-anak yang diajak ketaman bermain.
Hal yang sangat dia nikmati pada saat itu adalah, senyum ceria yang terus merekah diwajah Shreya. Yang membuat Rahul ikut sumringah melihatnya. Senyum wanita itu selalu mampu membuat hatinya terasa teduh dan hangat.
Andai saja dia tidak mengingat Zahra dan Fajar, rasanya ingin sekali dia mendekap dan mencium wanita itu.
Momen kebersamaan mereka berlanjut diatas jembatan kota intan. Seakan tidak puas berfoto didalam museum magic Art 3D tadi, Shreya kembali mengajak Rahul berpose diatas jembatan yang berbentuk jungkit serta dibangun dari besi dan kayu itu.
Sesuai dengan keinginan perempuan itu, Rahul pun mengeluarkan ponselnya. Ada beberapa kali mereka berpose berdua. Namun ada juga beberapa kali Rahul memotret Shreya seorang diri, dengan berbagai macam gaya yang terlihat begitu lucu bagi Rahul, hingga membuatnya semakin gemas dengan tingkah kocak wanita itu.
Saat sedang asik memotret Shreya sembari mengaguminya, muncullah beberapa gadis cantik dengan body yang aduhai bak gitar spanyol, dibalut pakaian yang lumayan seksi, merasa terpesona melihat ketampanan Rahul.
"Hai tampan!" Keempat perempuan itu mendekati Rahul dan menyapanya dengan senyum genit.
"Hai" Rahul membalasnya dengan senyum geli.
"Boleh foto bareng gak? Kan lumayan suasana disini romantis" Goda salah satu dari gadis itu.
"Mmm....." Rahul menggaruk-garuk kepalanya yang terasa tidak gatal. Merasa bingung harus bagaimana menghadapi wanita-wanita centil itu.
"Boleh kan? Ayo, ayo" Tanpa menunggu jawaban Rahul, mereka langsung menempel pada pria itu tanpa merasa malu sembari mengeluarkan ponselnya untuk memotret.
Rahul yang berada ditengah-tengah keempat gadis itu berusaha untuk melepaskan diri. Namun mereka terus menghimpitnya tanpa kendor, hingga dia kesulitan untuk bergerak menjauh.
Shreya yang sedari tadi dijadikan obat nyamuk, terus memperhatikan gerak-gerik wanita yang sedang menggoda Rahul itu dengan hati yang terasa panas. Hingga tangannya terasa gatal dan ingin sekali menjambak dan mencakar keempat wanita genit itu.
Sayangnya dia tidak memiliki alasan untuk menyerang mereka, karena pria itu bukanlah suaminya. Sembari berusaha menahan kekesalan hatinya, Shreya menghampiri dan menerobos kerumunan yang sedang berselfi ria itu.
"Udah ya udah, kami harus pergi. Udah cukup ya selfinya" Shreya mengapit lengan Rahul dan melempar senyum geramnya pada keempat gadis centil yang berani menggoda Rahul itu.
"Ini siapa, istrinya?" Salah satu dari wanita itu menatap Shreya dengan sinis.
"Sepertinya iya, lihat saja, dia sedang hamil" Bisik yang lainnya sembari memperhatikan perut buncit Shreya, hingga membuat mereka semua terkejut.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi. Ayo" Shreya menarik lengan Rahul dengan posesifnya, mengajak pria itu untuk meninggalkan jembatan yang dipenuhi oleh manusia-manusia genit yang sok cantik itu.
"Oh ya, boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Tadi itu kenapa ya, kok kamu mengaku-ngaku sebagai istriku?"
"Kapan? Aku tidak melakukannya" Shreya mengalihkan pandangannya dari Rahul dengan malu.
__ADS_1
"Mau berlagak lupa? Waktu diatas jembatan barusan. Kamu cemburu, melihat wanita-wanita itu menggodaku?" Goda Rahul dengan jahilnya.
"Hah, cemburu? Enak aja, untuk apa aku cemburu? Memangnya kamu siapaku?" Kilah Shreya dengan kesalnya.
"Ya mana aku tau alasanmu cemburu. Yang jelas aku merasa kalau kamu tidak suka, jika ada perempuan yang mendekatiku. Benarkan?" Rahul semakin menjadi-jadi menggoda Shreya, membuat wanita semakin merasa malu hingga wajahnya memerah.
"Kamu salah paham. A-aku hanya ingin membantumu"
"Membantuku? Maksudnya?" Rahul mengernyitkan kening dengan jahilnya.
"Ya.... Aku tau kamu merasa tidak nyaman dengan sikap wanita-wanita genit itu kan? Makanya aku membantumu agar bisa lepas dari mereka. Itu saja kok" Shreya memberi alasan dengan terbata-bata.
"Benarkah itu alasannya?" Ledek Rahul yang masih belum puas menggoda Shreya.
"Ya.... Ya tentu saja. Memangnya apalagi? Mmm..... Ya sudah, aku lapar, aku mau makan" Dengan wajah yang masih memerah karena malu, Shreya berjalan lebih dulu dengan langkah yang agak cepat, demi mengakhiri pembicaraan yang membuatnya mati kutu.
Dengan senyum usil yang masih tersungging dibibirnya, Rahul berjalan dengan santainya mengikuti wanita itu dari belakang.
Wajah Shreya tampak berbinar-binar saat melihat deretan gerobak pedagang kaki lima dengan beragam kuliner yang ditawarkan.
Terutama saat dia melihat rujak dalam salah satu gerobak itu. Air liurnya terasa mengalir deras.
Shreya melahap rujak itu dengan antusiasnya setelah memesan. Makanan asam yang terdiri dari irisan-irisan buah segar itu membuat mulutnya belepotan seperti anak kecil yang kelaparan.
Setelah puas melahap rujak, Shreya mencoba beberapa menu lain seperti ketoprak, gado-gado, dan sop buah segar yang terasa sangat nikmat dilidah Shreya hingga Rahul pun ikut-ikutan menyantap semuanya.
"Bagaimana, apa kamu sudah kenyang?"
"Belum" Jawab Shreya dengan suara manja.
"Sudah makan sebanyak itu, tapi masih belum kenyang juga?" Ujar Rahul dengan wajah melongo. yang dijawab dengan anggukan kepala santai Shreya.
Rahul menghela nafas panjang. Ya sudahlah, memang sudah seharusnya wanita itu makan banyak demi pertumbuhan sikecil.
"Ya sudah, didepan sana ada Caffe, makanannya enak-enak juga. Mau kesana?"
"Mau, ayo!" Jawab Shreya dengan antusiasnya.
Sesuai ajakan Rahul, mereka pun beralih ke cafe yang terletak dikawasan lokasi wisata itu. Menu-menu yang disajikan dalam caffe bernuansa Eropa itu juga memiliki kenikmatan yang mampu memanjakan lidah, membuat Shreya tak kuasa menahan nafsu makannya yang berkali lipat.
"Kamu sering kesini?" Tanya Shreya sembari mengunyah makanannya.
"Iya, waktu kecil dulu, bersama orang tua dan kakakku"
__ADS_1
"Oh, pantesan ya, kamu sudah hafal betul tempat disini"
"He em. Bagaimana, apa kamu suka dengan tempat ini?"
"Sangat. Nanti kalau dia sudah lahir, rasanya aku ingin sekali datang kesini lagi" Dengan senyuman yang merekah diwajahnya, Shreya memandang dan mengelus-elus perutnya.
"Tapi..... Saat Fajar kembali dari Thailand, kamu sudah harus pulang ke Magelang" Lirih Rahul yang membuat Shreya menatapnya dengan sendu.
Keduanya terdiam dengan hati yang sedih, memikirkan jika beberapa hari lagi mereka harus berpisah dan kebersamaan ini harus berakhir, membuat hati mereka terasa resah.
"Oh ya, didekat sini juga ada toko-toko sauvenir. Habis ini kita kesana yuk. Aku yakin kamu pasti akan suka dengan pernak-pernik yang dijual disana"
Rahul memperlihatkan senyumannya untuk menghibur wanita itu yang mendadak berwajah muram karena ucapannya, sekaligus untuk menghibur dirinya sendiri yang juga merasa hampa, memikirkan jika mereka harus berpisah saat pemilik Shreya nanti kembali untuk menjemputnya.
"Iya boleh" Jawab Shreya dengan suara lirih dan hambar.
Sesuai janji, selepas dari caffe mereka langsung singgah ketoko-toko sauvenir yang menjual beragam pernak-pernik yang terlihat cantik dan unik. Mereka menyusuri toko demi toko. Memindai serta mencoba-coba satu persatu sauvenir itu. Mulai dari pakaian, kaos, tas, sandal, pernak-pernik, hiasan dinding, topi dalam beragam bentuk, dan lainnya.
Dari sekian banyak pajangan yang dilihatnya saat memasuki toko hiasan, yang paling menarik perhatian Rahul adalah bola kristal yang didalamnya terdapat sepasang miniatur boneka yang duduk diatas bulan sabit warna kuning. Dibawahnya terdapat salju dengan taburan bintang-bintang.
Rahul mengambil dan tersenyum takjub melihat hiasan bernuansa romantis itu. Dia melirik Shreya yang tampak sedang asiknya memindai satu persatu hiasan yang dipajang dan dijual ditoko itu.
Rahul mendekati Shreya dan menunjukkan hiasan ditangannya. Mata Shreya terbelalak melihat bola kristal ditangan Rahul dengan tersenyum takjub. Dengan riangnya dia merenggut benda kecil dari tangan Rahul. Melihat Shreya sangat menyukai pemberiannya, membuat Rahul merasa sangat senang.
"Bagaimana? Apa kamu sudah puas untuk jalan-jalan hari ini? Apa kita sudah bisa pulang sekarang?"
"Iya aku puas, ayo kita pulang. Aku juga sudah capek" Shreya tiba-tiba terdiam saat matanya melirik sesuatu yang berasal dari arah lain.
"Kenapa? Kamu lihat apa sih?" Rahul mengikuti arah pandangan Shreya dengan linglung.
"Coba deh kamu lihat, lelaki botak itu" Shreya menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berkepala botak yang sedang duduk diatas kanstin beton sembari bermain ponsel.
"Lalu?" Rahul memandang lelaki yang ditunjuk Shreya dengan bingung.
"Kok, rasanya aku ingin sekali ya, melihatmu mengelus-elus kepala lelaki itu?"
"Hah? Kamu bilang apa? Aku harus mengelus-elus kepala lelaki itu? Orang yang sama sekali tidak aku kenal? Hahaha... Kamu bercanda?" Rahul tertawa konyol sembari menunjuk pria berkepala plontos yang sedang mereka bicarakan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa" Shreya berucap dengan sendu. Dua tetes butiran bening lolos dari pelupuk matanya. Air mata wanita itu langsung membuat Rahul lemah.
"Mmm.... Hey, kenapa malah menangis? Tolong jangan menangis lagi ya. Kamu mau apa? Mau aku mengelus-elus kepala botak itu? Baiklah, akan aku lakukan sekarang juga. Tapi tolong ya, jangan nangis lagi. Oke?" Rahul mencoba menenangkan Shreya saat melihat air mata menitik diwajah perempuan itu.
Ucapan Rahul membuat senyuman Shreya sedikit mengembang dibalik air mata yang sedikit membasahi pipinya.
__ADS_1